
Winda
Hari-hariku semakin sibuk. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di kios daripada di rumah karena sekarang aku juga harus mengurus packing dan pengiriman. Dan itu semuanya aku lakukan sendiri tanpa bantuan siapapun. Kadang aku merasa sangat lelah, tetapi ketika melihat hasilnya rasa lelah itu hilang.
Aku melihat jam dan tidak terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Aku masih di kios, tenggelam dalam tumpukan pakaian yang belum sempat aku rapikan. Aku terlalu sibuk mengurus orderan dan packing barang-barang yang akan dikirim besok pagi. Belum lagi menyiapkan pesanan seragam batik ibu-ibu PKK.
Lalu aku tengok Keisha yang sudah tidak terdengar suaranya. Rupanya dia sudah terlelap di atas matras yang beberapa waktu lalu sengaja aku bawa dari rumah untuk berjaga-jaga.
Maafkan Mama ya Kei, kamu jadi harus ikut berjuang menemani Mama.
Ku dengar ada yang mengetuk pintu kios.
"Win ... " Suara Mas Adji memanggilku dari depan kios.
Aku segera berjalan untuk membukakan pintu sambil sesekali meregangkan otot-otot tuhuhku.
"Kamu sudah pulang Mas?" tanyaku begitu melihat Mas Adji.
"Tidak ada lembur malam ini," jawabnya sambil berjalan memasuki kios.
"Kios ini sudah hampir penuh Win. Sepertinya kamu butuh tempat yang lebih luas," ucap Mas Adji sambil mengamati sekeliling. Sudah beberapa kali Mas Adji ke sini. Dan terkahir kali ke sini kondisi kios belum sepenuh sekarang.
"Kamu tidak perlu repot-repot menyusulku. Aku bisa pulang sendiri."
"Lalu dia bagaimana? Kamu mau gendong dia naik sepeda?" tanya Mas Adji sambil menunjuk Keisha yang masih terlelap.
Mas Adji berjalan menuju matras tempat Keisha berbaring. Dia membelai pipi Keisha sebentar, mengecup keningnya setelah itu kembali menghampiriku. Lalu dia ikut duduk berdesakan dengan tumpukan pakaian sama seperti aku.
"Ya ... Nggak juga sih." Aku kembali sibuk kertas berisi catatan orderan di tanganku.
__ADS_1
"Kalau capek istirahat dulu Win. Sudah makan? Mau aku belikan sesuatu?"
"Aku tidak capek Mas, aku menikmati pekerjaanku. Aku juga sudah makan dan tidak ingin sesuatu," jawabku sambil tetap fokus dengan pekerjaanku.
"Tapi aku kasihan pada Keisha,"ucap Mas Adji dengan mata yang memandang Keisha.
Sontak aku mengehentikan kegiatanku dan ikut memandangi Keisha. Memang sejak dulu kami berdua sepakat untuk menomor satukan Keisha. Hingga aku setuju untuk berhenti bekerja demi dia.
"Dia harusnya tidur di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Bukan bersama nenek dan kakeknya."
"Apa maksudmu Mas? Aku tidak pernah mengabaikan Keisha. Aku yang menyiapkan segala keperluannya. Dia bersama ibu dan bapak hanya jika aku sedang bekerja. Selebihnya aku selalu bertanya apakah dia mau ikut aku ke sini atau tinggal bersama ibu di rumah. Aku tidak pernah memaksanya," jawabku panjang lebar dan dengan nada bicara yang mulai sewot.
Entah karena aku sedang capek sehingga perasaanku sensitif atau Mas Adji memang sengaja menyindirku.
"Winda sayang ... Dengarkan aku ... Jangan emosi dulu." Mas Adji sudah mengambil ancang-ancang sebelum aku semakin menaikkan nada bicaraku.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin kamu kecapekan. Membayangkan kegiatan kamu sehari saja sudah capek. Apalagi kamu yang menjalaninya?" ucap Mas Adji pelan.
"Luangkan waktumu. Kamu bisa berhenti bekerja kalau kamu mau. Atau kamu bisa membayar seseorang untuk membantumu. Pekerjaan ini tidak akan ada habisnya jika kamu turuti. Aku hanya tidak ingin Keisha kehilangan waktu berharganya karena kesibukan kita."
Aku terdiam dan memikirkan kalimat Mas Adji yang mungkin ada benarnya. Aku semakin jarang memiliki waktu berkualitas bersama Keisha dan Mas Adji.
"Setiap aku libur bekerja, kamu harus menutup tokomu. Dan kita habiskan waktu bersama Keisha. Kita habiskan hari itu hanya untuk keluarga. Bagaimana?"
Aku diam tidak menjawab pertanyaan Mas Adji.
"Aku sudah belajar dari pengalaman Win. Dulu aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri hingga melupakan kalian. Sekarang jangan sampai kesibukan kita membuat kita menjauh. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi."
"Akan kupikirkan itu Mas. Sekarang lebih baik aku selesaikan pekerjaanku dulu." Aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
__ADS_1
"Ada yang bisa aku bantu?"
Aku menggeleng.
"Kalau kamu mau, kamu bisa membawa Keisha pulang lebih dahulu. Aku bisa pulang sendiri nanti."
"Tidak, aku akan menunggumu sampai selesai. Kita pulang sama-sama. Nanti sepedamu dan sepeda Keisha ditinggal di sini saja. Besok aku antar kamu ke sini."
...****************...
Aku sudah memikirkan kata-kata Mas Adji dan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti kerja.
Sebelumnya aku menemui pemilik toko untuk berterima kasih. Aku mengucapkan banyak terimakasih karena beliau sudah luar biasa baik kepadaku. Beliau mau menerimaku bekerja di tokonya tanpa menilai penampilan fisikku waktu itu.
Aku juga berpamitan kepada Mei, rekan kerjaku yang usianya jauh di bawahku tapi pemikirannya jauh lebih matang dariku. Aku banyak belajar darinya. Aku berjanji akan main ke rumahnya jika ada waktu luang. Tidak lupa aku meminta dia untuk sering mampir ke kiosku karena letaknya tidak jauh dari toko.
Mulai sekarang aku akan fokus berjualan saja dan mengurus Keisha. Toh Mas Adji sudah memberikan gajinya padaku untuk belanja bulanan.
Bicara tentang gaji Mas Adji, aku tidak begitu mengetahui jumlahnya. Aku terima berapapun jumlah yang dia berikan tanpa bertanya berapa gaji yang dia terima dan Mas Adji juga tidak bercerita kepadaku.
Aku memaklumi sekarang Mas Adji hanya pegawai biasa, jadi mungkin gajinya tidaklah banyak. Uang belanja yang dia berikan kepadaku sekarang mungkin tidak ada setengah dari uang belanjaku dulu.
Sementara uang hasil jualanku aku tabung sepenuhnya. Kalau aku menggunakannya pun pasti hanya untuk keperluan jualan, seperti membeli hanger atau rak baju dan kebutuhan lainnya.
Saat ini disela-sela kesibukanku aku luangkan waktu mengambil kursus stir mobil. Aku berencana untuk membeli mobil, jadi jika ada pesanan dalam jumlah besar aku tidak perlu menyewa jasa angkut. Dan itu semua aku lakukan tanpa sepengetahuan Mas Adji.
Aku tidak bermaksud menyembunyikan semua itu darinya, tapi aku juga tidak berniat untuk memberi tahunya. Bukan karena aku merasa penghasilanku lebih banyak lalu aku tidak menghormatinya sebagai suamiku. Tetapi aku merasa ada sesuatu yang hilang setelah pengkhianatan Mas Adji waktu itu.
Aku memang sudah memaafkannya dan hubungan kami sekarang baik-baik saja. Tetapi aku merasa ada berbeda, ada sesuatu yang terasa kosong. Sulit untuk dijelaskan, tetapi aku merasa hubunganku dan Mas Adji sudah tidak seperti dulu meskipun kami baik-baik saja. Mungkin hanya orang-orang yang pernah dikhianati yang mengerti apa yang aku maksud.
__ADS_1