
Adji POV
Aku sengaja ingin membuat Winda hamil. Aku tahu dia sudah tidak melakukan suntik pencegah kehamilan karena itu dia bisa langsung hamil. Aku harap kehadiran anak kedua ini akan semakin mempererat hubunganku dengannya.
Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia, apalagi berkat dia kondisi kami sekarang serba kecukupan. Winda bisa meninggalkan aku kapan saja.
Aku merasa Winda sekarang berbeda dari Winda yang dulu. Sekarang dia mandiri dan lebih percaya diri. Aku jadi semakin takut kehilangan dia.
Untung jabatanku sudah naik, jadi aku tidak begitu minder dengan istriku sendiri. Aku sudah bisa menebus sepeda motorku dari Mas Arya, agar Winda bisa menggunakan sepeda motornya sendiri. Tetapi sepertinya itu tidak berguna karena sekarang Winda lebih sering menggunakan mobil daripada motor.
Aku terus memikirkan bagaimana caranya agar Winda mengurangi waktunya di toko. Dia harus lebih banyak menghabiskan waktu denganku dan Keisha, kalau tidak hubungan kami akan menjauh.
...****************...
Winda
Aku sudah periksa ke dokter. Ternyata jawaban atas rasa pusing yang akhir-akhir ini sering aku rasakan adalah karena janin yang ada dalam perutku. Ya aku sedang hamil muda, sekitar lima minggu.
Kehamilan ini bukanlah sesuatu yang aku rencanakan, tapi aku sangat bahagia mengetahuinya. Begitu pula Mas Adji dan Keisha.
Di saat yang bersamaan berita gembira datang dari Mas Adji, dia naik jabatan di kantornya. Sungguh hari yang sangat menggembirakan.
"Sayang ... sebaiknya kamu kurangi kegiatanmu. Jangan sampai kamu kecapekan hingga membahayakan kesehatanmu dan juga calon bayi kita."
Mas Adji mengusap perutku yang masih rata. Kami sama-sama duduk di sofa dan aku menyandarkan tubuhku di dadanya.
Aku menimbang-nimbang apa yang dia katakan. Kegiatanku di kios membutuhkan ektra tenaga, apalagi kalau sedang banyak barang yang datang. Aku dan Shanti harus mengangkat berkarung-karung pakaian untuk memasukkannya ke dalam kios. Dan itu akan berbahaya untuk janin dalam perutku.
"Tapi kerjaanku bisa keteteran Mas. Aku juga kasihan kalau membiarkan Shanti mengurus semuanya sendirian."
Aku menjawab Mas Adji sambil terus fokus dengan handphoneku. Rasanya aku sudah tidak bisa lepas dari benda satu itu.
"Kalau gitu kita cari ART Saja, biar ada mengurus rumah dan kamu nggak kecapekan. Selain itu kamu juga bisa fokus ngurus toko kamu."
"Ide yang bagus."
Aku mengangguk setuju. Aku sudah tidak begitu perhitungan lagi soal anggaran seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
"Tapi kamu juga tetep harus mengurangi kegiatanmu di toko. Aku sering kesepian kalau kamu terus-terusan di toko."
Aku sendiri menyadari jika waktuku sekarang memang lebih banyak aku habiskan di toko daripada di rumah. Seringkali Mas Adji menyusul aku ke toko karena aku tidak kunjung pulang meski sudah malam.
Mas Adji mulai menggesek-gesekkan hidungnya di telingaku, pertanda dia menginginkan sesuatu. Tangannya yang tadi mengelus perutku, perlahan mulai bergeser ke bawah.
Suara ketukan pintu menghentikan tangan Mas Adji yang hendak bergerilya.
"Siapa itu Mas?"
"Sebentar ... Aku lihat dulu."
Mas Adji beranjak untuk membuka pintu. Tak berselang lama Mas Adji kembali menghampiriku.
"Sayang ... Ada ibu di depan." Suara Mas Adji lembut.
Aku menghirup nafas dalam-dalam. Yang dimaksud Mas Adji ini pasti ibunya, bukan ibuku. Ibuku tidak pernah mengetuk pintu karena terbiasa masuk lewat pintu samping.
"Ada apa ibu kemari? Dia sudah menemui aku di toko."
"Kapan ibu menemuimu? Apa ibu berbicara yang tidak-tidak? Dia tidak memarahi kamu kan?"
Dengan malas aku menemui mertuaku. Aku bertaruh pasti ada sesuatu yang dia inginkan. Kalau tidak mana mungkin dia mau datang kemari.
"Adji ... Winda ... Ibu langsung ngomong saja ya tidak usah bertele-tele."
"Ada apa Bu?"
"Begini ... Maya sama suaminya besok Minggu mau mengajak Vino jalan-jalan ke kebun binatang. Jadi maksud ibu kemari mau meminjam mobil kalian."
Aku tidak percaya apa yang baru saja aku dengar. Reflek aku langsung melotot kepada Mas Adji. Rasanya seperti aku ingin menelan Mas Adji hidup-hidup atas sikap ibunya. Ini sungguh sangat di luar nalar.
"Jadi maksud kedatangan ibu kemari adalah meminjam mobil untuk dipakai Maya dan suaminya jalan-jalan?" tanyaku memperjelas.
"Bukan hanya mereka, ibu juga ikut. Keisha kalau mau juga boleh ikut," terang mertuaku tanpa dosa.
Apa?!! Aku hampir memekik saking kesalnya.
__ADS_1
Ingin sekali aku mengumpat dan berteriak untuk meluapkan kekesalanku. Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya bisa memelototi Mas Adji, kuserahkan padanya. Terserah mau menjawab apa, yang jelas aku tidak akan meminjamkan mobilku untuk Maya.
"Kenapa Maya tidak datang sendiri ke sini? Kenapa harus meminta ibu? Lagian mobilnya kalau hari Minggu pasti dipakai Winda buat buka stand pasar Minggu di kelurahan. Winda jualan di sana."
"Jualannya bisa libur dulu kan? Sekali aja tolonglah adikmu." Mas Adji tidak menjawab
"Win ... Kamu libur dulu ya jualannya. Kamu kan tiap Minggu jualan, sementara Maya kan baru sekali ini mau pinjam mobil."
Aku semakin emosi mendengar perkataan mertuaku.
"Maaf Bu, tapi aku tidak enak sama kepada Bu Lurah kalau besok sampai tidak buka stand. Sudah diberikan tempat, nggak di suruh bayar malah disia-siakan. Nanti bisa diberikan kepada orang lain tempatnya."
Sebenarnya hal ini tidak akan terjadi. Aku hanya membuat alasan agar mobilku tidak dipinjam.
Maaf Bu Lurah, aku sampai harus membawa-bawa namamu.
"Oh ... Begitu ya. Kamu kenal Bu Lurah?" Aku mengangguk meyakinkan.
Sejak tadi datang sampai sekarang aku tidak mendengar mertuaku berbicara dengan nada tinggi dan ketus seperti yang biasanya dia tunjukkan kepadaku.
"Mobil itu cuma dipakai untuk mengangkut barang-barang daganganmu saja kan Win? Jadi kamu dan daganganmu bisa diantar, terus nanti dijemput kalau pasarnya sudah selesai. Gimana? Begitu juga bisa kan?" Mertuaku belum kehabisan akal.
Kembali aku melotot ke arah Mas Adji.
"Bu, bukannya kami tidak boleh, tapi memang kalau hari Minggu mobilnya tidak bisa diganggu untuk urusan lain. Kenapa nggak pinjam mobil Mas Arya saja? Mobil Mas Arya kan nggak cuma satu?"
"Adji ... Kamu tahu sendiri kan bagaimana istrinya Arya. Mana mungkin ibu berani meminjam sama Arya."
Tentu saja mertuaku tidak berani. Istri Mas Arya dari keluarga kaya raya, bahkan keluarga istrinya lah yang memodali Mas Arya hingga punya usaha sukses seperti sekarang.
"Adji, tolong adikmu sekali ini. Kasihan dia. Dia sudah janjian sama teman-temannya. Semuanya pada bawa mobil sendiri-sendiri."
"Ibu kenapa memanjakan Maya terus sih? Kalau tidak punya mobil ya sudah pakai motor saja, nggak usah gengsi."
"Adji!!! Kamu kok tega sama adikmu sendiri?!!" Mertuaku sedikit menaikkan nada bicaranya. Pokoknya Maya yang nomor satu.
"Sudah Bu ... Kalau Maya tetap ingin naik mobil, dia bisa pesan taksi. Aku akan berikan uang untuk membayar biaya taksi asal dia mau kesini dan mengambilnya sendiri."
__ADS_1
Akhirnya aku menengahi. Aku tidak ingin melihat Mas Adji bertengkar dengan ibunya di depanku.
"Permisi ... Aku harus kembali ke kios. Masih ada kerjaan."