Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 27


__ADS_3

Ku abaikan ponselku yang terus bergetar. Aku lebih memilih untuk menikmati momen kebersamaan dengan keluarga yang hampir saja tercerai berai ini.


Aku sudah bertekad untuk mempertahankan rumah tangga ini dan ingin memperbaiki semuanya, jadi aku tidak akan membiarkan hal kecil menghalangi.


Keisha tergelak bahagia, dan melihatnya saja sudah membuatku ikut bahagia. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tertawa seperti ini.


"Sebaiknya Mama mandi dulu ... Mama kotor ih ... belum mandi ..." Aku bergidik mencium aroma tubuhku sendiri.


"Nanti ajalah Ma ... "


"Tapi Mama bau keringat Kei ... "


Mas Adji melepaskan pelukannya. Dan dengan wajah cemberut Keisha mengikutinya.


"Iya Kei ... Biar Mama mandi dulu. Mama kan capek, biar istirahat sebentar. Nanti kita bisa peluk lagi sepuasnya."


"Kalau Mama udah selesai mandi, kita main barbie ya Ma?" pinta Keisha penuh harap. Aku mengangguk.


Setelah itu aku tinggalkan mereka berdua dan berjalan menuju ke kamar.


Sebenarnya aku langsung ingin mandi, tetapi rasa penasaran memaksaku membuka handphoneku terlebih dahulu. Ternyata ada puluhan pesan masuk di grup arisan, agak ragu untuk membukanya tapi akhirnya kubuka juga pesan-pesan itu.


Terpampang beberapa fotoku, salah satunya ketika memegang amplop berisi uang donasi diapit oleh Likha dan Eva disertai keterangan di bawahnya.


Ku amati foto itu. Wajahku tidak kalah dari mereka berdua. Meskipun aku sudah tidak melakukan perawatan seperti dulu tetapi wajahku tidak berubah. Kalau boleh sedikit sombong, aku sudah cantik dari sananya dan aku bersyukur karenanya.


Seragam kerja yang dulu diberikan ukuran xxl tetapi waktu itu aku masih gemuk. Sekarang seragamku terlihat sangat kebesaran dipadukan dengan celana yang juga terlihat kedodoran karena ukuran paha dan pinggangku yang menyusut, belum lagi sepatu bututku, sepatu yang menemaniku mengayuh sepeda setiap hari. Aku terlihat seperti orang yang ketinggalan jaman diantara mereka berdua.


Sementara Eva seperti biasa, memakai pakaian yang cenderung terbuka dan menampilkan lekuk tubuhnya. Dan Likha terlihat wow, dengan baju dan tas yang aku yakin masih baru. Penampilanku terlihat sangat lusuh jika dibandingkan mereka berdua.


Kuingat lagi kapan terakhir aku membeli baju baru? Lama sekali sebelum Mas Adji sakit. Saat ini aku bahkan tidak sempat memikirkan hal itu. Bisa membeli beras saja sungguh aku sangat bersyukur.


Kubaca keterangan yang menyertai foto itu. Lalu kubaca juga komentar-komentar dari anggota grup yang lain. Beberapa memang ada yang sedikit tidak mengenakan untuk dibaca, tapi aku berusaha meyakinkan diriku jika aku hanya terlalu terbawa perasaan.


...****************...


Adji POV

__ADS_1


Winda lama sekali. Tadi dia hanya pamit untuk mandi tetapi sudah beberapa saat dia tidak juga keluar dari kamar.


Ku putuskan untuk menyusulnya ke kamar. Ketika aku membuka pintu, aku menemukan dia sedang fokus ke layar handphonenya.


"Win ... Belum mandi? Ditunggu Keisha tuh, mau diajak main."


Seperti biasa, dia gelagapan melihatku. Aku mendekati Winda lalu duduk di sampingnya. Aku tahu ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


"Kamu kenapa? Ada masalah apa? Apa yang kamu sembunyikan? Bukankah kita berjanji tidak akan ada lagi rahasia?"


Ku belai wajahnya, untuk meyakinkan jika sekarang aku ada untuknya. Karena sebenarnya aku masih khawatir dengan kondisi psikisnya.


Winda tampak ragu untuk memberitahu apa yang sedang dia pikirkan kepadaku. Memang sulit untuk mempercayai orang yang telah mengecewakanmu, aku tahu itu.


"Apa yang kamu rasakan dan kamu pikirkan katakanlah kepadaku." Aku tersenyum menatapnya, kembali berusaha untuk meyakinkannya.


Lalu Winda memberikan ponselnya kepadaku. Menunjukkan pesan di grup arisannya. Ada foto Winda di sana, bersama bersama Likha dan ... Eva???!! Mataku melotot tidak percaya.


"Uang donasi sudah diserahkan kepada Winda dan sudah diterima. Semoga suami Winda lekas sembuh. Terima kasih semuanya!"


"Semoga suaminya lekas sembuh ya jeng Winda."


" Amin."


"Jeng Winda langsing ya sekarang."


"Iya dong Jeng, Winda kan sekarang rajin naik sepeda."


"Itu seragam kerja ya?" tanya yang lain.


"Semangat kerja ya jeng, ternyata benar Jeng Winda kerja. Dulu kan nggak boleh sama suaminya?"


"Jeng Winda, tadi malam kenapa buru-buru pulang? Kita kan sudah lama nggak ketemu?"


"Maaf gak bisa ngasih banyak ya Jeng."


"Dulu jeng Winda sering ngajak kita makan-makan lho!"

__ADS_1


"Aku kok masih salah fokus sama tubuhnya jeng Winda, langsing."


"Turun berapa kilo jeng? Itu celananya sampe terlihat kebesaran. Kemarin nggak sempat ngobrol udah keburu pulang."


"Jeng Eva ini anggota baru tapi baik sekali sudah aktif, malah mau nemenin Jeng Likha juga."


"Jeng Winda ini istri paling sabar di dunia. Sudah tahu suaminya seperti itu masih mau menerima dan merawat. Kalau aku sih nggak sanggup."


"Mending cari yang lain, ya kan Jeng?"


Dan segera ku tutup handphone Winda. Aku tidak sanggup membaca komentar lebih banyak lagi. Sebenarnya teman-temannya ini bermaksud menghibur atau mengejeknya?


Sungguh aku tidak bisa membayangkan rasanya jadi Winda. Jika kondisinya dibalik, Winda yang melakukan kesalahan dan akhirnya sakit-sakitan seperti yang aku alami sekarang, mungkin aku tidak akan bertahan. Mungkin aku sudah tidak tahan mendengar omongan orang dan pergi meninggalkannya.


Hatimu terbuat dari apa sih Win?


Ku kembalikan ponsel Winda. Sekali lagi ku pandangi wajahnya untuk memastikan keadaannya. Tapi dia terlihat seperti baik-baik saja. Ekspresinya menunjukkan jika itu bukan apa-apa. Ku raih wajahnya lalu kutatap tajam matanya.


"Aku tidak apa-apa Mas ... sungguh," ucapnya bahkan sebelum aku bicara. Dan itu justru membuatku semakin khawatir dengan kejiwaannya. Mana mungkin ada orang yang sudah dipermalukan seperti ini tetapi masih bisa mengatakan dirinya baik-baik saja.


Dulu, dia hanya mengatakan temannya membeli sesuatu yang baru aku langsung memberinya uang untuk membeli seperti yang dimiliki temannya. Pokoknya aku tidak ingin Winda ketinggalan dibandingkan teman-temannya. Aku turuti semua keinginan Winda selama aku mampu. Dan aku bangga jika bisa membelikan Winda apa yang dia inginkan.


Tidak masalah aku menghabiskan banyak uang untuknya. Bukankah salah satu bukti kesuksesan seorang suami adalah penampilan istrinya? Jadi aku ingin Winda tampil sebaik dan selayak mungkin.


Dan sekali lagi keadaan menyadarkan aku. Aku sudah tidak seperti dulu. Sekarang aku hanya parasit yang bisanya membebani Winda.


"Apa mereka sering mengejekmu seperti ini?"


"Sudahlah Mas, tidak usah dianggap serius. Aku nggak apa-apa, sudah biasa."


"Tapi semua karena aku Win, dan aku tidak terima!"


"Memangnya kalau tidak terima terus mau apa? Kita bisa apa?" balasnya pasrah.


Aku langsung terdiam mendengar kalimat Winda.


Aku tidak bisa apa-apa. Aku benci!!! Aku benci sekali!!!

__ADS_1


__ADS_2