Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 58


__ADS_3

Winda


Aku sedang berkeliling melihat ruko yang sebelumnya sudah aku lihat dari iklan di media sosial. Masa kontrak kiosku sudah hampir habis, jadi sekalian saja aku membeli ruko seperti yang sudah aku rencanakan. Terlebih lagi kondisi kios sudah tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai toko sekaligus gudang. Aku butuh tempat yang lebih luas dan ruko lah pilihannya.


Ini ruko ke dua yang aku datangi, tapi aku merasa belum cocok baik dari harga maupun lokasi. Aku mengutamakan yang tidak terlalu jauh dari rumah agar bisa berkerja sambil tetap bisa mengontrol anak-anak. Masih ada satu ruko lagi yang harus aku datangi. Semoga yang terkahir ini cocok. Kalau tidak, berarti aku harus mempertimbangkan dua ruko yang sudah aku datangi sebelumnya.


Aku meluncur ke lokasi ruko yang ke tiga. Letaknya di dekat lapangan kelurahan, tempat biasa aku berjualan di hari Minggu pagi. Ini cocok sekali, aku tidak perlu bongkar pasang tenda setiap hari Minggu karena aku bisa langsung berjualan di depan ruko.


Tepat seperti yang aku inginkan, begitulah kesan pertama ketika aku melihat ruko ini. Aku sudah sering melihat ruko ini saat berjualan di lapangan kelurahan, tetapi aku tidak menyangka jika ruko ini akan di jual.


Aku hubungi nomor telepon yang tertera di iklan dan tersambung. Tetapi empunya ruko tidak bisa menemuiku sekarang. Mungkin sore nanti sepulang kerja dia baru bisa. Dia berjanji akan menghubungi aku nanti.


Ya sudah, tak masalah menunggu beberapa jam lagi. Aku kembali ke kios sambil menunggu pemilik ruko menghubungiku.


Tepat saat aku memarkirkan sepeda motorku di depan kios, Mas Adji juga parkir di sampingku.


"Win ... "


"Eh ... Mas ...?! Ada perlu apa kemari?"


Mas Adji tampak tidak nyaman aku langsung menanyakan apa tujuannya menemuiku.


"Apa kita bisa masuk dulu? Aku ingin bicara denganmu."


"Tidak perlu, bicara di sini saja tidak apa-apa. Lagian aku takut istrimu nanti berpikiran yang tidak-tidak tentang kita."


Mas Adji terdiam.


"Jadi kamu mau bicara apa?"


"Aku ingin minta izin kamu untuk mengajak anak-anak ke rumahku."


Aku sedikit tidak percaya mendengar Mas Adji mengutarakan tujuannya kemari.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Win ... Mereka anak-anakku, aku berhak menemui mereka. Aku juga berhak menghabiskan waktu setidaknya sehari saja dengan mereka."


"Kalau kamu merasa berhak harusnya kamu juga merasa bertanggung jawab. Sudah beberapa bulan kamu tidak memberikan uang jajan mereka."


"Oh ... Maaf, aku ada kebutuhan mendadak. Nanti aku usahakan aku kirim lagi, aku juga akan ganti yang sebelumnya."


"Sebenarnya uang itu tidak begitu penting Mas. Uangku sendiri cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak. Aku menganggap uang kirimanmu itu sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulianmu pada mereka. Kalau kamu tidak memberikan hak anak-anak, aku anggap kamu tidak peduli kepada mereka."


Mas Adji terus terdiam.


Memang terkadang aku kasihan jika melihat Keisha merindukan papanya. Tapi si kecil, dia belum mengenal papahnya, bahkan aku pikir dia tidak perlu mengenal papahnya lebih jauh. Atau tidak kenal sama sekali malah lebih baik.


"Tapi aku tidak mau anak-anakku bersama pela*ur itu. Aku tidak ingin mereka mengenalnya!" ucapku kemudian.


"Kamu mengijinkan aku bersama anak-anak?"


"Cuma sehari saja. Besok Minggu kamu bisa ajak anak-anak. Sorenya kamu bisa mengantar mereka pulang!"


"Oke Win ... Aku janji! Sorenya pasti aku antar pulang." Mas Adji tampak bahagia.


"Baik Win ... Aku setuju apa saja syarat yang kamu berikan."


"Kamu ingat kan Mas? Aku tidak ingin anak-anakku bertemu dengan pela*ur itu meskipun sekarang dia istrimu."


"Baik Win ... Aku mengerti."


"Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi silahkan pergi. Aku masih ada urusan." Aku berpaling dan mulai berjalan memasuki toko.


"Win ... " Mas Adji memanggilku.


Aku menghentikan langkahku untuk mendengar apa yang Mas Adji ingin katakan.


"Siapa nama Si kecil?" Suara Mas Adji terdengar serak.


Aku terdiam. Pertanyaan sangat biasa tetapi membuat hatiku bergetar luar biasa. Perih sekali, kembali aku merasakan perih yang luar biasa di hatiku. Hingga aku memerlukan waktu beberapa saat untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Kirana ... Namanya Kirana," jawabku tanpa menoleh ke arah Mas Adji. Mataku sudah berkaca-kaca hanya dengan menyebut namanya di depan Mas Adji.


Aku sudah tidak sanggup melihatnya lagi. Semakin aku melihat semakin aku ingat luka yang sudah dia torehkan dalam hidupku.


...****************...


Adji POV


Pulang kerja aku berniat menemui anak-anak. Aku kangen sekali dengan mereka terutama Keisha. Aku ingat dia dulu selalu menemaniku, membantuku mengerjakan pekerjaan rumah ketika ditinggal ibunya bekerja. Penyesalan kembali menyeruak di dalam dadaku ketika teringat kenangan-kenangan ketika masih bersama Winda.


Andai saja aku bisa menahan nafsuku dan tidak tergoda dengan kemolekan tubuh Eva.


Jika hubunganku dan Winda sudah tidak bisa diperbaiki, setidaknya aku ingin memperbaiki hubunganku dengan anak-anakku. Apalagi si kecil, jangan sampai nanti dia bertemu denganku tetapi merasa seperti bertemu orang asing.


Aku sampai di kios bersamaan dengan Winda. Entah dia dari mana. Dia tampak terkejut melihatku lalu menanyakan maksud kedatanganku. Rasanya aneh mendengar dia menanyakan itu.


Dulu aku biasa datang tidak peduli jam berapa. Kalaupun kios sudah tutup aku tetap bisa langsung masuk dan mengejutkan dia dari belakang. Winda akan kaget tapi kemudian tersenyum melihatku. Tapi sekarang?


Winda bahkan terlihat keberatan ketika aku ingin mengajaknya bicara di dalam. Jadi aku mengutarakan tujuanku menemuinya di depan kios.


Winda juga menanyakan kenapa sudah beberapa bulan ini aku tidak memberikan uang jajan untuk anak-anak.


Andai saja Winda tahu, setelah aku tinggal di kontrakan Ibu datang dan meminta uang sebagai ganti rugi selama aku tinggal di rumahnya. Atau anggap saja ibuku memintaku membayar selama aku tinggal di rumahnya. Karena itu tidak bisa mengirim uang untuk anak-anak.


"Oh ... Maaf, aku ada kebutuhan mendadak. Nanti aku usahakan aku kirim lagi, aku juga akan ganti yang sebelumnya."


Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Winda mengijinkan aku pergi bersama anak-anak. Aku sangat bahagia mendengarnya. Aku menyetujui apapun syarat yang Winda berikan asal aku bisa bersama anak-anak, terutama tidak boleh bertemu dengan Eva.


Winda sudah mengusirku secara halus tetapi masih ada satu hal yang ingin aku tanyakan.


"Win ... "


"Siapa nama Si kecil? tanyaku. Aku berat sekali menanyakan itu, mengingat dulu kami sempat memilih nama bersama. Lama sekali aku menunggu Winda menjawab pertanyaanku. Dia terlihat sulit sekali menyebutkan nama si kecil.


"Kirana ... Namanya Kirana." Akhirnya kalimat lirih terdengar dari bibir Winda, tetapi hatiku justru hancur ketika mendengarnya.

__ADS_1


Itu adalah nama yang dulu aku pilihkan. Dan Winda tetap memberikan nama itu meski aku sudah bukan suaminya ketika si kecil lahir.


__ADS_2