Terpaksa Bertahan

Terpaksa Bertahan
Bab 56


__ADS_3

Tidak terasa si kecil sudah berusia hampir lima bulan. Selama itu dia baru bertemu Papanya tidak lebih dari lima kali. Entah ini salahku karena dulu tidak mengijinkan Mas Adji menemui anak-anak. Atau mungkin Mas Adji yang tidak berniat untuk menemui mereka. Atau mungkin rumah tangganya sekarang lebih asyik dibandingkan dulu hingga dia lupa dengan anak-anaknya.


Dia juga sudah tidak mengirimkan uang bulanan untuk anak-anak lagi. Bukan masalah bagiku, aku mampu membiayai kedua anakku dengan uangku sendiri. Hanya tidak etis saja jika Mas Adji langsung menghentikan jatah untuk anak-anak. Tetapi aku tidak akan meributkan hal itu. Lebih baik aku menjalani hidupku sekarang.


"Kita langsung berangkat?" tanya Likha yang sudah berdiri di sampingku. Aku mengangguk.


Aku sudah janjian dengan Likha untuk pergi ke salon bersama. Sudah waktunya aku kembali merawat diriku.


"Kita mau kemana?" tanya Likha sambil memperhatikan aku mengemudi mobil.


"Enaknya kemana? Aku ingin spa, massage sambil menghirup lilin aromaterapi terapi mungkin bisa membuatku rileks."


"Terserah kamu deh ... Aku ngikut Bu Bos aja," jawab Likha disertai gelak.


"Bos apaan sih ... "


Hening sejenak.


"Nggak nyangka ya Win? Badai dalam hidupmu bisa membawamu sejauh ini. Kamu menjadi pengusaha wanita yang sukses. Bisa buka kios pakaian, bahkansebentar lagi mau beli ruko."


Aku terdiam mendengar kalimat Likha. Aku sendiri tidak pernah membayangkan diriku akan seperti sekarang ini.


"Mobil mah sekarang banyak. Belum bisa disebut orang sukses kalau patokannya cuma bisa beli mobil."


"Bagiku kamu tetap orang tersukses di desa kita."


Aku tertawa mendengar kata-kata Likha.


"Kenapa tertawa ... ? Benar kan ... ? Coba lihat ... Ada nggak yang bisa beli mobil sendiri tanpa embel-embel jual warisan? Nggak ada Win, satu kecamatan juga nggak ada! Kamu satu-satunya perempuan yang bisa beli mobil dari hasil keringat sendiri."


"Sudah ... Sudah ... makin ngaco aja."


"Apa kamu sudah kepikiran untuk mencari pasangan lagi?"


Aku kembali diam. Tadinya aku berpikir untuk tidak akan mencari pasangan lagi. Tetap melihat Mas Adji tampaknya sudah melupakan kami, rasanya aku ingin menjawab iya. Aku juga berhak bahagia. Aku juga ingin segera move on tetapi bayang-bayang pengkhianatan Mas Adji terus menghantuiku.


"Sebenarnya aku ingin, tapi aku takut."


"Takut apa?"


"Takut pasanganku nanti melakukan hal yang sama seperti yang Mas Adji lakukan."


Likha menghembuskan nafas perlahan.


"Apa kriteria laki-laki yang tidak mungkin selingkuh? Kamu kenal Mas Adji sejak kami masih pacaran. Semua yang baik-baik ada padanya. Aku seperti sudah menemukan sosok laki-laki yang sempurna. Kamu bahkan sampai iri padaku."


"Tetapi kamu tahu sendiri akhirnya. Jadi ... jika nanti aku mencari pasangan, aku harus mencari yang bagaimana? Yang seperti apa?"


Giliran Likha yang diam.

__ADS_1


"Kamu bagaimana? Masih akan tetap bertahan?"


"Aku akan terus bertahan sampai suamiku menyerah," jawab Likha mantab.


"Gila kamu."


"Kalau diibaratkan mungkin rumah tanggaku sekarang hanyalah status."


"Ya ... Aku mengerti itu. Aku juga pernah merasakannya."


Dan kami terus mengobrol, membicarakan sesuatu yang tidak pernah kami duga akan terjadi di hidup kami, sampai tidak terasa sudah sampai di tempat tujuan kami.


"Pak Indra?" Aku mendengar Likha menyapa seseorang.


"Hei ... Likha. Kamu di sini juga. Sama siapa?"


"Iya Pak. Itu sama Winda."


"Winda ...?"


Sebenarnya aku sudah pura-pura tidak dengar percakapan mereka tetapi Likha menyebut namaku seolah orang itu mengenalku.


"Win ... Ini ada Pak Indra. Sini ... " Likha menarik tanganku mendekat ke orang yang dia sebut Pak Indra. Aku sendiri tidak begitu ingat siapa Pak Indra ini.


"Pak Indra masih ingat sama Winda kan?" ucap Likha setelah aku berhadapan dengan orang yang dia sebut Pak Indra.


Pak Indra menatapku lalu senyumnya merekah setelah itu.


Aku menatap dalam lelaki di depanku sambil mengingat-ingat siapa dia. Karena setelah bersama Mas Adji aku sudah tidak kenal laki-laki lain lagi.


Oh aku ingat ... Dia adalah supervisor ku ketika aku masih menjadi SPG dulu.


"Pak Indra?"


Dia mengangguk kemudian kami bersalaman.


"Apa kabar Pak?" tanyaku sudah tanpa malu lagi.


"Aku baik. Kamu bagaimana? Kamu tidak berubah Win," ucap Pak Indra sambil terus menatapku. Entah kenapa aku merasa dia sedang mengagumiku.


"Aku baik Pak."


"Sekarang sibuk apa?"


"Sekarang di rumah terus, jadi Ibu rumah tangga,"


"Bohong Pak, Winda udah jadi pengusaha sukses," sahut Likha.


"Sayang ... " Tiba-tiba seorang perempuan muncul dari dalam salon dan langsung meraih tangan Pak Indra.

__ADS_1


"Yuk ... Udah selesai," ucap perempuan itu tanpa mau menyapa ataupun menatap aku dan Likha.


"Saya duluan ya ... Likha besok kita ketemu di kantor kan?"


Likha hanya mengacungkan dua jempolnya.


Lali Pak Indra pergi bersama perempuan itu. Aku dan Likha pun segera masuk ke dalam salon untuk melakukan perawatan.


"Kayanya Pak Indra masih suka sama kamu deh Win."


"Jangan sembarangan bicara, kamu lihat sendiri tadi dia punya pasangan."


"Tapi setahu aku setelah bercerai dia belum menikah lagi Win. Apa yang tadi itu pacarnya ya?"


"Dia juga bercerai?" Aku tidak percaya.


"Iya ... Istrinya selingkuh kalau tidak salah. Tapi mereka belum punya anak."


"Kok bisa ya? Pak Indra ganteng begitu masih diselingkuhi juga."


"Dia kan jarang di rumah Win. Sekarang dia menjabat sebagai regional manajer, kerjanya luar kota terus. Mungkin istrinya kesepian terus mencari hiburan, siapa tahu?"


"Jangan sok tahu kamu."


"Itu cuma analisaku." Likha terkekeh.


"Kalau nanti dia minta nomor teleponmu dikasih nggak?"


"Buat apa juga dia minta nomorku? Dia sudah punya pasangan. Kamu mikirnya kejauhan ... "


"Win ... Dia pernah naksir kamu dulu. Nggak ada yang nggak mungkin. Aku yakin dia masih ada perasaan sama kamu. Aku lihat tadi bagaimana dia menatapmu."


Pulang dari salon kami langsung kembali ke kios. Aku memutuskan untuk membawa makan siang ke kios karena aku sudah kelamaan meninggalkan kios.


Aku sedang menikmati makan siangku di kios, masih bersama Likha. Hari ini dia libur kerja dan ingin menghabiskan waktu bersamaku.


Lalu aku melihat seorang wanita hamil mendekati kami.


"Hai Jeng Likha, Jeng Winda ... Apa kabar?"


Aku menghentikan makanku. Nafsu makanku langsung hilang seketika melihat perempuan ini. Sedangkan Likha, dia langsung berdiri dan tangannya langsung maju ingin menjambak rambut Eva.


Aku menarik tangan Likha sebelum dia melakukan niatnya.


"Kok perempuan ini masih punya muka datang kemari?"


"Aku kemari untuk membeli baju hamil. Bukan untuk menemui kalian. Lihat kan perutku sudah membuncit?" Eva mengelus-elus perutnya di depanku dan Likha.


"Jeng Winda ... Ada baju yang cocok buatku tidak ya? Mas Adji lagi nggak bisa mengantarkan aku belanja. Terpaksa deh aku pergi sendirian."

__ADS_1


Sebenarnya aku kesal mendengar kata-kata Eva yang sepertinya ingin pamer kepadaku. Tapi ketika aku melihat Likha, dia terlihat jauh lebih kesal daripada aku.


__ADS_2