
Aku dan Likha sama-sama terpaku mendengar jawaban Eva.
"Apa maksudmu pela*ur?!"
"Aku ingin minta pertanggungjawaban Haris. Anak ini adalah anak Haris." Eva menangis sambil menatap anaknya.
Likha terlihat sangat geram dan hampir memukul Eva kalau aku tidak menahan tangannya.
"Apa maksudmu dia anak Haris?! Kamu menikah dengan Adji kenapa masih minta pertanggungjawaban dari laki-laki lain?!"
"Aku tahu ... tetapi yang sebenarnya anak ini adalah anak Haris. Aku sudah hamil sebelum bersama Mas Adji." Eva masih menangis.
Jujur aku kasihan melihatnya. Terutama jika aku melihat bekas luka di wajahnya.
"Jaga bicaramu pela*ur. Jangan mengada-ada!!" Likha terlihat sangat emosi.
"Kalau begitu panggil Haris! Biar kita dengar langsung dari mulutnya!"
"Haris!!!" teriak Likha tanpa beranjak dari ruang tamu. Tidak ada sahutan dari suami Likha.
"Haris!!! Keluar ada yang mencarimu!" teriak Likha lagi.
Tak lama kemudian Haris muncul.
Aku kaget begitu melihat wajahnya, persis seperti yang digambarkan Likha. Banyak bekas memar di wajahnya. Sudah lewat beberapa hari saja masih seperti ini. Lalu bagaimana wujud Haris saat pertama kali pulang?
Aku lihat Eva juga terkejut melihat Haris, demikian juga sebaliknya.
Ada apa ini? Apa memar-memar dan bekas luka mereka berhubungan? tanyaku dalam hati.
Tunggu sebentar, apakah Mas Adji yang melakukan semua ini kepada mereka berdua?! Aku ingin sekali menanyakannya tapi aku tahan.
"Kamu bertemu dengannya kan?" tanya Eva setelah melihat Haris.
Haris tidak menjawab. Dia terlihat sangat gelisah.
"Sebaiknya aku pulang. Ini urusan pribadi kalian. Aku tidak ingin ikut campur!" Aku merasa tidak enak jika terus berada di sana.
"Tidak Win, kamu tetap di sini. Aku ingin kamu menjadi saksi dari apa yang pela*ur ini katakan." Likha mencegahku. "Sekarang katakan apa keinginanmu?!"
"Haris, katakan pada istrimu. Kenzie ini anak siapa?"
Haris masih diam.
"Katakan Haris, jangan diam saja! Kenzie anakmu kan? Katakan pada istrimu!" Eva terus terisak.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia Likha. Anak itu anak Adji. Buktinya dia menikah dengan Adji!"
"Haris!!! Kenapa kamu tidak mengakuinya?!!" Eva menjerit.
"Sudah puas kan? Anak itu bukan anak Haris. Jadi jangan datang lagi kemari dan minta tanggung jawab!" Likha mengusir Eva.
Dia sudah menarik lengannya hingga jatuh ke lantai dan hampir menyeretnya keluar. Dan lagi-lagi aku mencegahnya karena tidak tega.
"Tapi aku tidak bohong! Kenzie anak Haris!" ucap Eva sambil berderai air mata. Hilang Eva yang dulu genit dan seksi, berganti dengan Eva yang berantakan dan mengenaskan.
"Haris ... Kumohon akuilah dia dan bertanggung jawablah!"
"Benarkah yang dia katakan?!" tanya Likha kepada Adji.
"Likha, kamu tidak percaya padanya kan? Kalau anak itu memang anakku, kenapa dia tidak meminta pertanggungjawaban dariku malah menikah dengan Adji?!"
Memang benar apa yang dikatakan Haris. Kalau anak itu anak Haris kenapa dia justru menikah dengan Mas Adji. Dan lagi, yang dipergoki sedang berduaan dengan Eva adalah Mas Adji bukan Haris.
"Bukankah kamu yang menolak untuk bertanggung jawab? Kamu takut untuk menceraikan istrimu karena takut akan di usir dari rumah ini?! Jangan memutar balikkan fakta! Jangan membuatku terlihat seperti aku sedang mengarang cerita di sini."
"Luka-luka itu," Eva menunjuk wajah Haris. "Pasti Mas Adji kan yang melakukannya? Dia menemuimu di hotel lalu menghajar mu kan? Dia sudah mengetahui semuanya karena itu dia marah."
Haris menatap Eva tidak percaya.
Lalu Eva menunjukkan luka-luka di wajahnya, bekas sobek di sudut bibirnya, juga memar di lengan dan bagian tubuhnya yang lain. Aku sampai tidak tega untuk melihatnya. Jadi benar dugaanku.
"Dia menyita ponselku karena itu dia bisa mengetahui semuanya. Dia juga juga tahu kalau hari itu kita janjian di hotel."
"Apa??? Kalian janjian di hotel???" Likha memastikan pendengarannya tidak salah.
"Ya, kami janjian di hotel. Kami sering melakukannya. Benarkan Haris? Apa kamu mau mengingkari ini juga?"
"Jawab dia Haris! Apa benar yang dia katakan? Kalian berkencan di hotel?!!!"
Haris membisu. "Jawab aku Haris!!!" bentak Likha.
"Itu tidak benar!" jawab haris tanpa mau menatap Likha.
"Tatap mataku dan katakan dengan jelas!" bentak Likha lagi.
Perlahan Haris menatap Likha. "Itu tidak benar!" ucap Haris lagi.
Eva terdiam tetapi air matanya tidak berhenti menetes membuatku semakin tidak tega. Dia terlihat sangat menderita.
"Dari semua laki-laki yang aku temui, kamu adalah yang paling pengecut dan memalukan!" teriak Eva. Lalu dia berdiri sambil mendekap bayi dalam gendongannya.
__ADS_1
"Dengarkan aku Haris, kamu boleh mengingkari semuanya. Kamu tidak mau mengakui anak ini sebagai anakmu, itu juga terserah padamu. Kamu tidak mau bertanggung jawab juga tidak apa-apa. Tetapi nanti jika rasa menyesal itu datang, jangan mencariku atau anakku. Kami tidak akan menganggap kamu ada dan hiduplah dalam penyesalan!"
Eva langsung keluar tanpa berkata apa-apa lagi. Aku pun ikut pamit karena aku yakin Likha dan Haris butuh ruang untuk membicarakan masalah mereka.
Aku mengendarai motorku pelan. Aku bisa melihat Eva berjalan kaki sambil menggendong bayinya.
Dia hanya berjalan kaki?
Aku dekati dia, lalu aku menghentikan motorku di sampingnya.
"Eva, kamu mau kemana? Ayo aku antar," ucapku.
Dia melihatku sekilas sambil menyeka air matanya.
"Aku tidak tahu, aku tidak punya tujuan," ucapnya sambil terisak.
"Naiklah ... "
Tanpa berkata-kata Eva langsung naik ke motorku. Dia pasti sangat kebingungan sampai pasrah saja mau aku bawa kemana.
"Win, kenapa kamu membawaku ke rumahmu?" Eva melongo begitu sampai di depan rumahku. Tangisnya sudah reda.
"Masuklah, kamu butuh istirahat," ucapku lagi.
Sampai di dalam aku meminta pembantuku untuk menyiapkan makan. Sementara aku bersama Eva duduk di ruang tamu. Aku juga mengambilkan kasur bayi milik Kirana agar Eva bisa meletakkan anaknya di sana. Sejak tadi dia menggendong anaknya aku tahu dia kelelahan. Ditambah dia juga berjalan jauh dari kontrakannya ke rumah Likha.
Aku tahu aku aneh. Eva sudah menghancurkan hidupku dan sekarang aku kasihan melihatnya menderita. Sedangkan dia dulu bahagia ketika aku menderita. Aku sendiri tidak bisa mengerti kenapa bisa seperti ini.
"Apa benar yang kamu katakan tadi?"
"Semua yang aku katakan adalah kebenaran. Aku memang murahan tapi aku bukan pembohong."
"Anak itu, bukan anak Mas Adji?"
Eva mengangguk.
"Sebelum menikah dengan Mas Adji aku tahu aku hamil. Bahkan saat kejadian itu, saat kamu menemukan aku dan Mas Adji berduaan, itu aku sudah hamil." Eva mulai bercerita.
"Aku menemui Haris untuk meminta dia bertanggung jawab, tetapi dia menolak. Alasannya karena orang-orang menemukan aku berduaan dengan Adji bukan dengannya. Aku pikir bukan itu alasan sebenarnya. Karena dia terlalu pengecut!"
Tiba-tiba saja Eva kembali menangis.
"Maafkan aku Win ... Aku sudah menghancurkan rumah tanggamu. Aku menyesal, sangat menyesal. Aku sudah menerima balasannya. Mas Adji membuangku dan Haris juga tidak mau mengakui anakku. Eva mendekati aku lalu bersimpuh di depanku.
"Aku mohon maafkan aku."
__ADS_1