Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 82


__ADS_3

Adji POV


Baru sekarang aku menyadari hidupku benar-benar berantakan tanpa Winda. Aku kembali menyentuh alkohol karena hanya itulah pelarianku dari masalah yang aku hadapi. Dan karena itu pula kadar asam uratku kembali tinggi. Aku mulai merasakan nyeri di pergelangan kakiku dan membuatku khawatir. Segera aku periksakan ke dokter karena ada kemungkinan penyakitku kambuh.


Aku takut sekali jika sampai penyakitku kambuh lagi. Aku sudah tahu rasanya tidak bisa apa-apa, menjadi manusia tidak berguna selama berbulan-bulan. Siapa yang akan mengurus ku nanti? Dulu, meskipun keluargaku mengabaikan aku, aku masih punya Winda. Tapi sekarang?


Aku harus berubah, aku harus bisa menjadi lebih baik. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Winda dan anak-anakku. Walaupun mungkin Winda tidak bisa menerimaku lagi, setidaknya hubunganku dan dia baik-baik saja. Demi anak-anakku juga.


Aku berniat untuk menemui Winda, tidak hanya mengirim pesan atau lewat telepon. Aku ingin bertemu dengannya secara langsung untuk minta maaf sekaligus berpamitan. Aku sangat bersyukur jika dia mau memaafkan aku dan akan sangat bahagia jika setelah itu mau kembali padaku.


Jangan berharap terlalu banyak, dia mau memaafkan kamu saja sudah sukur-sukur! Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri.


Rasanya aku seperti orang yang tidak tahu malu, berkali-kali membuat kesalahan dan berkali-kali pula mengemis memohon untuk dimaafkan.


Mungkin laki-laki lain akan segera pergi dan mencari perempuan lain ketika dia sudah berkali-kali ditolak, tapi aku tetap tidak bisa. Aku hanya ingin Winda, Windaku.


Aku berdiri di depan ruko yang aku ketahui adalah milik Winda. Aku kagum melihat ruko itu, lebih kagum lagi mengingat siapa pemiliknya. Winda benar-benar luar biasa. Dia mempunyai semua ini dengan usahanya sendiri. Kesuksesan miliknya sendiri. Aku jadi semakin malu jika tetap meminta dia untuk kembali kepadaku.


Aku terus memandangi ruko itu dan tidak tahu harus bagaimana. Sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya, jadi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Terlebih lagi rasa malu atas apa yang aku lalui setelah berpisah dengannya. Itu membuatku semakin merasa tidak ada artinya di depan Winda.


Aku langkahkan kaki memasuki ruko itu. Aku bingung mau mencari Winda dimana. Ruko ini cukup luas jika dibandingkan dengan kios Winda dulu. Aku tidak terlihat seperti pelanggan yang ingin membeli baju, aku lebih seperti orang tersesat di sini.


Aku menghampiri seseorang yang aku pastikan salah satu pegawai Winda, melihat dari seragamnya.


"Permisi ... "


"Ada apa Pak, bisa dibantu?" jawab pegawai itu ramah.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengan Winda. Bisa tolong panggilkan atau dimana aku bisa menemui nya?"


"Maaf ada perlu apa Pak? Atau dari konveksi mana?" Pegawai itu tidak mengetahui siapa aku.


"Tolong panggilkan saja, yang jelas ini bukan urusan pekerjaan."


Pegawai itu mengangguk dan langsung menghilang dari hadapanku. Tidak berapa lama pegawai itu sudah kembali.


"Masuk saja Pak, ditunggu di belakang sama Mbak Winda," ucap pegawai itu sambil menunjuk arah belakang.


Aku mengangguk dan berjalan mengikuti petunjuk pegawai itu. Aku melihat Winda duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Dia terlihat sangat cantik dan anggun. Perasaanku campur aduk tidak bisa aku ungkapkan begitu melihat Winda. Terpesona, kagum, rindu, sesal, malu dan hina bercampur jadi satu.


Untuk beberapa saat aku hanya diam dan terus memandanginya. Aku puaskan kesempatan ini untuk memandang wajahnya karena besok aku sudah tidak akan bertemu dengannya lagi.


"Win ... "


Winda seperti terkejut mendengar suaraku. Perlahan dia mengangkat wajahnya dan melihatku.


"Apa kabar?" Aku sangat gugup sampai hanya itu kalimat yang bisa keluar dari mulutku. Winda terus memandangiku, aku tahu dia prihatin melihat penampilanku saat ini.


Winda mempersilahkan aku duduk. Aku pun duduk di sebelahnya tetapi aku tidak berani untuk duduk terlalu dekat. Aku merasa tidak pantas bahkan hanya duduk berdekatan dengannya.


Aku lebih banyak diam. Keberanianku lenyap dan aku terus memandangi Winda. Aku benar-benar terpesona dengan penampilan Winda sekarang, aku jatuh cinta kepada Winda untuk yang ke jutaan kalinya. Dia terlihat cantik dan segar. Dia juga terlihat lebih santai, tidak ketus juga tidak menunjukkan kemarahan meski sudah lama aku tidak menemui anak-anak.


"Aku ... Mungkin kamu anggap aku basi, tapi untuk kesekian kalinya aku ingin minta maaf kepadamu." Akhirnya aku bisa mengutarakan maksud kedatanganku setelah tadi bicara berputar-putar.


Aku juga berpamitan dengannya dan aku meminta dia untuk mengatakan kepala anak-anak jika aku dipindahtugaskan keluar kota. Jadi aku tidak bisa menemui anak-anak nanti.

__ADS_1


"Katakan saja sendiri pada anak-anak Mas. Kamu boleh menemui mereka." Aku tertegun, tidak percaya mendengar jawaban Winda.


Winda pergi untuk membawa Keisha dan Kirana menemuiku. Rasanya aku tidak bisa berlama-lama lagi di sini. Berbicara dengan Winda saja sudah membuat tenggorokanku terasa tercekat dan lidahku kelu. Bagaimana aku bisa menghadapi anak-anak? Sulit sekali untuk terus bicara saat mataku terasa panas.


Perlahan seorang gadis kecil turun menapaki anak tangga. Aku terus melihatnya. Keisha tidak menyadari keberadaanku, sampai Winda menunjuk ke arahku. Keisha hanya melotot, mungkin dia tidak mengenali aku karena penampilanku.


"Papa ...!!!!" Keisha langsung berlari memelukku begitu menyadari ini aku, papanya. Lama sekali dia memelukku, sepertinya dia sangat merindukan aku.


"Anak Papa sudah besar, sekarang berat banget," ucapku untuk menyembunyikan mataku yang mulai berair.


"Papa kenapa nggak pernah menemui Keisha dan adek sih? Apa papa nggak kangen sama kita?" Pertanyaan Keisha membuat hatiku seperti diiris-iris. Aku sudah tidak kuasa untuk menahan air mataku.


Aku semakin tidak bisa berkata-kata saat memeluk tubuh Kirana. Aku sangat merasa bersalah dengan anakku yang satu ini. Dia sama sekali tidak merasakan kasih sayang dariku.


"Aku tidak bisa di sini lebih lama lagi Win, aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup menanggung rasa bersalah ini."


Semakin lama pertanyaan Keisha membuatku semakin merasa sedih. Wajah Kirana juga membuatku semakin digerogoti rasa bersalah. Apa yang sudah aku lakukan untuknya?


Aku sudah tidak kuat lagi. Aku berpamitan pada Winda. Aku ingin segera pergi dari sini.


"Papa ... " teriak Keisha. Hatiku semakin pilu mendengarnya. Rasanya aku tidak kuat untuk melangkahkan kakiku. Berat sekali meninggalkan malaikat- malaikatku ini.


Winda sampai harus menenangkan Keisha karena dia terus menangis. Aku benar-benar tidak tega melihatnya, ingin sekali aku memeluknya lagi tetapi itu membuatku semakin berat untuk meninggalkannya.


"Win ... Jika nanti aku kembali dan menjadi seseorang yang lebih baik, maukah kamu menerimaku lagi?" tanyaku setelah Keisha dan Kirana dibawa pergi oleh pengasuh.


Winda tidak menjawab dan itu membuatku yakin, masih ada tempat untukku di hatinya.

__ADS_1


Keluar dari ruko aku merasa menjadi seseorang yang baru. Aku seperti memiliki tujuan hidup lagi.


Aku harus menjadi orang yang lebih baik. Aku janji anak-anakku, Papa akan kembali bersama kalian!


__ADS_2