Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 52


__ADS_3

Adji POV


Aku bingung sekali bagaimana caranya menghadapi semua ini. Aku tidak ingin berpisah dari Winda tetapi aku juga tidak mungkin bisa mengelak untuk menikahi Eva. Bagaimana jika itu benar anakku?


Aku jadi malas pulang. Ibu sering mengomel karena aku akan berpisah dengan Winda. Apa ibu tidak ingat, dulu dia sering sekali menghina Winda bahkan memarahinya. Dia menunjukkan rasa tidak suka nya kepada Winda secara terang-terangan. Sekarang ketika aku akan berpisah dengannya dia malah marah-marah.


Sepulang kerja aku memutuskan untuk mampir ke tempat hiburan malam yang dulu sering aku kunjungi. Aku ingin mengurangi penat di kepala dan juga menghindari ibu.


Tidak sengaja aku bertemu dengan teman-teman kerja di kantorku yang dulu, sungguh kebetulan. Mereka mengajakku bergabung untuk minum. Dan karena aku sedang pusing memikirkan masalahku aku pun menerima ajakan mereka. Minuman keras menjadi pelarianku.


Aku merasa beruntung bertemu mereka. Setidaknya aku bisa melupakan masalahku walau sebentar. Aku pulang setelah larut sehingga tidak perlu bertemu ibu. Sampai beberapa hari aku lakukan itu, pulang kerja langsung ke tempat hiburan dan mabuk begitu berulang-ulang, sampai aku tidak ada waktu untuk menghubungi Winda maupun Eva. Aku terlihat seperti pengecut yang sedang bersembunyi dari masalah.


Sampai suatu siang ibu meneleponku dan memberi tahu jika ada surat panggilan dari pengadilan agama. Hatiku berdebar tidak karuan. Winda tidak main-main, dia benar-benar melakukannya.


Sorenya harinya aku langsung pulang, tidak ada keinginan untuk mampir-mampir terlebih dahulu. Aku ingin segera menemui Winda dan membuatnya menarik gugatannya.


Aku pulang hanya untuk mengambil surat panggilan itu lalu menemui Winda. Aku mencarinya ke rumah tapi tidak ada orang. Pasti dia nekat ke kios. Padahal aku sudah memberitahu dia agar berhenti total demi kesehatannya dan bayinya. Rupanya dia tidak mau mendengarkan aku.


Dengan gusar aku mengendarai motorku ke kios Winda. Aku langsung masuk tanpa peduli ada siapa di sana.


"Win ... Kamu tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini. Aku tidak akan menceraikan kamu sampai kapanpun!"


Winda menoleh mendengar suaraku, dia menatap kertas di tanganku dengan matanya yang sendu. Ada sesuatu yang berbeda dari Winda tapi aku tidak tahu apa.


"Apa kamu tidak ingin menanyakan kabarku dulu Mas?" Winda menjawabku datar. Lalu dia kembali memalingkan wajahnya dariku.


Aku tidak tahu apa maksudnya dia bertanya seperti itu. Apa mungkin yang dia maksud kenapa beberapa hari ini aku tidak mengabarinya atau menanyakan keadaannya? Begitukah?


"Aku sudah melahirkan. Apa kamu tidak ingin tahu?" ucap Winda kemudian.


Perlu waktu sekian detik bagiku untuk bisa mencerna yang baru saja Winda katakan. Dia sudah melahirkan? Apa aku tidak salah dengar?

__ADS_1


Astaga ... !!!


Jadi yang sejak tadi aku lihat berbeda dari Winda adalah perutnya. Bagaimana aku sampai tidak menyadari itu??? Ingin rasanya aku meninju wajahku sendiri.


Kapan? Bagaimana bisa? Bagaimana kondisi anakku sekarang? Dimana dia? Begitu banyak yang aku tanyakan tetapi Winda tidak mau menjawab satupun dari pertanyaan-pertanyaanku.


Aku begitu frustasi ingin mengetahui bagaimana anakku tapi Winda tetap tidak mau memberitahu aku. Dia bahkan mulai membahas kehamilan Eva. Ya ... tentu saja dia sudah tahu karena Eva menemuinya terlebih dahulu sebelum menemuiku.


Dan sudah bisa aku tebak, setiap menyebut Eva pasti pembicaraan kami berputar-putar tidak ada ujung pangkalnya. Winda mulai berteriak histeris. Aku tahu itu luapan kekesalan di hatinya, aku bisa memahaminya.


Aku mendekat dan memeluknya. Rasa bersalah menggerogoti hatiku. Apa aku ini manusia yang sudah tidak punya hati nurani? Mencari kehangatan dari wanita lain ketika istriku hamil, setelah itu mabuk-mabukan di saat istriku melahirkan? Lelaki macam apa aku ini?!!


"Pergilah ... " Tangis Winda mulai reda, kemudian dia melepaskan pelukanku. Keputusannya sudah final dan tidak bisa di rubah. Dia sudah mantab untuk berpisah denganku.


Aku sobek-sobek surat panggilan dari pengadilan itu di depan Winda lalu aku pergi meninggalkannya. Aku tidak akan terima begitu saja.


Ku kendarai motorku dengan kecepatan tinggi lalu aku berhenti di sebuah tempat sepi. Aku parkir motorku dan aku nyalakan rokok untuk mengusir kesedihanku. Tetapi ternyata itu sama sekali tidak membantu. Rasa sesal ini sudah memenuhi hatiku.


Harus bagaimana ini? Aku sudah tidak punya kesempatan lagi. Winda bahkan tidak mengijinkan aku bertemu dengan anakku.


Bagaimana dia? Apa dia sehat? Seperti apa wajahnya? Apa seperti aku? Atau cantik seperti Mamanya? Atau sama persis seperti Keisha? Air mataku menetes karena hanya bisa membayangkan wajahnya.


Lalu kenapa Winda tidak bersamanya? Di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Kenapa dia justru di kios dan tidak menjaga bayinya? Atau ... jangan-jangan anakku tidak tertolong karena belum waktunya lahir?


Semakin aku memikirkannya semakin aku frustasi. Aku tarik rambutku semakin keras tetapi aku sama sekali tidak merasakan sakit.


Winda sayang ... Aku berhak tahu. Kenapa kamu menghukum aku seperti ini? Aku bisa gila!!!


"Ibu ... Ya ... Lebih baik aku menemui ibu mertuaku. Dia pasti tahu semuanya dan mau memberi tahu aku," gumamku. Akhirnya aku menemukan titik terang.


Aku segera tancap gas menuju rumah mertuaku. Hanya ada ibu mertuaku di rumah. Sedangkan bapak mertuaku sedang menemani Keisha keluar membeli jajanan.

__ADS_1


Keisha ... Gadis kecilku. Maafkan Papa sudah mengabaikan kamu karena keegoisan papa. Harusnya papa yang menemanimu.


"Bagaimana kabarmu Adji?" sambut mertuaku. Dia tidak sinis tetapi juga tidak menyambutku dengan ramah seperti biasanya.


"Aku baik Bu .. Kabar Ibu bagiamana?"


Kenapa suasana menjadi canggung seperti ini? Padahal dulu ibu mertuaku sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri.


"Bu ... Aku datang kemari ingin bertanya kepada ibu mengenai anakku. Winda sudah melahirkan dan aku tidak diberitahu. Apa ibu tahu dimana anakku sekarang? Ibu bisa memberitahu aku?"


"Kenapa kamu tidak bertanya pada Winda?"


"Aku sudah menemui Winda tapi dia tidak mau memberitahu aku Bu ... "


"Kalau Winda tidak mau memberitahu kamu ibu juga tidak berani. Dia yang lebih berhak."


"Tapi aku juga berhak tau Bu, dia anakku."


"Apa kamu merasa masih punya hak setelah apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak malu Adji? Setelah semua yang Winda lakukan untukmu? Melihatmu datang kemari saja aku sudah heran. Dan tanpa berdosa kamu membicarakan hak?!!"


Tidak seperti yang aku bayangkan. Ibu mertua yang biasanya ramah dan lembut kepadaku berubah sikap menjadi sama persis seperti ibuku.


"Ibu heran, kemana perginya Adji yang dulu santun dan bertanggung jawab? Kemana perginya Adji yang yang hidupnya lurus dan tidak neko-neko? Apa selama ini itu hanya topengmu di depan kami?"


"Bu ... Aku minta maaf ... " Aku belum selesai dengan kalimatku tiba-tiba Keisha masuk.


"Nek ... Kakek ngajak Keisha melihat adiknya Keisha Nek ..." teriak Keisha kegirangan.


"Kei ... " Aku memanggilnya lirih. Keisha menoleh dan melihatku.


"Papa ... " langsung dia berlari dan menghambur ke pelukanku.

__ADS_1


__ADS_2