
"Mas ... Ijinkan aku keluar, aku ingin ke kamar kecil," suara Eva membangunkan aku.
Ku tengok jam di dinding. Rasanya baru beberapa menit aku memejamkan mata tetapi sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku bahkan sampai tidak berangkat bekerja karena masalah ini.
"Mas ... Ijinkan aku keluar. Aku ingin ke kamar mandi, Aku sudah tidak tahan ... Aku mohon," Suara Eva kembali terdengar.
Akhirnya aku Aku berdiri untuk membukakan pintu kamar yang aku kunci.
Setelah itu Eva muncul dengan wajah penuh memar dan bibir yang bengkak akibat pukulanku semalam. Dan aku sama sekali tidak kasihan melihatnya. Bahkan rasanya aku masih belum puas menghajarnya. Mau dibilang aku laki-laki pengecut karena beraninya menghajar perempuan aku tidak peduli. Eva pantas mendapatkannya.
Eva tidak berani menatap mataku. Dia berjalan menunduk melewati ku menuju kamar mandi. Aku tidak menengok Kenzie di dalam. Apa dia sudah tidur atau bangun aku tidak peduli. Aku sudah buang-buang uang dan tenaga merawat anak yang ternyata bukan anakku selama ini.
Setelah Eva masuk ke kamar mandi aku keluar untuk mencari sarapan. Tidak lupa aku mengunci pintu dari luar agar Eva tidak kabur. Pokoknya dia tidak akan kemana-mana sampai masalah kami selesai.
Pulang dari membeli sarapan aku melihat Eva sudah membersihkan badannya. Bekas darah di wajahnya sudah hilang dan bibirnya juga sudah tidak seperti tadi. Mungkin dia sudah mengompresnya. Ruang tamu juga sudah kembali rapi, sepertinya dia juga sudah membereskannya.
Eva masih tidak berani menatapku, bahkan aku yakin saat ini dia masih ketakutan melihatku.
Aku berikan makanan yang sudah aku beli untuknya.Meskipun aku marah aku masih punya sedikit rasa kasihan. Aku masih ingat untuk membelikan dia makanan.
"Makan!" ucapku kasar.
Eva menerima makanan pemberianku tetapi dia tidak segera memakannya. Dengan takut-takut dia menatapku.
"Mas ... "
"Ssssst .... " Aku meletakkan telunjukku di bibir Eva. "Kalau kamu tidak ingin kejadian semalam terulang sebaiknya kamu diam. Aku sedang tidak ingin mendengar apapun darimu!"
Aku menatap mata yang Eva dengan api amarah yang masih membara.
"Bawa makananmu ke kamar. Diam di sana dan urusi anakmu!" Eva menurut.
Setelah Eva kembali ke kamar, aku masuk ke kamar mandi, berharap mengguyur tubuhku dengan air dingin bisa membuat amarah di dadaku hilang.
__ADS_1
Keluar dari kamar mandi aku merasa lebih segar meski dada ini masih dipenuhi amarah. Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Aku harus bersiap-siap untuk menemui laki-laki yang ditelepon Eva semalam. Dari pesan yang aku baca, mereka janjian akan bertemu di hotel X pukul dua belas siang ini.
Aku sudah selesai bersiap-siap dan tinggal berangkat. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah. Aku tahu itu siapa karena tidak merasa sedang menunggu seseorang. Yang biasa datang ke rumah ini hanya ibu, tidak ada orang lain. Kalaupun itu ibu, pasti dia sudah teriak-teriak karena tidak segera dibukakan pintu.
Eva buru-buru keluar dari dalam kamar. Dia ingin membuka pintu tetapi dia urungkan niatnya karena takut ketika melihatku.
"Kamu menunggu seseorang?" tanyaku dingin. "Siapa dia?" Eva tidak menjawab.
"Masuk ke kamar!!! Diam di sana kalau kamu tidak ingin aku kunci lagi dari luar!!!" Tanpa berbicara Eva kembali masuk ke dalam kamar.
Aku bergegas membuka pintu. Di balik pintu aku menemukan seorang wanita paruh baya.
"Mencari siapa Bi?" tanyaku sopan.
"Mencari Mbak Eva, katanya hari ini saya di suruh menjaga anaknya," jawab wanita itu.
"Oh ... Begitu rupanya.
"Sini ... Masuk dulu Bi." Aku mengajak wanita itu masuk.
Wanita itu mengangguk. "Nggak sering sih Mas, tetapi sudah beberapa kali."
"Bibi tahu Eva pergi kemana saat menitipkan anaknya kepada Bibi?" tanyaku lagi.
"Mbak Eva nggak bilang mau kemana sih, cuma titip aja sebentar, paling satu atau dua jam sudah kembali. Mas ini suaminya mbak Eva?"
"Iya ... " Aku mengangguk dan berusaha tersenyum meski aku sedang merasa sangat geram.
"Oh ... Maaf saya nggak tahu, baru bertemu sekali ini. Biasanya kalau saya kesini Mas nya baru kerja."
Sekarang aku mengerti bagaimana Eva bermain di belakangku. Saat aku bekerja, dia menitipkan anaknya kepada Bibi ini lalu pergi menemui laki-laki itu.
Dasar perempuan murahan!
__ADS_1
"Maaf ya Bi, tetapi hari ini Eva nggak jadi pergi. Jadi Bibi bisa pulang, lain kali kalau Eva membutuhkan bantuan pasti akan menghubungi Bibi lagi."
"Gimana sih Mas? Kemarin bilangnya saya harus datang tepat waktu, kok sekarang nggak jadi?!" Wanita itu sudah memasang wajah kesal.
"Iya Bi ... maaf." Aku menyelipkan selembar uang ke tangan wanita itu dan wajah kesalnya langsung hilang seketika.
Setelah kepergian wanita itu aku mendatangi Eva di dalam kamar.
"Kamu dengar semuanya kan?" tanyaku dingin. "Begitu caramu bermain di belakangku? Begitu caramu mengecohku? Saat aku bekerja kamu bersenang-senang dengan laki-laki lain?!"
Eva tidak bisa berkata-kata. Aku segera keluar dari kamar agar tidak terbawa emosi dan kembali menghajarnya. Aku ingat harus menemui laki-laki itu di hotel.
Sebelum pergi tidak lupa aku mengunci rumah dari luar, agar Eva tidak bisa kabur. Aku belum selesai dengannya. Dua-duanya harus mendapatkan balasan. Aku tidak terima karena mereka sudah mempermainkan aku dan menginjak-injak harga diriku sebagai seorang laki-laki.
Aku sudah sampai di hotel yang dimaksud. Aku buka ponsel Eva dan mengirim pesan kepada laki-laki itu seolah Eva yang mengirim pesan.
Rupanya laki-laki itu sudah menunggu di dalam hotel. Dia juga memberitahu nomor kamarnya. Bergegas aku menuju kamar yang dia tuliskan. Sampai di depan kamar aku berhenti sebentar untuk menetralisir emosiku. Setelah itu barulah aku mengetuk pintu.
Pintu terbuka. Aku tidak percaya melihat siapa laki-laki yang berdiri di balik pintu.
"Haris???" Dia adalah suami dari Likha, sahabatnya Winda. Aku benar-benar tidak menyangka.
"Menunggu seseorang?" tanyaku dingin. Tanpa menunggu jawabannya aku langsung melayangkan tinju ke perutnya.
"Bro ... Kamu salah paham," hanya itu kata-kata yang sempat keluar dari mulutnya karena setelah itu aku menghajarnya habis-habisan.
Aku menyandarkan tubuhku di tembok. Sepertinya sudah cukup aku memberi Haris pelajaran. Dia sudah setelah tergeletak tidak berdaya. Aku sendiri sudah kehabisan tenaga karena dia juga sempat melawan dan beberapa kali berhasil memukulku.
"Jadi selama ini kamu tahu dia hamil anakmu tetapi kamu diam saja??? Begitu hah?!!" tanyaku dengan nafas tersengal.
Haris tidak menjawab. Dia mungkin sudah tidak punya tenaga untuk bicara. Aku bahkan ragu dia masih sadar atau tidak.
"Kalian bersekongkol untuk membohongiku? Apa kalian anggap aku bodoh?!!"
__ADS_1
Dan untuk terakhir kalinya aku melayangkan tendangan ke perut Haris.