Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 79


__ADS_3

Winda


Aku sedang sibuk mengurusi pengemasan karena ada pesanan yang harus di kirim secepatnya. Kondisi toko juga lumayan ramai sehingga semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Sebenarnya beberapa orang dari supplier sudah menunggu untuk bertemu denganku. Mereka ingin menawarkan kerja sama antara merek pakaian yang mereka produksi dengan tokoku. Secara fisik memang tokoku tidak terlalu besar, tetapi di dunia maya toko online ku hampir menguasai pasaran. Mungkin karena itulah mereka memilih untuk bekerja sama dengan tokoku.


Tentu sebuah kesempatan yang bagus. Aku meminta mereka untuk menunggu sebentar karena aku harus melakukan pekerjaan yang lebih mendesak. Bukan salahku juga karena mereka tidak membuat janji sebelumnya.


Aku kebut pekerjaanku agar orang-orang supplier itu tidak menungguku terlalu lama. Selesai dengan pekerjaanku aku berniat untuk menemui mereka.


"Win ... Aku ingin bicara sebentar!" Suara Likha menghentikan langkahku.


Aku berbalik dan melihat ternyata Likha sudah berdiri di belakangku.


"Ada apa? Bisa nanti saja? Aku sedang ada tamu," jawabku buru-buru.


"Benarkah?" Aku merasa aneh dengan nada bicara Likha.


"Apa kamu sedang berusaha untuk menghindar dariku karena sekarang sudah punya teman baru?" tanya Likha sinis.


"Apa maksudmu?" Jujur aku tidak mengerti maksud pertanyaan Likha ini.


"Kamu tahu apa maksudku. Tidak usah pura-pura!"


Aku benar-benar tidak mengerti maksud Likha. Dan saat ini aku sedang tidak ada waktu untuk menerka-nerka.


"Kita busa bicara nanti, setelah aku menemui tamu-tamuku. Sekarang aku sedang tidak ada waktu." Aku melanjutkan langkahku untuk menemui orang-orang itu. Tetapi Likha menghalangi jalanku.


"Aku ingin bicara sekarang juga!!!"


"Mau kamu apa sih Likha? Aku benar-benar sibuk sekarang!"


Aku memang tidak ada waktu hari ini. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan bahkan mungkin sampai malam nanti.

__ADS_1


"Jangan sok deh kamu Win!" Likha mulai mendorong tubuhku seperti ingin mengajakku berkelahi. Aku benar-benar tidak tahu apa masalahnya.


"Kamu kenapa sih? Apa masalahmu?"


"Kenapa kamu menolong perempuan itu?"


"Menolong siapa? Apa yang kamu maksud Eva? Iya aku menolongnya kemarin. Lalu apa masalahnya?"


"Kamu tahu dia sudah berusaha menghancurkan rumah tanggaku? Kamu tahu kemarin dia datang dan memfitnah Haris, lalu kenapa kamu mau menolongnya?"


"Aku kasihan padanya karena itu aku menolongnya. Kenapa kamu tidak terima?" Aku menatap Likha heran.


"Apa kamu bersekongkol dengannya? Kamu ingin membalasku dengan bersekongkol dengan perempuan itu? Kamu masih menyimpan dendam padaku Win?" Likha mulai meninggikan suaranya.


Aku tertegun mendengar pertanyaan Likha. Sungguh aku tidak pernah punya niat untuk membalas dendam atas apa yang dia lakukan padaku dulu. Aku sudah melupakannya. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu. Aku tidak pernah ingin membalas Likha.


Aku menolong Eva karena aku kasihan, itu saja. Bukan karena maksud lain atau balas dendam seperti yang Likha tuduhkan.


"Kamu bicara apa sih? Kalau kamu ada masalah dengan suamimu, selesaikan di rumah. Jangan di bawa kesini!"


Tetapi rupanya Likha tidak ingin membiarkan aku pergi. Dia masih menahanku bahkan sekarang menarik lenganku.


"Kamu tahu Win perempuan itu kemarin datang ke rumahku. Apa yang dia katakan semuanya kamu dengar, lalu kenapa kamu malah menolongnya bahkan kamu juga membiarkan dia di rumahmu seharian kemarin setelah dia dari rumahku?"


Aku tidak tahu dari mana Likha bisa tahu apa yang kemarin aku dan Eva lakukan. Tetapi aku akui orang-orang kenalan Likha memang hebat dalam mencari informasi.


"Sudah aku katakan, aku kasihan padanya! Itu saja. Kamu tidak usah menuduhku macam-macam!"


"Hah ... Kamu kasihan padanya? Apa kamu tidak kasihan padaku?" Suara Likha semakin lama semakin tinggi. Aku semakin merasa tidak enak dengan tamu-tamuku.


"Shanti ... " Aku berteriak memanggil Shanti.


"Ada apa Mbak?"

__ADS_1


"Tolong kamu ajak tamu-tamuku masuk ke ruanganku. Kasihan mereka sudah menunggu dari tadi," ucapku kepada Shanti sementara Likha masih melotot di depanku.


Shanti mengangguk lalu menghampiri tamu-tamuku dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruanganku. Aku lega, setidaknya aku sudah tidak menjadi tontonan mereka lagi.


"Apa yang kamu inginkan?" tanyaku kembali kepada Likha.


"Aku tidak terima karena kamu menolong perempuan itu! Kamu temanku Win, tetapi kamu malah menolong dia. Kamu pengkhianat Win!" Mata Likha berapi-api.


Aku tidak terima mendengar kata-kata Likha.


"Dengarkan aku Likha! Satu-satunya pengkhianat di sini adalah suamimu! Dia yang menghamili Eva tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Dia juga diam saja ketika Mas Adji harus menikahi Eva karena Eva mengaku itu anaknya! Jadi siapa pengkhianatnya di sini?! Suamimu Likha! Suamimu lah pengkhianatnya!"


"Apa sehari bersama perempuan itu sudah membuat kamu lebih percaya padanya? Kamu percaya kata-katanya? Kamu percaya anak itu anaknya Haris? Kamu bodoh Winda! Pantas Adji meninggalkan kamu dan memilih dia!!!"


"Jaga bicaramu Likha!!! Jangan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam atas apa yang menimpa rumah tanggamu!!! Kamu harus terima jika itu memang kenyataannya!!! Anak itu anak Haris!!!"


"Dan kamu percaya? Kamu tidak bisa terima jika anak itu anak Adji kan? Makanya kamu meyakini anak itu anaknya Haris? Begitu kan? Apa yang sudah dia katakan padamu Win? Dia sudah mencuci otakmu!"


"Tidak ada yang mencuci otakku, aku hanya berpikir lebih terbuka. Bukankah kamu bilang kamu sudah masa bodoh dengan suamimu, lalu sekarang kenapa kamu marah mengetahui dia punya anak dengan perempuan lain?!"


"Katakan saja kamu iri Win! kamu iri karena aku dan Haris tidak bercerai, rumah tanggaku masih bisa diselamatkan, sementara rumah tanggamu berantakan! Iya kan?"


Omongan Likha semakin lama semakin tidak jelas dan tidak enak di dengar. Aku heran, Likha yang biasanya berpikir logis dan terbuka kenapa berubah jadi kolot dan tidak mau menerima kenyataan.


"Dengar Likha ... Aku tidak pernah iri kepada siapapun termasuk kamu! Dan aku juga tidak pernah menyalahkan siapapun atas apa yang terjadi kepadaku atau rumah tanggaku! Haris yang menghamili Eva, itu fakta. Mau bagaimana pun kamu mencari alasan, tidak akan merubah jika Haris adalah ayah dari anaknya Eva! Camkan itu!!!"


Aku mendorong tubuh Likha agar menyingkir dari hadapanku. Lalu aku melangkah menuju ruanganku.


"Munafik kamu Win! Asal kamu tahu saja, rumah tanggaku akan baik-baik saja. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku. Tidak seperti rumah tanggamu yang berantakan!"


Likha sudah keterlaluan. Dia bahkan menyebut aku munafik. Terpaksa aku berbalik dan menghampiri dia lagi.


"Aku tidak munafik, aku punya harga diri! Setidaknya aku tidak pernah menertawakan penderitaan orang yang aku anggap temanku seperti yang kamu lakukan dulu!"

__ADS_1


"Bersyukur lah karena aku masih menghargai kamu sebagai temanku. Dan aku juga tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan karena kalau aku mau, aku bisa meminta Indra untuk memecatmu kapan saja!"


__ADS_2