
Aku meninggalkan Likha yang mematung setelah mendengar kata-kataku. Entah kami yang sama-sama sensitif atau memang suasana tadi terasa sedikit panas. Biasanya aku lebih memilih diam daripada bersilat lidah. Tetapi tadi rasanya aku tidak bisa menahan diri agar tetap diam dan tidak meladeni omongan Likha.
Aku merasa ada yang harus di luruskan. Likha harus bisa menerima kenyataan jika suaminya lah yang menghamili Eva.
Dan entah kenapa aku merasa lega setelah mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiranku kepada Likha. Sekarang aku justru merasa kasihan padanya. Likha seperti menutup mata atas kenyataan yang sebenarnya.
Aku pikir apa yang dilakukan Haris jauh lebih buruk dari apa yang Mas Adji lakukan. Memang mereka berdua sama-sama selingkuh, tetapi tidak mengakui darah dagingnya sendiri? Sungguh memalukan!
Akhirnya aku bisa menemui tamu-tamuku. Setelah beberapa saat berdiskusi akhirnya kami mencapai kesepakatan. Kami akan melakukan kerja sama.
Setelah tamu-tamuku pergi aku melanjutkan pekerjaanku yang lain. Hari ini benar-benar hari yang sangat sibuk. Aku sampai tidak bisa pulang untuk melihat anak-anak.
Hari sudah hampir malam tetapi dan aku sudah sangat merindukan anak-anak. Tetapi aku juga belum bisa pulang sekarang karena pekerjaanku belum selesai. Jadi aku meminta mbak pengasuh untuk mengantarkan anak-anak ke toko.
Lebih baik mereka di sini bersamaku, toh di toko juga ada kamar untuk mereka beristirahat.
"Mama ... " teriak Keisha begitu dia memasuki toko. Dia langsung berlari memelukku seperti sudah berhari-hari tidak bertemu.
"Sudah makan nak?" Aku membalas pelukan Keisha.
Keisha mengangguk. "Tumben Mama nyuruh kita ke toko?"
"Iya sayang, Mama sangat sibuk tapi Mama juga kangen sama kalian," jawabku sambil mencubit hidung Keisha, seperti yang biasa aku lakukan. Aku merasa seperti sedang bercermin saat melihat Keisha.
"Keisha mau ke atas ya Ma?"
Aku mengangguk. Keisha lalu menapaki anak tangga menuju lantai atas. Selesai dengan Keisha aku gantian meraih tubuh Kirana dari pengasuhnya.
"Sayangku ... kangen sama Mama?"
Aku bicara sendiri sambil menciumi pipi gembulnya. Siapa yang menyangka tubuhnya bisa segendut ini mengingat dulu dia lahir dengan berat badan yang kurang. Bahkan dia beberapa kali masuk rumah sakit karena kondisi paru-parunya yang tidak sempurna.
Kirana terus menatapku sambil tersenyum lebar. Dia belum bisa bicara, mungkin hanya bisa mengucapkan satu atau dua kata, seperti Mama atau tata, yang maksudnya kakak.
"Kirana juga sudah makan Mbak?" tanyaku kepada Mbak pengasuh.
"Sudah Bu,"jawabnya.
__ADS_1
"Bawa dia ke atas bersama kakaknya, nanti aku kesana"
"Baik Bu."
Melihat wajah anak-anakku sebentar saja sudah seperti mendapatkan suntikan amunisi. Anak-anakku adalah semangat ku, begitu sekarang semboyanku.
Setelah melihat mereka berdua, lalu aku kembali bersemangat menyelesaikan pekerjaanku karena aku ingin segera bermain dengan mereka.
Setelah beberapa saat akhirnya pekerjaanku selesai. Aku menggeliat sebentar untuk melemaskan otot-otot tubuhku yang kaku karena seharian tidak berhenti beraktivitas.
Seperti rencana awalku, setelah menyelesaikan pekerjaanku aku ingin bermain bersama anak-anakku. Tetapi tiba-tiba salah satu pegawaiku memanggilku.
"Mbak, ada yang nyari," ucapnya.
"Siapa? Laki-laki atau perempuan?" tanyaku. Aku heran karena ini sudah bukan jam kerja, siapa yang berkunjung di luar jam kerja.
"Nggak tahu siapa mbak, tetapi laki-laki."
Aku terus mengira-ngira siapa yang datang. Pasti bukan Indra, karena dia biasanya langsung masuk ke belakang atau ke ruanganku.
"Baiklah suruh dia masuk." Pegawaiku mengangguk dan memanggil seseorang yang dia bilang tamu.
"Win ... "
Aku kenal suara ini, bahkan sangat mengenalnya. Aku mendongak untuk memastikannya.
"Mas Adji?" Mas Adji benar-benar berdiri di depanku.
"Apa kabar?" tanyanya sambil tersenyum kaku.
Aku tatap Mas Adji. Baru kemarin malam aku melihatnya saat mengantarkan Eva dan sekarang aku melihatnya lagi.
Perasaanku masih sama, aku prihatin melihat kondisi Mas Adji seperti ini. Dia pasti baru pulang kerja karena masih mengenakan pakaian formal. Selain kumis dan jenggot aku perhatikan tubuh Mas Adji juga semakin kurus. Bisa dibilang, Mas Adji benar-benar tidak terurus.
"Duduklah Mas." Aku mempersilakan Mas Adji duduk. "Ada perlu apa?"
Mas Adji duduk di sebelahku dan menyisakan jarak agar kami tidak saling berdekatan.
__ADS_1
"Aku pulang kerja dan langsung kesini ingin menemui mu."
"Ya, aku tahu. Aku bisa lihat dari pakaianmu," jawabku. Suasana terasa sedikit canggung. Aku diam dan Mas Adji juga diam.
"Kamu ingin membicarakan sesuatu? Atau hanya ingin diam seperti ini?"
Mas Adji terus memandangku hingga aku jadi salah tingkah. Aku tidak ingin membahas dia yang tidak pernah menemui anak-anak dan juga uang bulanan uang tidak pernah dia kirimkan lagi. Aku tahu dia sedang banyak masalah jadi aku tidak ingin membahas soal itu.
"Aku ... Mungkin kamu anggap aku basi, tapi untuk kesekian kalinya aku ingin minta maaf kepadamu."
Suasana kembali hening.
"Ternyata selama ini Eva membohongi aku. Anak itu bukan anakku."
"Ya, aku sudah dengar itu." Sepertinya Mas Adji tidak tahu kemarin aku datang ke kontrakannya.
"Jadi aku pikir itu adalah balasan untukku. Aku berpikir mungkin hidupku tidak akan pernah damai jika kamu belum memaafkan aku," ucapnya lagi.
"Hidupku jungkir balik setelah aku tidak bersamamu Win dan sekarang aku baru menyadari jika kamulah yang terbaik untukku."
Aku diam mendengarkan apa yang Mas Adji ingin sampaikan.
"Tapi kali ini aku kemari tidak untuk memintamu kembali padaku. Aku sadar diri. Aku sangat tidak pantas untuk bersamamu lagi." Suara Mas Adji mulai bergetar.
"Jika ada kesempatan lagi, aku sangat ingin memperbaiki semuanya Win ... Aku masih berharap kita bisa bersama lagi meski bagimu itu tidak mungkin. Aku ... Aku tahu yang aku lakukan padamu sangat menyakitkan, dan aku terus mengulanginya." Dengan susah payah Mas Adji melanjutkan kalimatnya.
"Mulai minggu depan, aku akan dipindahtugaskan keluar kota. Aku ingin berpamitan denganmu, dan yang lebih penting aku ingin meminta maaf dan doa mu. Mungkin hidupku di sana tidak akan ada bedanya jika aku masih meninggalkan luka di hatimu."
"Maukah kamu memaafkan aku?" Mas Adji menatapku dengan mata berkaca-kaca.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Meski aku kasihan melihat keadaannya, tetapi tidak semudah itu aku mengatakan aku sudah memaafkan dia.
"Win ... Maukah kamu memaafkan aku?" tanya Mas Adji dengan air mata yang mulai menetes.
Aku masih tidak bisa menjawab.
"Sulit ya Win ...? Aku bisa mengerti itu." Mas Adji mengambil nafas dalam-dalam. Mungkin dia sedang berusaha menyembunyikan tangisnya.
__ADS_1
"Tolong katakan pada anak-anak aku minta maaf pada mereka. Sampaikan salam sayangku untuk Keisha dan Kirana. Katakan juga papanya tidak bisa menemui mereka untuk waktu yang cukup lama." Mas Adji berdiri dan hendak pergi.
"Katakan saja sendiri pada anak-anak Mas. Kamu boleh menemui mereka."