
Adji POV
Apa sebenarnya hubungan Winda dengan laki-laki itu? Ini sudah lima tahun sejak aku lihat mereka bersama, kenapa mereka tidak meresmikan hubungan mereka? Apa aku harus mundur dan menyerah dengan harapanku untuk kembali bersamanya?Atau aku harus memperjuangkan apa yang aku inginkan?
Aku senang sudah bertemu dengan anak-anakku dan Winda tetapi aku juga sedih karena aku merasa aku bukan lagi orang istimewa bagi mereka. Sudah ada laki-laki itu di sana. Mungkin dia sudah menggantikan posisiku di hati mereka.
"Dji, kapan kamu pulang?" sambut ibu begitu aku sampai di rumahnya. Aku langsung menuju rumah ibu setelah dari rumah Winda tadi.
"Tadi siang Bu," jawabku. Ibu tampak bahagia melihatku.
"Kamu belikan ibu oleh-oleh?" Ibu melihat bingkisan yang ada di kedua tanganku. Aku mengangguk lalu menyerahkan bingkisan itu kepada ibu.
"Aku juga beli buat Maya dan Vino."
"Iya, nanti aku serahkan pada Maya. Pasti dia senang."
Lalu aku duduk dan bercengkrama dengan ibu. Aku merasa asing di rumah ini meski dulu aku tinggal di sini.
"Kamu terlihat berbeda Adji. Kamu seperti orang sukses." Ibu terus memandangi aku dengan kekaguman. "Kamu juga sudah punya mobil lagi, pasti gajimu banyak sekarang."
Aku hanya diam. Ibu sudah mulai membahas uang. Aku tahu kemana arahnya.
"Apa ibu sering mengunjungi anak-anakku?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan ibu. Bukannya aku tidak ingin memberikan ibu uang, tetapi aku sudah memberikan jatah bulanan, dan aku juga punya rencana untuk hidupku sendiri. Aku tidak ingin memberi tahu ibu jika aku memiliki cukup uang untuk membeli rumah.
Mas Arya mendapatkan sebidang tanah warisan dari bapak, dan rumah ini seharusnya diwariskan untukku. Tetapi justru Maya dan suaminya yang enak-enakan tinggal di sini sementara aku harus membayar jika ingin tinggal. Aku tidak ingin ribut, apalagi dengan keluargaku sendiri. Jadi harus mulai memikirkan diriku sendiri.
"Iya ... Kadang-kadang ibu mengunjungi mereka."
"Apa ibu tahu siapa laki-laki yang sedang dekat dengan Winda?" Mungkin aku bisa menggali informasi dari ibu.
"Ibu tidak tahu. Tetapi laki-laki yang waktu itu pernah ibu jumpai masih sering mengunjungi Winda. Bahkan anak-anakmu sering membicarakan laki-laki itu saat ibu berkunjung."
"Apa kamu masih ingin kembali pada Winda?!" hardik ibu.
Aku terdiam.
"Adji, sekarang kamu kan sudah sukses, apa tidak bisa mencari perempuan lain?"
__ADS_1
"Bukankah dulu ibu yang ngotot ingin aku kembali kepada Winda?"
"Itu kan dulu ... Waktu Winda lebih sukses dari kamu. Sekarang kan kamu juga sukses. Jadi lebih baik cari yang lain saja."
Cepat sekali ibu berubah pikiran.
"Kamu sekarang tampan Adji, masih seperti lelaki bujang. Jadi kalau mau menikah lagi, mending kamu cari istri yang kaya raya sekalian."
"Winda memang sukses sih, tetapi kamu bisa lho kalau mau nyari yang lebih dari dia. Kalian sudah pernah gagal, kalau diulangi lagi pasti hasilnya tidak akan baik."
Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibu. Dulu dia menggebu-gebu ingin aku kembali bersama Winda. Sekarang ibu melarang aku hanya karena dia pikir aku sekarang lebih sukses dari Winda.
"Memangnya kenapa Bu? Winda masih sendiri, aku juga masih sendiri. Aku masih ingin kembali padanya kalau Winda mau. Demi anak-anak juga."
"Kamu kalau dikasih tahu ibu nggak pernah nurut Adji."
Aku lebih baik kembali ke hotel. Ibu sudah kembali menjadi sosok yang merasa paling benar jadi lebih baik aku mengalah.
"Sebaiknya aku pergi. Sudah malam Bu," ucapku sambil berdiri.
"Memangnya kamu menginap dimana? Kenapa tidak tinggal di sini saja?"
"Ngapain nginap di hotel, tinggal di sini saja. Kan uang yang buat nginep di hotel bisa buat ibu." Ibu tidak pernah berubah. Selalu uang dan uang yang dia pikirkan.
...****************...
Winda
Keisha terlihat bahagia setelah bertemu papanya. Sebenarnya dia ingin ikut Papanya menginap di hotel tetapi aku tidak mengijinkannya, mungkin lain kali.
Siang ini Mas Adji mengajakku makan siang, berdua. Aku tidak tahu apa yang diinginkannya tetapi aku menyetujuinya. Dari toko aku langsung pergi ke restoran yang dia sebutkan.
"Sudah lama Mas?"
"Mas Adji mengangguk. "Lumayan."
"Maaf."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku yang yang datang terlalu awal."
Mas Adji terlihat bersih dan tampan. Aku masih heran melihat perubahan Mas Adji. Dia menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dengan Mas Adji yang dulu. Dia tampan, berwibawa dan pembawaannya lebih kalem. Berapa kali aku harus mengulanginya, dia terlihat tampan.
Kalau aku tidak ingat semua yang sudah dia lakukan padaku mungkin aku akan jatuh cinta lagi saat melihatnya seperti saat ini Tetapi tidak lagi, Mas Adji cukup menjadi ayah yang baik untuk anak-anakku tidak untuk menjadi suamiku lagi.
"Win ... Kamu tahu keinginanku tidak pernah berubah. Aku masih ingin bersamamu. Aku ingin kita kembali bersama." Mas Adji langsung mengungkapkan isi pikirannya.
Aku terdiam. Ini tidak mudah. Bukan sesuatu yang langsung bisa ku jawab.
"Aku sudah mengakui semua kesalahanku, aku menyesalinya dan aku sudah berubah. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerimaku lagi?" Mas Adji mulai meraih tanganku dan menggenggamnya. Tentu saja ini membuat hatiku bergejolak.
"Aku harus memikirkannya dulu Mas." Aku tarik tanganku. Aku tidak ingin terlarut oleh sentuhan Mas Adji dan membuatku langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.
"Apa kamu yakin Mas?"
"Kamu tahu aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tolong pikirkanlah, setidaknya demi anak-anak."
Setelah itu kami hanya membicarakan anak-anak. Mas Adji sangat ingin mengetahui cerita mengenai anak-anak selama lima tahun ini. Dan setelah itu aku kembali ke toko.
"Win, bisa bicara sebentar." Aku kaget melihat mertuaku sudah menunggu di dalam toko.
"Ada apa Bu?"
"Apa kamu tahu Adji sudah pulang?"
Aku mengangguk. "Iya, Mas Adji sudah ke rumah dan bertemu dengan Keisha dan Kirana. Memangnya kenapa Bu?"
"Hmmm ... Apa kamu berfikir untuk berbaikan dengan Adji?"
"Kenapa tiba-tiba ibu bertanya seperti itu?"
"Ya ... Mungkin saja kan Adji sekarang sukses."
Sampai sekarang aku masih belum mengerti dengan mertuaku ini. Sikap kepadaku berubah-ubah kadang baik, kadang pura-pura baik.
"Begini Win, mungkin sebaiknya kamu mencari orang lain intuk menggantikan Adji. Biar dia juga mencari orang lain untuk menjadi pendampingnya yang baru. Jadi ibu hanya ingin memberitahu kamu sebaiknya jangan terlalu berharap, apalagi sampai kamu memintanya untuk kembali kepadamu."
__ADS_1
"Bukankah ibu yang dulu meminta kami berbaikan?"
"Itu dulu. Sekarang setelah ibu pikir-pikir mungkin kalian memang lebih baik hidup sendiri-sendiri."