Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 68


__ADS_3

Winda


Siang ini Likha mengunjungi tokoku. Baru sekarang kami bisa bertemu setelah ke salon waktu itu. Dia sibuk bekerja, aku sendiri sibuk mengurus pindahan toko.


"Kamu sudah dengar kabar terbaru dari perempuan itu?" Seperti biasa, Likha selalu membawa kabar terbaru tentang apa saja. "Atau mungkin mantan suamimu sudah memberitahumu?"


"Apa?" Aku mengangkat alisku.


"Dia sudah melahirkan," jawabnya sambil asyik dengan cemilan di depannya.


Aku tertegun mendengar kabar itu.


"Dari mana kamu tahu?"


Likha mendelik mendengar pertanyaanku. Aku lupa dia mempunyai banyak "reporter" yang melaporkan setiap hal yang terjadi kepadanya. Aku lebih senang mengatakan kalau dia memiliki banyak kenalan biang gosip, memiliki pemancar dimana-mana sehingga meskipun dia sibuk bekerja dia tetap mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya.


"Lalu?" tanyaku lagi. "Aku harus bagaimana?"


"Ya ... Aku cuma mau ngasih tahu aja. Siapa tahu kamu ingin menjenguk atau ngasih kado mungkin," jawabnya sambil terkekeh menertawakan aku.


"Jujur saja, sebenarnya kamu yang ingin menjenguk dia kan? Kamu ingin melihat apakah anaknya ada mirip-miripnya dengan suamimu? Ada kemungkinan kan?" balasku.


Aku dan Likha sama-sama tertawa mendengar kata-kataku. Entah kenapa kami menertawakan itu padahal sebenarnya itu sangat menyakitkan.


"Mana mungkin mirip suamiku? Mereka baru sekali melakukan itu?!"


"Sekali itu kan yang ketahuan sama kamu. Selebihnya yang tidak ketahuan berapa kali?"


Likha terdiam.


"Apa menurutmu mereka masih berhubungan setelah kejadian itu?"


"Mana aku tahu?!" Aku mengangkat bahuku. "Kalau sekarang sih mungkin tidak karena dia sudah menikah dengan Mas Adji."


"Tau lah Win ... Bodo amat. Yang jelas nikahnya sama suamimu!" Sekali lagi kami tertawa bersamaan.


Tiba-tiba saja mataku menangkap sosok yang sangat aku kenal tetapi tidak aku sukai memasuki toko.


"Ibu kok kemari lagi? Ada apa Bu?" tanyaku setelah dia berjalan mendekat.

__ADS_1


"Oh ... Nggak apa-apa. Ibu hanya main saja, sekalian mau minta ijin sama kamu."


"Ijin apa?" Aku tidak mengerti yang dimaksudkan mantan mertuaku ini.


"Aku ingin minta ijin mengajak anak-anak main ke rumahku, seperti waktu itu. Saat Adji membawa mereka main ke rumah." Mertuaku bersikap luar biasa ramah sehingga membuatku curiga ada maksud lain di belakangnya.


"Tapi biasanya ibu tidak suka jika anak-anakku datang ke rumah ibu? Takut merusakkan mainan Vino atau memakan jajanannya," ucapku langsung. Memang seperti itu kenyataannya.


"Ah .... Mana mungkin? Anak-anakmu kan cucuku juga. Ini aku juga sudah membelikan banyak jajanan untuk mereka." Mertuaku menunjukkan kantung plastik berisi snack dan jajanan anak-anak.


"Aku kangen sama mereka. Jadi aku ingin membawa mereka ke rumah. Boleh ya Win?"


Aku dan Likha saling pandang. Bagaimana mungkin mertuaku yang dulu sangat antipati terhadap anakku tiba-tiba menjadi kangen bahkan sampai membelikan jajanan?!


"Maaf Bu, aku takut ibu nanti kerepotan. Ibu sering mengeluh kelelahan karena mengasuh Vino. Jadi aku tidak ingin ibu semakin lelah karena mengasuh anak-anakku." Aku masih berusaha mencari jawaban alternatif agar anakku tidak dibawa mertuaku.


Luar biasa sekali mertuaku tidak marah mendengar jawabanku. Dulu biasanya dia langsung mengatakan aku menantu yang berani melawan orang tua, atau menantu tidak tahu diri. Entah dia tidak marah karena aku sudah bukan menantunya atau karena sekarang aku punya uang.


"Aku dulu kan jarang menghabiskan waktu bersama Keisha, jadi sekarang ibu ingin menebusnya. Ibu ingin lebih dekat dengan cucu-cucu ibu." Mertuaku masih berusaha menahan kesabarannya, terlihat dari senyumnya yang dipaksakan.


"Bukankah istrinya Mas Adji sudah melahirkan? Kenapa ibu tidak mendampingi mereka saja?"


"Benarkah?" Mertuaku malah terlihat bingung mendengar pertanyaanku. "Kok aku tidak tahu? Adji juga nggak ngasih tahu."


Wajah mertuaku mulai terlihat kesal.


"Kenapa kamu menghalangi aku untuk dekat dengan cucu-cucuku?!"


"Maaf Bu, bukannya menghalangi. Aku hanya tahu diri, sejak dulu anakku tidak diperlakukan dengan baik oleh ibu. Anakku di bedakan dengan cucu ibu yang lain. Apa ibu tidak ingat itu? Aku takut nanti Keisha sakit hati seperti yang sudah-sudah."


"Itu dulu Win ... Lupakan yang sudah-sudah. Sekarang aku ingin dekat dengan mereka."


"Maaf Bu ... Mungkin lain kali. Lagian sekarang papa mereka sedang sibuk mengurus anaknya yang baru lahir. Aku tidak bisa melepaskan anakku di rumah ibu tanpa pengawasan papanya meskipun ibu adalah neneknya."


"Ya sudah!!!" Jawab mertuaku sewot. "Orang mau dekat sama cucunya kok dihalang-halangi!"


Tiba-tiba Likha menyenggol tanganku dan menyuruhku melihat ke pintu masuk.


"Ada pak Indra tuh." Likha menunjuk laki-laki yang berdiri di depan pintu masuk.

__ADS_1


Aku melihat Indra berdiri sambil melihat sekeliling seperti sedang mencari seseorang. Mertuaku pun ikut menoleh dan menatap laki-laki yang sekarang mencuri perhatianku dan Likha.


Indra terlihat sangat tampan dan berwibawa. Aku sudah sering melihat Mas Adji berpakaian kantoran, hampir setiap hari malah. Tetapi aura yang ditampilkan Indra sangat berbeda dengan Mas Adji. Indra seperti memiliki kharisma yang menunjukkan dia bukan laki-laki biasa, laki-laki berkelas.


"Permisi ... " Aku melewati mertuaku dan berjalan menghampiri Indra.


"Siapa dia?" lamat-lamat aku mendengar mertuaku bertanya kepada Likha.


"Calon suami Winda," jawab Likha tanpa ragu.


"Hai ... Kamu mencariku?"


Indra menjawabku dengan senyuman.


"Kamu sudah makan? Aku membawakan makan siang untukmu." Indra menunjukkan dua kotak makanan dari restoran terkenal di tangannya.


"Kebetulan aku juga belum makan. Yuk ... Masuk. Itu ada Likha juga di sana." Aku mengajak Indra bergabung dengan Likha dan mertuaku di belakang.


"Tetapi aku hanya membawa dua kotak makanan. Maaf aku tidak tahu ada banyak orang di sini. Aku akan memesan lagi." Indra sudah mengeluarkan handphonenya.


"Nggak usah Pak ... Saya sudah mau pulang kok," sahut Likha.


"Kok buru-buru Likha?"


"Soalnya sudah dari tadi pagi saya di sini Pak. Nggak enak sama Winda. Lagian aku sudah sering makan siang bareng Pak Indra. Kalau Winda mungkin belum pernah. Iya kan Win?" Aku tahu Likha sedang meledekku.


"Aku pulang dulu Win ... Sampai jumpa di kantor Pak ... " Likha menyambar tasnya lalu pergi.


Indra hanya tertawa. Sementara mertuaku memandangi Indra dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas sampai aku risih melihatnya.


Maaf Bu, anak laki-lakimu beda kasta dengan yang ini! batinku.


"Ibu masih ada urusan di sini?"


Mertuaku menatapku sinis lalu pergi tanpa kata.


"Sama orang tua kok ngomongnya gitu Win? Memangnya siapa dia?"


Aku pikir Indra agak tidak suka melihat sikapku tadi.

__ADS_1


"Dia mantan mertuaku," jawabku cepat.


"Oh ... " jawab Indra singkat. Sekarang Indra terlihat mengerti dan memaklumi sikapku tadi.


__ADS_2