Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 59


__ADS_3

Winda


Setelah kepergian Mas Adji perasaanku menjadi campur aduk. Kenangan demi kenangan melintas di pikiranku. Mudah sekali orang-orang mengatakan untuk move on tetapi pada kenyataannya tidak semudah yang mereka katakan. Setiap bertemu Mas Adji aku seperti kembali menggali kenangan yang sudah susah payah aku kubur.


Dering handphone membuatku kembali ke dunia nyata.


"Halo ... " Rupanya pemilik ruko yang menghubungi aku.


"Baik saya segera kesana."


Aku langsung meraih tas dan kunci motor. Tak berapa lama aku sudah sampai di depan ruko.


Ada sebuah mobil terparkir di halaman ruko, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Aku sudah celingak-celinguk mencari pemilik mobil yang aku yakini juga pemilik ruko tetapi aku tidak menemukannya.


Apa aku sedang dikerjai?


Aku menunggu beberapa saat sampai akhirnya aku putuskan untuk menghubungi nomor yang tadi meneleponku.


"Halo, saya sudah di lokasi. Anda dimana?"


"Tunggu sebentar, saya segera kesana." Lalu telepon dimatikan.


Tak berselang lama aku melihat sosok laki-laki datang mendekat ke arahku. Lamat-lamat aku seperti mengenal laki-laki itu.


"Winda ... ?"


"Pak Indra ...?"


Kami berdua sama-sama tidak percaya atas penglihatan kami.


"Pak Indra pemilik ruko ini?"


"Kamu yang mau membeli ruko?"


Setelah sama-sama melempar pertanyaan kami tertawa bersamaan.


"Baru tahu aku Win, ternyata dunia ini memang sempit. Kemarin kita bertemu di parkiran, sekarang di sini, besok dimana lagi?" ucap Pak Indra disertai tawa renyah.


Indra sosok yang ceria, tidak kaku. Ngobrol dengannya terasa santai meski kami lama sekali tidak bertemu.


"Pak Indra bisa saja."


"Jangan Panggil Pak dong Win ... Umurku nggak beda jauh sama kamu. Dulu kamu manggil aku "Pak" kan karena aku atasanmu. Sekarang kita tidak ada hubungan kerja, jadi panggil nama saja."


"Oke Indra. Agak aneh gitu nggak sih Ndra ...? "


"Nah tuh bisa, malah lebih enak di dengar."


"Kamu sendirian?" Indra menoleh ke kiri kanan seperti mencari seseorang.


"Iya ... Aku sendiri."


"Suamimu pasti masih kerja, makanya nggak bisa menemani kamu."

__ADS_1


"Jadi kamu mau ngajak aku ngobrol apa ngasih lihat ruko?" Aku mengalihkan pembicaraan sebelum Indra menanyakan sosok suami yang sudah tidak aku miliki.


"Iya ... iya ... " Indra mengeluarkan kunci dari dalam sakunya lalu membuka pintu ruko. Lalu mempersilahkan aku masuk.


Akh melihat ke sekeliling. Lantai bawah hanya terdiri dari ruangan tanpa sekat dan satu kamar mandi. Ada juga dapur minimalis di belakang.


"Bisa kita lihat ke lantai atas?"


Indra mengangguk.


"Sebelumnya aku tidak tahu kalau ruko ini mau di jual. Padahal setiap Minggu aku berjualan di lapangan kelurahan. Aku juga tidak tahu jika ini milikmu." Aku bicara sambil menaiki tangga menuju lantai dua.


"Memang mendadak sih, sebelumnya juga aku tidak ada rencana untuk menjual ruko ini." Indra mulai terlihat murung.


"Memangnya kenapa tiba-tiba kamu ingin menjualnya? Tidak ada masalah kan? Maksudku ... bukan karena ada masalah dengan tempat ini?" tanyaku mulai khawatir.


"Aku sudah bercerai, dan anggap saja ruko ini adalah harta bersama aku dan istriku selama menikah. Jadi aku menjualnya dan membagi dua hasilnya."


"Oh ... Begitu rupanya," jawabku polos. Sebenernya aku sudah tahu dia bercerai dari Likha.


"Kenapa memangnya? Apa alasan kenapa ruko ini dijual bisa membuatmu berubah pikiran?"


"Aku pikir karena berhantu makanya di jual. Kalau ada hantunya aku juga tidak mau beli."


Indra tertawa mendengar jawabanku.


"Kamu ini Win .... jaman sudah seperti ini masih takut hantu."


"Oh ... Ada kamarnya di sini?!" Aku langsung berjalan menuju kamar tersebut.


"Iya ... Ada kamar mandinya juga," imbuh Indra.


"Boleh ku buka?" Indra mengangguk.


Aku membuka pintu kamar itu dan melihat kondisi di dalamnya.


"Lumayan ... Kalau anak-anak ikut dan ingin tidur siang bisa tidur di sini," gumamku.


Selesai melihat kondisi lantai dua aku dan Indra kembali turun ke lantai satu.


"Ruko ini bagus Ndra ... Letaknya strategis dan bangunannya masih baru."


"Iya sih, sebenarnya sayang juga kalau di jual. Tetapi mau giman lagi? Itung-itung membuang kenangan menyakitkan," ucap Indra dengan wajah sendu.


"Jadi bagaimana?" tanyanya sambil menetralkan raut wajahnya.


"Secara keseluruhan aku suka ruko ini. Sesuai dengan yang aku inginkan." Aku kembali mengedarkan pandanganku.


"Aku pikirkan dulu nanti aku beri tahu keputusanku."


"Oke, kamu simpan nomorku."


"Yang tadi aku telepon kan?" Indra mengangguk.

__ADS_1


"Sebenarnya aku masih ingin ngobrol sama kamu, tapi takut nanti suamimu salah paham."


Sepertinya Indra tidak tahu jika aku sudah bercerai.


"Aku pulang dulu ... Nanti aku kabari."


Indra mengangguk dan tersenyum.


Aku kendarai sepeda motorku kembali ke kios. Sudah hampir jam tujuh malam. Sampai di kios aku memikirkan keputusanku untuk membeli ruko itu apa sudah benar.


Uangku sekarang masih belum cukup, tetapi aku bisa mengajukan pinjaman ke bank atau mungkin menjual mobil, pasti bisa.


Pagi harinya...


Setelah berpikir matang aku menghubungi Indra. Aku harus bergerak cepat sebelum keduluan yang lain. Sayang sekali kalau ruko ini sampai terlepas dan di beli orang.


Aku menegosiasikan harga dan cara pembayaran dengan Indra. Aku memberikan separuh di muka, sisanya aku lunasi sebulan kemudian sampai mobilku laku dan pinjaman dari Bank cair.


Indra menyetujuinya.


Aku tutup telepon dan langsung menyiapkan berkas-berkas untuk untuk mengajukan pinjaman ke bank. Semakin cepat semakin baik. Aku juga mengiklankan mobilku di platform jual beli mobil. Aku butuh dana ini dalam waktu sebulan.


...****************...


Likha mengagetkan aku dengan tiba-tiba muncul di depanku.


"Tumben nggak telepon dulu? Biasanya kalau mau mampir ngasih tahu dulu."


"Emang nggak niat mampir. Tadi nggak sengaja lewat jadi mampir sekalian."


Likha langsung mencari tempat duduk tanpa aku persilahkan. Dia menemukan karung besar berisi baju-baju yang belum aku bongkar lalu duduk di atasnya.


"Kamu tahu kabar yang beredar di tetangga-tetangga?" Pertanyaan awal sebagai tanda mengajak bergosip.


"Apa?" tanyaku.


"Mereka bilang kamu bangkrut karena mau menjual mobil."


Aku tersenyum mendengarnya.


"Hisss ... Orang-orang ini ... Aku heran bagaimana mereka bisa mengetahui berita dengan cepat. Aku memang akan menjual mobil, tetapi bukan karena aku bangkrut. Aku menual mobil karena ingin membeli ruko."


"Wow ... Hebat banget kamu Win! Kalau sampai orang-orang dengar kamu beli ruko, pasti nanti beritanya makin heboh."


"Aku sudah kebal," jawabku singkat dan membuat Likha tertawa.


"Kamu udah seperti selebritis kampung Win ... Gerak dikit aja langsung satu kampung ngerti dan ngomongin."


"Mending kalau yang diomongin yang baik-baik, kalau mereka cuma ngomongin jeleknya aja gimana?"


"Ya itu resiko jadi selebriti kampung." Likha tertawa seperti terhibur dengan kata-katanya sendiri.


"Padahal aku cuma pasang iklan mobil di platform jual beli mobil bekas. Kok ya bisa-bisanya jadi berita aku bangkrut terus jual mobil?"

__ADS_1


__ADS_2