
Hari-hari berikutnya tidak ada perubahan. Eva tetap bersikap semaunya. Tidak mau mengerjakan tugas-tugasnya sebagai ibu rumah tangga, dia juga terkesan acuh kepada Kenzie.
Ada saja alasannya kenapa dia tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Hampir setiap pulang kerja aku selalu menemukan rumah dalam keadaan dalam keadaan berantakan. Jadilah aku yang harus mengerjakan semuanya.
Aku diamkan saja Eva, tanpa aku tegur. Tidak ada gunanya.
Selesai membereskan rumah aku memandangi wajah Kenzie yang sudah terlelap. Setelah melihat wajah Kenzie, rasa lelahku langsung hilang.
Tetapi aku merasa aneh, semakin hari aku melihat dia semakin tidak mirip denganku. Perasaanku dengannya juga berbeda ketika aku bersama Keisha dan Kirana. Meskipun aku jarang bersama Kirana, tetapi aku merasa dekat setiap bersamanya, aku merasakan ada ikatan.
Tetapi Kenzie, meski aku yang merawatnya sejak bayi tetapi aku tidak merasa dekat, seperti tidak ada ikatan batin diantara kami. Aku sayang kepada Kenzie sama seperti aku menyayangi anak-anakku yang lain, bahkan lebih. Tetapi aku merasa berbeda.
"Kenapa Mas?" Eva melihatku memandangi wajah Kenzie tanpa kedip.
"Kenzie ini mirip siapa ya? Kalau mata sama dagunya sih mirip kamu. Tetapi hidungnya, mirip siapa? Nggak mirip sama aku." Aku semakin mengamati wajah Kenzie.
"Masa sih? Mirip kok ... " Eva memandangi aku bergantian dengan Kenzie. Entah perasaanku saja atau dia memang terlihat sedikit gugup.
"Lagian kan aku sudah bilang kalau masih bayi itu wajahnya masih berubah-ubah. Kadang mirip papanya kadang mirip mamanya. Benar kan?"
Aku terus memandangi wajah Kenzie. Jawaban Eva tidak membuatku puas.
"Aku mau keluar sebentar ... Mau ketemu teman-temanku."
Sebenarnya aku tidak ada janji ketemuan dengan teman-temanku. Aku hanya ingin keluar rumah saja, tidak pergi jauh. Aku hanya ingin keluar menghirup udara segar. Karena sejak Kenzie lahir aku tidak punya waktu untuk diriku sendiri. Aku terlalu sibuk mengurusi Eva dan Kenzie. Bahkan aku juga jadi jarang menemui Kirana dan Keisha.
Eva mengangguk. "Pulangnya jangan malam-malam ya Mas."
Aku meninggalkan Eva dan Kenzie di rumah. Aku mengendarai sepeda motorku tanpa tujuan. Lalu aku berhenti di sebuah warung kopi. Aku memesan secangkir kopi lalu menghisap rokok sambil memikirkan hidupku.
Aku sudah berusaha menerima Eva, memberinya kesempatan dan hidup bersama. Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Aku tetap merasa hampa. Sangat berbeda dengan rumah tanggaku dengan Winda dulu. Kebahagiaanku hanya saat aku melihat Kenzie dan sekarang aku pun meragukan asal usulnya.
Setelah menghisap beberapa batang rokok aku pun memutuskan untuk pulang, lagian aku juga tidak tahu mau pergi kemana.
Aku matikan mesin motor sejak masih beberapa meter dari rumah. Aku takut suara motorku membuat Kenzie terbangun, nanti aku juga yang repot karena jika sudah ada aku Eva tidak mau mengurus Kenzie.
__ADS_1
Aku membuka pintu dengan sangat pelan, bahkan mengendap-endap seperti mau maling. Tetapi kemudian aku mendengar Eva seperti sedang berbicara dengan seseorang. Aku langsung menuju ke kamar tetapi Eva tidak ada di sana. Hanya ada Kenzie.
Sepertinya suara Eva berasal dari dapur, lalu aku berjalan menuju dapur. Aku mendengar suara Eva semakin jelas.
"Kamu harus sering-sering transfer aku."
Begitu suara Eva yang aku dengar. Aku menghentikan langkahku untuk mendengarkan percakapan Eva dengan seseorang di telepon.
" ... "
"Dia ngasih ... tapi kan kamu juga harus ngasih aku uang," ucap Eva dengan genit sama seperti ketika dia menginginkan sesuatu dariku.
" ... "
"Iya ... Besok kita ketemu. Kamu sudah tidak sabar ingin menyentuh tubuhku?" Eva terkekeh.
Apa maksud kata-kata Eva? Ini sudah pasti tidak baik. Aku penasaran sekali siapa gerangan yang sedang berbicara dengan Eva, tetapi aku tahan.
"Iya ... Iya ... Besok aku layani kamu sampai puas. Tetapi jangan lupa bawa uang yang banyak. Anakmu butuh susu!" Eva kembali tertawa sementara aku seperti baru saja mendapatkan pukulan telak mendengarnya.
Segera aku hampiri Eva.
Dia berusaha menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya. Tanpa berbicara aku rampas handphone dari tangannya. Aku menatap tajam Eva. Aku yakin dia sedang ketakutan sekarang.
Aku tempelkan handphone Eva di telingaku, tetapi sambungan telepon dari orang itu sudah terputus.
"Katakan siapa ayah dari Kenzie?" tanyaku dingin dan mataku mengunci mata Eva.
Aku tarik tangan Eva lalu aku lemparkan tubuhnya ke dinding.
"Apa laki-laki yang baru saja kamu telepon adalah ayah dari Kenzie?"
Eva diam, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar.
"Jawab Aku!!!!" bentakku.
__ADS_1
"Mas ... Apa maksudmu? Kenzie .... Kenzie adalah anakmu," suara Eva terbata.
"Plakkk!!!" Aku sudah tidak bisa menahan diri. Eva meringis.
"Aku dengar pembicaraanmu dengan laki-laki itu tadi! Jangan coba berbohong kepadaku!!!" Suaraku pelan dan dalam.
Aku tahu Eva sangat ketakutan, tetapi aku sama sekali tidak kasihan.
"Mas ... Kamu salah paham ... "
"Plakkk!!!"
...****************...
Sudah hampir jam tiga pagi tetapi aku masih belum tidur. Aku masih memeriksa ponsel Eva yang aku sita. Aku buka semuanya, media sosial, panggilan telepon juga membaca pesan-pesan yang masuk satu persatu.
Rupanya Eva sudah hampir dua bulan ini berhubungan, berarti satu bulan setelah Eva melahirkan. Mereka bahkan sudah beberapa kali bertemu. Aku benar-benar tidak berpikir sejauh itu.
Dari pesan terakhir yang masuk, aku mengetahui kalau besok siang mereka akan bertemu di hotel X.
Kurang ajar!!! tanganku mengepal kuat.
Aku benar-benar merasa dibodohi oleh seorang Eva. Bagaimana aku bisa lupa siapa dia.
Aku pijat pelipisku yang mulai pusing karena belum istirahat sejak pagi hingga hampir pagi lagi. Aku menatap pintu kamar yang sengaja aku kunci dari luar sementara Eva dan Kenzie di dalam.
Kalau saja tadi Kenzie tidak menangis, pasti sekarang Eva sudah babak belur di tanganku. Aku seperti orang kesetanan, tidak bisa mengendalikan diriku. Bahkan darah yang mengalir di sudut bibir Eva tidak membuatku kasihan padanya. Aku masih saja ingin menamparnya.
Aku lihat ruang tamu yang sudah berubah menjadi seperti kapal pecah karena perbuatanku. Tetapi aku tidak ingin membereskannya. Tenagaku sudah habis. Aku membanting segala benda yang ada di sekitarku. Hingga akhirnya Kenzie menangis karena mendengar suara keributan yang buat.
Sebelum-sebelumnya aku segera berlari begitu mendengar Kenzie menangis, aku tidak tega. Tetapi tadi ... Hatiku sama sekali tidak tersentuh.
Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Rasa sayang yang sebelumnya aku rasakan untuk bayi laki-laki itu langsung hilang berganti dengan rasa benci yang luar biasa.
Memang itu bukan salahnya, Kenzie tidak berdosa. Tetapi aku tidak bisa bersikap seperti sebelumnya, Aku bukan ayahnya. Eva sudah membohongi aku selama ini. Aku sudah seperti budaknya, dan lihat balasan yang aku dapatkan?
__ADS_1
"Mas ... Kenzie menangis ... Biarkan aku membuatkan susu untuknya," rintih Eva.
Dengan tergopoh-gopoh Eva berjalan ke dapur membuat susu untuk Kenzie. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar dan aku menguncinya dari luar.