
"Jeng Winda bisa bantu aku milih pakaian yang cocok? Seleranya Jeng Winda kan bagus."
"Suruh dia pergi Win, kamu nggak akan rugi kalau cuma kehilangan satu pelanggan seperti dia!" Aku melihat api yang membara di mata Likha.
Aku dan Likha sangat berbeda dalam menghadapi Eva. Dia masih menyimpan dendam yang mendalam padanya. Sedangkan aku, aku juga benci pada Eva tetapi aku tidak bisa bersikap seperti Likha. Mau seperti apa aku membencinya tidak akan merubah kenyataan, rumah tanggaku sudah berantakan. Jadi ya ... sudahlah.
"Jeng Likha ini kenapa sih? Aku kemari kan berniat baik. Aku ingin menjalin hubungan baik dengan Jeng Winda. Karena nantinya anak yang aku kandung ini akan menjadi adik dari anak-anaknya Jeng Winda."
Tanpa aku duga Likha langsung meraih rambut Eva dan menariknya sekuat tenaga. Eva pun berteriak kesakitan.
"Likha ... ! Lepaskan ...!" Aku menarik tangan Likha agar melepaskan tangannya dari rambut Eva.
"Heh ...!!! Jaga mulutmu ya pela*ur!!! Anak-anak Winda tidak sudi punya adik dari pela*ur macam kamu!!!"
"Jeng Likha ini kenapa sih? Perempuan kok kasar seperti ini? pantas suamimu jelalatan ternyata di rumah suguhannya begini!" balas Eva sambil membenahi rambutnya yang berantakan karena ulah Likha.
"Begini bagaimana maksudnya? Gini-gini aku bukan perempuan obralan seperti kamu!"
Adu mulut antara Likha dan Eva semakin sengit. Jika tidak segera dihentikan aku yakin kiosku akan menjadi sarana perkelahian mereka.
"Likha ... Sudah! Cukup ...! Kalau seperti ini kamu sama saja dengan dia! Norak, nggak terpelajar, nggak berkelas! Nanti dilihat banyak orang. Hentikan sekarang juga!"
Dan Likha pun kembali menurut dengan kata-kataku. Dia diam meski matanya masih melotot kepada Eva.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini. Ada banyak toko pakaian di sekitar sini, kamu bisa membeli di tempat lain!"
"Tapi aku maunya di sini. Kan ada Jeng Winda yang bisa bantu milih mana yang cocok untuk aku dan sesuai selera Mas Adji. Jeng Winda kan dulu istrinya, jadi tahu dong selera Mas Adji."
Rupanya Eva memang hanya ingin menguji kesabaranku.
"Yang cocok dengan selera Mas Adji tidak ada di sini. Dia biasa membelikan aku baju di mall, di butik-butik terkenal. Tidak di kios kecil seperti kiosku ini!"
Eva diam mendengar kata-kataku.
__ADS_1
"Lagian selera Mas Adji sekarang susah berubah. Buktinya dia mau sama perempuan seperti kamu!"
"Terserah Jeng Winda mau ngomong apa. Yang jelas sekarang Mas Adji suamiku. Lihat nih ... Dia memberi aku uang banyak untuk aku gunakan belanja sesukaku!" Eva membuka dompetnya dan menunjukkan lembaran uang di dalamnya.
Hah ... Norak sekali perempuan satu ini. Kenapa duit segitu saja harus dia perlihatkan padaku? Apa dia tidak pernah pegang uang banyak sebelumnya?
"Oh ...sayang sekali. Padahal dulu waktu aku masih jadi istrinya, dia memberiku kartu kredit yang limitnya dua puluh juta sebulan."
Likha tertawa mendengar aku berkata seperti itu.
"Emang cinta beda sama nafsu Win. Kalau cinta diberi segalanya, sementara nafsu dibayar secukupnya."
Aku tersenyum mendengar kata-kata Likha yang entah dia dapat dari mana. Tapi sepertinya kata-kata itu benar adanya.
"Dengar ya Eva ...!!! Kamu hanya merebut milik orang lain, bukan milikmu sendiri!!! Apa yang kamu miliki sekarang, aku pernah miliki lebih dulu. Jadi jangan pamer padaku!!!"
Dengan wajah merah padam Eva berbalik dan akan meninggalkan kios.
"Satu hal lagi ... Jangan sebut anak di dalam perutmu itu adalah adik dari anak-anakku. Sebelum itu terbukti anak Mas Adji sebaiknya kamu diam!!!"
"Kata-katamu pedes juga ya Win," ucap Likha sambil menatapku terheran-heran. "Aku pikir kamu akan pasrah saja si sundel bolong itu menampakkan wajahnya di sini. Nggak taunya habis sama mulutmu yang setajam silet!"
"Makanya jadi orang itu jangan emosian. Mau langsung hajar orang aja bawaannya!" omelku.
"Habisnya gemes aja Win ... Apa dia nggak ngerasa jika yang dia lakukan itu salah? Bukannya malu, malah dipamerin. Yang seperti itu harus dikasih pelajaran kan?"
"Tapi nggak harus dengan cara di jambak atau di cakar-cakar juga kali?!"
Dan kami berdua menatap kepergian Eva dengan tawa.
...****************...
Adji POV
__ADS_1
Tinggal di rumah kontrakan tidak lantas membuat rumah tanggaku tentram. Ibu benar, ternyata memang Eva tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Setiap hari sepulang kerja aku masih harus beres-beres rumah. Aku masih harus mencuci pakaian yang besok akan aku pakai ke kantor. Dia juga malas masak sehingga seringkali aku harus mencari makan di luar.
Setiap kali aku tegur pasti dia menggunakan kehamilannya sebagai alasan. Dia tidak ingin kelelahan, takut kandungannya kenapa-kenapa.
Hari ini aku tidak berangkat bekerja karena sedang tidak enak badan. Aku menghabiskan waktu untuk beristirahat. Sore harinya aku bangun dan hendak makan tetapi tidak ada makanan di atas meja. Itu sudah hal yang biasa. Eva juga tidak ada di rumah.
Aku memutuskan untuk membeli makanan di luar. Saat aku membuka dompet untuk membayar makananku, aku baru sadar jika uangku berkurang cukup banyak.
Aku masih ingat berapa jumlah terakhir kali aku menarik uang di mesin ATM dan langsung ku masukkan semuanya ke dalam dompet. Aku memang terbiasa membawa uang cash karena dulu ATM dan kartu kreditku aku berikan kepada Winda. Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat kesal.
Sampai di rumah aku menemukan Eva sudah pulang. Dan juga membawa beberapa kantung belanjaan, sepertinya dia habis membeli pakaian.
Aku tarik tangannya dengan kasar.
"Kamu mengambil uang di dompetku?" tanyaku tidak sabar. Sebenarnya aku bisa bertanya baik-baik tetapi aku tidak bisa menahan diriku. Mataku menatapnya tajam.
"Eh ... Itu Mas ... Aku membeli baju lagi. Baju-baju yang kamu belikan sudah tidak muat."
"Dengan mengambil uang tanpa ijin? Kamu mencuri uangku hah ...?!"
"Aku tidak mencuri Mas ... Aku kan istrimu, uangmu adalah uangku juga ... "
"Aku sudah memberimu cukup uang. Jangan pernah mengambil lagi tanpa ijin dariku!!!" bentakku.
"Aku berhak atas uangmu, dulu saja Winda kamu beri kartu kredit. Kenapa aku mengambil uangmu sedikit saja kamu sudah marah begini? Dulu dia istrimu, sekarang aku istrimu, apa bedanya?!"
"Plakkk ...!!!" Reflek tanganku mendarat di pipinya. Entah kenapa aku tidak terima Eva menyamakan dirinya dengan Winda.
Eva tampak meringis kesakitan. Ini adalah pertama kalinya aku menampar seorang perempuan. Tetapi aku tidak peduli dan aku juga tidak merasa menyesal. Aku sudah cukup sabar menghadapi dia selama ini.
"Dulu aku menikah dengan Winda karena aku mencintai dia. Sedangkan sekarang, aku menikah dengan kamu cuma karena bayi di dalam perutmu! Jadi jangan samakan kamu dengan Winda! Kamu jauh dibawahnya!" Aku mencengkeram wajah Eva. Dia tampak sangat ketakutan.
"Winda melayaniku dengan baik. Dia memasak, mencuci, menyiapkan segala keperluanku tanpa aku minta! Sedangkan kamu? Kamu selalu menjadikan kehamilanmu sebagai alasan agar kamu bisa bermalas-malasan!"
__ADS_1
"Kamu kejam Mas ... "
"Jangan katakan aku kejam! Kamu yang sudah keterlaluan! Aku sudah cukup sabar menghadapi kamu tetapi semakin hari kamu semakin tidak tahu diri!"