
Adji POV
Untuk sementara aku tinggal di rumah ibuku, paling tidak sampai statusku dan Winda jelas. Aku mengurungkan niatku untuk menumpang di rumah Mas Arya karena tidak enak dengan istri.
Sekarang sulit sekali untuk menemuinya. Aku juga tidak bisa bertemu Keisha lalu bagaimana aku bisa memanfaatkan dia agar Winda mau mengubah keputusannya? Bagaimana aku bisa bicara dengannya jika bertemu saja tidak bisa?
Beberapa kali ke rumah tetapi dia tidak ada atau entah sembunyi di dalam. Art yang dulu aku pekerjakan juga tidak mau membukakan pintu ketika aku datang. Bahkan ketika aku beralasan ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal pun dia tetap tidak mau membukakan pintu. Sepertinya aku telah salah memilih ART, aku yang memperkerjakan dia tapi dia malah lebih setia kepada Winda.
"Ibu mau ke rumah Winda. Ibu mau bicara dengannya."
Aku melihat ibu sudah bersiap-siap ingin menemui Winda
"Tidak usah Bu ... Ibu tidak perlu bicara dengan Winda lagi. Biar aku saja." Aku melarang ibu melakukannya. Mengingat hubungan ibu dan Winda seperti apa, aku pikir usaha ibu ini akan membuat semuanya semakin buruk.
"Bu ... Aku bilang tidak usah. Winda tidak akan mengubah keputusannya meski ibu memohon padanya. Hanya orang yang tepat yang bisa melakukannya, dan itu Keisha."
"Tapi ibu tetap akan menemui Winda. Dia mungkin tidak mau bertemu kamu tapi dia pasti mau bertemu ibu."
"Kalaupun dia tetap menceraikan kamu ibu akan minta harta yang menjadi hakmu. Dia tidak bisa mengusir kamu tanpa apa-apa begini. Kamu juga Adji, masa diusir tanpa apa-apa diam saja?!"
"Ibu ini bicara apa?!! Jangan membuat masalah semakin rumit!"
"Sudah, kamu diam saja." Ibu berlalu tanpa bisa aku hentikan lagi.
...****************...
Winda
Setelah pulang dari rumah sakit aku lebih banyak di rumah. Semua pekerjaan di kios aku pasrahkan kepada Shanti. Aku juga meminta dia mencari orang satu karyawan lagi untuk membantunya. Setelah aku benar-benar pulih aku akan mengurus semuanya.
Mas Adji masih berusaha menemui aku tetapi aku terus menghindar. Aku tidak ingin bertemu dia lagi apapun alasannya, setidaknya sampai kami resmi bercerai.
Tetapi tidak bertemu Mas Adji bukan berarti hidupku menjadi tenang.
"Apa kamu sudah tidak bisa memaafkan Adji? Tolong beri dia satu kesempatan lagi."
__ADS_1
Mertuaku datang malam-malam begini untuk bicara denganku. Sebenarnya aku malas sekali, pasti dia hanya membicarakan itu-itu saja.
"Maaf Bu ... Aku tetap pada Keputusanku semula. Aku akan segera mengurusnya."
"Apa kamu tidak kasihan pada anakmu? Lalu anak yang masih di dalam perutmu juga bagaimana? Nanti dia tidak kenal sama Papanya."
Aku hanya diam. Antara malas untuk menjawab atau karena yang dikatakan mertuaku benar. Semakin kesini aku merasa semakin takut untuk memberitahu Keisha. Apalagi sekarang dia sangat dekat dengan papanya. Setiap kali dia bertanya aku hanya menjawab jika Papanya sedang ada kerjaan di luar kota.
"Adji memang salah, ibu mengakuinya. Ibu meminta maaf atas nama Adji. Ibu mohon kamu mau memaafkan dia."
Aku agak terkejut mendengar kata-kata mertuaku. Untuk pertama kalinya dia bicara sesuatu yang masuk akal, seperti mengakui kesalahan anaknya karena biasanya aku yang disalahkan.
"Keisha kan anaknya Adji, cucuku. Begitu pula janin yang masih dalam perutmu."
Ah ... Omong kosong apa ini? Sejak kapan dia menganggap Keisha cucunya?!! Apa mertuaku ini benar-benar sudah sadar?
Aku masih tetap diam. Aku tidak merasa aneh dengan sikap mertuaku yang menjadi lunak padaku setelah aku sering membiarkan dia mengambil baju baru di kiosku. Memang begitulah dia.
"Ya sudah kalau keputusanmu memang sudah tidak bisa dirubah lagi. Ibu hanya ingin jika nantinya kalian berpisah hubungan kalian tetap baik, tidak usah diwarnai keributan. Harta gono-gini juga dibagi dengan adil biar sama-sama enak dan tidak ada dirugikan."
"Ya harta yang harus dibagi setelah kalian berpisah nanti. Harta yang kalian punya harus dibagi rata."
Harta??? Dibagi rata??? Memangnya Mas Adji punya apa???
"Harta apa yang ibu maksud?"
"Ya ... Rumah, mobil, motor dan kios. Itu semua harus dibagi rata."
Aku ingin tertawa mendengar kata-kata mertuaku ini. Sepertinya dia tidak tahu posisi anaknya di sini.
"Rumah yang mana Bu?"
"Rumah yang kalian tempati. Itu kan dibangun berdua, kamu sama Adji. Jadi dia juga punya hak atas rumah itu."
"Oh ... Iya benar. Rumah itu dibangun dia atas tanah orang tuaku dan hak miliknya atas namaku. Soal pembangunan rumah, Ibu tanya saja sama Mas Adji. Dia dulu menghabiskan uang berapa untuk membangun rumah itu, nanti aku ganti uangnya," jawabku enteng.
__ADS_1
Mata mertuaku langsung berbinar mendengar jawabanku.
"Kalau mobil dan motor itu sepenuhnya milikku. Aku membelinya dengan uangku sendiri. Hasil kerja kerasku."
"Nggak bisa gitu dong Win, semuanya harus dibagi dua. Kamu bisa seperti ini sekarang kan juga karena Adji bekerja. Dia menfakahi kamu sehingga uangmu bisa terkumpul dan bisa membeli itu semua." Raut wajah mertuaku langsung berubah. Nada bicaranya pun ikut berubah.
"Apa ibu lupa jika Mas Adji juga tidak bekerja berbulan-bulan lamanya karena sakit? Lalu selama itu kami makan dari mana? Mas Adji sakit itu biaya berobatnya dari mana?"
"Itu beda ceritanya. Kalau soal membiayai orang sakit juga kamu dibiayai Adji waktu melahirkan di rumah sakit? Kamu bertahun-tahun nggak kerja hidupmu juga ditanggung Adji kan?"
Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran mertuaku ini. Aku menghirup nafas dalam-dalam untuk menjaga kewarasanku karena aku merasa seperti sedang bicara dengan orang gila.
Tenang Win ... Jangan sampai stress nanti bisa kontraksi lagi ... tenang ...
"Jadi ibu maunya bagaimana?"
"Ya itu rumah dibagi dua, mobil, motor dan semua yang kalian miliki sekarang harus di bagi rata. Kalau kamu bilang sewaktu Adji sakit dia tidak menfakahi kamu yang anggap aja itu ganti selama kamu hanya di rumah ngurusin anak!" jawab mertuaku sewot.
"Yang jelas apa yang kalian miliki sekarang itu milik berdua dan harus dibagi rata!"
Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi soal mertuaku ini. Benar-benar gemas aku dibuatnya.
"Sebentar Bu, aku mau mengambil sesuatu."
Aku beranjak untuk ke kamarku. Aku ingat masih menyimpan nota dan struk dari rumah sakit dan juga klinik terapi selama pengobatan Mas Adji. Waktu itu aku hanya iseng menyimpannya sebagai pengingat juga sebagai penyemangat agar aku tidak menyerah dengan keadaanku. Tetapi rupanya kertas-kertas itu berguna sekarang.
Aku kembali kepada mertuaku membawa tumpukan kertas yang sudah aku lipat-lipat.
"Ini adalah nota dan struk dari biaya pengobatan Mas Adji selama dia sakit. Silahkan nanti ibu dan Mas Adji hitung sendiri di rumah."
Aku memberikan kertas-kertas itu kepada mertuaku. Dia seperti tidak mengerti maksudku.
"Jika ibu ingin semua yang aku miliki sekarang dibagi dua, maka aku juga minta uangku yang sudah aku gunakan untuk pengobatan Mas Adji dikembalikan."
Memang harus berpikir seperti orang gila untuk mengahadapi orang tidak waras.
__ADS_1