
Di sinilah aku terbaring tidak bisa apa-apa. Aku harus istirahat total seminggu ke depan. Lagi-lagi aku harus menunda rencanaku untuk mengurus perceraian.
Aku sudah menyuruh Mas Adji pulang tetapi dia menolak dengan dalih ingin menunggu anaknya, bayi yang masih di dalam perutku. Tentu saja aku tahu maksud di baliknya. Dia hanya ingin dekat denganku agar bisa mengambil hatiku lagi.
"Pulanglah Mas ... Aku tidak ingin kamu berada di sini."
"Aku khawatir dengan kondisimu."
Aku tersenyum sinis mendengar jawaban Mas Adji.
"Kondisiku seperti ini gara-gara kamu. Kenapa kamu khawatir?"
"Aku ingin tetap di sini menemani kamu."
"Pergilah ... Aku tidak mau semakin stress karena setiap melihatmu aku teringat pela*ur itu!"
Mas Adji sudah tidak bisa membantah jika aku menyebut perempuan itu. Tanpa berkata-kata apa-apa lagi dia langsung pergi meninggalkanku. Memang begitu seharusnya. Aku tidak boleh dekat-dekat dengan Mas Adji agar pikiranku tenang.
Tak berselang lama setelah kepergian Mas Adji, Likha datang mengunjungiku.
"Kamu tahu aku di sini?" tanyaku kaget.
"Aku tadi ke kios dan pegawaimu bilang kamu sedang di rawat di rumah sakit. Jadi ya ... aku langsung ke sini."
Likha menaruh tasnya lalu duduk di samping tempat tidurku.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Apakah berbahaya untuk janinmu?"
"Aku harua istirahat total. Kamu pasti sudah dengar ceritanya."
"Tentu saja, kamu sedang menjadi trending topik di kampung kita," jawab Likha disertai tawa. "Bahkan berita tentang kamu lebih viral daripada aku dulu."
Aku tersenyum mendengarnya. Aku menganggap yang dikatakan Likha itu lucu. Aku tidak kaget. Ini bukan pertama kalinya orang-orang membicarakan aku.
Orang-orang pasti membicarakan aku setiap kali mereka bertemu. Entah membeli sayur, senam, pengajian, pertemuan PKK, pasti semuanya tentang aku. Beginilah hidup di kampung.
"Aku jadi artis kampung."
__ADS_1
"Jadi bagaimana ceritanya?"
Lalu ku ceritakan semua kepada Likha, mulai dari aku mengantarkan pesanan ke kampung sebelah.
"Aku sudah menelfon Mas Adji dan dia mengatakan jika dia sedang lembur. Aku percaya waktu itu. Aku hendak pergi tetapi sesuatu dari dalam diriku memaksaku untuk turun dari mobil. Aku ingin memastikan apa yang ku lihat salah. Aku merasa seperti di tuntun. Mungkin itu yang di sebut firasat."
"Ketika berangkat aku sengaja menghindari jalan yang melintasi di depan rumah perempuan itu, tetapi ketika hendak pulang aku merasa seperti di arahkan untuk melewatinya. Sulit dijelaskan, tapi kamu tahu maksudku kan? Itu bukanlah kebetulan."
Likha mengangguk.
"Tentu saja aku tahu maksudmu. Aku juga mengalaminya."
"Oh ... Iya. Aku lupa kalau nasib kita sama." Lalu kami pun tertawa bersamaan menertawakan hidup kami.
"Kenapa kamu memaafkan suamimu?"
"Eits ... jangan salah! Aku tidak memaafkan dia. Aku hanya tidak bercerai darinya. Itu beda Win."
"Maksudnya?"
"Aku mempertahankan rumah tanggaku demi anakku. Aku masih marah sama suamiku entah sampai kapan. Aku juga dendam. Bahkan aku juga mengatakan padanya, jangan kaget jika nanti aku selingkuh."
"Kamu ingin membalasnya? Selingkuh dibalas selingkuh begitu?"
"Gila kamu ya?!!"
"Kalau memang itu bisa membuatku puas mau bagaimana? Kamu tahu kan bagaimana rasanya menemukan pasangan kita bersama perempuan lain?"
"Gini aja deh Win gampangnya ... Mereka enak banget bisa celap celup ko**ol mereka ke perempuan lain dan kita disuruh memaafkan. Lah ... sekarang mereka terima nggak kalau v****a kita dipakai gantian sama laki-laki lain? Mau maafin kita nggak? Gitu kan logikanya?!"
Aku melongo mendengar penjelasan Likha.
"Kalau setelah itu suamiku mau menceraikan aku terserah. Yang penting dia juga merasakan sakit hati seperti yang aku rasakan. Dan aku juga tidak merasa bersalah kepada anakku karena ayahnya lah yang ingin berpisah denganku."
"Intinya sekarang, jalani aja. Aku bertahan demi anakku, bukan demi suamiku. Aku sudah menganggap dia tidak ada sejak hari itu." Suara Likha menggebu.
"Lalu bagaimana denganmu?" Percakapan berganti topik tentang aku. "Kamu akan memaafkan suamimu lagi?"
Aku diam. Jujur setelah melihat interaksi Keisha dan Mas Adji pagi tadi aku menjadi bimbang. Apakah nantinya aku juga akan bertahan demi anak-anakku sama seperti Likha yang bertahan demi anaknya?
"Kalau kamu sampai memaafkan dia aku anggap kamu to*ol! Kamu sudah dibutakan cinta. Kalau suamiku melakukannya lagi mungkin aku sudah membunuhnya."
__ADS_1
"Aku bingung. Andai aku bisa seberani kamu."
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut anak-anakku nanti kehilangan sosok ayah. Mereka akan tinggal terpisah dengan ayahnya, tentu berbeda. Aku mungkin bisa mencukupi semua kebutuhan mereka, tapi kasih sayang seorang ayah tentu aku tidak bisa berikan."
"Ini bukan yang pertama kali Win ... Kamu pernah dengar orang-orang mengatakan selingkuh itu tidak bisa diobati. Mereka akan mengulang dan mengulanginya lagi dan lagi. Kamu mau menunggu sampai berapa kali?"
"Ya ... Aku tahu."
"Kalau dipikir-pikir kita ini kurang apa sih Win?" Likha berdiri dan berjalan maju mundur bergaya layaknya seorang model.
"Cantik iya, bisa cari duit juga. Kok bisa-bisanya suami kita tidur sama pela*ur?"
"Memangnya ketika kamu bertanya seperti itu suamimu jawab apa?"
"Tidak tahu. Aku tidak bertanya." Likha kembali duduk.
Aku dan Likha membicarakan rumah tangga kami dengan santai tanpa. Tidak ada ratapan dan air mata. Bahkan sesekali kami tertawa ketika membicarakannya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan pela*ur itu? Kamu dengar kabar tentang dia?"
Aku tidak tahu nasib Eva sekarang. Terakhir kali aku melihatnya saat aku menggerebek dia dan Mas Adji. Setelah itu aku tidak tahu lagi. Apa hukuman yang diberikan warga untuknya pun aku tidak tahu.
Sebenarnya aku bisa melaporkan perbuatan mereka ke pihak yang berwajib. Tetapi sekali lagi, aku memikirkan Keisha, bagaimana perasaannya jika papanya dipenjara.
"Oh ... kamu belum dengar kan? Katanya dia pakai semacam susuk atau pelet gitu untuk memikat laki-laki. Kamu percaya itu?"
Aku tertawa mendengarnya. "Kamu serius?"
"Darimana kamu dengar berita itu? Itu pasti pembelaan dari seorang istri yang tidak terima setelah mengetahui suaminya tidur dengan wanita lain."
"Eh .... Bener Win. Katanya memang begitu. Makanya banyak laki-laki tergoda. Kamu sama dia cantikan kamu? Kok bisa suamimu mau sama dia? Masuk akal nggak?"
"Nggak ... Nggak ... Aku nggak percaya hal seperti itu. Selingkuh ya selingkuh saja. Nggak ada pembelaan karena kena pelet lah, susuk lah atau semacamnya. Bukan karena itu, tapi karena laki-laki tidak bisa menahan nafsu dan menjaga imannya. Memangnya kamu percaya suamimu terkena susuk Eva?!"
"Ya nggak. Tapi orang-orang bilang seperti itu."
"Terus sekarang nasibnya bagaimana?"
"Nggak tau lah. Kamu cari tahu sendiri sana."
__ADS_1
"Kamu kan bisa tanya sama suamimu. Siapa tahu mereka masih berhubungan." Aku terkekeh mendengar kalimatku sendiri.
"Bodo amat Win ... aku nggak peduli," jawab Likha sewot tapi aku menganggapnya lucu. "Tanya sama suamimu sendiri sana!"