Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 25


__ADS_3

"Tidak apa-apa Mas, aku tidak akan sakit hati. Aku hanya ingin mendengar dari mulutmu sendiri, bukan dari orang lain."


"Kamu yakin?" Winda mengangguk.


Akhirnya aku menceritakan semuanya, bagaimana aku bisa bersama Eva. Kali ini aku bicara sejujurnya tanpa ada yang aku sembunyikan. Hanya karena penasaran, bukan karena aku jatuh cinta padanya. Cintaku hanya satu, Winda.


Winda mendengarkan ceritaku dengan santai, seperti mendengarkan aku bercerita tentang pekerjaanku dulu. Tidak terlihat ekspresi apapun di wajahnya.


"Kamu tidak apa-apa?"


Winda menggeleng.


"Rasa sakitnya sudah aku rasakan waktu pertama kali mendengar kabar itu. Sekarang itu terdengar seperti dongeng bagiku."


"Begitulah ceritanya Win, Aku tidak pernah bermaksud untuk menduakan kamu. Aku salah, iya aku tahu dan aku sangat menyesalinya."


Lalu kami berdua diam untuk sesaat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Winda sekarang, mungkin saja dia menyesali keputusannya untuk memaafkan aku.


"Bolehkah aku meminta satu hal lagi?"


"Apa itu Win?"


"Aku ingin kamu mengakui semua perbuatanmu di depan keluargamu. Karena aku masih tidak terima mereka menyebutku mengada-ada."


Aku ingat, bagaimana Mas Arya dan ibuku justru menyalahkan Winda atas semuanya. Itu juga bagian dari kesalahanku.


"Akan aku lakukan." Aku mengangguk.


Lalu aku mencium kening Winda, kali ini dia sudah tidak menghindar walau masih terasa aneh. Aku merasa seperti pengantin baru yang akan melakukan malam pertama, kikuk dan malu-malu.


Aku memeluknya lagi, aku benar-benar merindukan tubuh bohay-nya yang sudah lama sekali tidak bisa aku sentuh. Dan aku baru sadar tubuh Winda jauh lebih kurus.


"Maafkan aku Win ... " Aku tatap Winda dan dia pun tersenyum menatapku.

__ADS_1


...****************...


Winda


Mas Adji tiba-tiba masuk ke kamarku. Aku langsung duduk dan mengusap air mata yang sejak tadi mengalir tanpa aku ketahui apa alasannya. Aku merasa seperti orang linglung.


"Ada apa Mas, kamu butuh sesuatu?" ucapku gelagapan.


Mas Adji menatapku aneh. Dia mengatakan jika dia ingin bicara denganku. Sepertinya pembicaraan serius. Lalu dia mulai bicara dan aku hanya menunduk mendengarkan. Mas Adji meminta maaf padaku, sebenarnya ini sudah yang kesekian kalinya dia meminta maaf padaku.


Aku masih diam mendengarkan mas Adji bicara tapi sebagian pikiranku melayang mengumpulkan serpihan kejadian demi kejadian yang beberapa bulan terakhir aku alami, berat sekali. Aku mendengar suara Mas Adji semakin lama semakin berat. Dan aku pun merasa semakin lama nafasku terasa sesak.


Beberapa bulan ini semuanya terasa sangat sulit. Mas Adji yang ketahuan kencan dengan wanita lain, lalu tiba-tiba dia sakit dan menyebabkan keuangan kami morat-marit. Kesulitan keuangan yang hampir membuat Keisha tidak bisa melanjutkan sekolah, setelah itu Keisha harus dioperasi, bisik-bisik tetangga karena aku harus menjual barang-barangku untuk melanjutkan hidup. Semuanya telah menggoreskan luka-luka kecil di hatiku.


Hingga jika ada hal yang menyakitkan lagi sudah tidak bisa merasakannya. Hati ini sudah kebal dengan luka.


Mataku kembali berkaca-kaca mengingat semua yang sudah aku alami. Aku benar-benar lelah. Aku butuh tempat untuk bersandar. Untuk apa aku terus marah kepada Mas Adji kalau itu justru membuatku semakin tersiksa? Untuk apa aku menyimpan dendam padanya jika ternyata dendam itulah yang membuat hidupku tertekan dan tidak tenang? Faktanya aku membutuhkan dia sebagai pendamping hidupku, di sisiku.


Ya, memang Mas Adji mempunyai peran besar atas apa yang aku alami sekarang. Tapi dia sudah menerima balasannya bukan? Sakit yang dia derita selama ini sudah cukup menyiksanya, jadi untuk apa aku menghukumnya lagi?


Oh ... Nama itu, Eva ... Wanita yang membuat rumah tanggaku hampir kandas. Akhirnya Mas Adji mengakuinya. Pengakuan yang dulu sangat aku harapkan tapi sekarang seperti tidak ada gunanya. Aku sudah tidak peduli.


Aku bertahan bersama Mas Adji hanya agar aku mempunyai bukti perbuatan terlarangnya dengan wanita itu dan bercerai darinya. Sekarang ketika Mas Adji sudah mengakui semuanya secara langsung bahkan bersedia menceraikan aku, aku justru tidak menginginkan perceraian itu. Keterpurukan kami membuatku yakin dia tidak akan melakukan kesalahan untuk kesekian kalinya.


"Kita tidak akan bercerai Mas ... " ucapku. Air mataku mengalir deras kali.


"Kamu yakin Win? Kamu sudah memaafkan aku?"


Mas Adji tidak percaya dengan kata-kataku. Aku pun mengangguk. Lalu dia meraih tubuhku dan memelukku. Akhirnya kami sama-sama menangis menyesali semuanya.


Aku memaafkan kamu Mas ... Aku memaafkanmu ... Aku juga membutuhkanmu untuk mendampingi Keisha ... Kita bangun kembali rumah tangga kita bersama-sama


Setelah sekian lama aku merasa sendirian, akhirnya aku mempunyai sandaran. Tempat berbagi beban yang sedang aku pikul, suamiku. Laki-laki yang dulu aku pilih untuk menjadi pendamping hidupku dan selamanya akan bersamaku.

__ADS_1


Aku menumpahkan tangisanku dalam pelukan Mas Adji. Lama sekali aku memeluknya hingga rasanya tidak ingin melepaskannya. Aku merindukan laki-laki ini, merindukan suamiku.


Aku meminta Mas Adji untuk menceritakan bagaimana dia bisa berhubungan dengan Eva. Bukannya aku mengungkit-ungkit, aku hanya ingin tahu dimana letak kesalahan dan kekuranganku hingga Mas Adji berhubungan dengan wanita lain. Mungkin ada pelajaran yang bisa aku ambil dari sana. Hati ini sudah ikhlas menerima semuanya.


Mas Adji pun menceritakan semuanya, aku yakin kali ini dia jujur. Aku mendengarkan cerita Mas Adji dengan tenang. Sudah tidak ada lagi rasa marah dan dendam. Entahlah, rasa ikhlas membuatku lebih tenang. Cerita tentang Eva dan Mas Adji terdengar seperti dongeng bagiku.


"Win ... Kamu tidur di kamar kita lagi ya ...?" Mas Adji sedikit malu-malu mengatakannya. Dan entah kenapa aku tersipu. Ini terasa sangat aneh.


"Besok aja ya Mas, aku masih ingin tidur di kamar ini." Aku menolak bukan karena tidak mau, tapi karena aku malu.


"Kalau gitu aku yang tidur di sini ya?"


Sungguh aku merasa sangat malu. Wajahku pasti sudah sangat merah sekarang. Ini bahkan lebih parah dari malam pertama kali dulu. Aku dan Mas Adji sudah lama sekali tidak berhubungan suami istri dan sekarang kami sudah berbaikan. Tentu saja kami bisa menebak isi pikiran masing-masing.


Dan tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu dan aku terselamatkan dari suasana kikuk bersama Mas Adji.


"Aku akan melihat siapa yang datang."


"Mungkin Bu RT, dia tadi datang mencarimu."


"Benarkah?"


Mas Adji mengangguk. Aku pun bergegas keluar untuk membuka pintu melihat siapa yang datang.


"Win ... Tadi aku sudah ke sini tapi Adji bilang kamu sedang arisan." Bu RT langsung nyelonong masuk sambil bicara. Dia sudah terbiasa denganku.


"Memangnya ada apa Bu?"


"Ini, aku mau pesen seragam senam untuk ibu-ibu lansia. Kamu ada kan? Mendadak banget sih ini mintanya. Dan semuanya dipasrahkan ke saya sebagai Bu RT."


Aku langsung mengiyakan. Ini orderan partai besar pertamaku.


"Sebelum Minggu depan bisa?"

__ADS_1


"Bisa!" kembali aku mengangguk mantap. Bu RT terlihat lega. Lalu dia memberikan rincian ukuran dan jumlahnya bahkan uang mukanya.


Sepulangnya Bu Rt aku tersenyum-senyum sendirian. Apakah ini pertanda baik untukku? Setelah berbaikan dengan Mas Adji, lalu datang berita baik. Semoga akan ada hal-hal baik lain menantiku.


__ADS_2