Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Elena


__ADS_3

Shaka sudah di pindahkan ke ruangan VVIP dan saat ini masih belum siuman. Elena sekali-kali mengajak Shaka berbicara, berharap Shaka mendengar semua ucapannya.


''Len sebaiknya kamu istirahat dulu ya. Biarkan aku dan Amran yang menjaga Shaka. Kamu kelihatan pucat banget, lebih baik kamu istirahat dulu.'' Ucap Radit yang masih setiap menemani Elena di rumah sakit.


''Aku baik-baik saja Dit.''Jawab Elena mencoba tersenyum pada Radit.


''Kamu minum dulu. Aku liat sedari tadi kamu tidak ada minum dan makan apapun. Aku akan keluar sebentar membeli makanan.'' Radit menyodorkan air minum kemasan pada Elena dan hendak keluar.


''Dit, aku nggak lapar. Aku akan menemani mas Shaka. Kamu dan Amran sebaiknya pulang saja, besok baru datang lagi.''


''Bisa-bisa kamu pingsan Len. Jangan lemah, Shaka butuh kamu yang kuat. Kalau tidak makan gimana mau kuat.'' Tanpa menunggu persetujuan Elena Radit akhirnya keluar untuk membeli sesuatu yang cocok untuk Elena karena sudah di pastikan dia tidak akan berselera makan.

__ADS_1


''Amran tolong urus perusahaan, Ken sedang cuti dan aku tidak enak hati jika harus mengganggunya.'' Ucap Elena memulai pembicaraan dengan asistennya.


''Saya sudah memberi tahu pada Ken nona, sebelumnya saya tidak tau kalau Ken cuti. Kemungkinan besok Ken akan sampai di Jakarta. Tidak usah dipikirkan nona, fokus untuk menemani tuan Shaka saja. Serahkan semuanya pada kami.''


''Terima kasih. Aku tidak tau harus berbuat apa kalau kalian tidak ada.''


''Ayok Len kamu makan dulu.'' Radit mengeluarkan beberapa jenis makanan di meja dan memaksa Elena untuk mengisi perutnya dulu.


''Makanan ini banyak banget. Bagaimana kalau kita makan sama aja. Aku sedang tidak bernafsu untuk makan.'' Ucap Elena melihat Amran dan Radit bergantian.


''Baiklah, ayok kita makan.'' Radit pun duduk di meja yang sama tapi tidak dengan Amran. Dia tetap tidak ingin makan, dan menjawab bahwa dia sudah makan malam agar tidak dipaksa lagi oleh nona nya.

__ADS_1


Elena dan Radit menikmati makan malam dengan santai. Sesekali Elena yang melihat ke arah ranjang Shaka. Berharap ada pergerakan dari Shaka. Sampai dia menyelesaikan makanannya belum ada pergerakan.


Kini tinggallah Elena sendiri menjaga shaka di ruangan itu. Radit sudah dipaksa Elena untuk pulang karena sudah dapat dipastikan besok dia akan kembali bekerja begitu juga dengan Amran.


''Mas, kamu balas dendam padaku?. Kenapa kamu belum sadar juga. Ayok mas bangun, aku rindu di peluk kamu.''Ucap Elena memegang tangan Shaka.


''Kamu tega liat aku sendiri ngurusin semua pekerjaan kantormu. Kamu tau sendiri kan aku nggak bisa berbuat apa tanpamu. Anak-anak juga sudah nyariin kamu terus. Kamu mau liat kami sedih terus. Nggak kan. Makanya ayok cepat bangun. Aku mau di peluk.'' Elena menyandarkan kepalanya di punggung tangan Shaka berharap Shaka bisa mendengar ucapannya.


Elena meneteskan air mata melihat tubuh Shaka yang hampir semuanya di balut dengan perban. Mengingat ucapan dokter bahwa akan ada kemungkinan lumpuh membuat hatinya semakin sedih. Bagaimana suaminya jika tahu dia tidak akan bisa berjalan, bagaimana nasip perusahaan yang sudah di bangun dari nol itu. Dia berharap Shaka bisa berlapang dada menerima kenyataan ini.


''Mas apapun yang terjadi aku akan selalu bersamamu.'' Ucapnya mencium tangan Shaka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2