
Winda
Putusan pengadilan sudah ditetapkan. Aku dan Mas Adji sudah resmi bercerai. Sebelumnya Mas Adji bersikeras tidak ingin bercerai, tetapi bukti yang aku miliki sangat kuat dan pengadilan mengabulkan gugatanku. Mas Adji tidak menuntut harta gono-gini maupun hak asuh. Dia terima semua putusan pengadilan tanpa protes.
Tetapi ada satu orang yang tidak terima, yaitu mertuaku. Atau mungkin lebih tepatnya mantan mertuaku. Dia bersikeras meminta ganti atas biaya pembangunan rumah kami dulu, yang dia sebut harta gono-gini.
Selain itu dia juga meminta bagian atas penghasilan kios karena dia pikir Mas Adji yang memberikan aku modal.
"Jadi setiap bulan kamu harus ngasih jatahnya Adji atas penghasilan dari kios," kata mertuaku enteng. "Kalau tidak ya ... biar Maya ikut mengurus kios agar kami juga tahu pemasukan kios ini."
"Kios ini aku yang menyewa dan aku juga yang membukanya. Semua menggunakan uangku, hasil kerja kerasku sendiri. Tidak ada sangkut pautnya sama Mas Adji!" Rasa kesalku sudah mencapai ubun-ubun.
"Kamu jangan menyangkal Win, mentang-mentang sudah pisah terus semua harta benda ingin kamu kuasai sendiri. Kamu nggak mungkin bisa seperti ini tanpa Adji!"
"Kalau ibu tidak percaya silahkan ibu tanya sendiri kepada Mas Adji!"
Aku kesal sekali. Aku sudah berpisah dari Mas Adji, tetapi aku tidak bisa tentram sepenuhnya. Mertuaku masih berusaha untuk mengusik kehidupanku.
Setiap bertemu mertuaku pasti yang dia bahas hanyalah uang. Tidak ada waktu untuk menanyakan bagaimana kabar bayiku. Itu tidak ada dalam benaknya.
"Adji mana mau ngaku! Dia selalu menutupi karena sejak dulu dia lebih membela kamu dibandingkan aku. Sekarang mana buktinya jika kios ini adalah hasil usahamu sendiri? Nggak ada! Kamu nggak punya bukti kan?!"
"Kalaupun Mas Adji masih memiliki harta yang ada padaku itu pasti untuk anaknya. Anak-anaknya yang berhak. Tetapi sayangnya Mas Adji memang tidak punya apa-apa!"
"Aku ini ibunya. Aku juga punya hak atas apa yang dimiliki Adji. Apalagi sekarang dia tinggal di rumahku!"
"Ya sudah! Ibu minta sendiri sama Mas Adji. Jangan minta dariku!" jawabku ketus. Aku sudah tidak bisa bersikap sopan kepada orang satu ini.
"Heh ...!!! Jangan kurang ajar ya kamu Winda!"
"Aku tidak bermaksud kurang ajar. Ibu saja yang sudah keterlaluan!"
__ADS_1
"Sombong kamu ya sekarang, mentang-mentang usahamu sukses!"
Aku ingin membalas mertuaku tapi aku mendengar suara tangis bayiku.
"Apa ibu tidak memikirkan kondisi anakku? Berapa biaya rumah sakit yang sudah aku keluarkan? Apa aku minta dari Mas Adji? Tidak Bu! Aku tidak pernah minta sepeserpun dari Mas Adji! Lalu kenapa ibu mempermasalahkan uang Mas Adji yang tidak seberapa jumlahnya?"
"Selama kami berumah tangga ibu pernah memberi apa kepada kami? Sekarang ibu datang meminta harta yang tidak ada wujudnya. Ibu memaksaku memberikan sesuatu yang tidak ada padaku. Seolah-olah aku berhutang sesuatu kepada ibu dan sekarang aku harus membayarnya!"
Mertuaku tidak dapat berkata-kata. Sekarang aku berani melawan karena tidak ada hati yang harus aku jaga.
"Tidak Bu ...!!! Aku tidak akan memberikan apapun kepada ibu!!!"
Ku tinggalkan mertuaku dan berlari untuk meraih bagiku. Mas Adji tidak pernah membicarakan soal harta denganku. Aku yakin harta gono-gini ini hanyalah keinginan mertuaku, mantan mertuaku.
Ku tatap bayiku yang langsung berhenti menangis di dalam buaianku. Keadaannya sudah jauh lebih baik setelah lama dirawat di rumah sakit karena kelainan paru-paru dan berat badan yang kurang. Sekarang dia sudah tumbuh normal seperti bayi-bayi seusianya.
"Sayangnya Mama ... Uh ... Haus ya ...?" Aku bicara dengan bayiku tapi lebih seperti sedang bicara sendiri.
Dan lagi-lagi air mataku menetes hanya dengan melihat wajahnya saja. Bayiku yang sudah berusia hampir dua bulan ini baru sekali bertemu dengan ayahnya, itupun ketika masih di rumah sakit.
Aku sendiri tidak bisa mengerti jalan pikiranku. Aku tidak rela jika Mas Adji ingin bertemu anak-anakku, tapi aku juga bertanya-tanya kenapa dia tidak datang untuk menemui mereka. Apakah Mas Adji sudah bahagia dengan rumah tangga barunya?
...****************...
Adji POV
Aku langsung menikahi Eva begitu resmi bercerai dari Winda. Eva sangat berbeda dari Winda, atau mungkin karena aku tidak mencintainya. Seringkali capek-capek pulang kerja aku justru mendengar keluhannya soal ibu. Belum lagi dia merengek minta dibelikan ini itu.
"Ibumu ngomel-ngomel terus sama aku Mas ... Aku di suruh ini lah, itu lah semuanya aku yang di suruh ngerjain. Kenapa nggak adikmu saja? Nggak tahu apa aku lagi hamil?!" gerutunya.
Aku hanya diam karena malas meladeninya.
__ADS_1
"Mas ... Nanti belikan aku baju baru. Baju-bajuku sudah mulai tidak muat. Lihatlah perutku sudah mulai tidak membesar." Mulailah dia dengan rengekannya.
Aku masih diam. Teringat dulu tubuh Winda yang berukuran besar dan sebentar-sebentar bajunya kesempitan, tapi aku dengan senang hati membelikannya. Bahkan dia tidak minta pun aku memberinya uang lebih untuk membeli baju.
"Mas ... Kenapa kamu diam saja? Aku ingin membeli baju baru."
Eva mulia menggelayut manja di lenganku. Rasanya sangat berbeda ketika aku masih menjadi suami Winda. Dulu sangat menggoda, tapi sekarang ketika Eva sudah menjadi istriku aku malah muak dengan tingkahnya.
Aku jadi membayangkan apa dia juga seperti ini kepada laki-laki yang datang ke rumahnya? Kenapa aku bisa tergoda dengan wanita seperti dia? Aku membuang wanita pintar dan setia demi perempuan seperti Eva.
Dulu, meskipun Winda gemuk, aku tidak malu membawanya ke acara-acara kantor. Bahkan aku dengan bangga memperkenalkan dia kepada teman-temanku. Winda cantik dan tutur katanya seperti orang terpelajar meskipun dia hanya tamatan SMA.
Berbeda sekali dengan Eva, aku malu untuk membawanya ke acara kantor, apalagi sampai memperkenalkan ke teman-temanku. Eva benar-benar terlihat seperti wanita murahan baik dari sikap maupun penampilannya.
Kenapa aku jadi membanding-bandingkan seperti ini? Jelas-jelas Winda sudah membuangku, tetapi aku malah terus teringat dia.
Lebih baik aku memperbaiki diri. Menjalani kehidupan rumah tangga dengan lebih baik, belajar menerima kekurangan Eva. Jangan sampai rumah tanggaku kembali berakhir seperti sebelumnya.
"Ya ... Nanti kita beli saat aku libur kerja," jawabku sekedar membuatnya lega dan tidak berisik lagi.
"Sekarang sebaiknya kita tidur."
"Mas ... Tapi aku ingin makan bakso," rengeknya lagi.
Baru saja aku meyakinkan diriku agar menerima kekurangan Eva, sekarang dia sudah menguji kesabaranku.
"Ini sudah malam Eva, dimana ada yang jualan bakso malam-malam begini?"
"Ya nggak tahu ... Yang jelas aku ingin makan bakso."
"Besok siang saja, aku kasih kamu uang. Terserah mau beli bakso dimana." Aku malas untuk menurutinya. Segera kumatikan lampu dan ku tarik selimut. Terserah dia mau apa.
__ADS_1