Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 47


__ADS_3

"Heh ... Jangan gila kamu Winda!!! Kamu ingin memeras Adji?!!"


"Apa ibu tidak salah??? Apa tidak sebaliknya??? Kalau ibu atau Mas Adji bisa mengganti uangku maka aku akan memberikan yang ibu inginkan. Tetapi jika tidak, maka Mas Adji juga tidak akan mendapatkan sepeserpun dariku!!!"


"Kamu ini ya ....?!! Mentang-mentang sekarang bisa cari uang terus mau buang Adji seenaknya!!!"


Aku sebenarnya tidak mau bertengkar dengan mertuaku. Ini hanya buang-buang waktu dan tenaga karena dia tidak akan mengerti dan tidak mau instrospeksi diri.


Aku biarkan mertuaku mengoceh seenaknya. Sudah aku usir secara halus tetapi dia tidak sadar. Semua penjelasanku juga tidak merubah sudut pandangnya tentang hubunganku dan Mas Adji. Entah bagaimana cara menghiadapi mertuaku ini.


Berapa kali aku harus menjelaskan jika aku ingin berpisah dari Mas Adji bukan karena aku sudah bisa cari uang sendiri melainkan karena perbuatan Mas Adji. Ini sama sekali bukan tentang uang.


Pagi harinya...


Aku sedang menunggu Keisha menghabiskan sarapan setelah itu aku akan mengantarkan dia ke sekolah. Tiba-tiba aku mendengar suara Mas Adji berteriak dari luar.


"Keisha ... Papa pulang ... !!!"


"Ma ... Papa pulang Ma ... "


Tanpa berkata apa-apa lagi Keisha langsung meletakkan sendoknya dan berlari untuk membukakan pintu. Mau tidak mau aku mengikutinya.


Rupanya Mas Adji sudah menyadari jika jam ini adalah waktunya aku keluar rumah untuk mengantarkan Keisha sekolah. Dan dia mengambil kesempatan ini.


"Papa ... " Mas Adji berlutut di depan Keisha dan Keisha pun langsung berlari ke dalam pelukannya.


Aku hanya bisa menatap interaksi mereka dengan rasa haru. Hatiku sangat tersentuh melihat adegan ini. Apa aku tega merusak kebahagiaan Keisha demi diriku sendiri? Memang Keisha menjadi sangat dekat dengan Papanya setelah papanya sakit.


"Papa lama banget sih ke luar kotanya? Keisha udah kangen tau?!"


"Keluar kota?"


"Iya ... Mama bilang Papa ada kerjaan di luar kota. Iya kan Ma?" Keisha menoleh ke arahku.


Aku bingung mau jawab bagaimana karena itu hanya akal-akalanku saja agar Keisha berhenti menanyakan papanya.


Mas Adji menatapku bingung.


"Oh ... Iya ... Maafkan Papa ya sayang ... " Syukurlah Mas Adji mengerti permainanku.


"Keisha mau berangkat sekolah? Papa antar ya?"

__ADS_1


"Memangnya papa nggak kerja?"


"Papa mau libur hari ini biar bisa nemenin Keisha. Kan sudah beberapa hari Keisha papa tinggal? Emang nggak kangen sama papa?"


"Kangen dong ...!!!" Keisha kembali memeluk papanya.


"Sudah selesai sarapannya?" Keisha mengangguk.


"Kita berangkat sekarang?" Keisha kembali mengangguk.


"Papa kok nggak mencium mama dulu?"


"Oh ... Iya Papa lupa."


Lalu Mas Adji berjalan mendekati aku. Dia hendak mencium keningku tapi aku langsung mundur, menjauhkan diriku dari dia.


"Keisha ambil tas dulu Pa ... "


"Oke ... Papa tunggu di sini.


Lalu Mas Adji mengulurkan tangannya untuk menyentuh perutku. Aku hampir saja menepis tangannya.


"Kamu boleh marah padaku, Tapi kamu tidak boleh menghalangi aku untuk menyapa anakku." Yang dia maksud adalah bayi yang masih ada di dalam perutku.


Sekarang aku merasa jijik baru melihat tangannya saja. Tangan yang sudah menggerayangi tubuh Eva. Ah .... Nama itu membuat darahku kembali mendidih.


"Bayi yang ada dalam perutku memang anakmu, tetapi ini tubuhku dan aku tidak ingin kamu menyentuh tubuhku. Aku tidak ingin tangan kotormu menyentuhku!"


"Win ... Maafkan aku. Kita bisa bicarakan ini dulu."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan!"


"Sayang ... Lihat Keisha. Dia bisa terpukul jika tahu orang tuanya akan berpisah. Pikirkanlah lagi keputusanmu!"


"Kamu yang perlu berfikir Mas!!! Pikirkan lagi perbuatanmu!!! Apa kamu pikir aku masih bisa memaafkan kamu? Kamu yang berbuat kesalahan, lalu kenapa aku yang harus memikirkan akibatnya???"


"Yuk Pa ..." Belum sempat Mas Adji menjawab, Keisha sudah kembali muncul diantara kami.


"Aku akan mengantar Keisha dulu. Kita bicarakan ini lagi nanti. Aku akan kembali kesini. Jangan menghindari aku!"


Lalu Mas Adji pergi bersama Keisha dan aku hanya bisa menatap kepergian mereka dengan hati bimbang.

__ADS_1


Apakah keputusanku sudah benar? Apakah aku egois jika hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri tanpa memikirkan anak-anakku? Lalu bagaimana dengan Mas Adji? Apa dia tidak lebih egois dari aku?


Seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, Mas Adji kembali ke rumah setelah mengantarkan Keisha ke sekolah. Dia langsung masuk seperti biasanya karena aku sudah memberitahu Art di rumah untuk membiarkan dia masuk.


"Win ... Aku minta maaf. Aku tahu ini memang sulit untuk dimaafkan tapi aku benar-benar menyesal. Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan."


"Yang benar saja Mas!!! Kamu di sana enak-enakan sama pela*ur itu dan kamu bilang tidak tahu yang kamu lakukan? Kamu pikir aku akan percaya?!!"


"Aku seperti tidak sadar Win ... Aku sungguh-sungguh."


"Alasan apa lagi ini Mas? Kamu pikir aku akan percaya? Aku kurang apa sih sama kamu? Aku sudah memaafkan kamu atas pengkhianatanmu dulu. Aku masih mau menerimamu ketika kamu sakit-sakitan bahkan aku berjuang untuk kesembuhanmu. Disaat keluarga dan teman-temanmu semua meninggalkanmu, aku tetap ada untukmu! Dan ini balasanmu untukku?"


Rasanya hatiku ingin meledak.


"Kamu tahu Mas, aku bahkan sudah tidak bisa menangis karena terlalu seringnya aku merasakan penderitaan. Dan itu semua karena kamu. Tapi kamu tidak pernah sadar itu!!! Aku pikir hatimu itu terbuat dari batu!!!"


"Aku ... Aku ... " Mas Adji berlutut di depanku, untuk kesekian kalinya setelah kami menikah.


"Mau berapa kali kamu berlutut di depanku? Mau berapa kali kesempatan yang kamu minta?"


"Aku janji ini yang terkahir Win ... Kumohon maafkan aku ... Demi anak-anak kita ... "


Dan tiba-tiba saja perutku terasa kencang, aku merasakan nyeri yang luar biasa di perut bagian bawahku. Aku meringis kesakitan sambil memegangi perutku.


"Win ... Kamu tidak apa-apa sayang?" Mas Adji dengan sigap langsung menuntunku dan membawaku duduk di kursi.


Aku berusaha menahannya tetapi rasanya tidak kuat. Ini sakit sekali tetapi tidak seperti ingin melahirkan. Mas Adji terlihat sangat panik.


"Kita ke rumah sakit ya ... "


"Mbak tolong ambilkan obatku." Aku berteriak kepada Art di rumah.


"Dimana obatnya biar aku yang ambilkan?"


"Di nakas," jawabku sambil terus menahan rasa sakit.


Segera Mas Adji berlari kamar dan dalam sekejap dia sudah kembali membawa obat dan juga segelas air.


Setelah beberapa saat aku merasa lebih baik meski masih merasakan sakit.


"Aku akan membawamu ke dokter."

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku bisa pergi ke dokter sendiri!"


"Jangan ngeyel kamu. Demi keselamatan kalian berdua." Tanpa basa basi Mas Adji langsung menggendongku dan membawaku mobil.


__ADS_2