
Aku, Mas Adji dan Keisha sudah sampai di depan rumah mertuaku. Kami hanya berdiri mematung dan sesekali aku dan Mas Adji saling pandang.
"Apa kamu memanggil mereka semua Mas?" tanyaku sambil terus menatap ke depan.
Sebelumnya Mas Adji tidak menyebutkan jika sedang ada acara di rumah ibunya. Setahuku dia memang ingin mengumpulkan keluarganya di sini untuk mengakui semua kesalahannya. Tetapi hanya keluarga inti, tidak sebanyak ini.
"Nggak Win, aku bahkan belum memberitahu siapapun," jawab Mas Adji tak kalah herannya.
Kami bertiga masih berdiri di tempat kami dan hanya melihat dari kejauhan.
"Sedang ada pesta di dalam. Suaranya terdengar sangat meriah dari sini."
"Sepertinya acara ulang tahun Ma, itu ada balon-balon," tunjuk Keisha.
"Oh ... iya Kei ... " Aku baru menyadari keberadaan balon-balon itu karena sejak tadi fokus melihat kendaraan yang terparkir hampir memenuhi halaman.
"Gimana Mas? Mau masuk? Itu ada mobilnya Mas Arya, berarti dia juga ada di sini." Aku menunjuk mobil hitam yang aku yakini milik Mas Arya. Jika mobilnya ada di sini pasti empunya mobil juga ada pikirku.
Mas Adji sepertinya terlihat ragu untuk masuk. Dia hanya diam dan terlihat menerka-nerka sedang ada acara apa di dalam rumah ibunya.
"Apa mungkin ulang tahunnya Vino? Yuk kita masuk saja," sahut Mas Adji kemudian.
Dan kami bertiga pun akhirnya melangkahkan kaki memasuki rumah. Sampai di dalam aku benar-benar tercengang.
Memang benar sedang berlangsung pesta ulang tahun di dalam. Dan aku sampai terheran-heran melihat betapa mewahnya pesta ini, pesta ulang tahun Vino. Untuk ukuran kami yang tinggal di kampung, acara ulang tahun ini sangat mewah.
Bagaimana bisa mereka mengadakan pesta semewah ini? Setahuku suami Maya seorang pengangguran. Lalu darimana mereka mendapatkan uang untuk membuat acara semeriah ini? Pikiran julidku mulai beraksi.
Sepertinya belum ada yang menyadari kehadiran kami bertiga karena semua orang sedang fokus menyaksikan pertunjukan sulap.
Aku mengabsen satu persatu wajah-wajah yang datang ke acara ini. Hampir semua keluarga besar Mas Adji hadir di sini, sepupu, keponakan bahkan Om dan tante Mas Adji semuanya hadir. Jujur aku terkejut. Kalau mereka yang keluarga jauh saja diundang, kenapa kami tidak? Kami sama sekali tidak diberitahu soal acara ini.
Mas Arya langsung menghampiri begitu melihat kami. Dan tiba-tiba semua mata tertuju pada kami. Entah karena kami datang terakhir, atau karena kami tidak membawa kado, atau mungkin karena penampilan kami yang terlihat sangat biasa, aku tidak tahu. Yang jelas semua mata sedang memperhatikan kami.
"Adji ... Kamu sudah sembuh?" sambut Mas Arya.
"Seperti yang kamu lihat Mas," jawab Mas Adji tanpa memperhatikan Mas Arya. Matanya terus menatap ibu dan Maya secara bergantian meski mereka berdiri agak jauh dari tempat kami.
__ADS_1
"Keisha ... Sini ... " Maya melambaikan tangan kepada Keisha menyuruhnya mendekat, tapi aku menahannya. Akhirnya Maya pun ikut menghampiri kami tetapi tidak dengan ibu mertuaku. Dia tetap mendampingi cucu tercintanya.
"Mas Adji ... Mbak Winda ... " Maya bersikap sok ramah kepada kami.
"Kei ... Kamu mau foto sama badut nggak? Itu di sana ... " Maya menunjukkan badut yang sedang memainkan sulapnya.
"Kita pulang aja Win, lain kali kita kesini lagi."
Mas Adji meraih tangan Keisha dan hendak mengajaknya keluar.
"Tapi Keisha mau disini Pa ... Keisha mau lihat sulap."
Keisha merengek tidak mau diajak pulang. Tentu saja, anak seusianya senang sekali melihat balon warna-warni dan juga pertunjukan badut dalam sebuah pesta ulang tahun.
"Kei, kita kan nggak diundang Kei, lagian kita juga nggak bawa kado. Malu dong sama yang lain," bisikku kepada Keisha. Suasana menjadi kikuk.
"Tapi Ma ... "
"Kita pulang Kei!!!" Suara Mas Adji dengan nada datar. Itu artinya dia sedang menahan emosi.
"Kami nggak sengaja datang kesini Mas. Kami juga nggak tahu kalau sedang ada pesta ulang tahun di sini. Nggak enak, udah datangnya nggak diundang, nggak bawa kado pula." Aku bermaksud menyentil Maya dengan kata-kataku.
"Bukannya sudah diumumkan di grup keluarga kita ya May? Acara ulang tahun ini?" Mas Arya menoleh ke arah Maya.
"Grup? Grup apa Mas?" tanya tidak mengerti maksud perkataan Mas Arya.
"Grup keluarga kita Win, anak-anak ibu dan ... " Mas Arya menatap ke arah Maya dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dan Maya terlihat kebingungan.
"Ayo kita pulang." Mas Adji menarik tanganku dan tangan Keisha membawa kami keluar dari rumah ini.
Sampai di rumah aku menyuruh Keisha untuk ke kamar lebih dulu karena aku ingin bicara dengan Mas Adji. Setelah itu aku langsung memberondong Mas Adji dengan pertanyaan mengenai grup chat yang tadi disebutkan Mas Arya.
"Kamu tahu yang dimaksud grup keluarga oleh Mas Arya tadi Mas?" Mas Adji hanya diam. Aku bahkan ragu apa dia mendengarkan aku.
"Grup apa itu? Kenapa aku tidak tahu? Apa aku melewatkan sesuatu?"
Aku tahu Mas Adji sendiri sedang merasakan kekecewaan. Dia terlihat seperti orang linglung tetapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menanyakan hal itu.
__ADS_1
Mas Adji terlihat bengong mendengar pertanyaanku.
"Boleh aku lihat handphone mu?" Aku bertanya lagi dengan tidak sabar.
Lalu tanpa menjawab, Mas Adji memberikan ponselnya kepadaku dengan pasrah.
Langsung aku buka aplikasi berwarna hijau dan benar ada grup chat keluarga Mas Adji. Semua anggota keluarga Mas Adji ada di grup tersebut kecuali aku.
"Sehina itukah aku di mata keluargamu Mas? Apa aku tidak dianggap bagian dari keluarga kalian?!"
"Kamu bicara apa sih Win?" Mas Adji berlalu pergi meninggalkan aku. Seperti biasa, dia selalu menghindar setiap kali ada masalah.
...****************...
Adji POV
Rupanya keputusanku mengajak Winda ke rumah ibu tidak tepat, entah sudah yang ke berapa kalinya. Setiap pergi ke rumah ibu pasti ada saja masalah.
Aku benar-benar tidak tahu jika sedang ada acara pesta ulang tahun Vino di rumah ibu.
Aku sendiri kaget ketika tiba di sana. Bagaimana mereka bisa setega itu kepadaku? Mereka tidak pernah mengunjungi aku atau sekedar menanyakan kabarku. Dan sekarang mereka sedang mengadakan pesta juga tanpa aku dan anak istriku.
Pesta itu, pasti ibu yang membiayai, tidak mungkin suaminya Maya. Sejak dulu dia hanya benalu di rumah ibu. Kenapa ibu mau menghamburkan uangnya untuk acara seperti ini tetapi tidak mau membantu biaya pengobatanku?
Aku sangat kecewa dengan mereka tetapi aku tidak ingin menunjukkan kekecewaanku di depan Winda. Mereka sudah berhasil membuatku merasa malu di depan Winda. Masa keluargaku sendiri tega membuang aku?
Pikiran dan perasaanku sudah tidak menentu karena kejadian tadi. Aku sampai tidak memperhatikan Winda bicara apa.
"Boleh aku lihat handphone mu?" tiba-tiba saja Winda ingin meminjam handphoneku dengan wajah gusar.
Aku tidak begitu peduli apa yang dia inginkan dengan ponselku, terserah. Pikiranku sedang kacau.
"Sehina itukah aku di mata keluargamu Mas? Apa aku tidak dianggap bagian dari keluarga kalian?!" Winda marah setelah membuka ponselku.
"Kamu bicara apa sih Win?" Aku segera pergi sebelum terpancing emosi.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mungkin Winda marah karena tidak diundang ke acara ulang tahun anaknya Maya, tetapi aku sendiri juga sedang tidak baik-baik saja. Aku perlu menenangkan diriku.
__ADS_1