Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Elena Yang Aneh


__ADS_3

''Sedang apa kamu di sini.?''


''Apakah Shaka tau kalau kamu datang ke rumah ini.?''


''Siapa kamu sampai berani masuk ke rumah ini.?''


Nada suara Randy pun setengah berteriak, membuat Elena kaget dan istri Randy langsung menghampiri mereka.


''Sayang, kamu pulang. Apa ada yang ketinggalan.?'' Tanya istrinya takut.


''Kenapa wanita ini bisa masuk ke rumah ini.?''


''Kenapa kamu mengijinkan dia masuk ke rumah ini.?''


Istri Randy yang tidak bersalah pun kena imbas atas ulah Elena.


''Sayang, tadi dia ada urusan mendesak tentang anak-anak Shaka. Aku juga tidak menyangka dia akan datang ke sini.!''


''Silahkan pergi selagi saya masih berbaik hati.!'' Randy mengusir Elena.


''Maafkan saya tuan, saya salah.'' ucap Elena lalu buru-buru keluar dari rumah Randy.


Randy langsung menghubungi Shaka. Tidak ada sapaan dia langsung mengatakan tujuannya menghubungi Shaka.


''Apa kamu tidak mengajari istri barumu sopan santun.?''


''Bagaimana dia bisa masuk ke rumah mantan istri suaminya.?''


''Cih.. ''


''Dasar tidak tau diri. Aku tidak ingin dia muncul di sekitaran rumah ini lagi. Sebaiknya kamu mengajari istrimu dengan benar.''


Tut.


Randy langsung memutuskan panggilannya tanpa mendengar sepatah katapun dari Shaka.


...***...


Di kantor Shaka yang mendapat panggilan dari Randy langsung kesal dan menghubungi Elena.


''Kamu di mana.?''


Mendengar jawaban Elena membuat Shaka menahan amarahnya, dan mencoba untuk tenang sampai nanti Elena yang menceritakan sendiri.


Shaka tau bahwa dia sedang berbohong.


''Aku akan pulang lebih awal hari ini.''


''Aku hanya ingin memberitahu mu itu.''


''Hm..''


Shaka mengakhiri panggilannya. Dia mulai mengingat sejak kemarin tingkah Elena sangat aneh. Apa yang salah dengannya. Tidak mungkin dia pergi ke rumah Randy tanpa alasan.


Shaka mulai memikirkan awal mulanya Elena bersikap aneh mulai dari ruang kerjanya. Dia teringat dengan Katak kertas yang di berikan Manse.


Mengingat itu Shaka langsung buru-buru kembali ke rumah, untuk melihat ada apa dengan katak kertas itu. Jangan sampai yang di pikirkan dia terjadi.


Menelusuri jalanan selama 20 menit Shaka akhirnya sampai di rumah.


Shaka langsung menuju ruang kerjanya mencari surat perjanjian antara dia dan Elena.

__ADS_1


Shaka membuka laci. Dia sedikit lega karena surat miliknya ada di sana.


''Apa yang salah dengan dia. Mungkinkah surat yang dia pegang hilang.?''


Shaka kembali menghubungi Elena untuk memastikan.


''Aku ingin memastikan apakah kamu menyimpan surat itu dengan baik.?''


''Tidak.. Aku hanya ingin memastikan milikmu saja. Ingat surat itu harus di simpan di tempat yang aman. Jangan sampai ada yang melihatnya.''


''Hmm. Baiklah kalau begitu aku tutup.'' Shaka memutuskan panggilannya.


Shaka memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja.


...***...


Setelah keluar dari rumah Randy Elena sudah pasrah atas apa yang akan terjadi. Dia sudah memaksakan diri untuk bisa masuk ke rumah Randy tapi rencananya tidak semulus yang dia pikirkan.


Elena pasrah jika surat itu sampai ke tangan tuan Randy. Saat ini dia hanya perlu menunggu hal apa yang akan terjadi.


Ponselnya tiba-tiba berdering membuat dia kaget dan lebih kaget lagi ketika tau siapa yang menghubunginya.


''Halo..''


''A.. itu aku sedang menuju ke rumah sakit. Aku ingin menjenguk ayah sebentar.''


Elena tidak ada alasan lain selain menjenguk ayahnya. Jika dia tau aku dari rumah tuan Randy bisa - bisa dia akan marah lagi. Itulah yang ada di pikiran Elena.


''Mas tumben nelpon.''


''A.. baiklah, sampai jumpa nanti mas.''


Elena sedikit heran biasanya tidak pernah menghubungi dulu.Elena masih berpikir jika Randy tidak memberitahukan kedatangannya ke rumah itu.


Elena memutuskan melihat keadaan ayahnya. Sesampainya di rumah sakit dia senang melihat ayahnya sudah lebih sehat dari sebelumnya.


''Ayah. Aku merindukan ayah.'' Elena berlalu memeluk ayahnya.


''Wah putriku yang cantik ada di sini.'' ucapnya sambil membalas pelukan Elena.


''Ayah, lagi ada tamu.?'' tanya Elena sambil menunjuk gelas minuman di meja sofa tempat ayahnya duduk.


''Ayah lagi main catur dengan Ken. Asisten suamimu.''


''Hah.?''


''Ken bukannya sedang di kantor.?'' Tanya Elena penasaran.


''Saudara laki-laki nya sedang di rawat di rumah sakit ini, ruangannya persis di sebelah ayah. Jadi dia mampir melihat ayah. Dia lagi ada di kamar mandi.''


''Oh.. Benarkah.''


Ponsel Elena kembali berdering. Shaka menghubungi nya kembali.


Elena menjauh sedikit dari ayahnya, lalu menerima panggilan itu.


''Mas, aku lagi sama ayah, ada apa menghubungi lagi.?''


''I..iya.. aku menyimpannya dengan aman, mas nggak perlu takut.''


''Apa jangan-jangan mas menghilangkannya.?''

__ADS_1


Elena berpikir bahwa Shaka juga kehilangan suratnya. Mendengar jawaban Shaka dia semakin pasrah dengan kejadian yang akan menimpanya.


Elena mengakhiri panggilannya dengan Shaka.


Tak lama setelah itu Ken keluar dari kamar mandi. Dia sedikit terkejut melihat Elena.


''Halo Nona.'' ucap Ken menyapa Elena.


''Ken apa benar saudara laki-laki mu di rawat di rumah sakit ini.?''


''Kamu kenapa nggak pernah cerita.''


''Benar nona. Kakak saya mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu. Sampai sekarang masih harus di rawat di rumah sakit ini.''


''Ken aku turut prihatin untuk kakakmu. Lain kali aku akan menjenguknya.'' ucap Elena.


''Terima kasih nona.''


''Ayah, aku akan menemui dokter sebentar.'' Elena pergi ke ruangan dokter yang mengurus ayahnya.


Tok..tok.


''Permisi dokter.''


''Ya Elena, silahkan masuk.''


''Dokter , aku ingin menanyakan perkembangan kondisi ayah.''


''Ayah kamu sekarang sudah lebih sehat dari sebelumnya. Dia menjalankan segala perawatannya dengan baik.''


''Hormon kebahagian terpancar dari wajahnya setiap hari.'' Jelas dokter yang membuat Elena senyum bahagia.


''Terima kasih dokter.''


''Kamu tidak perlu kwatir, saya akan selalu memberikan yang terbaik untuk ayah kamu.''


''Dokter aku nggak bisa berhenti bersyukur ayah di rawat oleh dokter yang sangat baik seperti anda.'' Pujian Elena membuat dokter tertawa.


''Tidak, itu sudah tugasku.''


''Dokter aku akan ke ruangan ayah, permisi.'' elena pamit kembali ke ruangan ayahnya.


Melihat jam di tangannya Elena pamit untuk menjemput anak-anaknya di sekolah.


Ken yang melihat itu langsung mengikuti Elena keluar.


''Ken aku harus jemput anak-anak, terima kasih sudah mau menemui ayahku.


'' Sama-sama nona, saya juga senang bisa mengobrol dengannya.''


Elena pun pergi untuk menjemput anak-anak di sekolah. Sepanjang jalan dia masih memikirkan soal surat yang hilang.


Dia masih berharap surat itu tidak sampai di tangan tuan Randy dan istrinya.


Pulang sekolah Elena dan anak-anak langsung pulang ke rumah seperti biasa. Elena akan bermain bersama mereka di rumah.


Evan dan Hana sudah mulai dekat dengan nya. Usaha Elena selama ini tidak sia-sia untuk membuat anak-anak Shaka dekat padanya.


Elena yang senang dengan anak-anak membuat dia tidak terlalu kesusahan untuk mendekatkan diri dengan anak Shaka.


Sepanjang jalan menuju ke rumah Manse yang nggak pernah berhenti untuk mengajak nya berbicara.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Elena dikagetkan dengan mobil Shaka yang terparkir. Dia pun segera mengajak anak-anak nya masuk ke rumah dan berganti pakaian masing-masing.


...****************...


__ADS_2