Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 49


__ADS_3

Adji POV


Hari ini aku sengaja tidak berangkat kerja. Aku ingin menemui Keisha, kali ini harus bisa. Aku akan menemuinya pagi-pagi sekali sebelum berangkat sekolah. Saking buntunya pikiranku sampai aku tidak terpikir ini cara sebelumnya.


Tanpa berkata apa-apa dia menghambur ke pelukanku. Aku sangat merindukan gadis kecilku ini.


Winda mengijinkan aku untuk mengantarkan Keisha ke sekolah. Tetapi aku juga memberi tahu dia jika aku akan kembali karena ada hal yang ingin aku bicarakan. Winda menyetujuinya.


Akhirnya aku bisa bicara dengan Winda, tetapi sama saja. Pembicaraan kami hanya berputar-putar tidak ada penyelesaiannya. Aku tahu ini akan sulit.


Tiba-tiba saja winda meringis kesakitan dan memegangi perutnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Setahuku kehamilannya baru memasuki usia delapan bulan tidak mungkin dia akan melahirkan sekarang.


Winda terlihat lebih baik setelah minum obat, tetapi aku tetap khawatir. Jadi aku membawanya ke rumah sakit.


Di rumah sakit aku baru mengetahui jika sebelumnya Winda sudah di rawat karena kandungannya bermasalah. Dan itu semuanya karena stress, kebanyakan pikiran. Dia bisa saja kehilangan bayinya atau melahirkan secara prematur karena hal itu.


Aku merasa bersalah sekali. Tidak kusangka perbuatanku memberikan dampak yang luar biasa dan hampir membahayakan dua orang yang sangat aku sayang. Jadi dia pergi ke luar kota bersama Keisha itu bohong. Itu hanya alasan untuk menghindari aku.


Aku ingin menanyakan kepada Winda kenapa dia menyembunyikan ini dariku. Tapi aku takut Winda akan semakin menyalahkan aku karena bagaimanapun aku yang salah.


Winda berkali-kali mengusirku tapi aku tetap menunggu di sampingnya. Aku tidak mau terjadi sesuatu dan aku tidak di sampingnya lagi.


"Pergilah ... Aku tidak mau semakin stress karena setiap melihatmu aku teringat pela*ur itu!"


Aku menyerah setelah Winda mengucapkan kata-kata itu. Setiap menyebut kata itu dia bawaannya langsung emosi. Jadi lebih baik aku keluar daripada dia marah-marah lagi.


Aku duduk termenung di lorong rumah sakit memikirkan bagaimana hidupku jungkir balik. Dari pertama mengenal minuman keras, mengenal dunia malam hingga tergoda untuk mencicipi perempuan lain, kemudian sakit keras. Belum cukup sampai di situ, keluargaku hidup kekurangan karena aku.


Itu semua bisa membuatku sadar tetapi ternyata hanya sebentar. Dengan satu kedipan mata aku kembali melakukan kesalahan. Menyesal sekali kenapa aku tidak bisa menahan diriku, nafsuku.


Lama sekali aku duduk di sana hingga notifikasi di ponselku berbunyi dan membangunkan aku kembali ke kenyataan.


Mas Adji aku ingin bertemu.


Begitu bunyi pesan yang masuk ke dalam handphoneku.

__ADS_1


...****************...


Winda


Aku sudah diijinkan kembali ke rumah dengan catatan tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat dan tidak boleh banyak pikiran. Tidak melakukan pekerjaan berat mungkin bisa aku lakukan, tetapi tidak banyak pikiran itu yang sulit melihat keadaanku sekarang.


Sebenarnya aku ingin segera ke kios. Terus menerus berbaring di tempat tidur membuatku semakin sering teringat perbuatan Mas Adji.


Aku keluar dari kamar karena mbak yang bekerja di rumah memberi tahu jika ada yang mencari aku.


"Jeng Winda ... Apa kabar?" tanya wanita yang telah membawa badai dalam rumah tanggaku.


Apa-apaan ini?!! Apa yang dilakukan perempuan tidak tahu malu ini di rumahku?!! Aku tidak percaya melihat siapa yang berdiri di depanku.


"Mau apa kemari?!" tanyaku ketus.


"Maaf sebelumnya Jeng Winda, tetapi aku mencari Mas Adji."


Ingin sekali aku menampar wanita ini. Selain tidak tahu malu, dia juga tidak tahu diri.


"Untuk apa mencari Mas Adji? Dia belum membayarmu atau bagaimana?"


"Ada yang harus aku bicarakan dengan suamimu Jeng. Sudah aku kirim pesan tapi tidak di balas." Tanpa dosa Eva menjawab pertanyaanku.


Mendidih rasanya darahku mendengar dia bicara seperti itu. Jadi dia berkirim pesan dengan Mas Adji?


"Apa keperluanmu dengan Mas Adji katakan saja. Nanti aku sampaikan kalau dia sudah pulang!"


Padahal sampai saat ini Mas Adji tidak pulang ke rumah. Aku juga tidak tahu dia tinggal di mana, entah di rumah ibunya atau di rumah Mas Arya.


Pela*ur itu tampak berfikir. Dengan ragu akhirnya dia bicara.


"Aku hamil Jeng ... Aku ingin minta pertanggungjawaban Mas Adji."


"Apa??? Apa aku tidak salah dengar?!!" Aku benar-benar kaget mendengarnya.

__ADS_1


"Heh ... Pela*ur, kamu tidur dengan banyak laki-laki, kenapa kamu minta suamiku untuk bertanggung jawab?!!"


"Jeng Winda, jangan bicara sembarangan! Kamu tidak tahu apa-apa!"


"Aku bicara kenyataan?!! Kenapa tidak terima?!! Kenapa kamu tidak minta pertanggungjawaban dari laki-laki lain yang juga tidur sama kamu?!! Kenapa harus Mas Adji?!!"


"Karena terakhir aku melakukannya dengan Mas Adji. Kumohon Jeng Winda ... Anakku harus punya ayah." Suara Eva mulai melunak.


Dari sorot matanya dia terlihat putus asa. Apa mungkin dia sudah mendatangi semua laki-laki yang tidur dengannya tapi tidak ada satupun yang mau bertanggung jawab?


"Kamu sadar yang kamu katakan?!! Apa kamu tidak memikirkan perasaanku?!! Aku juga sedang hamil Eva!!!"


"Jeng Winda ... Aku mohon padamu. Jadi istri kedua pun aku tidak masalah, yang penting anakku punya ayah."


"Plakkk ... !!!" Akhirnya tanganku melayang dan mendarat di pipi Eva.


Apakah sebagai sesama perempuan dia tidak bisa memahami perasaanku? Bagaimana jika posisinya di balik. Aku yang datang ke rumahnya dan meminta suaminya bertanggungjawab atas kehamilanku?


"Kamu keterlaluan Eva. Tidak punya perasaan!!!"


"Tapi aku sudah menerima hukumannya Jeng Winda. Aku sudah di usir dari kampung dan sekarang aku harus mencari tempat tinggal di daerah lain. Apa itu belum cukup?"


"Belum!!! Hukuman apapun tidak akan cukup untukmu!!!"


"Apa kamu tidak kasihan padaku? Aku sendirian dan tidak punya siapa-siapa. Bagaimana aku memulai hidup baru dalam keadaan hamil dan tidak punya suami?!"


"Itu bukan urusanku!!! Silahkan pergi dari rumahku!!! Mas Adji sudah tidak tinggal di sini jadi jangan mencarinya lagi kemari!!!"


"Tapi tadi kamu bilang ....?"


"Keluar dari rumahku!!!"


"Jeng Winda ... Aku mohon padamu. Aku minta maaf jika sudah menyakiti perasaanmu. Tapi tidak seharusnya kamu menyalahkan aku. Salahkan juga suamimu kenapa dia tergoda padaku."


"Aku tidak ingin mendengar kamu bicara lagi!!! Keluar dari rumahku sekarang!!!" teriakku. Akhirnya Eva mau pergi dan aku terduduk lemas di sofa.

__ADS_1


Kenapa ujian dalam hidupku tidak ada habisnya? Aku pikir setelah apa yang aku lalui, sekarang aku tinggal merasakan kebahagiaan. Tetapi ternyata aku salah.


Apakah Mas Adji benar-benar ayah dari anak yang dikandung Eva? Apa yang harus aku lakukan? Apa laki-laki seperti itu masih pantas aku pertahankan? Bagaimana perasaan Keisha jika mengetahuinya?


__ADS_2