
Aku dan beberapa tetanggaku yang lain sedang berkerumun mengelilingi gerobak sayur. Seperti biasa, jika ibu-ibu berkumpul pastilah ada gosip terupdate di kampung kami.
"Eh ... Sudah pada dengar kan?" Dan di sinilah gosip di mulai.
"Emang bener ya?"
"Kayaknya sih begitu."
"Nggak nyangka ya? Kalau dilihat laki-laki nya sih anteng, nggak banyak omong. Eh ... Ternyata?"
Tetanggaku sahut-sahutan membicarakan seseorang yang aku tidak tahu siapa. Maklumlah aku jarang bergaul dengan mereka karena waktuku habis di kios.
"Sekarang tidak ada yang bisa menjadi jaminan seorang laki-laki itu selingkuh atau tidak."
"Dengar-dengar .... Si istri menyaksikan sendiri suaminya sama perempuan lain di rumah mereka."
"Katanya lagi, selingkuhannya itu temannya sendiri. Mirip cerita artis ya, suaminya diembat teman sendiri?"
Lalu ibu-ibu ini cekikikan seakan yang mereka bicarakan adalah sesuatu yang lucu.
Ibu-ibu ... jika hal itu terjadi pada kalian, apa kalian masih bisa tertawa seperti ini?
Aku hanya diam dan fokus memilih sayuran, semakin cepat semakin baik agar aku tidak perlu terlibat dalam acara gosip pagi ini.
Aku jadi berpikir apakah mereka juga membicarakan aku seperti ini ketika dulu aku sedang tertimpa masalah? Meski aku sudah berusaha menyembunyikan keadaan rumah tanggaku, aku yakin mereka mengetahuinya.
Tetangga-tetanggaku ini seperti orang yang memiliki kemampuan untuk menerawang, bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa diberi tahu. Mereka hanya bermodal nguping lalu berbicara seolah-olah tahu semuanya. Mereka terlihat asik sekali membicarakan orang lain seolah mereka sendiri tidak punya masalah.
"Tapi kalau dipikir-pikir kasihan juga, ya. Suaminya kan pendiam juga tidak begitu ganteng, dikira nggak akan terkena godaan perempuan. Eh ... ternyata sama saja dengan laki-laki yang terlihat pecicilan."
"Lah ... mending laki-laki pecicilan, kalau dia selingkuh kita mah nggak kaget karena sudah kelihatan dari sifatnya yang pecicilan. Kalau yang keliatan pendiam gini tahu-tahu selingkuh, kan sulit dipercaya?"
Sebenarnya mereka ini sedang membicarakan siapa, apa mungkin sedang menyindirku? Lama-lama telingaku panas juga mendengar pembicaraan mereka. Lebih baik aku segera pergi dari sini.
"Ibu-ibu, saya duluan ya ..." Aku pamit kepada mereka yang semuanya berusia lebih tua dariku.
"Win ... Kok buru-buru?"
"Iya ... takut kesiangan nanti ke kiosnya."
"Oh ... Jangan bilang-bilang ya tadi yang kamu dengar." Masih ada yang sempat berbicara seperti itu kepadaku.
__ADS_1
.
...****************...
Kios sudah tutup karena Shanti sudah pulang. Sebenarnya ada banyak pekerjaan tapi aku sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Aku hanya melamun sambil menatap tumpukan pakaian yang masih terbungkus rapi di dalam plastik.
Aku teringat obrolan tetanggaku tadi pagi. Laki-laki yang selingkuh tidak bisa dilihat dari penampilan dan sikapnya, tidak ada yang bisa menjadi jaminan.
Tiba-tiba ponselku berdering. Kulihat siapa yang menelepon.
Likha?!! Nggak salah? Untuk apa dia meneleponku?
Aku abaikan panggilan telepon dari Likha. Malas sekali harus berurusan dengannya setelah beberapa kali dia berusaha mempermalukan aku.
Beberapa saat kemudian dia kembali menelepon. Tapi aku tetap mengabaikannya. Begitu terus berulang-ulang, sampai akhirnya aku menyembunyikan ponselku di laci meja.
Aku tidak perlu mengangkat telepon dari Likha. Tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi dengannya.
Tak berselang lama, pintu kios di ketuk dari luar. Aku pikir itu Mas Adji yang menyusulku seperti biasanya. Segera aku beranjak untuk membuka pintu.
"Kamu menyusulku Mas?" tanyaku sambil membuka pintu kios. Tetapi ternyata bukan Mas Adji yang aku temukan di balik pintu.
"Likha ... ? Apa yang kamu lakukan di sini?
"Tadi aku ke rumahmu tapi suamimu bilang kamu ada di sini. Aku telepon kamu juga nggak diangkat. Aku bingung, tidak tahu mau kemana lagi." Akhirnya Likha menangis di depanku.
"Ayo masuk ... " Aku membawa Likha masuk ke dalam kios.
Melihat kondisinya saat ini, aku memutuskan untuk mengesampingkan rasa dendam atas sikapnya kepadaku beberapa waktu yang lalu.
"Duduklah ... " Likha menuruti kata-kataku. "Apa apa?" tanyaku lembut.
Bukannya menjawab, Likha justru kembali terisak.
Aku membiarkan Likha menangis, setelah tangisnya reda barulah dia membuka suara.
"Suamiku selingkuh ... "
Aku menghela nafas mendengar kalimat Likha. Terjawab sudah siapa orang yang tadi pagi dibicarakan oleh tetangga-tetanggaku.
Aku sama sekali tidak terkejut mengingat apa yang sudah terjadi kepadaku. Aku hampir tidak percaya jika ada laki-laki yang tidak selingkuh.
__ADS_1
Entah bagaimana kriteria laki-laki yang tidak selingkuh, aku belum menemukan contohnya. Bahkan laki-laki yang terlihat santun dan pendiam pun bisa selingkuh. Yang miskin pun juga bisa selingkuh, apalagi mereka yang punya segalanya.
"Kamu tahu darimana suamimu selingkuh? Kamu sudah memastikannya?"
Likha mengangguk lalu mulai bercerita.
"Aku merasa aneh karena sikap suamiku berubah akhir-akhir ini. Dia jadi sering bercermin untuk melihat penampilannya. Dia juga jarang mengajakku berhubungan ... kamu tahu maksudku kan?"
Aku mengangguk.
"Dari situ aku mulai curiga. Aku membuka ponselnya tapi tidak ada yang aneh. Aku juga pernah membututi dia, tetapi dia juga tidak melakukan hal yang aneh-aneh di luar. Ternyata dia melakukannya di rumah, di kamarku sendiri." Tangis Likha kembali pecah.
Hilang sudah rasa dendam ku melihat Likha seperti ini. Aku kasihan melihatnya. Aku pernah merasakan di posisinya, sungguh sangat menyakitkan. Bedanya, Likha mencari tempat untuk mencurahkan isi hatinya, sementara aku hanya memendamnya sendiri.
"Aku harus bagaimana Win?"
Aku diam tidak tahu harus menjawab apa.
"Tenangkan dirimu dulu, setelah itu bicarakan baik-baik dengan suamimu."
Mudah sekali bicara, faktanya tidak ada yang bisa dibicarakan secara baik-baik saat mengetahui suami kita selingkuh. Aku jadi teringat pertengkaran ku dengan Mas Adji malam itu.
Melihat wajahnya saja sudah memancing emosi, apalagi bicara baik-baik dengannya, tidak mungkin! Rasanya ingin memaki atau berteriak keras-keras di depan wajahnya.
"Aku marah, aku sakit hati, aku malu, aku tidak terima Win. Aku tidak terima diperlakukan seperti ini."
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
Likha terdiam. Sesekali dia menyeka air matanya yang sejak tadi tidak berhenti mengalir.
"Bagaimana menurutmu Win? Aku harus bagaimana? Kamu sudah pernah mengalami hal seperti ini kan? Kamu bisa melewatinya.
"Kamu sudah bertemu perempuan itu?" Likha mengangguk.
"Kamu sudah bicara dengannya? Kamu tahu siapa dia?"
"Kamu juga kenal wanita itu. Eva, aku menemukan suamiku bersama Eva di kamarku."
"Apa??? Kamu serius???" Aku kaget mendengar ini.
"Aku bodoh sekali Win. Aku terlalu percaya padanya. Aku anggap dia temanku tetapi ternyata dia ingin mengambil suamiku."
__ADS_1
"Salahku Win, aku sering mengajak dia main ke rumah. Aku membiarkan dia bebas di rumahku. Bahkan kadang dia berkunjung sampai malam pun aku tidak curiga."