Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 26


__ADS_3

Aku kembali bekerja seperti biasa. Ku sibukkan diriku agar pikiranku tidak terus-menerus teringat Likha dan Eva. Tapi memang sepertinya nasib baik belum berpihak padaku. Aku melihat dua orang itu berada di tempat parkir di depan toko tempatku bekerja.


Mereka berdua sedang cekikikan sambil berjalan memasuki toko. Entah ini hanya pikiranku saja, tapi aku yakin mereka berdua datang ke toko ini bukan untuk berbelanja.


Aku melihat sekelilingku mungkin ada celah untuk sembunyi dan menghindar dari mereka. Tetapi setelah aku pikir-pikir kenapa aku harus menghindari mereka berdua? Hadapi saja, hinaan apa lagi yang akan mereka lontarkan untukku, aku siap.


Aku melanjutkan pekerjaanku dan pura-pura tidak melihat Likha dan Eva memasuki toko. Padahal terlihat jelas dari tempatku sekarang karena bagian depan toko ini semuanya terbuat dari dinding kaca.


"Hai Jeng ... " Suara genit Eva menyapaku.


Aku menoleh ke arah Likha dan Eva berlagak tidak mengetahui kedatangan mereka berdua.


"Ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi juga tanpa senyum.


"Ini ... Aku kemari ngantar Jeng Likha. Kami ada perlu sama Jeng Winda," jawab Eva lagi. Sementara Likha tampak mengamati sekeliling toko.


"Kamu beneran kerja di sini Win?" tanya Likha dengan mata yang masih menyapu sekeliling.


Aku sengaja tidak menjawab pertanyaan Likha karena tahu dia hanya menyindirku.


"Ini, uang donasi dari teman-teman arisan tadi malam." Likha menyodorkan sebuah amplop kepadaku.


"Tadi malam kenapa buru-buru pulang sih? Aku kan jadi repot harus ngantar kesini!"


Aku hanya menatap amplop di tangan Likha, ragu untuk mengambilnya.


"Ambil saja nggak usah malu, aku tahu kamu membutuhkannya."


Aku tidak tahu dimana letak kesalahannya, aku memang membutuhkan uang, tetapi menurutku kata-kata Likha sedikit tidak enak untuk di dengar.


Haruskah dia berkata demikian? Kalaupun dia ingin memberikan uang kepadaku, dia bisa ke rumah dan memberikannya secara layak kepada aku dan Mas Adji tidak di tempat umum dan banyak orang seperti ini.


Tapi apalah aku yang sekarang menjadi tempat hinaan dan dianggap tidak punya harga diri. Mungkin karena sekarang aku miskin lalu mereka merasa berhak merendahkan aku.


"Udahlah Win, nggak usah gengsi! Nih ambil uangnya!" Sekali lagi Likha menyodorkan amplop itu. Nada bicaranya sombong seperti kami tidak pernah dekat sebelumnya.

__ADS_1


"Ayo diambil jeng, lumayan bisa untuk biaya pengobatan suami Jeng Winda."


Sungguh aku merasa harga diriku diinjak-injak oleh dua orang ini.


Kemudian Likha meraih tanganku dan memaksakan menaruh amplop itu di tanganku. Belum cukup sampai di situ, kemudian Likha menyuruh Eva untuk mengabadikan momen ini.


"Jeng Eva, tolong kami berdua di foto!" Likha tidak mau melepaskan tangannya dari tanganku. Jadi terlihat seakan-akan aku sedang bersalaman dengannya.


"Oh ... iya sebentar." Eva buru-buru mengeluarkan handphone dari dalam tasnya.


"Senyum Jeng ... Jeng Winda jangan kaku gitu."


Mereka benar-benar tidak menyadari jika perbuatan mereka sekarang ini membuatku tidak nyaman. Aku melihat beberapa pengunjung toko mulai memperhatikan kami.


"Sudah ... " ucap Eva setelah dia selesai mengabadikan kejadian ini. Dan aku hanya bisa menatap mereka berdua layaknya aku ini orang bodoh.


"Sekarang selfie jeng ... " perintah Likha kepada Eva.


"Jeng Eva ikut juga. Biar kelihatan kalau jeng Eva ikut ngantar uang ini. Semacam saksi gitu," lanjutnya.


"Itu untuk bukti kalau aku sudah menyerahkan uang donasi itu ke kamu. Nanti aku kirim fotonya di grup," ucap Likha setelah kami selesai berswafoto.


Dan aku tidak bisa lagi berkata-kata dengan ulah mereka berdua.


"Yuk Jeng Eva." Dan tanpa basa basi lagi, Likha langsung melenggang meninggalkan aku dan Eva.


"Dah ya Jeng Winda ... saya permisi dulu, masih ada acara sama jeng Likha."


Belum sempat aku menjawab, Eva juga sudah pergi. Aku bahkan tidak sempat berkata apapun kepada mereka berdua tadi.


Ku pandangi amplop di tanganku kemudian aku melihat sekelilingku untuk memastikan jika aku tidak sedang menjadi tontonan para pengunjung toko.


Lalu aku melihat ke arah Shanti yang aku yakin memperhatikan aku sejak tadi. Aku menunjuk pintu belakang sebagai tanda aku ingin istirahat sebentar, dan dia mengangguk menangkap maksudku.


Di ruang khusus karyawan aku kembali memandangi amplop yang tadi Likha berikan kepadaku. Dengan amplop ini mereka berhasil menginjak-injak harga diriku. Terus aku pandangi amplop itu hingga air mataku hampir meleleh.

__ADS_1


Kuatkan hatimu Win ... Mau menangisi apa lagi? Harga diri yang sudah tidak kamu miliki? Kuatkan hatimu Win!


Segera kumasukkan amplop itu ke dalam tas tanpa kubuka terlebih dahulu sebelum air mataku benar-benar menetes. Aku tidak ingin semakin sakit hati karena perlakuan Likha dan Eva tadi kepadaku.


Kembali ke dalam toko, Shanti langsung menghampiri aku.


"Mbak Winda nggak apa-apa?"


Aku mengangguk.


"Kalau mbak Winda nggak enak badan, Mbak Winda bisa istirahat dulu di belakang. Biar aku jaga sendiri nggak apa-apa."


Aku salut dengan Shanti, meski dia melihat dan mendengar semuanya, dia tidak lantas ingin tahu. Shanti justru memberiku ruang untuk sendiri.


"Nggak Kok Shan, aku nggak apa-apa. Nanti kalau aku ingin istirahat sesuatu aku akan ngomong sama kamu." Shanti mengangguk dan kembali ke meja kasir.


Bukankah lebih enak seperti ini? Dunia akan terasa damai jika dipenuhi dengan orang yang pengertian dan saling peduli, tanpa ingin mencampuri urusan orang lain.


Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Menata barang-barang yang baru datang dari supplier, membersihkan rak yang sudah terlihat berdebu juga memeriksa tanggal kadaluarsa di produk-produk makanan. Aku buat diriku sesibuk mungkin agar bisa melupakan apa yang Likha dan Eva lakukan kepadaku hingga tidak terasa sudah waktunya pulang.


"Sampai jumpa besok Mbak," ucap Shanti.


"Sampai jumpa besok Shanti," jawabku sambil tersenyum. "Terima kasih telah menjadi rekan kerja yang baik untukku," batinku. Lalu aku mengayuh sepedaku untuk pulang.


Sampai di rumah aku disambut oleh suami dan anakku dengan wajah sumringah. Mereka berdua sedang bekerjasama membereskan rumah yang membuatku tersenyum. Lalu Mas Adji menghampiriku, mengecup keningku kemudian memelukku.


Keisha melihat kami berdua sambil terbengong-bengong.


"Sudah lama banget Keisha nggak lihat papa dan mama pelukan kaya gini. Papa dan Mama sudah tidak marahan?"


Aku sedikit mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Keisha. Memang aku tidak pernah memberi tahu dia bagaimana hubunganku dan papanya selama ini. Kupikir dia tidak akan menyadarinya. Tetapi rupanya dia bisa merasakan dan mengartikan sendiri apa yang dilihatnya.


"Siapa yang marahan Kei? Papa dan Mama nggak pernah marahan kok." Mas Adji membela diri.


"Terserah papa aja deh." Lalu Keisha pun ikut memelukku.

__ADS_1


Dan ketika aku tengah menikmati momen yang sudah sangat lama sekali tidak aku rasakan ini, notifikasi pesan di ponselku terus berbunyi, seakan ada puluhan pesan masuk bersamaan.


__ADS_2