Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Dipaksa untuk menikah


__ADS_3

Setelah beberapa jam berlalu dengan bekerja di depan komputer, membuat mata capek dan perut mulai terasa berontak ingin di isi.


Elena bersiap-siap untuk makan siang. tiba tiba teringat ada janji dengan Shaka.


''Sudah jam segini, kenapa dia belum mengabari ku?''


''Jangan-jangan dia lupa ada janji makan siang dengan pamannya hari ini.!''


Elena bicara dan bertanya pada diri sendiri. Tiba-tiba teleponnya berdering.


''Wah panjang umur, baru juga di ingat.'' ucap Elena senyum tipis.


''Halo.''


''Apa, baiklah aku akan segera ke sana.''


Elena terkejut Shaka dan Ken sudah sampai di depan kantor Elena sedari tadi. Dia berlari menuju ke lobi perusahaan.


''Maaf kalian lama menunggu.'' ucap Elena.


Tanpa jawaban dari Shaka dan Ken.


Menyelusuri jalanan yang macet tanpa adanya pembicaraan. Shaka tetap dengan muka datarnya, sedangkan Elena yang sibuk dengan ponselnya. Dia membaca berita-berita dari ponselnya. Ada yang lucu akan membuatnya tertawa, Berita aneh akan dia komentarin aneh.


Shaka mulai terganggu dengan tingkah Elena yang kadang tertawa, marah itu. Dia berpikir bahwa Elena adalah wanita aneh.


''Jangan berisik'' tegur nya.


''Maaf.'' Jawabnya.


Shaka yang menegur Elena berkali-kali untuk tidak berisik tetap tidak mendengarkan. Dia hanya menjawab maaf tapi tetap saja berisik. Shaka pun akhirnya semakin kesal.


''Aku sudah bilang jangan berisik. Sebaiknya kamu berhenti melihat ponselmu sampai kita sampai di rumah paman.''


Shaka mengambil ponsel Elena. Dia pun kesal dan mencoba mengambil ponselnya kembali.


''Balikin, aku mau baca itu. Baiklah aku janji tidak akan berisik.''


''Sebaiknya kamu duduk dengan tenang. Gak usah main ponsel.''


Perdebatan di belakang kemudi membuat Ken terganggu, dia mencoba melihat dari kaca spion. Dia berusaha menghentikan perdebatan di belakang dengan rem mendadak.


Shaka dan Elena yang tadi masih meributkan ponsel kita saling diam dan kesal pada Ken.


''Aw.. Kepalaku '' ucap Shaka dan Elena bersama.


''Ken hati-hati kau membuat kepalaku hampir pecah terantuk batu.'' ucap Shaka.


''Apa.. B batu..?'' Elena tidak melanjutkan karena Ken langsung memotong Elena bicara.


''Tuan, Nona kita sudah sampai.'' Ucap Ken

__ADS_1


Shaka bersiap-siap untuk keluar dari mobil.


''Ayo, sebaiknya pas ketemu paman kamu harus bisa jaga sikap.''


''Is dasar kepala batu.'' Ucap Elena kesal.


Mereka memasuki rumah paman dengan berjalan bersama. Shaka berjalan di depan di ikuti Elena dan Ken.


''Selamat datang tuan dan nona.'' Tuan Andy sudah menunggu di ruang makan.


''Paman, aku membawa Elena menemui paman.''


''Selamat siang paman, apa kabar. Saya Elena.'' Elena menyapa paman Shaka dengan ramah dan sopan.


''Saya baik, terima kasih sudah mau menemui paman.''


...***...


Makan siang bersama berjalan dengan lancar dan baik. Kini mereka sudah berada di ruang tamu keluarga untuk mengobrol sambil minum kopi.


''Shaka kapan kamu akan menikahi Elena.?''


ucapan paman membuat Elena batuk. Dia tidak menyangka pamannya akan menyuruh Shaka menikahinya.


''Biar bagaimana pun kamu harus menikahinya. Apa kamu hanya akan menjadikan dia kekasih.?''


''Anak-anak buat h seorang ibu, saya pikir Elena sangat cocok dengan itu.''


''Me..menikah.?'' ucap Elena terbata-bata sambil melirik ke arah Shaka.


''Iya menikah, apakah kamu mau menikah dengan nya.?''


''Paman.. kupikir kami masih butuh waktu untuk ke jenjang pernikahan.'' Shaka langsung menjawab sebelum Elena buka suara.


''Waktu apa lagi yang kamu butuhkan, kamu sudah pernah melakukan itu sekali. Saya rasa kamu hanya menunda - Nunda saja.''


''Elena bersedia kah kamu menikah dengan Shaka. Dia sudah pernah menikah sebelumnya. Sudah punya anak 3 dan sekarang sudah ada yang remaja. Apa kamu bersedia menerima Shaka.?''


''Paman apa yang di katakan Shaka benar, kami butuh waktu lebih untuk menuju ke pernikahan.'' ucap Elena.


''Di wawancara kalian dengan reporter, kalian mengatakan saling mencintai. Tapi kenapa sekarang kalian beralasan butuh waktu untuk menikah.?''


''Apa kalian hanya pura-pura.?''


Pertanyaan itu membuat mereka terkejut, Ken juga sangat terkejut. Karena kalau Paman mengetahui ini hanya pura-pura semua akan kacau, paman akan sangat marah besar.


Shaka sangat menghormati dan menyayangi pamannya. Setiap apa yang di katakan pamannya Shaka selalu menuruti, karena itu bentuk kepatuhan dia pada paman sebagai orang tuanya di dunia ini.


''Paman, bukan begitu. Kami serius tapi kami butuh waktu.'' ucap Shaka.


''Elena bersedia menikah denganmu, tapi kamu bilang butuh waktu. Sepertinya ini semua hanya alasan kamu Shaka.'' Ucap paman Shaka.

__ADS_1


''Paman tidak butuh alasan lagi dari kamu, sebelum acara ulang tahun perusahaan. Kamu dan Elena sudah harus menikah. Pada saat ulang tahun perusahaan Elena bisa mendampingiku sebagai istri.''


''Ta..tapi paman.!''


''Shaka, paman tidak mau mendengar lagi alasan kamu.''


''Kasian anak-anak, mau sampai di usia berapa mereka agar kamu mau menikah lagi.?''


''Kamu tidak pernah memperhatikan anak-anak, apa yang mereka butuhkan, apa yang sedang mereka lakukan. Semua itu kamu tidak tau. Paman tidak perduli sebelum Ulang tahun perusahaan kamu sudah harus menikah.''


Shaka dan Elena yang mendengar paman bicara panjang lebar hanya bisa mendengar saja. Shaka menyesal membawa Elena bertemu pamannya.


Jika tidak bertemu mungkin pembahasan menikah ini tidak ada. Paman berjanji hanya ingin bertemu sekarang paman malah memaksa untuk menikah.


Shaka bingung dan sedikit kesal karena pamannya tidak menepati janjinya hanya bertemu. Dia memutuskan untuk kembali ke kantor dari pada semakin lama , dia akan semakin di tekan oleh pamannya.


''Paman kami harus kembali ke kantor, ada pekerjaan yang harus dilakukan.''


''Baiklah, jangan melupakan apa yang telah paman minta.''


Shaka dan Ken berjalan keluar. beda dengan Elena yang pamit belakangan.


''Paman Elena pulang dulu.''


''Elena menikahlah dengan Shaka. Aku tidak tau kapan harus pergi dengan keadaan ku yang sekarang. Shaka tidak mengetahui kesehatan paman. Makanya dia punya banyak alasan untuk menolak menikah denganmu.''


''Paman harap kamu mau menikah dengan Shaka, aku mau melihat dia memiliki istri lagi setelah mantan istrinya meninggal. Aku ingin memastikan keadaan dia bersama istri barunya sebelum aku pergi.'' ucap paman Shaka.


Mendengar penjelasan paman Shaka membuat jantung Elena berdetak tak karuan, dia langsung mengingat ayahnya yang sedang sakit di rumah sakit.


Dia pun memutuskan untuk mengambil kesimpulan sendiri tanpa Shaka.


''Paman.. aku akan menikah dengannya. paman tidak perlu kwatir, paman jaga kesehatan dan jangan lupa minum vitamin ya. Elena pamit dulu.''


Mobil yang mereka tumpangi telah keluar dari gerbang rumah paman Shaka.


Shaka diam seribu bahasa,begitu juga dengan Elena. Dia masih kepikiran dengan kesehatan sang paman terutama ayahnya.


Dia benar-benar bingung apa yang harus di lakukan nya. Usia ayahnya yang bertahan hanya 6 bulan membuat dia semakin sedih. Belum lagi paman Shaka dia tidak tau berapa lama waktu yang tersisa.


Elena sadar semua orang di dunia ini akan kembali menghadap Tuhan pada waktunya. Tapi bagaimana jika permintaan terakhir saja kita tidak bisa mencapainya.


Hal itu membenar-benar membuat hatinya tidak tenang. Dia tidak rela jika ayahnya pergi tanpa melihat dia menikah.


Begitu pula dengan Shaka. Akan sangat menyedihkan jika kita menyesali semuanya di kemudian hari.


Otaknya yang sudah berputar memikirkan hal hal itu akhirnya memutuskan untuk bicara dengan Shaka.


...****************...


MASIH SETIA KAH BERSAMA AUTHOR DI KISAH SHAKA DAN ELENA.?

__ADS_1


MOHON SUPPORT NYA SELALU YA. TERIMA KASIH


__ADS_2