
Pembantuku sudah selesai menyiapkan makanan. Aku mengajak Eva ke ruang makan, sementara anaknya tertidur di kasur Kirana.
"Ayo makan ... Kamu pasti lapar," ajakku.
Eva mengangguk.
Dia segera mengambil sepiring nasi dan lauk lalu memakannya dengan lahap, seperti orang yang sudah berhari-hari tidak makan. Ditambah wajahnya yang pucat membuatku yakin dia memang belum makan entah sejak kapan.
Aku hanya menatapnya.
Aku jadi bertanya-tanya, apa benar Mas Adji melakukan semua yang Eva katakan? Apa benar dia yang memukuli Eva, sementara saat denganku meski dia sering mabuk dan kami sering bertengkar dia tidak pernah main tangan kepadaku. Tidak pernah sekalipun dia memukulku. Lalu kenapa dia bisa sebrutal ini kepada Eva?
"Pelan-pelan Eva," ucapku.
Eva mulai memelankan makannya.
"Kamu kenapa makan seperti itu?"
"Aku belum makan sejak kemarin pagi," jawab Eva datar.
Astaga, sekarang sudah lewat tengah hari! Aku tidak percaya yang aku dengar.
"Sejak Mas Adji mengetahui semuanya, dia mengurungku di dalam rumah. Aku tidak boleh keluar. Ponselku juga dia sita. Aku hanya makan jika Mas Adji membelikan aku makan. Awalnya aku masih bisa masak menggunakan bahan-bahan yang ada di kulkas. Tetapi lama-lama stok makanan habis."
Mata Eva kembali berkaca-kaca. Sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya dia terus bercerita.
"Mas Adji hanya membelikan aku makan di pagi hari, sebelum dia berangkat kerja. Sementara malamnya dia pulang entah jam berapa. Seperti itu terus hampir dua Minggu ini. Ketika susu Kenzie habis, aku hanya bisa memberinya teh manis karena Mas Adji sudah tidak mau tahu soal Kenzie."
Aku meletakkan sendokku, aku tidak sanggup untuk melanjutkan makan. Tidak terasa mataku ikut berkaca-kaca. Hanya mendengar ceritanya saja aku ingin menangis, bagaimana jika aku yang mengalaminya.
Aku pernah mengalami hal terburuk dalam hidupku, tetapi aku pikir apa yang dialami Eva jauh lebih buruk. Aku sangat kasihan melihatnya, terlepas dari apa yang sudah dia lakukan kepadaku.
Eva menyeka air matanya.
"Lalu bagaimana kamu bisa keluar?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba Mas Adji mengusirku. Aku senang sekali, akhirnya penderitaanku selesai. Kamu bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat dikurung oleh Mas Adji? Aku selalu merasa was-was. Setiap mendengar suara motor Mas Adji pulang, rasanya jantungku berhenti berdetak, aku ketakutan. Apakah Mas Adji akan menghajarku lagi? Apakah ini akhir hidupku? Di tampar dan di pukul itu menjadi hal yang biasa. Itu yang setiap hari aku rasakan."
"Yang pertama ingin aku lakukan setelah berhasil keluar dari rumah itu adalah ke kantor polisi. Aku ingin melaporkan apa yang sudah Mas Adji lakukan kepadaku. Mumpung ini masih ada sebagai bukti." Eva kembali menunjukkan memar-memar dan bekas lukanya.
"Tetapi sebelum aku pergi Mas Adji memperingatkan aku, kalau aku lapor polisi dia juga akan melaporkan aku dengan pasal penipuan. Dia bilang aku sudah menipunya karena mengatakan jika Kenzie adalah anaknya padahal bukan." Eva mulai terisak.
"Kamu tahu kan Win, aku ini bodoh. Diancam seperti itu sudah pasti aku ketakutan. Aku bingung, aku tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa karena itu aku langsung ke rumah Haris. Dia satu-satunya harapanku. Aku pikir dia mau bertanggung jawab setelah mengetahui aku di usir oleh Mas Adji. Tetapi kamu lihat sendiri kan tadi bagaimana sikapnya."
"Bukankah kamu punya motor? Kenapa kamu berjalan kaki sampai ke rumah Likha? Apalagi kamu bawa bayi?"
"Mas Adji mengambil motorku. Dia bilang itu sebagai ganti rugi atas uang yang dia keluarkan untuk membiayai aku dan Kenzie selama ini."
Aku hanya bisa mengelus dada mendengar cerita Eva. Bagaimana Mas Adji bisa sejahat itu. Dia sudah sama persis seperti ibunya. Aku ingat ketika aku bercerai dari Mas Adji ibu mertuaku datang untuk meminta uang ganti rugi karena selama berumah tangga Mas Adji yang membiayai hidupku.
"Aku tidak punya apa-apa Win .... " Eva kembali terisak.
Aku diam tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatiku kembali terketuk melihat betapa Eva sangat menderita. Aku berdiri lalu menghampiri dia di tempat duduknya.
Tanpa berkata apa-apa Eva langsung memelukku dan menangis tersedu.
Aku hanya bisa mendongakkan kepalaku, menatap langit-langit ruang makan agar air mataku tidak ikut mengalir. Orang yang sudah menghancurkan hidupku kini menangis di depanku dan memohon maaf.
Apa aku harus memaafkan dia?
Aku balas pelukan Eva. Lalu aku usap punggungnya dan aku biarkan dia menangis.
"Makanlah yang banyak," ucapku setelah Eva melepaskan tangannya.
Eva mengangguk. Dia menghapus air matanya dan melanjutkan makan. Aku jadi merasa seperti kakak yang sedang menenangkan adiknya. Sudah tidak ada lagi rasa canggung seperti dulu dia memanggilku "Jeng Winda" dan aku juga memanggilnya dengan sebutan "Jeng Eva".
Aku meninggalkan Eva sendirian di ruang makan dan berjalan menuju kamarku. Sampai di dalam kamar air mataku menetes tak tertahan.
Aku harus bahagia atau sedih? Bahagia karena orang yang sudah merusak rumah tanggaku sekarang menderita, tetapi sedih karena jika Eva tidak mengaku hamil anaknya Mas Adji mungkin aku akan berfikir untuk mempertahankan rumah tanggaku. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semua yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan lagi.
Aku hapus air mataku dan keluar dari kamarku. Aku mencari Eva ke ruang makan tetapi dia sudah tidak ada di sana. Rupanya dia sedang menemani anaknya yang masih terlelap.
__ADS_1
"Kamu ingin mandi atau membersihkan badanmu? Kamu bisa mandi di sini. Aku akan menjaga anakmu kalau kamu mau."
Eva tampak ragu.
"Kenapa?"
"Aku tidak membawa baju ganti."
Aku baru sadar sejak tadi Likha tidak membawa apa-apa selain anaknya.
"Lalu dimana barang-barang mu?"
"Aku tinggalkan di kontrakan. Semuanya aku tinggalkan di kontrakan. Aku terlalu bahagia hingga tidak peduli semuanya. Aku hanya ingin segera keluar dari rumah itu tidak memikirkan yang lain."
Aku hanya bisa menahan kesedihanku di depan Eva.
"Aku akan mencarikan baju bekasku. Mungkin bisa kamu pakai." Eva mengangguk.
Setelah selesai mandi Eva terlihat lebih segar. Dia mengenakan baju lamaku yang sudah tidak aku pakai. Wajahnya juga sudah tidak pucat karena dia sudah makan.
Eva menghampiri aku dan Kirana di ruang tamu lalu duduk di dekat anaknya lagi.
Eva terus memandangi Kirana.
"Benar kata Mas Adji."
"Apa?"
"Anak kalian cantik-cantik, dan semuanya mirip seperti mamanya."
"Benarlah? Dia berkata seperti itu kepadamu?" Aku tersenyum sambil memandangi Kirana. "Tetapi aku pikir dia sedikit lebih mirip Mas Adji." Aku terus memandangi wajah Kirana.
"Setiap hari hanya ada kamu Win, dia menikah denganku karena ... " Eva menghentikan kalimatnya.
"Karena apa?"
__ADS_1
"Karena aku memintanya bertanggung jawab. Karena status bukan karena cinta," jawab Eva dengan nada menyesal.