
Hari kembali menyapa. Tandanya semua aktivitas kembali dilakukan. Begitu juga dengan keluarga Elena, semuanya kembali pada kegiatan masing-masing.
Elena memutuskan dia akan ke kantor perusahaan paman Andy. Dia ingin mengurus nama pewaris yang semula dirinya di ubah menjadi Shaka.
Elena memilih untuk mengembalikan semua yang bukan hak nya pada Shaka. Karena yang berhak atas semuanya itu bukanlah dirinya melainkan Shaka dan anak-anaknya.
''Sayang , apa kamu sudah benar-benar siap ke kantor.? Kamu pasti tahu betapa sibuknya kamu di sana jika sudah memutuskan ke kantor.'' Ucap Shaka memeluk Elena dari belakang.
Shaka melihat dirinya dan Elena dari pantulan cermin. Sungguh wajah istrinya begitu menggoda untuknya, tapi entah kenapa sampai saat ini istrinya masih belum bisa untuk dia sentuh.
''Hmm.. Aku sudah siap mas, kan ada kamu.'' Ucapnya tersenyum lebar.
''Rasanya aku ingin memakanmu sebelum berangkat.'' Ucap Shaka tanpa malu.
''Mas,ayok anak-anak sudah menunggu kita.'' Elena melepaskan tangan Shaka yang memeluk erat dirinya.
''Sayang, aku sudah menghubungi asisten paman. Dia akan membantu kamu dalam semua urusan kamu di sana.''
''Sepertinya aku gak bisa menemani kamu ke perusahaan, pagi ini aku ada jadwal rapat penting. Kamu bisa kan.?'' Tanya Shaka pada Elena.
''Iya mas, aku bisa kok. Lagian kalau sudah ada asisten paman, aku sudah merasa lebih tenang.'' Jawab Elena.
''Sayang, hari ini kalau tidak sempat nanti di jemput sama pak Mul ya, Aku ada urusan ke kantor kakek Andy.'' Elena ijin sama anak-anaknya untuk tidak menjemput mereka.
''Tidak apa-apa kak, kami tahu kok bukan hanya kami yang akan menjadi kesibukan Kaka.'' Jawab Evan.
Evan semakin hari semakin membuat Elena dilema. Sifat dewasanya yang sekarang sudah mulai kelihatan menghadapi hal-hal yang terjadi dalam keluarga mereka.
Evan yang sekarang lebih terbuka dengan apa yang dia inginkan, tidak lagi menutupi keinginannya pada Shaka maupun Elena.
Elena sudah membuatnya seperti sekarang, itu bisa dirasakannya dan juga Shaka.
Mereka berangkat dengan dua mobil. Shaka bersama Elena dan anak-anak di antar oleh pak Mul.
*
*
*
Hari ini Randy kembali mengingatkan Mitha untuk kembali pada Shaka.
Setelah semua yang terjadi dengan berita yang beredar, dia sebisa mungkin sudah membantu membuka opini publik atas kembalinya Mitha.
Randy berencana akan menemui Shaka di kantornya.
''Kak, tolong jangan lakukan ini padaku. Aku yang salah, aku pantas mendapatkan semua ini. Shaka tidak bersalah atas apa yang terjadi padaku.'' Mitha mencoba membujuk Kakaknya agar berhenti mengganggu Shaka.
''Kamu sampai kapan akan membelanya. Kamu nggak sadar bahwa dia sedang menikmati kebersamaannya dengan istri mudanya. Bagaimana jika istri mudanya hamil. Kamu tidak akan di terima Mitha. Jadi sebelum terlambat kembalilah padanya.''
__ADS_1
''Aku akan mengurus semuanya, dan kamu hanya perlu minta maaf padanya dan meminta dia untuk menerima kehadiran mu kembali.'' Jelas Randy ngotot kalau Mitha harus kembali pada Shaka.
''Kak, aku sudah tidak ingin kembali padanya. aku dan dia sudah tidak mungkin bersama. Aku tidak bahagia kak.''Ucap Mitha mengaku bahwa dia tidak bahagia hidup dengan Shaka.
''Jangan cari alasan kamu Mitha. Kalau kamu tidak bahagia bagaimana kalian bisa memiliki tiga orang anak. Aku akan pergi menemui Shaka.'' Ucap Randy kesal mendengar ucapan Mitha.
*
*
*
''Shaka ada hal yang harus aku katakan padamu.'' Ucap Randy yang tiba-tiba masuk ke ruangan Shaka tanpa mengetuk.
''Hal penting apa yang membuatmu bisa datang dengan tidak sopan seperti ini.'' Ucap Shaka menyeringai pada Randy.
''Mitha telah kembali.'' Ucapnya langsung.
''Aku sudah mendengarnya lewat cerita yang kamu karang di televisi.''Jawab Shaka masih santai dan tidak ingin terpancing emosinya.
''Aku tidak mengarangnya. Itulah ya g seharusnya kamu lakukan.''
''Aku minta kamu terima dia kembali. Biar gimana pun anak-anak membutuhkan ibu kandungnya, bukan ibu tiri muda yang tidak bisa mengurus mereka.'' Ucap Randy menghina Elena.
Shaka meletakkan pena yang di pegang ke meja dengan membantingnya, tanda dia sedang marah pada Randy.
''Jangan hina istriku, dia sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku. Kamu tidak punya hak untuk menilai dirinya.''Ucap Shaka tegas.
''Sekarang waktunya kamu kembali pada Mitha.'' Randy lagi-lagi menghina Elena membuat Shaka semaki. tersulut emosinya.
Bugg..
Satu pukulan melayang di wajah Randy.
''Aku sudah memintamu berhenti menghina istriku. Aku tidak akan bisa kembali pada Mitha. Sebaiknya kamu pergi dari sini sebelum aku menghabisi mu.''Ancam Shaka membuat Randy mundur.
Dia tidak ingin kembali dari sini dengan wajah babak belur seperti yang sudah pernah terjadi.
''Aku memintamu untuk menerimanya kembali. Sekarang kamu pikirkan atau kamu aku masukkan ke penjara karena mencoba membunuhnya.'' Ancam Randy lalu pergi dari ruangan Shaka.
Shaka menarik nafas panjang, lalu berdiri menghadap kaca yang ada di ruangannya. Dia melihat pemandangan kota dari ruangannya sambil memikirkan masalah kembalinya Mitha istri pertamanya.
Cintanya pada Elena kini membuatnya tidak ingin berpisah darinya. Dia sudah menganggap Mitha meninggal. Jadi dia dan Elena berhak bahagia sekarang.
Di saat hubungannya dengan Elena semakin erat, cobaan silih berganti muncul.
*
*
__ADS_1
*
Elena di sambut hangat oleh asisten pamannya yang akan menjadi asistennya.
''Selamat pagi nona, nama saya Amran. Saya asisten tuan Andy dan sekarang saya di minta tuan Shaka untuk menjadi asisten anda nona.'' Ucap Amran menyapa kehadiran Elena di perusahaan.
''Halo Amran, terima kasih sudah melakukan tugasmu dengan baik sejak kepergian paman. Aku Tau kamu sudah bekerja keras.''Balas Elena.
Elena sangat mengagumi perusahaan pamannya yang lumayan besar. Walau perusahaan Shaka sebenarnya lebih besar tapi ini perusahaan benar-benar luar biasa.
Ingin rasanya Elena berkeliling di perusahaan ini, tapi dia mengurungkan niatnya itu. Dia meminta Amran untuk membawanya ke ruangannya.
''Amran saya ingin ke ruangan'' Pinta Elena.
''Baik nona, mari saya antar anda ke ruangan CEO.'' Amran membawa Elena ke lantai 9 lantai paling atas perusahaan ini. Di situlah ruangan CEO dan asisten nya.
''Silahkan nona, ruangan anda di sebelah sini. Ruangan ini masih ruangan tuan Andy. Jika nona ingin mengganti dekorasi atau mengubah semua ruangan ini, saya akan segera melakukannya.'' Ucap Amran.
Elena sangat terkejut, ruangan pamannya sangatlah luas dan semua tertata dengan rapi. Warna dan dekorasi ruangannya yang tidak mencolok untuk ruangan seorang CEO pria.
Elena melihat ke meja kerja pamannya, ada sebuah bingkai foto anak kecil bersama pamannya semasa muda dan seorang wanita yang masih terlihat muda. Sudah bisa Elena pastikan bahwa itu adalah istri paman Andy.
Foto anak kecil yang berada di tengah membuatnya penasaran.
''Itu foto tuan Shaka sewaktu masih SMP nona.'' Jelas Amran seolah tahu bahwa Elena ingin bertanya.
''Ckckck.. Dia sudah sangat tampan sedari kecil.''Ucap Elena tersenyum manis.
Di kantor Elena sama sekali tidak melakukan rapat untuk memperkenalkan dirinya kepada seluruh karyawan yang ada di perusahaan paman Andy.
Dia memang sedari awal tidak berniat untuk bekerja, dia hanya ingin mengurus kepindahan nama pewaris perusahaan.
''Amran saya sebenarnya ingin meminta sesuatu.'' Elena mengajak Amran duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
''Ada yang bisa saya bantu nona.?''
''Aku ingin mengubah nama ahli waris menjadi nama Suamiku. Tapi kuharap kamu tidak memberitahukannya pada suamiku.'' Pinta Elena pada Shaka.
''Maafkan saya nona, sebelum anda memutuskan kembali ke kantor. Tuan Shaka sudah berpesan untuk tidak menerima perintah untuk mengubah nama ahli waris. Tuan Shaka ingin perusahaan ini di kelola langsung oleh anda nona.'' Jelas Amran.
''A..apa.. Mas Shaka benar-benar melakukan itu.?''
''Apa dia sudah tahu niatku sedari awal mau menerima warisan itu ya.?'' Elena bertanya pelan pada dirinya sendiri tapi masih terdengar oleh Amran.
Amran menggelengkan kepala melihat tingkah bosnya.
''Sebaiknya nona memeriksa berkas-berkas laporan yang ada di meja and nona. Pesan tuan Shaka bahwa anda jangan sekali-kali mengubah nama ahli waris menjadi nama tuan ataupun anak-anak.'' Amran memberikan peringatan pada Elena seperti pesan yang di tekankan oleh Shaka padanya.
''Cih...Kamu sebenarnya bekerja untuk dia atau aku.?'' Ucap Elena kesal.
__ADS_1
''Baiklah aku akan memikirkannya, tinggalkan aku sendiri.'' Ucap Elena meminta Amran keluar dari ruangannya.
...****************...