
Winda
Aku berjualan di pasar Minggu sementara anak-anak ikut papa mereka. Pikiranku tidak tenang. Antara khawatir tidak khawatir, aku berusaha berpikiran positif. Mas Adji bukan orang asing, dia ayah dari anak-anakku, dia berhak bersama mereka. Aku tidak boleh egois!
Aku menelpon pengasuh Kirana untuk mengecek keadaan anak-anak. Katanya anak-anak baik-baik saja. Dia juga melaporkan apa yang sedang dilakukan anak-anak bersama papanya, bahkan mengirimkan fotonya. Dia juga berjanji akan terus melaporkan kegiatan anak-anak bersama papanya. Aku lega mendengarnya dan bisa fokus berjualan.
Pagi ini cuaca cerah, jadi pengunjung pasar cukup ramai. Sesekali aku melihat ke arah ruko yang sebentar lagi akan menjadi milikku.
Secepatnya! batinku.
"Aku mau pergi sebentar ... Tolong tunggu stan," ucapku kepada kedua pegawaiku.
Aku berjalan melewati kerumunan orang menuju ruko. Entah kenapa aku ingin memandangnya dari dekat.
Sampai di depan ruko aku berdiri mematung, tidak memperhatikan ada orang lain yang juga berdiri menghadap ruko sama seperti yang aku lakukan.
Membeli ruko ini adalah salah satu cara agar tidak terus-menerus memikirkan Mas Adji, juga merupakan bukti kesuksesanku tanpa suamiku. Tinggal melunasi sisanya dan ruko ini akan sepenuhnya menjadi milikku.
Setelah puas memandangi ruko aku melangkah hendak kembali ke tempatku berjualan. Tetapi aku melihat sosok laki-laki berdiri melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan tadi.
"Indra?!" gumamku. Lalu aku hampiri dia.
"Sedang apa Ndra?"
Indra seperti kaget mendengar aku memanggilnya.
"Winda?"
Kaki berdua tersenyum.
"Kamu ngapain di sini?" Indra balik bertanya kepadaku.
"Aku yang bertanya duluan, kamu sedang apa? Ngelamun?"
Indra hanya tertawa.
"Apa kamu pernah dengar ... Jika kita bertemu seseorang sampai tiga kali secara tidak sengaja itu artinya mereka jodoh. Kita sudah bertemu tiga kali tanpa disengaja. Coba kalau kamu belum menikah Win, itu pasti artinya kamu jodohku," ucap Indra dengan nada sedih.
Aku terdiam. Aku sendiri tidak mengerti yang disebut sebagai jodoh itu yang bagaimana.
Kalau aku perhatikan Indra ini seperti laki-laki yang sedang sangat terluka, memendam luka yang sangat dalam.
"Kamu sudah sarapan?"
Indra menggeleng. "Aku tidak tahu makanan yang enak di sekitar sini."
"Aku tahu warung soto yang sudah enak. Mau sarapan soto bersamaku?"
Aku mengajak Indra lebih dulu, hanya sarapan. Toh aku juga butuh teman.
Dengan wajah sumringah indra menjawab. "Oke!"
__ADS_1
Lalu kami melangkah bersamaan.
"Kita jalan kaki?"
Aku mengangguk. "Dekat kok." Aku menunjuk warung soto tempat biasa aku makan saat jualan di pasar Minggu.
"Tunggu dulu Win ... Apa nanti suamimu nggak marah kalau kita makan berdua? Sebaiknya kamu minta ijin suamimu dulu."
Indra mendadak panik.
"Kenapa sih?"
"Ya takutlah ... Pergi sama istri orang, nanti ada yang berpikir aneh-aneh."
"Aku tidak punya suami," jawabku santai sambil berjalan mendahului Indra. Dia seperti tidak percaya mendengar jawabanku.
Indra berjalan menyusulku dengan wajah penuh tanda tanya.
"Apa maksudmu Win?"
"Kita sudah sampai."
Aku dan Indra langsung masuk ke dalam warung dan memesan dua mangkuk soto.
Tidak perlu waktu lama soto sudah tersaji di hadapan kami.
"Win ... Apa maksudmu tadi? Kamu tidak punya suami?" Indra mengulangi pertanyaannya.
"Aku sudah bercerai."
"Kamu serius?"
"Sudah makan dulu sotonya. Nanti keburu dingin jadi nggak enak," jawabku karena aku malas membicarakan masalah perceraianku. Dia hanya perlu tahu aku sudah tidak bersuami, itu saja.
Selesai makan aku hendak membayar makanan kami.
"Aku saja Win ... " Indra mencegahku setelah melihat aku mengeluarkan dompet.
"Nggak usah ... Biar aku saja," jawabku tidak enak.
"Tidak bisa. Aku tidak mau disebut laki-laki tidak tahu malu karena makan dibayari oleh wanita."
"Tapi aku yang mengajakmu makan?!"
Akhirnya kami berdebat mengenai siapa yang akan membayar sarapan.
"Ya sudah, gunting batu kertas saja biar adil."
Dan seperti anak kecil, kami bermain gunting batu kertas untuk memutuskan siapa yang akan membayar. Tetapi aku tidak malu, malah menikmatinya.
"Kamu kalah! Aku yang akan bayar," ucapku penuh kemenangan.
__ADS_1
"Lain kali aku akan mengajakmu makan dan aku yang membayar. Kamu harus mau!" Indra masih tidak terima.
"Iya ... Iya ... "
Keluar dari warung soto kami berpisah. Indra ada urusan dan aku pun kembali berjualan.
Besok sore aku ingin mengajak kamu makan malam. Harus mau! Tadi sudah janji!
Tiba-tiba Indra mengirim pesan demikian. Memberitahu statusku kepadanya seperti memberikan kesempatan untuk Indra mendekati aku.
...****************...
Adji POV
Akhirnya aku membawa Eva ke mall untuk membeli perlengkapan bayi. Ini pertama kalinya aku mengajaknya keluar rumah, semoga nanti dia tidak membuatku malu. Biasanya jika dia ingin membeli sesuatu, aku hanya perlu memberi dia uang, terserah dia mau beli apa dan dimana.
Tetapi ini menyangkut calon anakku, aku ingin yang terbaik untuk semua anak-anakku, termasuk bayi yang masih di dalam perut Eva. Aku juga ingin yang terbaik untuknya jadi aku membelikan baju-baju yang bagus di mall.
Seperti biasa, aku meminjam mobil Mas Arya karena kasihan jika melihat Eva harus membonceng motor dengan kondisi perutnya yang sudah membuncit.
Eva tidak berhenti tersenyum selama naik mobil. Dia benar-benar seperti orang yang baru pertama kali naik mobil.
Sampai di mall aku langsung mengajaknya ke toko perlengkapan bayi dan anak-anak. Dulu aku biasa membelikan Keisha pakaian di toko ini. Begitu pula ketika kemarin aku mengajak anak-anak, aku juga membawa mereka ke toko ini membeli mainan dan baju untuk Keisha dan Kirana.
Aku biarkan Eva memilih yang dia inginkan. Selama untuk anakku, aku biarkan. Aku perhatikan Eva sempat beberapa kali melongo melihat harga yang tertera di barang-barang yang dia lihat.
"Mas ... Apa tidak sebaiknya kita beli di tempat lain?"
"Tidak ... Kamu pilih saja. Mumpung aku ada waktu. Lain kali mungkin aku nggak punya waktu," jawabku sambil memilih baju bayi untuk laki-laki.
Satu lagi yang membuatku mau menerima Eva, dia sedang mengandung anak laki-laki. Aku senang sekali ketika mengetahuinya, hingga aku lupa jika mungkin saja anak itu bukan anakku.
Entah kenapa aku melihat Eva seperti tidak senang, tetapi aku tidak peduli.
Setelah selesai semuanya kami keluar dari toko. Aku masih ingat bagaimana reaksi Eva ketika mendengar total belanjaan kami.
Kami berjalan menyusuri lorong mall.
"Mas kenapa kamu tidak membelikan aku baju-baju mahal seperti anak-anakmu dan Winda?"
Akhirnya aku tahu kenapa wajahnya terlihat tidak senang meski aku sudah menuruti keinginannya.
Aku malas menjawab pertanyaan Eva, karena nanti ujung-ujungnya pasti kami akan bertengkar apalagi ini di tempat umum.
"Kamu ingin makan dulu atau tidak? Sekalian kita masih di sini?"
Wajah Eva langsung berubah begitu aku menyebut kata makan.
"Kita makan di sini?"
"Memangnya kamu mau makan dimana?"
__ADS_1
"Iya ... iya ... Di sini saja."
Lalu aku membawa Eva ke tempat makan dimana dulu aku biasa mengajak Winda dan Keisha.