
Aku langsung pulang tanpa mengikuti mediasi yang diadakan oleh perangkat desa setempat. Aku akan menyelesaikan masalahku di rumah sementara itu Eva aku pasrahkan kepada mereka. Terserah mereka akan memberikan sanksi apa untuknya.
Mereka sudah berusaha mencegahku pulang. Ada juga yang berinisiatif untuk mengantarkan aku pulang karena takut terjadi apa-apa mengingat aku sedang emosi, tetapi aku tolak. Semuanya melihatku dengan rasa kasihan. Aku yang tengah hamil, menemukan suamiku sedang berbuat mesum dengan wanita lain.
Perangkat desa sudah menjelaskan padaku. Mereka bukannya membiarkan Eva melakukan praktek asusila di rumahnya. Selama ini mereka sudah mengawasi gerak-gerik Eva, tetapi mereka belum pernah menangkap basah Eva melakukan aksinya jadi mereka tidak punya bukti.
Sebelumnya, kami membuka secara paksa pintu rumah Eva karena beberapa kali memanggilnya tidak ada balasan. Kami memutuskan untuk mendobrak pintunya dan kami menemukan Mas Adji dan Eva tengah terlelap tanpa pakaian di dalam kamar. Sungguh sangat menjijikkan. Aku tidak pernah membayangkan akan melihat pemandangan seperti ini.
Setelah apa yang aku lakukan untuknya, dan semua janji-janjinya, aku tidak percaya Mas Adji tega berbuat seperti ini lagi kepadaku. Apalagi sekarang aku sedang mengandung anak kedua. Bagaimana Mas Adji begitu tega kepadaku?
Sampai di rumah aku langsung mengemasi semua pakaian Mas Adji. Mungkin dia masih di jalan atau masih di sidang oleh pengurus desa, aku tidak tahu. Yang jelas aku akan langsung mengusirnya begitu dia sampai di rumah. Aku tidak sudi untuk tinggal satu atap lagi dengan laki-laki tidak tahu diri.
Tetapi aku menunggu sampai larut malam Mas Adji tak juga menunjukkan batang hidungnya. Bahkan sampai pagi pun dia tidak terlihat. Aku pikir dia pasti tidak pulang.
Setelah mengantar Keisha sekolah aku menemui orang tuaku. Aku ingin menceritakan semuanya kepada mereka. Tidak perlu lagi aku menutupi kebusukan Mas Adji di depan keluargaku seperti dulu.
"Apapun keputusan kamu, bapak akan mendukung. Bahkan bapak lebih setuju jika kamu berpisah dari Adji setelah mengetahui semuanya."
"Apa tidak sebaiknya menunggu sampai kamu lahiran Win?"
Aku menggeleng. Aku tidak akan memberikan kesempatan Mas Adji untuk dekat denganku lagi, apapun alasannya.
"Keputusanku sudah bulat Bu ... Ini bukan yang pertama kalinya. Jika aku beri kesempatan lagi pasti dia akan mengulangi lagi, tidak akan ada kapoknya."
"Ya sudah, bapak dan ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik."
__ADS_1
...****************...
Adji POV
Aku sering merasa kesepian. Memang ada Keisha di rumah tapi sebagai laki-laki aku membutuhkan sentuhan seorang wanita.
Winda seringkali sibuk dengan urusannya. Ketika pulang ke rumah dia sudah kecapekan dan aku tidak tega untuk meminta jatahku sebagai seorang suami, terlebih lagi kondisinya sedang hamil. Terpaksa aku menahan diri untuk menyalurkan hasratku.
Dulu ketika aku sakit, aku bisa menahannya bahkan sampai berbulan-bulan. Tetapi sekarang aku tidak bisa, aku tidak kuat.
Aku sudah pulang dari kantor dan ingin menuruti keinginan Winda mengajak Keisha jalan-jalan. Aku berhenti sebentar di sebuah warung langgananku, tidak jauh dari rumah, untuk membeli rokok. Dan tidak sengaja aku bertemu Eva di sana.
Tubuh Eva terlihat sangat menggiurkan seperti biasanya. Hasratku yang sering tertahan langsung meronta menginginkan pelampiasan. Tatapan menggodanya membuatku lupa jika aku seorang suami dan istriku yang sedang hamil menungguku pulang.
Aku merasa seperti terhipnotis. Satu tatapan dari Eva membuatku bisa lupa segalanya. Eva memberi aku kode untuk datang ke rumahnya, dan tanpa berpikir panjang aku langsung mengikutinya. Itu seperti terjadi begitu saja tanpa aku rencanakan.
Eva pergi lebih dulu, setelah beberapa saat barulah aku menyusulnya agar tidak ada yang curiga. Tanpa ragu aku memarkirkan sepeda motorku di teras rumah Eva. Winda tidak mungkin kemari karena dia sedang sibuk dengan paket-paket dan pesanan.
Sebelumnya Eva memberikan aku minuman yang dia bilang akan membuatku kuat dan bertenaga. Dan aku pun meminumnya sampai habis.
Selanjutnya tidak perlu aku ceritakan lagi apa yang terjadi di dalam rumah Eva.
Aku sedang dalam suasana yang panas dengan Eva tetapi teleponku tidak berhenti bergetar. Itu pasti Winda. Suara getarannya sangat menggangu sehingga aku memutuskan untuk menghentikan kegiatan panasku dengan Eva untuk menjawab panggilan telepon Winda.
"Aku lagi di jalan Win ... Sebentar lagi sampai rumah," jawabku cepat dan langsung kumatikan handphoneku.
__ADS_1
Setelah itu aku lanjutkan kegiatanku bersama Eva hingga aku puas menyalurkan hasratku. Wanita ini sungguh menguras tenagaku hingga aku lemas dan tak sengaja tertidur.
Aku merasa seperti baru beberapa menit memejamkan mata lalu terdengar seperti suara gaduh. Aku seperti sadar dan tidak sadar, rasanya berat sekali untuk membuka mataku.
"Ini yang kamu sebut lembur Mas?" Suara ini ... Aku sangat kenal.
Aku langsung membuka mataku dan melihat beberapa orang ibu-ibu berdiri di samping tempat tidur. Salah satu dari mereka adalah Winda. Dengan tangan gemetar mengarahkan handphonenya kepadaku, seperti sedang memvideokan aku.
"Win ...???" Aku hendak bangun tapi aku ingat aku tidak menggunakan apapun sementara di depanku berdiri beberapa orang ibu-ibu.
"Apa ini yang kamu maksud lembur?!!"
Ibu-ibu ini mencaci dan mengeluarkan kata-kata sumpah serapah tapi aku tidak begitu mendengarkan. Aku tidak bisa fokus kepada hal lain selain Winda.
"Tolong yang lain keluar!!!" Aku berteriak karena panik dan bingung.
Begitu ibu-ibu keluar aku langsung meraih pakaianku dan mengenakannya. Lalu aku susul Winda keluar dari kamar.
Tidak kusangka, di luar kamar ada lebih banyak lagi orang tidak cuma ibu-ibu melainkan juga bapak-bapak. Bapak-bapak ini baru datang karena tidak ikut menggerebek ke dalam kamar.
Winda langsung pergi setelah berbicara sebentar dengan seseorang, sementara aku ditahan oleh orang-orang ini untuk di interogasi. Aku sudah tidak bisa berpikiran jernih lagi. Mereka bertanya apa aku sudah tidak bisa menjawab. Yang ada di pikiranku hanya Winda dan Winda.
Aku tidak khawatir dengan orang-orang yang sedang menyidangku saat ini. Aku lebih khawatir dengan apa yang mungkin akan Winda lakukan kepadaku. Sudah jelas hidupku berakhir sampai di sini.
Tadi aku begitu ingin menyusul Winda, tapi sekarang setelah orang-orang ini melepaskan aku, aku justru tidak punya nyali untuk menemui Winda. Aku ketakutan, takut menghadapi akibat atas perbuatanku.
__ADS_1
Winda bisa saja menceraikan aku, atau lebih buruk lagi dia juga melaporkan aku ke pihak berwajib. Kalau itu sampai terjadi maka sudah bisa dipastikan karirku hancur, rumah tanggaku hancur dan hidupku hancur tidak ada yang tersisa.