Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 37


__ADS_3

Winda


Akhirnya aku bisa membeli mobil seperti yang aku inginkan. Mas Adji terlihat kaget ketika tiba-tiba aku pulang membawa mobil.


Sengaja aku parkir mobilku di halaman. Pintu pagar juga sengaja tidak aku tutup agar tetangga-tetanggaku melihatnya. Aku sedang memancing komentar mereka. Kemarin sewaktu aku kekurangan dan suamiku sakit-sakitan, mereka menghinaku. Sekarang aku sudah memiliki uang, lalu apalagi yang akan mereka katakan tentang aku?


"Win ... Kamu bisa nyetir? Terus ini mobil siapa?"


"Mobilku Mas. Aku membelinya." Aku menjawab seadanya tanpa bermaksud sombong kepada Mas Adji.


Aku melihat raut wajah Mas Adji berubah. Dia memang tersenyum melihat mobilku, tetapi ada yang dia sembunyikan di balik senyumnya. Dan setelah itu Mas Adji lebih banyak diam.


Apa aku sudah menyinggung perasaannya?


"Mas, apa kamu marah padaku?"


"Hmm ... Kamu ngomong apa tadi Sayang?" jawab Mas Adji berusaha terlihat biasa. Padahal aku tahu dia sedang melamun.


Lalu aku duduk mendekatinya.


"Kamu tidak suka aku membeli mobil? Kamu marah padaku Mas?"


"Kenapa marah? Harusnya aku senang karena istriku sudah menjadi orang sukses. Aku bangga mempunyai istri seperti kamu."


Aku tahu Mas Adji kecewa meski dia berusaha bersikap biasa kepadaku.


"Aku minta maaf Mas ..." Aku menyadari kesalahanku.


"Sudahlah ... Tidak apa-apa." Mas Adji lalu pergi ke kamar tanpa berkata apa-apa lagi.


Apa aku egois? pikirku sambil menatap kepergian Mas Adji.


Aku tidak bisa berlama-lama diliputi rasa bersalah ini karena aku harus kembali ke kios. Banyak yang harus aku kerjakan.


Aku mulai kelabakan mengurusi semuanya sendiri. Jadi aku mengikuti saran Mas Adji untuk mempekerjakan seseorang untuk membantuku. Tapi sampai saat ini aku belum menemukan orang yang cocok denganku.


Waktuku semakin banyak aku habiskan di kios daripada di rumah. Kadang aku meminta tolong ibuku untuk menjemput Keisha sekolah dan mengantarkannya ke kios jika aku tidak sempat.


"Mbak Winda ... " Suaranya seseorang mengagetkanku.

__ADS_1


Aku menoleh melihat siapa yang datang.


"Shanti??! Sini ... sini masuk." Aku menyambut Shanti dengan gembira. Ku hentikan pekerjaanku untuk menyambut temanku satu-satunya ini.


"Duduk ... sini ... " Aku menoleh ke kiri kanan mencarikan tempat untuk Shanti duduk karena kios kecilku sudah dipenuhi stok pakaian.


"Mbak Winda apa kabar? Lagi sibuk kah?" tanya Shanti sambil mengedarkan matanya.


"Seperti yang kamu lihat Shan, aku baik."


"Seneng lihat Mbak Winda sudah sukses." Shanti tersenyum tulus.


"Makasih ya Shan, berkat kamu."


"Kok Berkat aku? Apaan sih Mbak Winda, aku nggak ngapa-ngapain. Ya berkat usaha keras Mbak Winda sendiri bukan berkat orang lain."


"Tetap saja kamu berjasa telah memberikan ide itu kepadaku. Kamu sudah makan? Aku pesankan makanan ya?"


"Nggak usah Mbak. Aku cuma mampir kok."


"Beneran nih?" Shanti mengangguk. Lalu aku tidak sengaja melihat tas Shanti berisi amplop besar khas lamaran kerja.


"Kamu bawa amplop itu buat apa Shan?" aku menunjuk amplop di tas Shanti.


"Memangnya sudah nggak kerja di toko?" Shanti hanya menggeleng.


"Kenapa?" tanyaku heran. Pemilik toko sangat baik. Tidak mungkin Shanti keluar tanpa alasan.


"Nggak apa-apa mbak." Shanti tidak mau cerita jadi aku tidak memaksanya. Tapi aku yakin Shanti tidak berhenti bekerja karena alasan kriminal.


"Terus sekarang mau kerja dimana?"


"Nggak tau ini mbak, lagi nyari-nyari."


"Sudah dapat?" Shanti kembali menggelengkan kepalanya.


Aku merenung sejenak. Ku perhatikan lagi Shanti. Dia terlihat sangat lelah, meski sejak tadi berusaha ceria di depanku.


"Bantu-bantu aku di sini mau? Sementara sampai kamu dapat kerjaan?"

__ADS_1


Dengan segera dia mengangguk. "Tentu saja Mbak."


Kami sudah pernah menjadi rekan kerja, jadi sedikit banyak aku tahu kinerjanya. Aku menyukai Shanti. Dia rajin dan tidak banyak bicara, tidak sok tahu dan juga tidak suka mencampuri urusan orang.


Dan akhirnya aku menemukan orang yang cocok bekerja denganku.


"Besok pagi kamu mulai kerja ya," ucapku setelah aku menjelaskan apa yang menjadi tugasnya.


"Baik Mbak, siap! Aku pulang dulu ya mbak."


Aku mengangguk. "Eh ... Tapi sebelumnya, temani aku makan dulu."


Aku langsung menarik tangan Shanti tanpa menunggu persetujuannya. Aku tahu pasti dia akan menolak jika aku tawari makan padahal dia sedang menahan lapar.


Aku membawa Shanti keluar dari kiosku dan melihat pedagang kaki lima berjajar di emperan kios. Kiosku memang terletak di tengah-tengah diantara kios-kios lainnya.


"Kamu makan apa Shan? Bakso, mie ayam, batagor, gado-gado? Semuanya ada di sini. Sudah seperti festival kuliner saja tempat ini." Aku tertawa menyadari banyaknya pedagang di tempat ini.


"Terserah Mbak Winda saja, aku apa-apa doyan."


Akhirnya kami makan mie ayam sambil duduk di tepi jalan. Shanti tidak banyak bicara, aku merasa dia seperti aku waktu sedang tertimpa banyak masalah waktu itu. Tapi aku tidak berani bertanya.


Tanpa sengaja mataku menangkap sosok perempuan yang aku sangat kenal, Likha. Dia sedang duduk di tepi jalan sama seperti aku. Likha tampak murung dan hanya mengaduk-aduk es buah di depannya. Aku yakin dia sedang ada masalah. Bertahun-tahun aku mengenalnya, sampai aku hafal kebiasaannya. Aku perhatikan dia dari tempatku duduk tanpa berniat untuk menyapanya.


Tumben nggak bersama Eva, akhir-akhir ini mereka seperti saudara kembar. Lengket terus tidak terpisahkan, batinku.


...****************...


Adji POV


Aku tidak percaya Winda bisa membeli mobil. Aku tahu jika dia punya uang tapi aku tidak berpikir sebanyak itu, sampai bisa membeli mobil.


Winda sudah jarang bercerita kepadaku. Bahkan dia membeli mobil ini pun tanpa meminta persetujuanku. Memang dia beli dengan uangnya sendiri, tetapi aku suaminya. Seharusnya dia bicara dulu denganku. Aku jadi merasa tidak dihargai sebagai suami. Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.


Aku sadar sekarang aku bukan suami yang bisa diandalkan. Penghasilanku dan penghasilan Winda sangat jauh jika dibandingkan. Lihat saja, dalam waktu singkat dia bisa menyewa kios dan membeli mobil. Sedangkan aku? Mau mengambil sepeda motorku di tempat Mas Arya saja belum mampu karena belum cukup uangku.


Sampai saat ini aku kemana-mana masih menggunakan sepeda motor Winda. Aku sampai malu sendiri ketika mentransfer gajiku ke rekening Winda. Apa uang yang aku berikan ini ada gunanya jika uang Winda sendiri sudah banyak?


Aku merasa berhutang budi padanya setiap kali teringat penyakitku. Memang Winda tidak pernah membahasnya, tapi aku tahu diri saja. Betapa menderitanya dia ketika harus bekerja sambil merawatku dan masih harus mengurus rumah dan Keisha.

__ADS_1


Semakin hari Winda semakin banyak menghabiskan waktu di kios. Ini juga salahku. Sekian lama aku tidak bisa memberikan nafkah, sehingga Winda terbiasa bekerja keras dan seperti tidak bisa berhenti bekerja. Dia seperti gila kerja. Aku merasa dia sangat sibuk hingga jarang ada waktu untukku. Jujur terkadang aku merasa kesepian.


Kalau dipikir-pikir, apa seperti ini yang dirasakan Winda ketika dulu aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-temanku daripada menemaninya di rumah? Apa ini juga bagian dari karma yang aku dapatkan?


__ADS_2