
"Anak itu siapa Win?"
"Dia ... Kenzie," jawabku ragu.
Mas Adji terlihat berpikir. "Kenzie siapa?"
"Kamu tidak ingat dia Mas? Anaknya Eva."
"Oh ... " hanya itu yang keluar dari mulut Mas Adji. Lalu dia mengalihkan pandangannya kepada Kirana lagi.
Aku heran melihat reaksi Mas Adji. Aku pikir dia akan marah saat melihat Kenzie.
"Kenapa dia sini? Dimana ibunya?" tanya Mas Adji tanpa melihat ke arah Kenzie.
"Dia mengunjungi aku. Dia ingin minta maaf padaku."
"Berarti dia ada di sini?"
Tepat di waktu yang bersamaan Eva masuk. Dia baru kembali dari toilet. Eva terkejut melihat Mas Adji. Dari wajahnya aku tahu dia sangat ketakutan.
"Mas ... "
Mas Adji menoleh. Ekspresi Mas Adji jauh dari yang aku bayangkan. Aku pikir dia akan langsung memukuli Eva secara membabi-buta tetapi ternyata tidak.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Mas Adji dingin.
"Aku ... Aku ingin bertemu Winda. Aku ingin meminta maaf padanya."
Mas Adji diam. Dia menatap Eva dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Sekalian bertemu kamu di sini, aku juga ingin meminta maaf kepadami atas apa yang sudah aku lakukan. Aku meminta maaf kepada kalian berdua. Karena aku rumah tangga kalian hancur." Eva tidak beraninya menatap Mas Adji. Dia bicara sambil menundukkan wajahnya.
"Win ... Maafkan Mas Adji. Semuanya adalah salahku." Eva bahkan memintaku untuk memaafkan Mas Adji.
"Segera pergi dari sini jika kamu sudah selesai bicara!" Mas Adji bicara dengan tegas.
Eva segera mengemasi barang-barangnya. Rencana untuk tinggal di tokoku hingga sore nanti dia urungkan.
"Kenzie kita pergi sekarang nak, Mama lupa masih ingin mengajak kamu ke suatu tempat." Eva menarik tangan Kenzie lalu dengan terburu-buru mengajaknya keluar.
Aku menyusul mereka keluar karena aku merasa kasihan.
"Tunggu Eva," teriakku.
Eva berhenti. "Maaf Win, lebih baik aku pergi. Katakan pada Mas Adji aku sungguh-sungguh minta maaf dan aku sangat menyesal. Aku harus pergi sekarang."
"Tunggu Eva, kamu mau kemana? Bis menuju kotamu masih lama keberangkatannya."
"Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu di terminal. Ayo Kenzie, kita pulang." Eva sangat tergesa-gesa. Dia langsung menarik tangan Kenzie yang sepertinya masih ingin tinggal lebih lama di sini.
Aku mengambil dompetku dan memberikan beberapa lembar uang untuk Kenzie.
__ADS_1
"Nanti buat jajan ya," ucapku sambil mengelus kepalanya. Jujur aku kasihan melihat anak itu. Sekak kecil dia tidak mengenal ayahnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kelak ketika dia dewasa mengetahui jika ayahnya tidak mengakuinya.
Kenzie menoleh ke ibunya. Dia ingin menolak pemberianku.
"Tidak usah Win, kamu sudah sangat baik kepada kami."
"Tidak apa-apa Kenzie, ambil saja. Tidak setiap hari kita bertemu."
"Terimakasih Tante," ucapnya.
"Kami pergi Win, sekali lagi terimakasih." Lalu mereka berdua berlalu dari hadapanku.
Aku kembali masuk ke dalam toko dan melihat Mas Adji sibuk dengan Kirana dan sepeda barunya.
"Dia sudah pergi?" tanya Mas Adji tanpa menatapku.
"Sudah."
"Kenapa kamu berhubungan dengannya?"
"Aku kasihan padanya Mas. Kamu ... " Aku tidak melanjutkan kalimatku.
"Sudahlah jangan bicarakan dia!"
Mas Adji berdiri lalu menghampiriku.
"Nanti malam aku ingin mengajak kalian makan malam. Aku sudah memberitahu Keisha dan dia setuju. Kamu bisa kan?"
Aku tidak bisa langsung menjawab.
"Baiklah."
"Oke, nanti malam aku jemput jam tujuh." Wajah Mas Adji tampak cerah setelah mendengar jawabanku. Lalu dia menghampiri Kirana dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Aku tidak tahu apa yang mereka berdua rencanakan, tetapi mereka terkekeh bersamaan. Baru sebentar bersama papanya Kirana sudah tidak malu-malu lagi.
"Papa pulang dulu ya dek, nanti malam kita ketemu lagi."
"Oke pah ..." Kirana memeluk Papanya. "Sampai jumpa nanti malam."
"Aku pulang dulu Win."
Aku mengangguk.
Malam harinya ...
"Ma ... Udah siap belum?" teriak Keisha dari luar pintu kamarku. Keisha bilang aku harus dandan yang cantik dan memakai baju yang bagus. Dia bahkan memilihkan baju yang aku pakai saat ini.
"Bagaimana?" tanyaku sambil memamerkan penampilanku di depan Keisha.
Dia mengacungkan dua jempolnya.
__ADS_1
"Ini kan cuma makan malam biasa Kei, kenapa kamu ribet seperti ini?"
"Biasa kan buat mama? Buat aku dan adek ini istimewa. Kapan lagi kita bisa makan bareng seperti keluarga yang utuh ada papa dan mama?"
Aku sedikit tersindir dengan kata-kata Keisha. "Mana adikmu?"
"Adek sudah siap, dia menunggu papa di depan."
"Baiklah, kita tunggu papamu."
Lalu aku dan Keisha menghampiri Kirana. Kami bertiga duduk seperti sedang menunggu taksi yang lewat.
Tak berapa lama Mas Adji datang dan kami langsung berangkat.
Kami tiba di sebuah restoran berkonsep garden. Mas Adji sudah memesan gazebo yang hanya diisi kami berempat.
Selesai makan anak-anak berlarian di taman, sementara aku dan Mas Adji mengawasi dari gazebo.
"Win, apa kamu sudah mempertimbangkan yang aku bicarakan waktu itu?"
"Aku belum bisa mengambil keputusan Mas. Aku tidak ingin terburu-buru."
"Kamu masih ragu padaku?" Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Mas Adji. Tentu saja tidak mudah percaya lagi kepadanya. Selain itu juga ada mertuaku yang membuatku semakin ragu.
"Lihat anak-anak kita Win, mereka tertawa bahagia karena melihat kita bersama. Aku ingin mereka terus bahagia. Mari kita besarkan anak berdua, Aku tahu masa laluku membuatmu ragu, tetapi aku sudah melangkah ke depan Win. Aku ingin membuka lembaran baru lagi bersamamu."
Aku terus memandangi anak-anakku. Semua yang aku lakukan adalah demi kebahagiaan mereka.
"Ma ... Sini ... " Keisha memanggilku dan memintaku bergabung bersamanya di taman. Aku mengikutinya. Aku berjalan di jalan setapak yang dipenuhi bunga dan cahaya lampu temaram. Lalu Mas Adji menyusul di belakangku.
Begitu sampai di tengah-tengah taman Keisha langsung meraih tangan kiri sementara Kirana meraih tangan kananku. Mereka berdua menggandeng tanganku dan berdiri di sampingku.
Lalu tiba-tiba Mas Adji berlutut di depanku dan mengeluarkan cincin dari sakunya.
"Winda, maukah kamu menikah denganku ... lagi?"
Aku terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Aku tidak menyangka Mas Adji akan melakukan ini. Dia melamarku di depan anak-anak kami.
"Apa kamu menerima lamaranku?"
Aku melihat Keisha dan Kirana secara bergantian sebelum menjawab. Mereka terlihat sangat berharap kepadaku.
"Mas ... Aku ... Bagaimana ini?" Aku bingung sendiri.
"Ma ... mau ya?" Keisha terlihat berkaca-kaca.
Aku kembali menatap Mas Adji.
"Aku mohon Win ... "
Aku mengangguk. "Baiklah, aku terima lamaranmu." Ketiga orang ini langsung memelukku secara bersamaan begitu aku memberikan jawaban.
__ADS_1
"Terimakasih Win ... terimakasih. Aku tidak akan mengecewakan kamu lagi."
...** The End **...