
Adrian yang tidak perna tenang di kantornya segera menyusul zee, ia serahkan semua pekerjaannya ke randy.
"Randy gue mau pergi nyusulin zee, ini semua gara-gara sonia gila itu."
"Eh eh... nggak boleh pekerjaan kamu banyak."
"Ayolah pernikahan gue dan zee kemarin di ambang kehancuran tapi kami baikkan, masa gue harus duda lagi kan nggak lucu."
"Ya udah sana, loe itu selalu saja menyerahkan semua pekerjaan loe ke gue."
"Terima kasih ya randy kamu memang asisten yang baik hati dan nggak ada sombong-sombongnya."
"Sialan pergi sana."
Adrian segera melajukan kenderaan mobilnya ke Alson Company dengan keadaan yang gusar sesekali menekan klakson mobilnya karna macet.
Ketika sampai di alson company adrian langsung turun tanpa menyapa sekelilingnya, kevin yang melihat adrian baru saja ingin menyapanya tetapi melihat adrian yang berjalan cepat mengurungkan niatnya menyapa adrian.
"Kenapa lagi anak itu, tadi zee datang dengan wajah badmood sekarang adrian yang seperti di kejar setan."
Adrian yang baru sampai di ruangan zee mengetuk pintunya tapi tak ada sahutan dari dalam, adrian yang ingin membuka pintunya tapi terkunci adrian panik lalu menggedor pintu ruangan zee.
Tok Tok..
"Zee kamu didalam, zee abang bisa jelaskan itu zee."
Ceklek..
Zee membuka pintu ruangannya tapi seperti sedang menahan sakit, lalu zee kembali ke kursinya dan merebahkan kepalanya ke meja sambil menekan perutnya. Adrian yang melihat zee meringis dan pucat menjadi khawatir.
"Loh sayang kamu kenapa, apa yang sakit muka kamu juga pucat."
"Hmmm... Perut zee sakit bang dengan pinggang zee.?
"Kita kerumah sakit aja yah, kamu pucat banget."
"nggak usah zee memang sering seperti ini."
"Apa jadi kamu sering sakit perut tapi kamu nggak perna bilang ke abang."
"Astaga zee apa susahnya ngomong sih, udah ayo ke Rumah sakit aja ya."
"nggak usah.
Zee langsung memeluk pinggang adrian dan menyandarkan kepalanya di perut adrian."
"Hei sayang .. kamu jangan buat abang takut, kita ke RS aja yah."
"Zee nggak apa-apa, zee udah titip di OB tadi untuk beli obatnya."
TOK Tok..
"Masuk."
"Permisi tuan ini pesanan nona zee tadi."
"Oh iya terima kasih ya, taruh aja di meja bu."
"Siniin obatnya bang, zee minum dulu."
"Ini obat kamu bilang, tapi ini kan pembalut."
"Isss... abang siniin plastiknya ini obatnya ini pembalut untuk zee soalnya zee datang bulan."
"Oh.. ya sudah kamu ganti dulu gih, tapi kok bukan abang yang kamu suru untuk beli pembalut kamukan bilang jika suami yang membelikan penbalut istrinya berarti dia suami yang romantis."
"Abang urus aja si sonia itu.
Dan zee langsung pergi begitu saja."
"Ehh... salah lagi gue..."
Saat zee keluar tapi masih merintih kesakitan, adrian langsung menuntunnya ke sofa untuk berbaring.
"Kamu baring disini saja ya."
"Abang ngapain ke sini?"
__ADS_1
"Abang nyusul istri abang yang marah."
"Siapa yang marah, zee cuman kecewa aja abang bentak zee cuman gara-gara si sonia. Dan lihat sendiri kan bagaimana dia semakin ngelunjak saat abang bentak zee padahal zee cuman mengancamnya biar nggak gangguin abang lagi."
"Ya abang kan takut jika kamu jadi pembunuh, abang nggak mau nanti di laporkan lalu abang sama anak-anak bagaimana."
"Beh... Fikiran abang jauh amat, zee nggak akan membunuhnya paling zee patahkan aja salah satu tangnnya. Siapa suru berani-berani meluk suami zee enak banget si pelakor itu."
"Iya iya abang yang salah, lain kali jangan langsung pergi seperti itu apa lagi kamu nyetir pasti kencang-kencang."
"Siapa bilang zee biasa aja kali.
Sambil menikmati adrian yang membelai rambutnya
"Sayang kamu udah makan?"
"Belum, zee nggak sempat makan tadi sih ingin makan dengan abang tapi abang menyambut zee dengan pelukkan tapi bukan zee yangbdi peluk tapi sonia."
"Apa jadi kamu belum makanbdari tadi, astaga sayang abang saja kaget tiba ia memeluk abang. sonia yang maksa abang dan abang baru saja mau mendorongnya tapi kamu keburu masuk tadi."
"Hmmm.. Zee akan pertimbakan jika abang buat salah tapi abang berhianat atau selingkuh maaf bang zee juga manusia biasa zee akan sangat kecewa cukup mantan suami zee yang berbuat seperti itu. Jika abang melakukan seperti itu zee akan pergi dengan anak-anak yang jauh membawa papi."
"Enak aja kamu mau bawa papi."
"Ya zee bawalah, zee yakin jika papi dan anak-anak pasti ikut dengan zee."
"Abang nggak ada niat untuk menduakan jika karna bukan sifah meninggal abang nggak akan menikah.
Tapi perkataan adrian membuat zee agak sedikit tersinggung, zee berfikir mungkin ia juga nggak akan mau menikahi adrian jika bukan papinya waktu itu tapi zee sekarang terlanjur mencintai suaminya.
Zee menutup matanya dan air matanya tiba meluncur, zee terlalu sensitif akhir-akhir ini mungkin karna zee sedang pms. Adrian yang sadar perkataannya salah baru saja ingin meminta maaf tapi zee sepertinya nggak ingin di ganggu.
Saat mereka pulang adrian yang menyetir terlihat gusar melihat zee hanya diam saja, jika adrian bertanya zee hanya menjawab nya dengan singkat.
Tiba dimansion zee segera turun begitu saja dan masuk mencari anak-anaknya, zee melihat niel yang bermain dengan arthur menghampirinya lalu memeluk mencium kening niel dan arthur.
"Mama kenapa, apa mama sakit?"
"Hmmm.. Perut mama sakit sperti biasa."
"Mau niel elus perut mama pijit pinggangnya aja."
"Oke mah, sini mama baring di sofa aja."
Adrian yang baru masuk melihat niel begitu menyayangi mamanya dengan lembut niel memijit pinggang zee dan arthur berbaring disebelah zee sambil memeluk zee.
"Maafkan abang sayang abang memang tidak pernah peka jika menyangkut istri yang sakit,gumannya.
"Zee apa masih sakit perut kamu, kita ke dokter aja atau abang panggil dokternya kemari."
"Eh.. nggak usahlah bang, zee paling sebentar lagi sembuh kok. Terima kasih ya sayang mama mau mandi dulu, kakak niel main sama adek dulu ya sebentar malam kita semua ke acara uncle kevin."
"Baik mah."
Zee ke kamarnya tapi sebelumnya zee pamit ke adrian, biar bagaimanapun kecewanya zee ia akan tetap menghargai suaminya.
"Dad apa mama banyak fikiran?"
"Kenapa memangnya nak?"
Adrian malah bertanya balik ke niel, niel menghela nafas panjang lalu menjelaskan jika zee datang bulan perutnya sakit sampai ke pinggang berarti ia banyak fikiran tapi jika ia datang bulan cuman sakit biasa yang di alami seperti wanita lain itu hal biasa untuk zee."
"Mama akan sakit perut jika datang bulan, tapi jika perutnya sudah sakit sampai ke pinggang berarti mama banyak fikiran."
"Apa sering seperti itu dulu?"
"Iya dad, tapi selama mama tinggal disini mama nggak pernah seprti itu tetapi sekarang baru kena."
"Oh.. ya udah daddy mau liat mama dulu ya."
"Dad... Tolong jangan buat mama sedih, niel kasian dengan mama. Dan mama tidak perna bahagia semenajak papa ray berubah."
"Iya sayang daddy sangat menyayangi mama dan kalian semua."
"Terima kasih dad."
Adrian yang melihat zee baru selesai mandi lalu menghampirinya, zee hanya biasa saja seperti tak pernah terjadi apa-apa.
"Sayang kamu betul nggak apa-apa.?"
__ADS_1
"Iya zee nggak apa-apa, zee memang seperti ini jika datang bulan. Abang mandi sana zee udah nyiapin baju untuk abang nggak enak jika kita terlambat ke pertunangan kak kevin."
"Sayang maafkan abang ya hari ini abang terlalu banyak menyakiti kamu.
Sambil memeluk zee dari belakang dan mencium cekuk leher zee."
"Iya zee nggak apa-apa, zee kan udah terbiasa diperlakukan seperti itu. Ya udah mandi gih."
"Hmmm.. ya udah abang mandi tetapi jika kamu sakit lagi kamu harus mau abang bawa ke dokter ya."
"Iya."
Adrian yang sedang mandi tapi memikirkan zee, apa iya terlalu kelewatan selama ini hingga zee sampai seperti itu.
Huff..
"Nanti aku tanya ke kevin aja lah."
Adrian keluar dan melihat zee yang begitu cantik menggunakan dress dengan lipstick yang merah bajunya.
Seperti itulah kira-kira zee..😚😚
"Sayang jika kamu pakai baju ini semua laki-laki akan melihat mu tanpa berkesip kamu ganti ya baju kamu."
Tanpa berkata apa-apa zee langsung pergi mengganti baju nya, adrian yang melihat zee tanpa protes sebenarnya merasa tidak enak tapi ia tidak ingin paha mulus zee di lihat dengan orang-orang.
Adrian menggelengkan kepalanya bisa-bisanya zee mempunyai baju seperti itu.
Adrian yang sebenarnya ingin protes tapi di urungkan ketika mendengar perkataan zee.
"Kalau abang juga nggak mau jika zee memakai baju ini, zee nggak usah pergi aja yah. Zee titip salam buat kak kevin dan kak alicee, zee sama anak-anak aja."
"Eh... nggak usah, kamu pakai yang itu aja. Ayo kita pergi sepertinya papi dan anak-anak sudah menunggu kita di bawa."
"Hmmm..
Zee yang mood nya naik turun, langsung turun menemui anak-anaknya."
"Astaga salah lagi, padahal kan aku nggak mau jika iya terlihat seksi dan cantik seperti itu."
Huff....
"Wow mama cantik banget kayak princess, nanti angel udah besar angel juga ingin memakai baju seperti itu."
"TIDAK BOLEH.."
"Loh kenapa dad, mommy aja bisa kok angel nggak bisa."
"Sudahlah ayo kita berangkat."
Zee yang menggandeng ardhan karena adrian meninggalkan zee begitu saja.
"Ayo pih, papi disana duduk aja yah nggak usah jalan-jalan nanti papi kecapean lagi."
"Iya nak."
Saat ini mereka udah tiba di tempat pertunangan kevin dan alicee, banyak tamu dan kolega ardhan dan adrian disana yang menyapanya.
"Hei, tuan ardhan anda sudah datang. Ini nona zee kan anak anda yang waktu anda perkenalkan."
"Ah.. Iya ini zee anak saya sekaligus menantu saya."
Zee hanya bisa tersenyum saja menyapa para kolega, adrian yang memeluk pinggang zee seakan tak ingin zee pergi.
"Dad abang duduk di sana aja yah sama adik-adik abang."
"Iya sayang, abang jika ingin apa-apa bilang aja ke mama ya nanti mama yang ambilkan abanng dan adik-adik kamu.
"Iya dad."
"Lihatlah sayang banyak laki-laki yang melihat bahu mulus mu, ingin rasanya abang cungkil aja matanya."
"Abang di samping zee aja jika abang nggak mau ada yang lihatin zee seperti itu. Lagian acaranya sudah mau mulai, kita juga engak boleh lama-lama kasian papi yang baru sembuh dan anak-anak juga pasti ngantuk jika kita lama-lama disini."
"Iya setelah pertunangannya selesai kita langsung pulang aja."
__ADS_1