Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 50


__ADS_3

Adji POV


Aku terkejut melihat Eva mendatangi aku di rumah ibu. Aku tidak tahu dari siapa dia mengetahui jika aku tinggal di sini. Beberapa kali dia menelepon dan mengirimi aku pesan tetapi tidak satupun ada yang aku balas.


Aku memang terkejut melihat dia datang, tetapi aku lebih terkejut lagi mendengar kabar yang dia bawa.


"Aku hamil Mas."


Rasanya seperti tersengat listrik ribuan Watt mendengar dia mengatakan itu.


"Lalu?" Itu kata yang keluar dari mulutku saking tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu harus tanggung jawab."


"Tunggu ... Tunggu ... Kenapa aku harus bertanggung jawab? Kamu tidak hanya melakukan itu denganku saja kan?"


Apa aku terlalu kejam jika berkata demikian?


Aku terdengar seperti pengecut yang sedang berusaha menghindar dari tanggungjawab. Tetapi aku masih punya Winda. Tidak mungkin aku meninggalkan di untuk perempuan seperti Eva.


Aduh ... Bagaimana jika Winda sampai mendengar berita ini.


"Tetapi ini pasti anakmu Mas, aku yakin itu."


"Hubungan kita hanyalah sebatas transaksi. Aku membayarmu! Jika kamu sampai hamil itu urusanmu bukan urusanku! Kamu tidak bisa memintaku bertanggung jawab!"


"Kamu jahat sekali Mas." Eva menitikkan air mata.


Aku sudah mulai tidak tega melihat Eva mulai menangis. Aku sendiri tidak mengerti kenapa jika tidak berhadapan langsung dengannya aku bisa menolaknya. Tetapi jika sudah berhadapan, aku seperti kehilangan kekuatan.


"Tapi aku tidak bisa langsung bertanggung jawab begitu saja. Belum tentu juga itu anakku."


"Kamu tega bicara seperti itu Mas? Aku sedang mengandung anakmu." Eva terus menatapku dengan berlinang air mata.


"Tapi aku punya istri Eva. Aku tidak mungkin menikahimu!"


"Aku tidak peduli itu. Orang-orang sudah menangkap basah kita berdua melakukan itu. Semua orang pasti berpikir anak di dalam perutku ini adalah anakmu."


Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Harus bagaimana aku menghadapi semua ini. Masalah dengan Winda belum ada kejelasannya datang lagi masalah yang tak kalah rumitnya.

__ADS_1


"Terserah kamu bagaimana caranya. Yang penting anakku nanti punya ayah."


Kenapa ini seolah-olah menjadi babanku saja sementara tidak hanya aku yang melakukannya dengan Eva.


"Kalau kamu tidak mau bertanggung jawab maka aku akan mengajak orang-orang yang telah menggerebek kita waktu itu kemari agar kamu mau bertanggung jawab. Mereka adalah saksinya."


Aku diam tidak bisa menjawab lagi.


"Mereka sudah mengusirku dari kampung. Ini semua gara-gara kamu Mas. Kamu tidak bisa lepas dari tanggungjawab begitu saja."


"Sebaiknya kamu pulang. Aku akan pikirkan caranya."


"Kamu janji Mas?" Aku mengangguk. Akhirnya Eva menurut dengan kata-kataku. Dia langsung berdiri dan hendak pamit.


"Aku tunggu kabar darimu secepatnya Mas. Kalau kamu tidak membalas telfon atau pesanku maka aku akan datang lagi kemari. Aku pulang, permisi."


Belum sempat Eva melangkahkan kakinya, Ibu pulang dan tidak sengaja melihat Eva saat melewati ruang tamu.


"Siapa dia Adji? Jangan sembarang menerima tamu perempuan apalagi malam-malam begini," ucap ibu sambil mengamati penampilan Eva dari kepala hingga ujung kaki.


"Selamat malam Bu ... " Eva menyapa ibu dengan ramah. Air mata yang tadi berlinang seperti menguap tidak berbekas.


"Saya Eva ... " Eva mendekat dan langsung menyalami ibu.


Eva menoleh ke arahku. Aku menggelengkan kepala memberi isyarat agar dia tidak bicara macam-macam.


"Ibu mungkin belum kenal saya, tapi saya datang kemari untuk meminta pertanggungjawaban Mas Adji."


"Pertanggungjawaban apa?" Ibu tidak mengerti maksud Eva.


"Saat ini saya sedang mengandung anak Mas Adji, Jadi saya ingin Mas Adji bertanggung jawab dan menikahi saya."


"Apa??? Jadi kamu perempuan yang ada di video itu? Pantas aku merasa tidak asing." Tanpa di duga, ibu langsung meraih rambut Eva dan menariknya sampai Eva meringis kesakitan.


"Dasar perempuan tidak tahu malu, perempuan tidak tahu diri. Kamu merusak rumah tangga anakku. Gara-gara kamu aku kehilangan menantu kaya. Aku tidak sudi punya menantu seperti kamu!!! Jangan harap Adji akan menikah denganmu! Aku tidak akan mengijinkannya!"


Ibuku tidak main-main dengan kemarahannya. Aku sudah berusaha melepaskan tangan ibu dari rambut Eva tapi sulit sekali.


"Aduh ... Mas Adji tolong aku." Eva berteriak minta tolong dan aku jadi bingung caranya menghentikan kegaduhan ini.

__ADS_1


"Harusnya aku tinggal enak-enakan punya menantu kaya. Apa-apa tinggal minta! Gara-gara kamu Winda minta cerai!" Ibu masih belum berhenti marah. Tangannya juga belum bisa terlepas dari rambut Eva.


"Aaaa ... Tolong Mas Adji, lepaskan rambutku." Eva memekik.


"Bu ... Lepaskan tangan ibu. Kasihan dia sedang hamil."


"Aku tidak peduli. Pakai acara hamil segala. Kalau kamu hamil nanti uang Adji habis untuk membiayai kamu. Aku nggak kebagian apa-apa!"


"Tolong Mas Adji, tolong lepaskan ini ... Kepalaku sakit ..." Eva tidak berhenti berteriak minta tolong, sementara ibu juga tidak berhenti mencaci Eva.


"Diam semuanya!!!" Akhirnya aku berteriak saking bingungnya menghadapi mereka berdua. Dan merekapun langsung diam.


"Ibu ...!!! Tolong lepaskan rambut Eva!"


Akhirnya ibu mau melepaskan tangannya dari rambut Eva. Sepertinya ibu takut karena aku terlihat marah. Bagaimana tidak? Aku sedang banyak masalah dan dua orang ini malah ribut di depanku.


"Tolong tinggalkan kami berdua Bu. Ada yang harus kami bicarakan."


Ibu pun menurut dan mulai berjalan meninggalkan aku dan Eva. Meski ibu sudah menjauh tetapi tatapan ibu tidak mau terlepas dari Eva.


Ini pertama kalinya ibu bertemu dengan Eva tetapi tatapan ibu kepada Eva seperti dia punya dendam yang sudah dia simpan selama berabad-abad kepadanya.


"Dan Kamu Eva, sebaiknya kamu pulang!" Aku berkata tegas kepada Eva. "Tolong sembunyikan berita ini. Aku akan menikahimu tapi aku akan pikirkan caranya terlebih dahulu.


"Tapi aku sudah terlanjur memberitahu Winda."


"Apa katamu???"


"Tadi aku sudah bilang kalau aku mencarimu di rumahmu. Hanya ada istrimu di rumah dan dia menanyakan maksud kedatanganku."


Aku mengusap-usap wajahku kasar, rasanya aku sangat putus asa sekarang. Kepalaku seperti ingin meledak merasakan masalah yang datang bertubi-tubi seperti ini.


...****************...


Winda


Kedatangan Eva benar-benar menguras emosiku. Dan akhirnya aku masuk rumah sakit untuk yang ketiga kalinya bulan ini. Aku terpaksa melahirkan di usia kehamilan tiga puluh minggu karena kondisiku yang memburuk.


Bayiku masih harus di rawat di rumah sakit, tetapi aku sudah diijinkan pulang. Tidak perlu menunggu lama aku langsung mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Tidak peduli kondisiku yang belum pulih sepenuhnya pasca operasi Caesar.

__ADS_1


Aku tidak ingin berlama-lama lagi mengambil keputusan dan nantinya membuatku berubah pikiran. Sudah tidak ada kata maaf lagi.


Aku tidak memberitahu Mas Adji tentang aku yang sudah lahiran. Memang sedikit aneh. Biasanya dia mengirim pesan untuk sekedar menanyakan keadaanku, tetapi sudah tiga hari dia tidak ada kabar. Mungkin sedang sering lembur atau bagaimana aku tidak tahu.


__ADS_2