
Adji POV
Ibu tiba-tiba saja datang dan marah-marah. Entah apa lagi yang membuat dia marah karena aku merasa sudah menuruti semua keinginannya, termasuk membayar uang sewa selama aku tinggal di rumahnya.
"Apa kamu tahu sekarang Winda mempunyai toko yang besar? Dia kaya sekarang Adji! Kenapa kamu sampai bercerai darinya dan memilih perempuan seperti itu?"
"Apa maksud ibu?" Aku masih tidak mengerti yang ibu bicarakan. "Winda kaya? Apa maksud ibu?"
"Winda sekarang mempunyai toko, dua lantai! Bukan lagi kios kecil seperti dulu!"
"Lalu kenapa jika sekarang Winda kaya? Itu kan hasil usahanya sendiri. Lalu aku harus apa? Ibu mau aku bagaimana?"
"Ya kamu usaha balikan sama dia. Tinggalkan perempuan itu dan kembalilah padanya. Tentu sekarang dia bisa memberi uang bulanan untuk ibu. Atau setidaknya aku bisa bebas mengambil baju di tokonya."
Aku mengacak-acak rambutku karena kesal dengan kata-kata ibu. Memang aku ingin kembali bersama Winda tetapi bukan karena keinginan ibu. Aku ingin kembali padanya karena aku masih mencintai dia, dan juga karena aku memikirkan anak-anakku. Tetapi yang ada di pikiran ibu hanyalah uang dan uang.
"Berisik banget sih Mas, aku jadi nggak bisa tidur," gerutu Eva yang tiba-tiba muncul diantara aku dan ibu.
Ibu melirik sinis ke arah Eva, hampir sama seperti dia menatap Winda dulu.
"Nggak punya sopan santun sama sekali!"
Eva tetap cuek meski ibu sudah menyindirnya.
"Mas perutku sejak tadi pagi sakit, tetapi cuma sebentar lalu hilang lalu datang lagi seperti itu terus. Jadi sekarang aku hanya ingin istirahat." Eva berlalu tanpa mempedulikan ibu yang masih meliriknya dengan tatapan sinis.
Kalau di perhatikan memang Eva terlihat sedikit tidak sehat, tetapi aku lebih fokus kepada ibu.
"Lihat kan? Istrimu yang sekarang bahkan tidak tahu sopan santun?!"
"Jadi mau ibu sebenarnya apa? Aku balikan sama Winda? Memangnya segampang itu?"
__ADS_1
"Ya kamu usaha dong! Kalau perlu ibu juga akan ikut mendekati Winda. Seperti waktu itu kamu bawa anak-anak ke rumah. Masa iya setelah Winda sukses kamu malah di buang?"
Sepertinya ibu masih belum mengerti duduk permasalahannya. Aku dan Winda berpisah karena kesalahanku, bukan karena Winda sukses lalu membuangku. Dan Winda sukses murni usaha Winda sendiri, tidak ada hubungannya denganku. Aku sadar itu.
Seandainya saja ibu memintaku kembali kepada Winda karena kasihan melihat kondisiku atau anak-anakku mungkin aku akan berusaha sekuat tenaga agar Winda kembali padaku. Tetapi bukan itu yang ada di pikiran ibuku.
"Aku memang ingin kembali kepada Winda, tetapi bukan karena ibu yang meminta!"
"Terserah apapun alasanmu yang penting kamu balikan sama Winda!"
Ibu pergi begitu saja setelah menyampaikan keinginannya. Eva, ibuku dan laki-laki yang sedang mendekati Winda, semuanya membuat kepalaku pusing.
"Mas .... !!!" Tiba-tiba Eva berteriak dari dalam kamar. Dengan malas aku berdiri dan berjalan menuju kamar.
Sampai di dalam kamar aku dibuat semakin emosi karena melihat Eva yang sepertinya mengompol hingga membasahi hampir seluruh tempat tidur.
"Astaga Eva ....!!! Apa kamu semalas itu sampai harus ngompol di tempat tidur? Apa jalan ke kamar mandi saja sudah tidak sanggup?!! Kamu itu hamil Eva, bukan cacat!!!"
Eva tidak merespon kata-kataku. Dia malah meringis kesakitan sambil memegangi pinggannya.
"Sakit banget Mas ... Aku nggak ngompol, itu bukan air kencing. Aku tidak bisa menahannya. Sepertinya ketubanku pecah."
...****************...
Aku memandangi bayi laki-laki di pangkuanku. Aku bahagia melihatnya, anak laki-lakiku.
Mataku mulai berkaca-kaca, bukan terharu karena melihat bayi ini, tetapi karena aku melihat bagaimana perjuangan Eva melahirkan. Jujur aku merasa bersalah tadi sudah membentak dia padahal dia sedang kesakitan.
Lalu aku teringat Winda. Dua kali Winda melahirkan dan aku tidak menemaninya. Meskipun Winda melahirkan secara operasi, bukan berarti dia tidak mengalami kesulitan dan kesakitan. Aku tidak pernah mendampinginya.
Aku semakin diliputi rasa bersalah. Ingin sekali aku berlari untuk menemui Winda dan meminta maaf padanya, kalau perlu bersujud di kakinya. Jadi apa yang sudah aku lakukan selama menjadi suaminya? Tidak ada! Aku hanya bisa menyakiti dia.
__ADS_1
"Dia tampan kan Mas?" Suara Eva mengagetkanku. Dia masih terbaring lemah di tempat tidur.
"Iya ... Tapi dia mirip siapa ya?" Aku kembali mengamati wajahnya. "Dia lebih mirip kamu daripada aku," jawabku sambil terus memandangi bayi mungil itu.
"Kan masih bayi Mas ... Kata orang-orang kalau masih bayi wajahnya masih berubah-ubah," jawab Eva pelan.
"Iya juga sih ...Aku juga pernah dengar itu. Dulu pas Keisha bayi juga mirip denganku. Tapi semakin kesini wajahnya semakin mirip seperti Mama nya, hampir sama persis malah."
Aku langsung membayangkan wajah Winda, hidungnya yang mancung dan juga kulitnya yang bersih tidak pernah berjerawat. Tentu saja aku langsung bisa membayangkan wajahnya karena dia selalu ada dalam pikiranku.
"Siapa nama anak kita Mas?" Eva kembali menarik perhatianku.
Berbeda dengan Winda dulu, aku selalu membicarakan siapa nama anak kami sejak masih di dalam kandungan. Tetapi tidak dengan Eva, aku tidak pernah membicarakan hal seperti itu. Bahkan kami jarang ngobrol. Urusan kami hanya ranjang dan uang.
"Siapa ya kira-kira?" Aku berpikir keras mencari nama yang tepat untuk anak laki-lakiku. "Aku tidak punya ide."
"Bagaimana kalau Kenzo, atau Kenzie? Atau Kiano? Semuanya berawalan huruf K, biar sama seperti kakak-kakaknya." Eva mengusulkan beberapa nama. Dia bahkan mengajukan nama yang huruf awalnya sama dengan anak-anakku dan Winda.
"Oh iya ... Kamu benar ... Keisha, Kirana terus dia .... Menurutmu mana yang paling bagus?" tanyaku kepada Eva.
Untuk pertama kalinya setelah menjadi istriku, aku memperlakukan dia dengan halus, selayaknya istri. Aku ingin menebus rasa bersalahku padanya.
"Aku suka Kenzie," jawab Eva sambil tersenyum.
"Baiklah ... Kalau begitu kita beri dia nama Kenzie. Kamu suka?" Eva mengangguk dan kembali tersenyum. Eva terlihat sangat bahagia.
Tiba waktunya Eva istirahat, aku meninggalkan dia dan bayinya di dalam kamar. Muncul keraguan di dalam hatiku setelah melihat anak laki-lakiku.
Apa aku tetap ingin kembali kepada Winda atau memperbaiki hubunganku dan Eva dan mempertahankan rumah tanggaku yang sekarang?
Kalau aku tetap bersama Eva, aku tidak mungkin kembali dengan Winda. Belum tentu juga Winda mau kembali padaku.
__ADS_1
Tetapi kalau aku berpisah dengan Eva, aku kasihan dengan anakku yang baru lahir. Sedangkan Eva tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa selain aku.
Aku harus memilih siapa?