Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 72


__ADS_3

Eva POV


Aku pikir menikah dengan Mas Adji akan menjadi hal terindah dalam hidupku, ternyata aku salah. Di pikiran Mas Adji hanya ada Winda dan Winda, aku tidak ada baginya.


Memang motivasiku menikah dengan Mas Adji hanyalah karena aku ingin hidup enak. Dan benar aku hidup enak. Mas Adji memberikan aku cukup uang, aku juga jarang mengerjakan pekerjaan rumah. Ibunya tidak menyukai aku pun tidak masalah yang penting aku hidup enak.


Dulu yang aku lihat Winda hidup enak saat menjadi istri Mas Adji, aku pun ingin demikian. Aku hanya ingin bersantai dan tetap menerima uang. Aku tidak perlu lagi memijat orang hingga tanganku pegal tetapi uang yang aku dapat tidak seberapa. Apalagi buruh kasar yang badannya bau, huhh ... malas sekali.


Suatu sore ibu Mas Adji datang dengan marah-marah. Aku sedang tiduran di dalam kamar tetapi aku bisa mendengarnya dengan jelas. Dia menyebutkan Winda sekarang kaya dan Mas Adji harus kembali padanya. Setelah aku melahirkan Mas Adji harus segera menceraikan aku.


Mudah sekali mereka bicara seperti itu. Aku ini masih punya perasaan, mereka dengan enteng membahas rencana untuk menceraikan aku agar bisa kembali kepada Winda. Apa mereka tidak memikirkan perasaanku? Mereka pikir aku tidak mendengar yang mereka bicarakan?


...****************...


Aku terbaring di tempat tidur rumah sakit. Mas Adji terus memandangi wajah anakku dengan haru. Aku pikir dia sangat bahagia karena sekarang mempunyai anak laki-laki.


"Dia tampan kan Mas?" tanyaku.


"Iya ... Tapi dia mirip siapa ya?" Mas Adji kembali mengamati wajah anakku.


Deg!!!


Jantungku berdetak tidak karuan mendengar pertanyaan Mas Adji.


"Dia lebih mirip kamu daripada aku," jawabnya kemudian.


Bagaimana ini? Jangan sampai Mas Adji curiga.

__ADS_1


"Kan masih bayi Mas ... Kata orang-orang kalau masih bayi wajahnya masih berubah-ubah." Aku berusaha mencari jawaban yang masuk akal agar Mas Adji tidak curiga.


Untuk mengalihkan perhatiannya, aku mengajak Mas Adji untuk mencarikan nama yang bagus untuk anak kami. Tentu saja agar dia tidak semakin memerhatikan wajah bayiku.


Kami memilih beberapa nama dan Mas Adji memintaku memilih nama yang aku suka. Akhirnya aku memilih nama Kenzie.


Aku merasa sikap Mas Adji kepadaku jauh lebih baik dibanding sebelum aku melahirkan. Dia menatapku penuh kasih bahkan memperlakukan aku dengan baik. Aku sangat bahagia. Aku diperlakukan selayaknya istri oleh Mas Adji. Anakku benar-benar membawa kebahagiaan untukku. Kalau seperti ini terus aku, selamanya menjadi istri Mas Adji pun aku rela.


Pulang dari rumah sakit sikap Mas Adji kepadaku masih sama. Dia masih memanjakan aku, meladeni semua kebutuhanku. Dia tidak mempermasalahkan ketika aku tidak mau memberikan ASI kepada anakku. Dia juga yang mengurus segala keperluan Kenzie bahkan setiap malam dia yang mengurus Kenzie jika kenzie terbangun. Aku benar-benar merasa seperti ratu.


Aku tidak pernah memasak, cukup pesan makanan jika lapar. Aku juga tidak pernah mengerjakan tugas-tugas rumah, Mas Adji yang melakukannya. Untuk apa aku melakukan pekerjaan itu? Aku menikah dengannya agar hidup enak, bukannya dijadikan pembantu. Kalua dia mau rumahnya bersih dan semua pekerjaan beres ya sewa saja pembantu.


Sebulan setelah melahirkan Haris kembali menghubungiku. Laki-laki ini, ayah dari bayiku, dia tidak mau menikahi aku tetapi dia masih ingin bersamaku. Tahu saja dia kalau masa nifasku sudah selesai dan sekarang aku sudah bisa "dipakai" lagi. Licik sekali dia.


Tetapi aku tidak akan kalah licik. Aku mau bertemu dengannya asal dia memberiku uang yang banyak.


Mas Adji sudah memenuhi segala keperluan Kenzie, jadi aku menggunakan uang pemberian Haris untuk memenuhi keinginanku. Mas Adji juga memberiku uang, tetapi aku tidak pernah merasa cukup soal uang.


Beberapa kali aku janjian dengan Haris dan Mas Adji tidak pernah curiga. Mas Adji terlalu sibuk dengan pekerjaannya, selain itu dia juga lebih banyak menghabiskan waktu untuk Kenzie.


Aku dan Haris biasanya bertemu di jam dua belas siang. Itu adalah waktunya Haris istirahat dan dia bisa keluar dari kantor untuk makan siang. Saat itulah kami bertemu di hotel. Satu jam sudah cukup untuk kami menghabiskan waktu berdua karena setelah itu Haris sudah harus kembali ke kantornya.


Semuanya berjalan lancar sampai suatu malam Mas Adji mengetahui aku sedang menelepon Haris. Aku sungguh tidak tahu jika Mas Adji sudah pulang. Aku pikir dia akan pergi lama karena dia jarang bertemu teman-temannya.


Tetapi dia tiba-tiba muncul di depanku dengan tatapan yang sangat mengerikan kepadaku. Aku tidak bisa mengelak, dia mendengar semuanya.


"Apa laki-laki yang baru saja kamu telepon adalah ayah dari Kenzie?"

__ADS_1


Aku tidak bisa menjawab, tubuhku gemetar hebat.


"Jawab Aku!!!!" bentak Mas Adji.


"Mas ... Apa maksudmu? Kenzie .... Kenzie adalah anakmu." Aku sangat ketakutan. Mas Adji sangat marah.


Plakkk !!! Aku memegang pipiku, rasanya panas sekali.


Dan setelah itu setiap kata yang keluar dari mulutku dibalas dengan tamparan atau pukulan.


Aku sudah pasrah, mungkin hidupku akan berakhir sampai di sini. Setiap Mas Adji bertanya, tetapi dia tidak terima dengan jawaban yang aku berikan dia lalu memukulku, bahkan membanting tubuhku. Sudah satu jam lebih aku disiksa seperti itu tetapi Mas Adji terlihat belum puas.


Hingga Kenzie menangis, dan itu pertama kalinya aku ingin segera menolongnya. Aku ingin sekali berlari dan meraih tubuhnya agar siksaan ku segera berakhir.


Tetapi aku tidak berani bergerak. Mas Adji berdiri mematung di hadapanku. Mas Adji juga tidak berusaha untuk menenangkan Kenzie, biasanya dia lah yang panik jika Kenzie menangis. Sekarang Mas Adji tidak peduli.


"Mas ... Kenzie menangis ... Biarkan aku membuatkan susu untuknya," ucapku memberanikan diri.


Mas Adji tidak menjawab tetapi juga tidak menunjukkan ekspresi apapun. Aku anggap dia memberiku ijin.


Dengan menahan sakit di sekujur tubuhku aku berjalan menuju dapur membuatkan susu untuk Kenzie Setelah itu aku masuk ke dalam kamar.


Tak lama kemudian Mas Adji menutup pintu kamar. Dan saat itu juga kakiku terkulai lemas. Aku dikunci di dalam kamar tetapi aku justru merasa bahagia. Setidaknya aku bebas dari siksaan yang diberikan Mas Adji.


Aku menangis sejadi-jadinya, aku merasa lolos dari maut untuk saat ini. Mas Adji memegang ponselku, tentu dia membuka pesan-pesan dari Haris yang belum sempat aku hapus. Entah bagaimana besok, siksaan apa lagi yang akan aku hadapi.


Tidak kusangka hidup enak yang aku rasakan tidak lama, tetapi ini salahku juga. Harusnya sudah cukup Mas Adji saja, tetapi aku tergoda uang yang ditawarkan Haris. Selain itu juga dia adalah ayah Kenzie yang sebenarnya.

__ADS_1


Aku peluk Kenzie erat, betapa aku berterima kasih karena tangisannya membuatku selamat dari amukan Mas Adji, meski setidaknya hanya untuk sementara.


__ADS_2