
Adji POV
Aku sudah menyampaikan isi hatiku kepada Winda. Aku tidak peduli dengan laki-laki yang sedang mendekatinya. Aku hanya ingin Winda kembali padaku.
"Kei, laki-laki yang sering bersama mama itu teman dekatnya Mama ya?" Aku iseng bertanya pada Keisha melalui telepon.
"Om Indra sama Mama itu cuma temenan Pa."
Akhirnya aku tahu namanya Indra. "Beneran Kei? Mereka nggak ... " Aku tidak melanjutkan kalimatku karena aku pikir mungkin Keisha belum mengerti maksudku.
"Nggak Pa ... Om Indra dan mama nggak pacaran. Mama sendiri yang bilang." Keisha sama sekali tidak malu menyebut kata pacaran di depanku padahal sejak tadi aku menahan kata itu. Serasa ada sinar terang begitu aku mendengar jawaban dari Keisha.
"Kei ... "
"Apa Pa?"
"Kamu setuju nggak kalau papa dan mama balikan?"
"Setuju, setuju, setuju, setuju," jawabnya tanpa jeda. Aku hanya tertawa melihatnya. Anak mana yang tidak bahagia melihat kedua orang tuanya kembali bersama.
"Kalau gitu kamu bantu bujuk mama dong. Mama pasti mau kalau Keisha yang minta." Aku sudah terang-terangan meminta dukungan Keisha.
"Iya, besok Keisha ngomong sama mama. Tapi pa ... "
"Tapi apa?"
"Simbah kayaknya nggak suka kalau papa sama mama lagi. Kenapa sih dari dulu simbah nggak suka sama mama?"
"Keisha nggak perlu mikirin simbah. Yang penting Keisha bantu bujuk mama aja. Simbah biar papa yang urus."
"Oke pa ..."
...****************...
Mertuaku semakin sering datang mengunjungi aku maupun anak-anakku. Kadang dia datang ke toko kadang langsung ke rumah. Semua itu dia lakukan bukan karena dia peduli dengan keluargaku. Tetapi dia hanya ingin memastikan aku tidak berdekatan dengan Mas Adji. Ya, mertuaku sedang memantau aku dan Mas Adji.
Dia sepertinya sangat tidak rela jika aku kembali dengan Mas Adji karena menurutnya sekarang Mas Adji lebih sukses dari aku. Sepertinya mertuaku lupa bagaimana dulu dia memohon agar aku mau memaafkan Mas Adji.
"Win, besok aku mau ajak Kirana beli sepeda boleh ya?" Mas Adji datang ke rumah malam-malam.
"Adek besok pagi mau beli sepeda sama papa kan?" Mas Adji bertanya langsung kepada Kirana. Dia masih sedikit malu dengan papanya.
"Mama ikut?" Kirana melihat ke arahku
__ADS_1
"Tidak sayang, mama nggak bisa ikut. Mungkin sama kakak." Setelah berpikir sebentar barulah Kirana mengangguk.
"Sini dong peluk papa." Mas Adji meminta Kirana mendekat karena sejak tadi dia menempel kepadaku.
Dengan malu-malu Kirana mendekati papanya lalu memeluknya.
"Adek kenapa malu-malu sih sama papa?" tanya Mas Adji dengan lembut.
"Adek jarang ketemu papa."
"Kalau gitu besok papa akan sering-sering main ke rumah biar adek nggak malu lagi sama papa."
"Teman-teman adek papa mamanya tinggal bersama, kenapa papa dan mama tidak?" ucap Kirana sambil menunduk. Mas Adji tidak bisa berkata-kata lagi.
"Besok sepedanya mau yang warna apa?" Mas Adji mengalihkan pembicaraan.
"Ungu pa!" jawab Kirana antusias.
"Tapi nanti naik sepedanya pelan-pelan ya, jangan kecapekan biar adek nggak sakit lagi."
Senang sekali melihat interaksi Kirana dan Mas Adji. Memang seperti ini seharusnya ayah dan anak. Aku jadi berpikir apa sebaiknya aku terima ajakan Mas Adji untuk kembali bersama.
Pagi harinya...
"Papa bilang besok, berarti sekarang kan Ma?" ucapnya dengan wajah cemberut.
"Iya, hari ini tapi nggak sekarang. Nanti kalau papa sudah pulang kerja."
"Tapi adek maunya sekarang! Papa janji." Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuknya.
"Dek, nanti sore beli sepedanya, kalau kakak sudah pulang sekolah, biar kakak bisa ikut." Keisha ikut membujuk adiknya.
"Kakak nggak boleh ikut! Nanti kakak minta dibeliin sepeda juga!" Keisha memutar bola matanya mendengar jawaban Kirana. Anak ini kalau sudah ngambek sulit sekali cara mengatasinya. Akhirnya aku telepon Mas Adji.
"Telpon papa aja Ma," ucap Keisha setelah dia menyerah membujuk adiknya.
Kirana menurut setelah berbicara dengan Mas Adji. Dia mau mandi dan berangkat sekolah. Lega rasanya setelah urusan anak-anak selesai. Akhirnya aku bisa berangkat ke toko.
"Mbak, ada yang sudah menunggu di belakang," sambut salah seorang pegawaiku.
"Siapa? Laki-laki atau perempuan?"
"Nggak tahu mbak, perempuan." Aku bergegas ke belakang. Di sana sudah menunggu seorang perempuan bersama seorang anak laki-laki mungkin seusia Kirana.
__ADS_1
"Win ... "
"Eva ...?!" Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
Eva berjalan mendekatiku lalu memelukku. "Apa kabar?" tanyanya.
Aku masih tidak bisa berkata-kata melihat Eva. Lima tahu lebih aku tidak mendengar kabarnya, tidak tahu bagaimana kondisinya tiba-tiba dia muncul saja di hadapanku. Aku sempat khawatir melihat bagaimana kondisinya terakhir kali.
"Aku ... baik. Gimana kabarmu?" Aku balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik." Aku mengamati Eva. Dia memang terlihat baik, bahkan lebih baik.
"Apa dia ...?"
"Ya, dia Kenzie."
Aku berjongkok untuk menyalami anaknya Eva. "Hai Kenzie, aku tante Winda."
"Kok Tante tahu namaku?" balas Kenzie dengan berani.
"Iya, tante kan teman mamamu."
"Yang sering mama ceritain itu ya?" Kenzie menoleh ke ibunya.
"Iya nak, ini tante Winda yang dulu menolong mama." Aku tersentuh mendengar jawaban Eva. Aku tidak menyangka dia masih mengingat apa yang sudah aku lakukan untuknya bahkan sampai menceritakannya pada anaknya.
"Ayo masuk ..." Aku mengajak mereka masuk ke ruanganku. Tidak lupa aku mengambilkan camilan milik Keisha dan Kirana dari lantai atas agar Kenzie tidak bosan.
"Jadi, kemana saja kamu selama lima tahun ini?"
"Aku tinggal di kota X, di rumah saudaraku. Mereka menerimaku dengan baik." Eva memulai ceritanya.
"Kamu bekerja?"
"Aku punya salon sekarang. Awalnya aku bekerja di salon, lalu aku ambil kurus. Kebetulan rumah saudaraku yang aku tumpangi cukup luas dan letaknya di tepi jalan. Jadi mereka menyuruhku membuka salon sendiri di rumah. Mereka sangat baik padaku Win ... Mereka mengijinkan aku tinggal bahkan tidak meminta imbalan."
"Aku ikut senang mendengarnya."
"Aku bersyukur dikelilingi oleh orang baik. Aku ... Aku ke sini ingin mengucapkan terima kasih padamu." Mata Eva mulai berkaca-kaca. "Terima kasih atas bantuanmu waktu itu. Jika bukan karena kamu, aku tidak tahu sekarang jadi apa. Bagimu itu mungkin bukan apa-apa, tetapi bagiku itu sangat besar artinya."
"Aku juga ingin meminta maaf padamu. Aku tahu meskipun ribuan kali aku meminta maaf itu tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula, aku sangat menyesal."
"Sudahlah, lupakanlah itu sudah berlalu." Aku tidak ingin suasana menjadi sedih.
__ADS_1