
Hari Minggu tiba. Seperti janjiku, aku mengijinkan Mas Adji untuk membawa Keisha dan Kirana kemana saja asal tidak bertemu pela*ur itu.
Pagi-pagi sekali Mas Adji sudah datang untuk menjemput anak-anak. Sepertinya dia meminjam mobil Mas Arya karena aku mengatakan padanya jika Kirana tidak terbiasa naik sepeda motor.
"Anak-anak sudah siap?"
Aku menyambut Mas Adji di depan pintu sambil menggendong Kirana. Belum sempat aku menjawab Keisha sudah berlari dari belakangku.
"Papa .... " teriak Keisha begitu melihat Papanya. Dia langsung menghambur ke pelukan Papanya seperti biasa.
"Sudah siap?" tanya Mas Adji.
Keisha mengangguk sumringah.
"Kita mau kemana Pa?"
"Jalan-jalan kemana pun Keisha mau."
Lalu Mas Adji menghampiriku.
"Anak Papa .... " ucapnya sambil mengelus-elus pipi Kirana. "Hari ini ikut Papa ya ... "
Mas Adji meraih Kirana dari gendonganku. Aku heran melihat Kirana tidak menangis, padahal dia tidak biasa bersama orang asing.
Aku memperhatikan bagaimana Kirana bisa langsung dekat dengan Mas Adji meski jarang bertemu. Bagaimanapun juga ada hubungan darah diantara mereka.
Setelah semuanya siap Mas Adji pun pamit.
"Aku pergi dulu Win ... Nanti aku antar mereka pulang sebelum jam lima."
Aku mengangguk.
"Titip anak-anak ya Mbak ... "ucapku kepada Mbak yang biasa mengasuh Kirana. Aku memintanya untuk ikut menemani mereka karena Mas Adji pasti tidak bisa mengasuh Kirana sendirian.
...****************...
Adji POV
Senang bisa melihat wajah berseri Keisha, apalagi bisa menggendong si gembul Kirana. Tak henti-henti ku pandangi wajahnya yang sangat mirip denganku.
Seandainya saja semua masih seperti dulu, tentu saat ini aku sedang sangat bahagia. Memiliki istri cantik dan sukses, anak-anak yang cantik dan menggemaskan, dan karirku sendiri yang mulai menanjak, hidupku pasti sangat sempurna.
Aku mengajak Keisha jalan-jalan ke mall, membeli semua mainan yang dia inginkan juga membelikan baju untuk si kecil. Setelah itu aku mengajak mereka ke rumah ibu dan menghabiskan waktu di sana. Tidak mungkin aku membawa mereka ke kontrakan karena ada Eva. Winda sudah mewanti-wanti aku agar jangan sampai anak-anak bertemu Eva.
__ADS_1
Setelah itu aku mengantarkan mereka pulang tepat jam lima. Aku harus memberikan kesan yang baik agar Winda mengijinkan aku mengajak anak-anak lagi nanti.
Aku sampai di kontrakan hampir jam tujuh malam. Eva sudah menyambutku dengan wajah cemberut.
"Mas ... Seharian tadi kamu kemana?"
"Aku ada urusan," jawabku singkat.
"Urusan apa Mas?"
"Bukan urusanmu!"
"Aku ini istrimu Mas, aku berhak tahu kemana kamu pergi dan dengan siapa, aku berhak tahu!" Eva mulai menyolot.
"Aku pergi dengan anak-anakku." Aku harap jawabanku ini membuatnya segera diam.
"Kenapa tidak mengajakku? Aku istrimu, seharusnya kamu menghabiskan hari liburmu bersamaku!" Eva kembali menyolot.
Aku berjalan menuju kamar, meninggalkan Eva yang masih mengomel tidak jelas. Yang terbaik yang bisa aku lakukan adalah menghindari dia sebelum aku kehilangan kesabaran.
Aku ingat terkahir kali aku tidak bisa mengontrol emosiku dan menamparnya. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi karena aku bisa saja menghajarnya.
Tetapi Eva terus mengikuti aku dengan mulut yang tidak berhenti mengoceh.
"Kamu menghabiskan uang berapa bersama anak-anakmu tadi? Berikan aku jumlah yang sama dengan uang yang kamu habiskan bersama mereka!"
"Itu beda, aku minta ganti rugi karena kamu tidak mengajakku jalan seperti anak-anakmu!"
Aku masih bisa menahan kesabaranku. Aku buka dompet dan kuberikan beberapa lembar uang kepadanya. Dia pun tersenyum. Yang ada di pikirannya hanya uang dan uang.
"Siapkan air hangat, aku ingin mandi!"
"Kamu siapkan saja sendiri ya Mas, aku malas, bawaannya pingin rebahan," jawabnya tanpa rasa sungkan. Lalu dia berlalu sambil mengibaskan uang yang tadi aku berikan.
Eva benar-benar sedang menguji kesabaranku. Aku hanya ingin mandi kemudian beristirahat, itu saja.
Aku mengalah untuk menghindari keributan. Aku ke dapur untuk memanaskan air. Dan sampai di dapur aku menemukan keadaan dapur yang berantakan. Piring kotor memenuhi bak cuci piring dan sampah bekas makanan yang masih berserakan di meja makan, jorok sekali.
Aku tidak terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Dulu Winda selalu menjaga kebersihan rumah dan menyiapkan kebutuhanku tanpa aku minta.
Aku kembali ke ruang depan mencari Eva.
"Apa kamu tidak bisa mencuci piring atau paling tidak membersihkan sampahmu sendiri?!"
__ADS_1
"Aku malas Mas ... Sudah aku bilang aku hanya ingin rebahan. Aku kan lagi hamil, sebulan lagi melahirkan. Malas ngapa-ngapain."
"Perempuan hamil itu bukan kamu saja! Dulu Winda hamil tapi dia masih bisa melakukan semuanya. Memasak, mencuci membersihkan rumah, dia lakukan semuanya.Tidak bermalas-malasan seperti kamu!"
"Tapi aku tidak mau melakukan itu! Aku bukan pembantu!"
Sudah habis kesabaranku menghadapi Eva. Aku dekati dia lalu aku cengkeram wajahnya.
"Memangnya sebelum menikah denganku kamu ini siapa? Pekerjaanmu apa? Hah ...?! Dasar pela*ur tidak tahu diri!"
Aku tatap mata Eva tajam. Marah dan benci memenuhi perasaanku. Bagaimana bisa aku dulu jatuh ke pelukannya?!
"Mas ... lepaskan tanganmu ... Kamu menyakitiku." Eva terlihat ketakutan.
Suaranya membuatku sadar dan langsung melepaskan tanganku dari wajahnya. Aku bisa melihat bekas merah di wajah Eva karena tanganku. Jujur aku kasihan melihatnya seperti itu, tetapi aku begini juga karena sikapnya.
Aku tidak pernah melakukan kekerasan fisik pada wanita sebelumnya, apalagi kepada Winda. Tetapi dengan Eva, aku tidak bisa mengendalikan emosiku melihat tingkahnya. Aku seperti kesetanan setiap menghadapi dia.
Pantas saja, dia sudah dua kali bercerai, ternyata begini sifatnya.
Aku menghela nafas dalam untuk meredam amarahku. Aku tidak boleh sampai kehilangan kesabaran menghadapinya. Apa jadinya kalau aku sampai menghajar istriku yang sedang hamil?
"Begini saja ... Aku akan memberimu uang jika kamu melakukan pekerjaan rumah, beres-beres, mencuci, masak dan sebagainya. Kalau kamu tidak melakukan itu maka aku tidak akan memberimu uang. Kamu mengerti?" tanyaku dingin.
Eva mengangguk.
"Sekarang siapkan aku air hangat untuk mandi dan bersihkan dapur."
Eva kembali mengangguk dan langsung melakukan yang aku perintahkan.
Apa aku harus kejam begini kepadanya agar dia menurut?
Tak berselang lama Eva kembali.
"Airnya sudah siap Mas," ucapnya.
Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badanku.
Selesai mandi aku rebahan di kamar. Sejak tadi memang aku hanya ingin mandi dan istirahat. Tetapi Eva malah membuat masalah dan menguras emosiku.
Lalu Eva mendatangiku di tempat tidur. Sepertinya dia sudah selesai melakukan pekerjaannya.
"Mas ... Kapan kamu akan mengajakku membeli perlengkapan bayi dan keperluan melahirkan?" tanyanya dengan mata menggoda. Dia seperti sudah lupa jika aku tadi bersikap kasar padanya.
__ADS_1
Eva langsung duduk di sampingku dan memainkan jari-jarinya di dadaku. Darahku berdesir dibuatnya. Perlahan tangannya turun semakin ke bawah. Perempuan ini, meskipun dia bodoh dan pemalas tetapi dia tahu benar caranya memuaskan pria di atas ranjang. Dan aku ingat sekarang, itulah alasan kenapa aku jatuh ke pelukannya.
Aku memejamkan mataku, menikmati sentuhannya. Dalam sekejap dia sudah melepaskan semua pakaian yang baru selesai aku kenakan.