Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 22


__ADS_3

Aku tidak membicarakan pertemuanku dengan Eva kepada Mas Adji. Percuma membicarakannya karena tidak akan merubah apapun atau mengembalikan keadaan seperti semula. Toh aku sudah mulai bisa menerima kenyataan.


Hari-hari berikutnya aku bekerja seperti biasa. Masih dua hari lagi aku masuk shift siang, baru setelah itu aku bisa libur. Sebenarnya badan ini terasa remuk. Aku masih butuh penyesuaian antara mengurus rumah dan bekerja.


Tetapi beberapa hari ini setiap pulang kerja aku menemukan rumah dalam keadaan rapi. Tidak ada satupun piring kotor, bahkan cucian kering juga sudah dilipat rapi meski bekum disetrika. Mungkin ibuku yang melakukannya.


"Kei, kita bikin puding yuk."


Aku sudah berencana untuk menghabiskan hari liburku ini bersama Keisha.


"Mama sudah beli bahan-bahannya?"


Aku mengangguk. Aku meminjam uang tiga ratus ribu dari ibu yang akan ku gunakan sampai aku gajian. Dulu uang segitu hanya aku gunakan untuk sekali makan di kafe dan sekarang aku gunakan untuk satu bulan.


"Besok kalau nenek mau nyuci piring atau beresin rumah nggak boleh ya Kei, kasihan. Nanti nenek kecapekan. Bilang sama nenek biar Mama aja yang beresin."


"Memangnya kapan nenek nyuci piring Mah?"


"Kok kapan? Memangnya siapa yang setiap hari yang nyuci piring siapa kalau bukan nenek? Tiap Mama pulang kerja rumah bersih dan rapi juga siapa yang beresin kalau bukan nenek?" lanjutku sambil terus mengaduk adonan puding.


"Bukan nenek Ma, itu papa yang ngerjain."


Seketika aku menghentikan kegiatanku.


"Papa ... ? Yang bener Kei?" Aku tidak percaya. Tetapi Keisha mengangguk meyakinkan.


"Iya Ma ..., itu papa yang ngerjain. Kadang-kadang Keisha juga bantuin."


"Kok bisa?" Aku masih tidak percaya, mengingat kondisi Mas Adji.


"Keisha yang ngangkat jemuran, terus papa yang lipat bajunya." Keisha bercerita dengan bangganya.


"Terus kalau nyuci piring papa duduk di kursi, begini ..." Keisha memperagakan bagaimana cara papanya mencuci piring.


"Papa kan nggak bisa berdiri lama-lama, jadi duduk pake kursi ini." Menunjuk kursi yang sedang dia duduki.


Aku terharu mendengar cerita Keisha. Aku pikir ibu lah yang sudah melakukan itu semua.


"Pinter ya anak Mama, udah bisa bantuin ngurus rumah."


...****************...

__ADS_1


Keadaan toko tidak seramai hari-hari sebelumnya, jadi aku tidak begitu capek. Saat istirahat iseng aku membuka aplikasi belanja online di handphoneku. Bukan untuk belanja, tapi hanya melihat-lihat baju model terbaru saja. Itu sudah membuatku senang.


Dulu aku bisa membeli baju-baju ini tanpa berpikir panjang. Tapi sekarang aku hanya bisa melihatnya saja.


"Mbak Winda sering beli baju online nggak?" tanya Santi, kasir yang sekarang menjadi rekan kerjaku.


"Kadang-kadang sih, memangnya kenapa?"


"Mbak Winda ngerti nggak istilah-istilah ini maksudnya apa?" Shanti menunjukkan gambar pakaian dari handphonenya.


"Aku belum pernah beli baju online mbak, jadi takut nggak pas."


Shanti beberapa tahun lebih muda dariku. Dia janda dengan satu orang anak. Dari penampilannya dia terlihat lugu dan tidak neko-neko. Bahkan dia tidak memoleskan sedikitpun make up di wajahnya.


Ku jelaskan istilah-istilah yang tadi Shanti tanyakan dan dia terlihat heran.


"Mbak Winda kok bisa tahu sampai sedetail itu sih? Pasti sering belanja online?"


Aku hanya tersenyum. Dulu sering sekali, sebelum hidupku berputar berlawanan arah dengan sekarang.


"Bukan belanja, hanya lihat-lihat saja. Nanti kalau ada uang baru beli."


"Mbak Winda nggak pengen jadi reseller gitu? Kan lumayan, selain bisa lihat-lihat juga bisa menghasilkan uang."


"Iya ... Kan Mbak Winda pintar soal jualan online?"


"Iya ya ... Kenapa aku tidak pernah kepikiran sebelumnya?" gumamku.


"Bagus juga idemu Santi. Kenapa tidak kucoba saja?"


Rupanya cara Mas Adji memanjakan aku dulu membuat pikiranku tumpul hingga seperti ini saja aku tidak tahu. Menjadikan reseller juga merupakan peluang untuk mencari uang.


...****************...


Adji POV


Winda memutuskan untuk kembali bekerja. Aku adalah laki-laki yang mementingkan harga diri, dan ini memalukan untukku. Sebagai suami, harusnya aku lah yang bekerja. Dan Winda hanya perlu di rumah mengurus anak dan keluarga.


Aku melihat Winda pulang dari rumah Likha. Aku sudah menunggunya untuk memberikan uang dari Mas Arya. Sebenarnya aku berniat menjual motorku, tapi Mas Arya malah meminjami aku uang dan motorku sebagai jaminannya.


Aku lihat wajah Winda murung setelah dari rumah Likha. Aku mengajaknya bicara tapi dia seperti tidak mendengarkan aku.

__ADS_1


"Win ... " Aku memanggilnya untuk yang ketiga kalinya barulah dia mendengar, bahkan sedikit kaget.


"Kamu dengar aku kan?" Dia mengangguk tapi aku tidak yakin.


"Gunakan uang ini untuk membayar sekolah Keisha, sisanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari."


Winda kembali mengangguk dan kali ini raut wajahnya berubah. Dan sekali lagi, dia menanyakan bagaimana dengan terapi yang aku jalani.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku salut dengan keinginannya untuk membuatku sembuh. Tentu saja aku sangat ingin sembuh, tapi keadaan memaksaku untuk menahan sakit ini lebih lama lagi.


Aku sudah cukup malu dengan menjadi laki-laki yang menjadi beban untuk istrinya, apa aku masih tidak punya perasaan jika harus mengorbankan yang lainnya untuk kesembuhanku?


Aku pergi meninggalkan Winda di ruang tamu. Ingin rasanya aku menyembunyikan wajahku darinya.


Hari berikutnya, tiba-tiba saja Keisha mengeluh sakit. Sudah di bawa ke dokter tapi hingga dua hari sakitnya tidak kunjung sembuh. Aku sangat khawatir, demikian juga Winda.


Akhirnya Winda membawanya ke rumah sakit. Dan betapa terkejutnya aku ketika Winda mengabari aku jika Keisha harus segera dioperasi.


Aku sangat merasa bersalah. Seandainya aku tidak seperti ini, seandainya aku masih punya uang pasti Keisha tidak perlu sampai terlambat ditangani seperti ini.


Hampir setiap hari aku menangis menyesali apa yang sudah terjadi padaku. Aku bahkan tidak bisa menemani anakku di rumah sakit.


Aku sudah berusaha menghubungi Mas Arya untuk mengantarkan aku ke rumah sakit, tapi dia sedang sibuk. Ibu juga demikian, aku sudah memberi tahunya jika Keisha sakit, tapi ibu bilang tidak bisa menjenguk karena harus menjaga Vino. Aku merasa ditinggalkan oleh keluargaku sendiri.


Aku menelepon untuk memberitahu jika Keisha sudah pulang dari rumah sakit. Aku berharap ibu mau menjenguknya.


Tapi ibu justru menanyakan hal lain yang menurutku menyakitkan. Ibu justru menanyakan jatah uang bulanan untuknya padahal aku jelas tidak bekerja dan saat ini aku sendiri sedang kesulitan keuangan. Bagaimana ibu bisa setega itu kepadaku?


Ibu rela memberikan uangnya untuk Maya dan Vino. Ibu membayar seluruh biaya rumah sakit Maya ketika melahirkan Vino dulu, membiayai hidup Maya dan suaminya karena mereka berdua sama-sama pengangguran, tapi tidak untukku? Apa bedanya aku dan Maya? Kami berdua sama-sama anaknya.


Aku mengerti sekarang bagaimana perasaan Winda ketika ibu mengabaikan Keisha dan lebih menyayangi Vino. Itu yang aku rasakan sekarang.


Aku hanya bisa menangis.


Bu, anakmu sedang kesusahan. Tidak bisakah ibu memahamiku sedikit saja?


"Makan malam sudah siap Mas. Kamu mau makan di kamar atau di meja makan?"


Suara Winda menyadarkan aku.


"Di meja makan saja Win, kalian duluan. Nanti aku bergabung."

__ADS_1


Aku berusaha sebisa mungkin agar suaraku terdengar normal. Segera kuhapus air mataku dan kubasuh mukaku agar tidak terlihat seperti habis menangis. Barulah aku keluar kamar dan makan malam bersama mereka.


__ADS_2