Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 85


__ADS_3

Aku sudah membeli oleh-oleh untuk semuanya. Semuanya aku belikan termasuk Maya dan vino. Bagaimanapun juga Maya adalah adikku dan Vino keponakanku. Aku segera meninggalkan pusat perbelanjaan dan kembali ke hotel.


Rencananya nanti malam aku akan mengunjungi anak-anak. Aku akan datang ke rumah dan memberikan kejutan buat mereka. Aku sudah tidak sabar lagi. Anak-anakku lah yang pertama kali ingin aku temui begitu tiba di sini.


Malam harinya...


Aku sudah sampai di depan rumah Winda menggunakan mobil dari perusahaan. Ada sebuah mobil yang terparkir di halaman tetapi bukan mobil Winda. Aku berjalan memasuki halaman, sayup-sayup aku mendengar suara anak kecil dan seorang laki-laki tengah bercanda.


Aku mendekat ke jendela untuk melihat siapa yang sedang mengunjungi anak-anakku. Aku melihat Kirana sedang bermain dengan laki-laki yang waktu itu aku lihat bersama Winda di mall. Sementara Keisha dan Winda memperhatikan mereka sambil tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia.


Hatiku hancur melihatnya. Memang Winda belum menikah, tetapi bukan berarti dia tidak memiliki pasangan. Aku terlalu berharap hingga lupa diri. Siapalah aku yang sudah berkali-kali menyakiti perasaan Winda.


Aku urungkan niatku. Aku jadi ragu untuk menemui anak-anakku. Aku melihat mereka sangat bahagia bersama laki-laki itu dan membuatku minder.


Kubawa lagi barang-barang yang tadi sudah aku siapkan untuk mereka, lalu berjalan kembali ke mobilku.


"Pappaaa.... !!!"


Aku menghentikan langkahku, aku ragu untuk menoleh ke belakang karena takut kecewa. Aku pikir itu mungkin hanya imajinasiku saja. Mereka sedang berbahagia di dalam, tidak ada menyadari kedatanganku. Jadi tidak mungkin Keisha memanggilku.


Aku melangkahkan kakiku lagi, tapi kemudian aku dengar suara Keisha kembali berteriak memanggilku.


"Pappaaa ... !!!"


Kali ini aku yakin aku tidak sedang berhalusinasi. Itu benar-benar suara Keisha. Aku beranikan diri menoleh. Dan anak gadisku itu langsung berlari memelukku.


...****************...


Winda


Indra datang ke rumah. Dia bilang dia sangat merindukan anak-anak. Memang kuakui anak-anak cukup dekat dengan Indra, terutama Kirana. Mungkin dia menemukan sosok ayah di diri Indra. Tidak bertemu Indra seminggu saja dia sudah ribut kangen Om Indra.


Tetapi sayang hubungan kami tidak bisa lebih jauh lagi. Saat ini mungkin aku dan Indra lebih cocok menjadi sahabat dan tempat curhat. Tidak tahu nanti jika kami sudah sama-sama melupakan masa lalu kami.

__ADS_1


Kami sedang bermain di ruang tamu. Kirana sedang menceritakan kegiatannya tadi di sekolah sementara Indra menanggapi cerita Kirana dengan antusias. Lidah Kirana yang masih cadel membuat kami sering tertawa mendengar ceritanya.


Tetapi malam ini aku merasa Keisha agak gelisah. Sesekali dia tertawa mendengar cerita Kirana, tetapi kemudian kembali murung. Aku tidak sengaja melihat dia menatap kosong ke luar jendela. Lalu tiba-tiba dia berlari keluar seperti mengejar seseorang atau sesuatu.


Aku hanya mengawasi Keisha dari tempatku duduk. Tetapi aku dengar dia berteriak.


"Pappaaa ...!!!"


Aku langsung berdiri. Aku merasa sangat khawatir. Apa dia terlalu kangen dengan papanya sehingga dia berteriak memanggilnya malam-malam begini. Apa Keisha sedang berhalusinasi?


Keisha sedang dalam masa peralihan dari anak-anak ke remaja. Emosinya labil dan aku takut perpisahanku dan papanya mempengaruhinya.


Aku segera berlari mengejar Keisha kemudian disusul Indra yang menggendong Kirana. Keisha berhenti di depan rumah. Dan aku kaget ternyata benar-benar ada Mas Adji di sana.


"Pappaaa ...!!!" teriak Keisha lagi.


*


Kami duduk bersama di ruang tamu. Aku, Keisha, Kirana,Mas Adji dan Indra. Sebenarnya Indra sudah pamit mau pulang begitu Keisha mengajak Mas Adji masuk ke dalam rumah. Tetapi Kirana menangis karena dia masih ingin bersamanya. Akhirnya Indra bergabung bersama kami.


"Adek nggak mau peluk Papa?"


Kirana lalu bersembunyi di belakang punggung Indra mendengar papanya bertanya padanya. Mas Adji masih terus berusaha agar Kirana mau bersamanya tetapi aku rasa Kirana lebih nyaman bersama Indra.


"Sana peluk papa dulu, katanya kangen sama papa?" Indra ikut membujuk Kirana. Kirana melirik Mas Adji malu-malu lalu berjalan pelan mendekatinya.


Mas Adji segera meraih tubuh Kirana dan memeluknya, sehingga sekarang kedua anaknya ada di dalam pelukannya.


"Anak papa sudah besar ya?"


Kirana tidak menjawab. Tidak lama dalam pelukan papanya dia sudah menggeliat minta dilepaskan. Mas Adji pun melepaskan pelukannya lalu Kirana kembali kepada Indra.


"Om pulang dulu ya, sudah ada papa di sini."

__ADS_1


Keisha menggeleng. "Adek mau Om Indra," ucap Kirana.


"Besok Om kesini lagi, Om janji!" Keisha masih menggeleng. Dia belum ingin berpisah dari Indra.


"Dek, nggak boleh gitu ya ... Ini sudah malam. Om Indra harus pulang. Nanti Om bisa dimarahi ibunya." Aku berusaha mencari alasan.


Barulah Kirana mengangguk. Melihat dari gerak geriknya, aku tahu baik Indra maupun Mas Adji sama-sama merasa tidak enak. Mungkin Mas Adji pikir dia mengganggu acaraku dengan Indra, mungkin dia pikir aku punya hubungan spesial dengan Indra. Sementara Indra pikir dia menghalangi Mas Adji untuk lebih dekat dengan Kirana.


Indra pun segera berpamitan setelah Kirana mengijinkan dia pulang. Mas Adji dan Indra sama-sama berdiri kemudian bersalaman. Mas Adjie terlihat sangat berbeda. Dia terlihat lebih dewasa dan sikapnya tenang.


Terakhir dia melihatku bersama Indra dia sangat marah dan terbakar emosi.Tetapi sekarang Mas Adji terlihat biasa, bahkan terkesan bisa menerima kedekatan anak-anak dengan Indra. Saat Indra bersalaman dengannya pun dia bersikap ramah.


Selepas kepulangan Indra, suasana menjadi semakin canggung.


"Apa kabar Mas?" tanyaku membuka pembicaraan.


"Aku baik Win." Aku tidak tahu mau bicara apa lagi jadi aku kembali diam dan Mas Adji pun ikut diam.


"Adek nggak mau main sama kakak? Itu kakak punya mainan baru dari papa." Aku masih berusaha membujuk Kirana agar mau mendekat dengan Papanya.


Kirana hanya menggeleng malu kemudian bersembunyi di dalam pelukanku.


Setelah kepergian Indra dia gantian menempel kepadaku. Kirana memang sulit untuk dekat dengan orang yang baru dia temui. Meski dia sering berbicara dengan papanya lewat telepon, tetapi dia belum pernah bertemu secara langsung selama lima tahun ini.


"Jangan dipaksa Win ..."


"Kakak bilang adek mau sepeda gambar little pony? Benarkah?" Mas Adji berusaha mendekati dengan caranya sendiri.


Kirana langsung mengangkat kepalanya begitu karakter favoritnya itu di sebut. Akhirnya dia menatap papanya.


"Besok ikut papa ya, kita beli bersama?" Kirana Menoleh ke arahku meminta persetujuan. Tatapan memohonnya tidak bisa aku abaikan.


"Boleh ya Win? Dia tidak akan kecapekan kalau naik sepedanya di awasi." Sepertinya Mas Adji sudah mengorek informasi dari Keisha. Dia tahu alasan kenapa aku tidak mau membelikan Kirana sepeda baru.

__ADS_1


Aku mengangguk dan kemudian Kirana tersenyum.


"Yeay ... Makasih Ma ..."


__ADS_2