Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 32


__ADS_3

Sekali lagi hal baik terjadi padaku. Aku sedang dalam perjalanan pulang kerja. Secara tidak sengaja aku melihat kios dengan papan bertuliskan "dikontrakkan" yang letaknya tidak begitu jauh dari toko tempat aku bekerja.


Langsung saja aku hubungi nomor yang tertera di papan tersebut. Tanpa basa-basi aku mengajak pemilik kios untuk bertemu. Aku ingin melihat kondisi di dalam kios dan jika cocok maka aku akan langsung negosiasi harga sewa.


Tidak menunggu lama, pemilik kios pun datang. Awalnya dia terlihat senang. Tetapi setelah melihatku raut wajahnya berubah. Dia tidak percaya aku berniat menyewa kiosnya dan menatapku remeh. Mungkin karena aku hanya naik sepeda dan juga penampilanku yang hanya memakai seragam toko.


Berulang kali dia mempertanyakan keseriusanku bahkan terlihat malas-malasan ketika aku meminta untuk melihat bagian dalam kios. Dia juga menjawab beberapa pertanyaanku dengan nada ketus.


Aku berusaha tidak mengambil hati atas sikap tidak mengenakkan pemilik kios ini kepadaku. Ini menjadi hal yang biasa aku hadapi setelah aku terpuruk.


Pemilik kios sedang membutuhkan uang mendesak, jadi dia memberikan harga sewa yang murah. Aku pun setuju dan kami langsung mencapai kesepakatan. Aku menyewa kios ini untuk satu tahun ke depan.


Akhirnya sikap pemilik kios melunak setelah aku mentransfer uang sewa ke rekeningnya. Raut wajah dan sikapnya kepadaku pun berubah seketika. Dan begitulah, seringkali orang menilai orang lain dari penampilannya.


Satu peluang terbuka untukku. Aku akan memulai semuanya dari sini. Tetapi sebelumnya, aku harus pulang terlebih dahulu agar Keisha tidak mencari-cari aku. Mencari uang memang perlu, tetapi anak tetap nomor satu.


Aku kembali ke kios setelah pulang untuk mandi. Aku mengajak Keisha bersamaku untuk memperkenalkannya kepada kesibukanku, dunia baruku. Aku akan mulai membersihkan kios ini bersama Keisha. Memang tidak begitu luas, tetapi sebagai permulaan aku rasa kios ini cukup.


Aku melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Mas Adji. Aku tidak bicara dengannya atau meminta pertimbangannya terlebih dahulu. Entah karena aku masih belum bisa percaya padanya sepenuhnya atau karena aku sendiri yang berubah menjadi pendiam.


Dia sebatas mengetahui jika aku mempunyai usaha sambilan berjualan pakaian online. Tetapi sejauh apa perkembangan usahaku, dia tidak tahu apa-apa.


Saat ini aku tidak terlalu ingin membahas apa yang aku lakukan dengannya. Mungkin nanti jika keinginan itu sudah muncul aku akan bercerita kepadanya.

__ADS_1


Seminggu kemudian...


Aku sudah mulai menyetok barang dagangan di kios. Aku juga sudah mengambil dagangan langsung dari konveksi dan pabrik, jadi aku mendapatkan harga lebih murah. Aku melayani penjualan secara grosir maupun eceran dan juga memberikan kesempatan bagi yang ingin bergabung menjadi reseller, sama seperti aku dulu.


"Sayang ... Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah. Sibuk ngapain sih?" Mas Adji memelukku dari belakang ketika aku sedang mencuci piring.


Aku diam sebentar berpikir apa aku perlu memberi tahunya atau tidak sambil menikmati ciumannya di leherku. Aku memang belum bercerita tentang kios itu kepada Mas Adji. Jadi mungkin sekarang waktunya.


Selesai mencuci piring aku mengajak Mas Adji duduk di ruang keluarga. Lalu aku menceritakan semuanya, tentang kios dan toko online ku yang berkembang pesat.


"Benarkah itu Win?" Mas Adji tidak percaya. Tapi aku hanya tersenyum dan mengangguk.


"Kamu serius?" Dia masih tidak percaya.


"Kalau kamu masih tidak percaya, kita bisa ke toko sekarang Mas."


...****************...


Adji POV


Aku sudah mulai sibuk dengan pekerjaanku. Jujur aku sangat menikmatinya. Aku sudah sangat rindu dengan kegiatan ini. Kalau disuruh memilih, aku lebih memilih untuk kerja sampai larut daripada harus mendekam diri di rumah seperti yang sudah-sudah. Inilah duniaku, tempat dimana seharusnya aku berada, yaitu dunia kerja.


Aku jadi jarang bertemu Winda. Aku merasa Winda sedang sedikit sibuk. Dia jarang di rumah setiap kali aku pulang kerja. Tetapi dia selalu pergi bersama Keisha, jadi aku pikir dia tidak pergi untuk hal yang tidak baik.

__ADS_1


Setiap aku tanya dari mana, mereka pasti menjawab "dari toko". Aku jadi berpikir jika mungkin Keisha dan Winda jalan ke suatu toko untuk sekedar cuci mata atau mencari hiburan.


Tetapi aku masih sedikit curiga dengan Winda. Dia terlihat berbeda dari biasanya. Dia seperti sedang mempunyai dunianya sendiri. Aku ingin bertanya tapi aku takut dia berpikir jika aku ingin membatasi kegiatannya.


"Sayang ... Akhir-akhir ini kamu jarang di rumah. Sibuk ngapain sih?" Aku beranikan untuk bertanya kepada Winda sambil memeluknya dari belakang.


Aku masih memeluknya sambil menciumi lehernya hingga dia selesai mencuci piring. Setelah itu dia menarik tanganku dan mengajakku ke ruang keluarga. Setelah itu dia menjelaskan kesibukannya akhir-akhir ini.


Aku hampir tidak percaya mendengar semua ceritanya. Apa mungkin? Winda bukan tipe bercanda dalam hal seperti ini dan dia juga terlihat sangat meyakinkan.


"Kalau kamu masih tidak percaya, kita bisa ke toko sekarang Mas." Itu kalimat Winda yang membuatku percaya sepenuhnya atas apa yang dikatakannya.


Rasanya bangga mendengar Winda bisa sesukses itu. Tetapi yang aku heran, kenapa dia masih mau hidup seperti sekarang jika dia sudah punya cukup uang? Winda masih pergi bekerja dengan mengayuh sepedanya. Dia juga tidak banyak membeli baju dan sepatu seperti dulu. Dia juga masih mau memakai pakaian-pakaian lamanya. Winda benar-benar sudah berubah.


Aku juga heran bagaimana dia bisa menyembunyikan ini semua dariku. Sebenarnya dia bisa menyimpan stok barang dagangannya di rumah. Atau mungkin dia malas untuk mendengarkan omongan tetangga, karena sudah pasti akan ada tetangga yang sok tahu dan kepo mengenai kegiatan Winda.


Aku tidak tahu apa pertimbangan Winda sehingga dia lebih memilih menyewa kios daripada menggunakan rumah sebagai gudang. Menurutku, uang yang dia gunakan untuk membayar sewa kios bisa dia gunakan sebagai tambahan modal. Tetapi aku tidak ingin ikut campur. Toh tanpa campur tanganku dia bisa sesukses ini.


Mungkin jika usaha Winda benar-benar sudah sukses dan stabil aku akan menyarankan dia untuk berhenti bekerja di minimarket itu. Aku tidak ingin Winda kelelahan karena harus mengurus rumah, bekerja dan masih mengurus dagangannya. Toh aku juga sudah bekerja dan memiliki penghasilan, itu bisa membantunya.


Senang akhirnya kehidupan kami membaik. Rumah tangga yang tadinya sudah diujung tanduk akhir bisa diperbaiki. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi dan membuat pengorbanan Winda sia-sia. Jika aku harus berterima kasih, maka orang yang paling berjasa dalam hidupku selain ibuku adalah Winda.


Ibu ... Sekecewa apapun aku kepadanya aku tidak bisa marah kepadanya. Aku sudah memiliki penghasilan lagi, jadi aku akan mulai memberikan jatah bulanan kepada ibu, sama seperti dulu. Apa aku perlu meminta ijin winda soal ini?

__ADS_1


__ADS_2