
Seperti biasa, Mas Adji hanya diam setiap kali aku berkonfrontasi dengan ibu atau saudaranya. Dia tidak menahanku tetapi juga tidak membelaku meski aku benar.
Aku geram sekali mendengar kata-kata Maya. Bagaimana bisa dia meminta jatah untuk Vino sementara ketika Mas Adji sakit dia sama sekali tidak ada perhatian layaknya saudara kandung?
Dia tidak memasukkan aku ke dalam grup keluarga, juga tidak mengundang kami ke acara ulang tahun Vino. Bagaimana bisa datang-datang meminta uang untuk membeli susu Vino. Mau Vino minum susu atau tidak itu bukan urusan kami! Bukankah seharusnya dia meminta maaf terlebih dahulu kepada kami?
Dan Mas Adji terlihat biasa saja?! Aku tidak percaya ini. Sedikitpun tidak terlihat rasa marah atau kecewa seperti yang dia tunjukkan ketika ulang tahun Vino.
Apakah karena aku anak tunggal, tidak memiliki saudara kandung makanya aku tidak bisa mengerti kenapa Mas Adji tidak marah kepada Maya. Apakah memaafkan kesalahan saudara kandung lebih mudah daripada memaafkan orang lain?
Belum lagi aku juga mendengar jika Mas Adji juga kembali memberikan jatah bulanan untuk ibunya. Kenapa dia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dariku? Apa dia pikir aku akan melarangnya? Apa dia pikir aku akan mengambil seluruh gajinya untukku sendiri?
Aku memang tidak menyukai ibunya, bukan berarti aku akan membuat Mas Adji jauh dengan ibunya, aku tidak lantas memaksa Mas Adji untuk ikut membencinya. Aku tahu batasanku.
"Kemarin juga ulang tahun Vino kamu nggak ngundang Keisha? Kenapa Maya? Malu ya punya saudara miskin seperti aku? Takut kami datang nggak bawa kado?"
Maya terlihat diam tidak berkutik.
"Win ... Sudahlah ... "
Aku berbalik dan melotot kepada Mas Adji. Apa maksudnya dia berkata demikian?
"Sudahlah bagaimana maksudmu Mas?"
"Sudah ... sudah ... Tidak usah dibahas lagi, tidak usah diungkit-ungkit. Ini Maya datang kesini baik-baik. Maafkan dia."
"Maaf? Apa kamu dengar dia meminta maaf?!!" Aku semakin emosi.
"Tadi yang aku dengar dia hanya membicarakan uang bulanan untuk ibumu dan dia minta jatah anaknya! Benar begitu kan? Aku tidak salah dengar kan?!"
"Win ... Kita makan dulu."
Mas Adji menggerakkan bola matanya ke arah Keisha. Dia mengingatkan aku jika ada Keisha di sini dan jangan sampai aku tidak bisa mengendalikan emosiku.
Masih dengan perasaan kesal aku berjalan dan duduk di samping Keisha.
"Ayo kita lanjutkan makan Kei."
__ADS_1
"Piring untuk Maya mana sayang?" Mas Adji masih memikirkan piring untuk Maya di situasi seperti ini.
"Aku lupa," jawabku ketus.
"Dia bisa ambil sendiri. Punya tangan dan kaki kan? Punya suami juga kan? Kenapa minta uang untuk beli susu ke orang lain bukan minta sama suaminya sendiri?" Aku semakin ketus.
"Mas Adji bukan orang lain mbak. Dia kakakku!" Maya berani membalasku.
"Kalau kamu merasa dia kakakmu seharusnya kamu peduli dong waktu dia sakit kemarin? Mungkin njenguk atau sekedar nanyain kabar bisa. Aku lho yang ngurus Mas Adji sendirian."
"Itu kan memang sudah tugasnya mbak Winda sebagai istri. Kenapa jadi nyalahin aku???"
Rupanya Maya benar-benar tidak tahu diri. Emosiku yang susah payah aku redam kembali tersulut gara-gara kata-kata Maya ini. Kalau dia memang ingin mengajak aku bertengkar maka akan aku layani.
"Oh Begitu? Kalau begitu jangan harap ada jatah untuk anakmu karena seluruh gaji Mas Adji adalah hakku, sebagai istrinya!!!"
"Aku yang merawatnya, bahkan aku juga yang pontang panting mencari uang untuk biaya pengobatannya!" ucapku hampir berteriak karena dikuasai emosi.
"Maya, sebaiknya kamu pulang sekarang!" ucap Mas Adji sebelum Maya kembali membuka mulutnya untuk mendebatku.
"Pulang sekarang juga!"
Dengan menghentak-hentakkan kakinya Maya meninggalkan kami bertiga. Wajahnya terlihat tak kalah kesal dibandingkan aku. Dia bisa bersikap manja di depan keluarganya tetapi tidak di depanku.
Nafasku naik turun karena emosi. Jika tidak ada Keisha mungkin sudah ku siram wajah Maya dengan jus jeruk di depanku.
"Sudah yuk ... kita lanjut makan," ucap Mas Adji setelah kepergian Maya, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kita makan di luar yuk Kei, mama sudah nggak mood makan di rumah!"
Keisha hanya mengangguk. Sepertinya dia takut padaku karena aku jarang menunjukkan emosi di depannya.
"Tunggu sebentar, mama ambil dompet dulu."
"Ma ... "
"Apa sayang?"
__ADS_1
"Kita pergi naik sepeda?" tanyanya lirih dan takut-takut.
Hatiku seperti tersayat-sayat mendengar pertanyaan Keisha. Aku baru sadar selama ini mengajaknya kemana-mana naik sepeda tanpa memikirkan perasaannya. Aku naik sepedaku dan dia menaiki sepedanya.
Aku berbalik dan memeluknya. Bersyukur sekali memiliki anak yang penurut dan tidak pernah mengeluh seperti dia.
"Mama akan pesan taksi online. Kita makan di restoran atau di manapun yang Keisha mau."
Mata Keisha langsung berbinar seketika.
"Benar Ma?" Aku mengangguk.
Kalau uang papamu lebih banyak diberikan untuk keluarganya, maka uang mama akan sepenuhnya mama berikan untukmu.
Lalu aku meninggalkan Keisha untuk mengambil dompet dan mengganti dasterku.
Tak lama aku kembali dan mengajak Keisha ke ruang tamu sambil menunggu taksi datang.
"Papa ikut nggak?" Keisha menatapku kemudian menatap Papanya.
"Kita makan berdua aja ya? Mama lagi pengen menghabiskan waktu sama Keisha." Aku menjawab sebelum Mas Adji sempat menjawab.
Aku ingin menghindar dari Mas Adji. Aku kecewa karena dia tidak berterus terang terang kepadaku soal jatah bulanan ibunya. Aku juga kecewa melihat sikapnya kepada Maya.
Keluarga tetaplah keluarga, tetapi jika mereka melakukan kesalahan harusnya tetap ditegur. Dan aku lihat keluarga Mas Adji ini selalu menganggap keluarga mereka adalah yang paling benar.
Dulu ketika Aku ingin bercerai dengan Mas Adji, keluarganya justru menyalahkan aku. Sekarang Mas Adji juga tidak memberikan teguran kepada Maya meski di tahu Maya salah. Bahkan aku sampai bertengkar dengan Maya meributkan uang jatah vino yang tidak seberapa jumlahnya. Tetapi ini bukan soal jumlah, ini soal etika.
Aku tidak ikhlas jika Mas Adji memberi Maya uang berapapun jumlahnya. Aku lebih memilih memberikan uang itu untuk pengemis atau menyumbangkannya ke yayasan daripada memberinya untuk Maya. Mas Adji tidak berhutang apapun kepada Maya jadi dia tidak berkewajiban memberi uang kepada Maya. Lagipula Maya sudah punya suami, kenapa harus Mas Adji.
Berbeda dengan ibu mertuaku, dia yang melahirkan suamiku. Aku masih menghormatinya meski tidak menyukainya. Aku masih berusaha menjaga sikapku di depannya.
"Papa makan di rumah aja Kei ... Kalau papa ikut nanti siapa yang makan ini?" Mas Adji menunjuk makanan di atas meja.
Harusnya ini menjadi waktu berkualitas untuk kami bertiga tetapi Maya datang dan merusaknya.
Dan kami berdua berangkat menuju mall seperti yang Keisha inginkan. Aku turuti apapun yang dia mau seperti dulu papanya menurutinya. Tidak masalah, karena tidak setiap hari aku memanjakan dia seperti ini.
__ADS_1