
Winda
Kenapa aku marah hanya karena tidak dimasukkan ke dalam grup keluarga Mas Adji. Bukankah selama ini mereka tidak menyukaiku? Jadi wajar jika aku tidak dianggap.
Win ... Orang kalau sedang di bawah memang seperti ini nasibnya. Tidak dianggap dan disepelekan. Dihina dan dipandang sebelah mata itu sudah biasa. Harusnya tidak kamu perlu tersinggung. Bukankah ini bukan yang pertama kali? Nggak usaha lebay! Dikit-dikit baper... dikit-dikit tersinggung!
Begitu kata hatiku. Berulang kali aku menguatkan diri sendiri, tidak mengambil hati atas apa yang mereka lakukan. Berusaha tegar atas perlakuan buruk orang-orang kepadaku hanya karena kondisiku sedang di bawah mereka.
Aku menghembuskan nafas untuk menetralisir emosi di dadaku. Tidak perlu sakit hati hanya karena tidak dimasukkan ke dalam grup keluarga dan tidak diundang ke acara ulang tahun anaknya Maya. Itu bukan sesuatu yang besar yang harus ditangisi.
Sekarang yang harus aku lakukan adalah bangkit.
Pagi harinya...
Kami sedang sarapan bertiga. Kebetulan hari ini aku masuk shift siang, jadi bisa sedikit santai.
"Win ... " Mas Adji mulai memanggil namaku, pertanda dia ingin membicarakan hal yang serius.
"Aku benar-benar tidak tahu jika kamu tidak dimasukkan ke dalam grup keluarga. Maya yang membuat grup itu beberapa waktu yang lalu." Kalimat Mas Adji terjeda.
"Aku tidak pernah membuka grup itu ... Dan soal acara ulang tahun aku juga tidak tahu .... "
"Sudah Mas ... Tidak usah dibicarakan lagi." Aku memotong Mas Adji sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
"Iya Pa ... Kita kok nggak diundang sih? Padahal Keisha mau lihat badut, papa malah ngajak pulang!"
Keisha memasang wajah cemberutnya. Aku ingat semalam dia merengek tidak mau diajak pulang karena ingin melihat badut. Dulu dia sering melihat badut di mall. Tapi sekarang, pergi ke mall hanyalah sebuah imajinasi.
"Besok kalau Mama ada uang, kita buat acara pas ulang tahun kamu Kei."
Kami memang belum pernah merayakan ulang tahun Keisha. Biasanya kami hanya tiup lilin kecil-kecilan dan makan-makan sekeluarga.
"Beneran Ma?" Aku mengangguk.
Sementara Mas Adji tidak bisa berkata-kata dan melanjutkan makan dalam diam. Bagaimanapun juga keluarganya sudah membuat kami kecewa.
...****************...
__ADS_1
Hari terasa cepat berlalu ketika kita sibuk. Aku tidak terlalu banyak berinteraksi dengan dunia luar dan lebih menyibukkan diri dengan jualan online.
Orderan pakaian pun semakin banyak baik grosir maupun eceran. Pundi-pundi rupiah juga semakin banyak terkumpul. Tetapi sampai saat ini aku belum ada niat untuk berhenti bekerja di toko meski jualan onlineku sudah menghasilkan cukup uang.
Gaji dari bekerja di toko aku gunakan untuk hidup sehari-hari. Kebetulan juga Mas Adji sudah sembuh total dan tidak perlu menjalani terapi, jadi masih ada sisa uang bulanan.
Sementara uang hasil jualan online aku tabung seluruhnya. Aku sudah melatih diriku untuk tidak membeli baju seperti dulu dan menggunakan uang seperlunya. Biar saja baju-bajuku yang sudah usang ini aku pakai terus, tidak masalah toh aku juga jarang keluar rumah. Yang jelas, prinsip hidup hemat masih aku terapkan meskipun aku sudah tidak begitu kekurangan uang.
Sekarang aku hanya ingin menabung agar bisa menyewa sebuah kios. Rencananya, aku akan menyetok barang dagangan sendiri dan tidak hanya menjualnya secara online tetapi offline juga. Aku ingin memiliki tokoku sendiri.
Aku sudah bilang ke ibuku kalau aku belum bisa membayar hutangku padanya. Aku akan menabung lebih dahulu karena aku butuh modal. Dan ibuku tidak mempermasalahkannya. Bahkan jika aku tidak membayar hutangku pun sebenarnya tidak masalah bagi ibu, tetapi aku tidak bisa. Aku akan membayarnya nanti, ketika aku sudah berhasil memiliki kios. Doakan anakmu Bu!
"Win ... Besok pagi aku sudah mulai kerja." Mas Adji berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah. Dia baru saja pulang dari wawancara kerja.
"Dimana Mas?" tanyaku antusias.
"Di perusahaan X," jawabnya lagi dengan mata berbinar.
Dan entah reflek atau bagaimana, kami pun berpelukan dan sama-sama tertawa bahagia. Akhirnya hal baik datang kepada kami meskipun perlahan.
"Tapi Win ... Aku sudah tidak punya motor jadi mungkin aku akan pinjam motormu. Atau kita bisa berangkat bareng saja?" tanyanya setelah pelukan kami terlepas.
"Kamu pakai aja motorku Mas, aku bisa naik sepeda. Lagian sekarang aku sudah terbiasa naik sepeda."
Mas Adji terlihat merenung.
"Kamu mikirin apa lagi Mas?"
"Aku nggak punya uang ... Nanti bensinnya gimana? Atau kamu yang bawa motor saja biar aku yang naik sepeda?"
"Kamu pakai saja motorku, tempat kerjamu kan jauh. Nggak usah mikirin uang bensin."
"Kamu nggak apa-apa Win?"
"Nggak apa-apa Mas." Aku mengangguk meyakinkan Mas Adji.
"Makasih ya win."
__ADS_1
Mas Adji kembali memelukku, dan ini terasa sangat tulus. Sejenak kami larut dalam suasana bahagia. Ini ... ini terasa seperti hujan di musim kemarau. Ah ... Aku mulai lebay karena suasana bahagia ini.
"Win ... "
"Apalagi Mas?"
"Boleh aku meminta satu hal lagi?"
"Apa itu?"
"Maukah kamu kembali tidur di kamar kita? Aku kangen sekali denganmu," bisik Mas Adji di telingaku.
Aku tahu maksudnya, dan langsung saja wajahku memerah. Tanpa berkata-kata apa-apa lagi, Mas Adji menarik tanganku dan membawaku ke kamar. Dengan malu-malu kucing aku pasrah mengikuti keinginan Mas Adji.
Pagi harinya aku terbangun tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ku tatap langit-langit kamar yang sudah lama sekali tidak aku tempati. Lalu aku menoleh ke samping dan melihat wajah Mas Adji yang tertidur pulas.
Aku ingat semalam kami sama-sama diburu nafsu yang sudah berbulan-bulan lamanya tertahan. Aku bahkan merasa diriku sangat agresif. Rasanya aku malu sendiri jika mengingat adegan semalam.
Ku punguti pakaian ku, dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku harus segera menyiapkan sarapan dan bekal untuk Mas Adji.
"Bangun Mas, hari ini kamu mulai bekerja."
Aku membangunkan Mas Adji setelah selesai mandi. Aku menggoyang-goyangkan lengannya tapi dia tidak bangun juga. Lalu ku buka selimutnya berharap dia segera bangun, tetapi aku tutup lagi karena dia juga tidur tanpa mengenakan apapun.
"Kamu mau lagi Win?" gumam Mas Adji yang ternyata sudah bangun.
"Tidak! Nanti kamu bisa terlambat di hari pertamamu bekerja," jawabku tegas.
"Tapi mungkin nanti malam aku ingin lagi," ucapku menggoda.
Seringai nakal muncul di wajah Mas Adji mendengar ucapanku.
"Bener lho, nanti malam?!"
Aku mengangguk.
"Tapi sekarang kamu harus bangun dan persiapkan sendiri apa yang kamu perlukan, karena aku mau menyiapkan sarapan!"
__ADS_1
Aku ingat pernah memasak sambil berlinang air mata. Tapi sekarang, akhirnya aku memasak dengan perasaan yang sangat bahagia. Seperti pengantin baru yang baru saja melangsungkan malam pertama.