
Adji POV
Aku memutuskan untuk ke rumah Mas Arya membawa serta pakaian-pakaianku. Dia selalu membantuku dan kali ini pun aku yakin dia pasti mau membantu.
Mungkin aku juga bisa menumpang tidur di sana sampai Winda mengijinkan aku kembali ke rumah.
Aku menceritakan semuanya kepada Mas Arya. Aku meminta tolong kepada mereka untuk membujuk Winda agar memaafkan aku.
Tidak seperti yang aku bayangkan, kali ini Mas Arya memarahi ku habis-habisan.
"Dimana otakmu?!! Bisa-bisanya kamu berbuat bejat seperti itu di saat istrimu hamil?!!"
"Mas, aku datang kemari untuk meminta tolong. Bukan untuk dimarahi."
"Tapi yang kamu lakukan itu sangat keterlaluan!"
"Istrimu itu sekarang wanita sukses. Dia bisa hidup sendiri tanpa kamu. Kok kamu bisa-bisanya membuat kesalahan seperti ini? Apa kamu nggak bisa mikir Adji?!! Dimana logika mu?!!"
"Tolonglah Mas ... Bantu aku membujuk Winda agar mau memaafkan aku. Dulu dia mau mendengarkan kata-katamu."
"Dulu dia terpaksa, dia takut dan tidak punya pilihan! Sekarang dia bisa cari duit sendiri nggak tergantung sama kamu. Apa iya dia masih mau mendengarkan aku?!"
"Kamu ingat waktu kamu sakit dia yang mengurus semua kebutuhanmu. Ketika aku sudah menyerah membantu pengobatanmu, dia masih bertahan bahkan sampai banting tulang untuk mencukupi semuanya. Apa kamu nggak ingat itu?!!"
"Dulu saja aku meremehkan Winda karena hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi sekarang aku salut sama dia. Dan kamu malah membuat kesalahan paling bodoh! Aku benar-benar nggak ngerti sama jalan pikiranmu Adji!"
"Lalu aku harus bagaimana Mas?"
"Kamu pikir saja sendiri. Itu rumah tanggamu." Mas Arya terlihat kesal sekali kepadaku.
Aku hanya bisa diam dan menyesal.
"Nanti sore kita temui Winda. Ajak ibu juga, siapa tahu masih bisa dibicarakan baik-baik dan dia mau berubah pikiran."
Aku lega akhirnya Mas Adji mau membantuku. Aku tahu dia pasti tidak tega melihatku seperti ini.
"Mas ... Untuk sementara apa aku boleh menginap di sini? Sampai Winda memaafkan aku?"
"Hmmm..."
__ADS_1
Aku yakin sekali Winda pasti memaafkan aku. Awalnya dia pasti marah, tapi lama-lama pasti luluh juga. Aku hanya perlu bersabar.
Sore harinya...
Aku, ibu dan Mas Arya menemui Winda di rumah. Aku merasa seperti tamu di sini karena Winda menyuruh kami duduk di ruang tamu.
Ekspresi Winda sangat dingin. Dia bahkan tidak mau menatapku sedetik saja.
Winda terlihat biasa, dia seperti tidak bersedih atas apa yang sedang terjadi diantara kami. Dia tidak terlihat lemah meski sedang hamil. Dia juga berani membalas Mas Arya dengan kata-kata yang tajam dan berani.
Satu hal lagi, aku belum melihat Winda menangis sampai detik ini. Apa ini artinya Winda sudah benar-benar mantap untuk berpisah denganku?
Sepertinya aku telah salah membawa Mas Arya dan Ibu kemari. Semua yang Mas Arya dan ibu katakan untuk membujuk Winda justru mendapatkan balasan yang menyudutkan aku dan membuatku semakin bersalah. Aku rasa usahaku ini tidak ada gunanya.
Winda bahkan memperlihatkan video saat dia menemukan aku dan Eva di dalam kamar. Aku sendiri kaget melihatnya karena tidak sadar kapan Winda mengambil video itu.
"Kalian lihat sekarang aku punya bukti yang kuat dan keputusanku tidak bisa di ubah! Kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi aku ingin istirahat. Permisi!" Winda langsung meninggalkan kami bertiga.
Kami semua tidak bisa berkata-kata lagi, terutama aku. Aku merasa terpukul sekali, seperti baru sadar apa yang telah aku lakukan.
"Ayo pulang!" Mas Adji juga terlihat sangat gusar.
Di dalam mobil Mas Adji tida berhenti memaki-maki aku. Sementara itu ibu mulai menangis, entah menangisi apa.
"Aku nggak tahu kalau ada video seperti itu."
"Kok bisa nggak tahu?!! Makanya lain kali kalau mau berbuat sesuatu itu dipikir dulu!!! Jangan cuma menuruti hawa nafsu!!!"
"Kalau Winda tetap minta cerai bagaimana?" ibu mengeluarkan suara setelah dari tadi hanya menangis.
"Ya cerai saja. Apalagi yang mau dipertahankan dari lelaki tidak tahu diri seperti dia!" jawab Mas Adji ketus.
"Tapi sekarang Winda kaya, duitnya banyak. Ibu sering dikasih baju baru jika datang ke kiosnya. Sayang kalau ibu sampai kehilangan menantu seperti itu."
Astaga ibu .... Bahkan di saat seperti ini yang dia pikirkan hanya uang dan baju. Apa sedikit saja tidak memikirkan perasaan anakmu Bu?
"Aku harus bagaimana lagi ini Mas?" tanyaku pasrah.
"Kamu pikir saja sendiri!!!" Mas Arya sudah tidak mau tahu. Dia sangat marah karena melihat video tadi.
__ADS_1
Aku terus memutar otak mencari cara agar Winda mau membatalkan niatnya.
Oh ... Iya .... Mertuaku.
Aku akan menemui mertuaku dan meminta maaf apada mereka. Aku akan mengakui perbuatanku di depan mereka dan meminta mereka untuk membujuk Winda. Dia pasti mau menuruti kata-kata orang tuanya.
Kalau cara ini gagal, tidak perlu khawatir. Aku masih punya Keisha.
...****************...
Winda
Aku tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Kondisiku sedang tidak baik-baik saja.
Aku tidak bisa tidur sejak kejadian itu. Aku juga sering merasakan kontraksi meski masih jauh dari tanggal persalinan dan sekarang harus dirawat di rumah sakit. Aku jadi tidak bisa mengurus perceraianku karena ini.
Keisha dan ibu selalu menemani aku di rumah sakit. Aku hanya berpisah dengan Keisha saat dia sekolah saja. Selain itu dia selalu berada dalam pengawasanku. Aku takut Mas Adji datang dan membawanya pergi.
"Kemarin Adji datang menemui bapak dan ibu." Ibu mulai bercerita. Keisha sedang sibuk dengan tugas sekolahnya jadi aku pikir dia tidak akan mendengar percakapanku dan ibu.
"Apa yang dia inginkan Bu?"
"Dia ingin agar aku dan bapakmu membujukmu."
Aku menghirup nafas panjang untuk menetralkan emosiku karena itu yang memicu kontraksi. Jika masih sering terjadi kontraksi bisa-bisa aku melahirkan prematur.
"Keputusanku sudah bulat."
"Apapun keputusanmu ibu dan bapakmu akan terus mendukung. Kamu yang menjalani jadi kami tahu yang terbaik untuk dirimu sendiri dan Keisha."
"Apa lagi yang dia inginkan?"
Ibu menggeleng. "Dia pulang ke rumah kalian. Katanya mau ketemu Keisha."
"Ibu tidak mengatakan padanya aku sedang dirawat di sini kan?"
"Tidak ... Ibu bilang padanya kalau kalian sedang jalan-jalan keluar kota untuk beberapa hari. Semoga dia tidak mencari ke sekolah Keisha."
Aku tertawa mendengar jawaban ibu. Sejak kapan ibuku jadi pintar berbohong seperti ini?
__ADS_1
"Lalu Keisha bagaimana? Kamu sudah memberi tahu dia?"
"Aku akan memberi tahunya pelan-pelan, setelah semuanya tenang."