
Adji POV
Aku dan Eva sudah kembali ke rumah kontrakan, membawa serta anak laki-lakiku. Sepertinya kehidupanku akan bahagia setelah ini. Aku sudah bisa menerima Eva karena kehadiran anak ini. Dan mungkin aku akan melupakan keinginanku untuk rujuk dengan Winda. Aku akan memulai semuanya dari awal lagi.
Eva mungkin bukan istri yang baik, tetapi jika aku membimbingnya mungkin lama-kelamaan dia akan berubah. Belum selesai aku memikirkan masa depanku dengan Eva dan anakku ibu sudah muncul di depanku.
"Jadi benar istrimu sudah melahirkan?" tanya ibu tanpa basa-basi.
"Ibu? Aku nggak dengar ibu datang. Ibu kesini sama siapa?"
"Jawab pertanyaanku! Apa benar perempuan itu sudah melahirkan?" Ibu mempertegas pertanyaannya.
"Duduklah dulu Bu ... Apa ibu tidak ingin tahu bagaimana keadaan cucu?" Aku berusaha bersabar menghadapi ibu.
"Sudah jawab saja, tidak usah basa-basi!
"Iya ... Ibu tahu dari mana?"
"Kok kamu tanya ibu tahu dari mana? Seharusnya ibu yang bertanya, kenapa kamu tidak memberi tahu ibu? Aku ini ibumu!" Suara ibu semakin meninggi.
"Memangnya apa bedanya jika aku memberitahu ibu atau tidak? Bukankah ibu tidak suka sama Eva?"
"Tetapi itu namanya kamu tidak menghargai ibumu!"
"Pelankan suara ibu, Eva dan anakku sedang tidur. Nanti mereka bisa bangun karena suara ibu."
"Jadi dia sudah pulang dari rumah sakit?" Aku mengangguk.
Ibu terdiam, lalu dia duduk tenang di kursi berhadapan denganku.
"Kenapa ibu datang langsung marah-marah? Kalau karena aku tidak memberitahu ibu aku minta maaf. Aku panik waktu itu jadi tidak kepikiran untuk memberitahu siapa-siapa," ucapku dengan pelan. Aku masih berusaha tenang meski tahu ibuku datang membawa masalah.
"Apa ibu ingin melihat anak laki-lakiku? Aku bisa membawanya kemari agar tidak membangunkan Eva," tanyaku bersemangat. Sepertinya kebanyakan ayah pada umumnya, aku juga sangat bangga dengan anak laki-lakiku meski dia masih bayi.
__ADS_1
"Tidak, bukan itu tujuan ibu kemari," jawab ibu datar.
"Lalu? Apa ibu tidak suka ibu punya cucu lagi?"
"Ibu hanya ingin mengingatkan kamu. Berhubung perempuan itu sudah melahirkan, lebih baik kamu segera mengurus perceraianmu dengannya lalu rujuk dengan Winda."
Rupanya ibu masih menginginkan aku kembali dengan Winda. Sepertinya masalah di dalam hidupku tidak akan pernah ada habisnya. Di saat aku berpikir untuk memulai kehidupan baru, ada saja hal yang tidak berjalan sesuai keinginanku.
"Lupakan itu Bu, mungkin itu tidak akan pernah terjadi."
"Apa??? Apa maksudmu???" Suara ibu kembali meninggi.
Aku tidak menjawab karena ibu jelas mendengar apa yang barus saja aku katakan.
"Apa kamu gila? Kamu dapat apa dari perempuan itu? Pikirkan lagi! Sekarang kamu bisa dapat semuanya dari Winda. Dia sukses, kaya, punya semuanya bahkan dia semakin cantik sekarang! Apa kamu yakin istrimu sekarang lebih baik dari Winda?!" Ibu menggebu-gebu membicarakan kelebihan Winda, tidak ingat bagaimana dulu dia begitu membencinya.
"Aku dapat anak laki-laki Bu, dan aku tidak ingin nanti anakku menderita jika aku berpisah dari Eva."
"Kamu pikir anak-anakmu dengan Winda tidak menderita? Apa kamu tidak memikirkan mereka juga? Kenapa kamu cuma memikirkan anakmu dan perempuan itu?"
"Ibu ... Tolong hargai keputusanku sekali ini saja! Ibu tidak pernah mendukungku dalam hal apapun. Bisakah sekali ini saja ibu mendukungku, menerima keputusanku?"
Ibu kembali terdiam.
"Ibu menyesal selama ini telah salah menilai Winda. Sekarang ibu pikir dialah yang terbaik untukmu. Kembalilah padanya selagi masih ada kesempatan." Ibu masih berusaha membujukku.
"Ibu yakin sekali Winda mau menerimaku kembali?"
"Tentu saja ibu yakin! Lihat saja dulu dia tidak meninggalkan kamu ketika kamu sakit. Itu tandanya dia mencintaimu Adji! Kalau kamu mau berusaha dia pasti kembali padamu." Ibu berusaha sekuat tenaga meyakinkan aku.
"Sudah ada laki-laki yang mendekati dia. Jangan sampai kamu menyesal nanti ketika dia sudah menikah dengan orang lain."
Giliran aku yang terdiam. Aku teringat laki-laki yang aku temui di mall waktu itu. Apakah dia laki-laki yang ibu maksud? Muncul rasa tidak rela. Aku ingat bagaimana aku begitu terbakar cemburu ketika melihat Winda bersama laki-laki itu. Tetapi aku tetap pada keputusanku semula, aku akan mempertahankan Eva.
__ADS_1
"Kalau sudah tidak ada yang ingin ibu katakan, sebaiknya ibu pulang."
Aku meminta ibu untuk pergi agar tidak semakin membicarakan Winda. Nanti aku bisa terpengaruh dengan omongan ibu. Dia pasti akan berusaha keras agar aku kembali dengan Winda. Aku yakin ibu akan terus berusaha.
...****************...
Sudah hampir dua bulan setelah Eva melahirkan. Tetapi sampai sekarang dia masih minta apa-apa diladeni. Dia juga tidak mau menyusui Kenzie, takut merubah bentuk tubuhnya. Alhasil, anakku di beri susu formula.
Setiap malam aku bangun untuk membuatkan susu Kenzie ketika dia menangis. Aku juga yang menggantikan popoknya sementara Eva tertidur lelap. Aku lakukan semua itu dan paginya aku tetap berangkat kerja seperti biasa.
Aku berusaha mengerti keadaan Eva meski kadang-kadang lelah juga.
"Mas ... Aku nggak sempat masak dan beres-beres. Kenzie nangis kalau aku tinggal. Kamu beli makanan sekalian beres-beres rumah ya?"
Begitulah sambutan Eva setiap kali aku pulang kerja. Sebenarnya aku sendiri capek tetapi aku tetap melakukan apa yang diminta Eva. Aku membeli makanan juga membereskan rumah, menyapu, mencuci dan sebagainya. Barulah setelah itu aku bisa menggendong Kenzie.
"Eva ... Aku ingin bicara." Aku menghampiri Eva yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.
"Kalau Kenzie tidur ....Kamu bisa mencuci atau paling tidak menyapu. Kamu bisa mengerjakan yang ringan-ringan saja."
Eva tidak begitu memperhatikan karena fokus dengan handphonenya.
"Bukannya aku tidak mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi aku kan juga capek. Aku sudah bekerja seharian, malamnya aku juga menemani Kenzie begadang." Aku berusaha memberitahu tahu Eva dengan bahasa yang halus.
"Bagaimana kalau kita cari pembantu saja Mas? Kalau begitu kan kita sama-sama tidak capek?"
Aku memikirkan keinginan Eva, sepertinya tidak mungkin untuk menyewa pembantu. Aku tidak memberitahu Eva jika aku sedang mengumpulkan uang untuk membeli rumah. Tidak mungkin selamanya aku akan mengontrak.
"Tidak bisa .... Kita semakin banyak kebutuhan. Beli popok Kenzie, juga susu. Kita harus berhemat. Kalau kamu mau kita menyewa pembantu berarti jatah bulananmu aku potong untuk menggaji pembantu. Bagaimana? Kamu mau?"
Eva menggeleng genit. "Masa gitu sih Mas?"
"Kalau gitu kamu harus mulai mengurus rumah. Atau aku akan memotong uang bulananmu."
__ADS_1
"Kamu tega sama aku?" ucap Eva manja. Tangannya sudah mulai beraksi. Kalau sudah begini aku tidak bisa apa-apa lagi.