Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Shaka Bertemu Mitha


__ADS_3

''Halo sayang..'' Shaka berbicara dengan istrinya lewat sambungan telepon.


Setelah kepergian Randy dari ruangannya untuk menenangkan pikirannya, dia memutuskan menghubungi Elena, istrinya.


''Iya mas.'' Jawab Elena dari seberang telepon.


''Apakah hari pertamamu ke kantor lancar.?'' Tanya Shaka penasaran, karena Elena baru pertama kali ini ke kantor.


''Hm..Semuanya lancar mas, aku hanya memeriksa beberapa file. Aku belum memperkenalkan diri.'' Katanya sambil tertawa kecil.


''Kamu harus memperkenalkan diri sayang, gimana kalian mau kerjasama kalau kalian sama-sama tidak saling mengenal.''Ucap Shaka mengingatkan Elena.


''Sayang aku tidak akan memaksamu untuk mengurusnya sendiri. Amran akan selalu bersamamu. Jangan takut dia sudah menjadi kepercayaan paman sejak remaja.'' Jelas Shaka mengenalkan Amran asisten Elena.


''*Aku akan mengenalkan diri setelah siap mas, hari ini aku hanya mau melihat-lihat kantor dulu.''


''Kantor paman sangatlah besar, aku merasa tidak cocok berada di sini.'' Ucap Elena dari seberang telepon*.


''Sayang jangan selalu mengucapkan kalimat seperti itu. Kamu di percayakan paman berarti kamu cocok dengan itu.''


''Aku akan berusaha semampuku mas. Aku mau menyelesaikan diri dulu.''


''Sayang, aku ada jadwal rapat sebentar lagi. Aku akan menelpon lagi setelah itu.''


''Bye sayang.''


Shaka mengakhiri panggilan telponnya dengan Elena. Shaka menarik nafas untuk menetralkan suasana hatinya.


''Ken ke ruanganku sebentar.'' Shaka meminta Ken ke ruangannya.


''Permisi tuan.'' Tak berselang lama Ken sudah datang ke ruangan Shaka.


''Ken Mitha telah kembali. Tolong atur waktu, aku ingin menemuinya. Aku harus meluruskan semuanya agar Elena tidak tersakiti.'' Shaka hanya memikirkan keamanan Elena dari serangan media dan juga keluarga Mitha.


''Baik tuan, saya akan segera menghubungi nyonya Mitha dan membuat janji temu dengannya.'' Jawab Ken lalu berlalu dari ruangan Shaka.


Ken merasa Elena benar-benar di jaga oleh Shaka. Tapi bagaimana dengan keputusan Elena, yang ingin meninggalkan Shaka.


Ken menarik nafas panjang.


''Semua tentang anda sangatlah menarik nona.'' Ucapnya sambil menggelengkan kepala.


*


*

__ADS_1


''Tuan Shaka ingin bertemu dengan Mitha.'' Ken bicara dengan seseorang lewat telepon.


''Minta dia jam makan siang ke restoran X. Aku akan meminta tuan Shaka ke sana.'' Ucap Ken.


Ken mengakhiri panggilannya, lalu pergi ke ruangan Shaka untuk memberitahukan jadwal makan siang Shaka dengan Mitha.


''Permisi tuan, Saya sudah menghubungi nyonya Mitha. Hari ini tuan akan menemuinya di restoran X jam makan siang.'' Ucap Ken memberitahukan pada Shaka pertemuannya dengan Mitha.


''Baik Ken, aku akan menemuinya sendiri.'' Jawab Shaka sambil melihat arloji di tangannya.


*


*


*


''Halo nona, ada yang ingin saya bicarakan dengan nona. Jam makan siang bisakah saya menemui nona.?'' Ken menghubungi Elena.


''Ken, saya sedang tidak ingin keluar saat ini. Saya lagi di kantor paman.''Jawab Elena.


''Baik nona, tidak apa-apa, saya akan ke kantor nona.'' Ucap Ken.


Ken ingin menemui Elena tanpa sepengetahuan Shaka.


Jam makan siang, Elena tidak menjemput anak-anaknya. Banyak berkas yang di antar Amran ke mejanya. hal itu membuat Elena merasa kesal dengan Amran. Dia sepertinya benar-benar bekerja untuk Shaka bukan untuknya.


Sekarang jam menunjukkan jam makan siang, tapi Elena masih berkutat di mejanya dengan berkas yang masih menumpuk.


''Permisi nona.'' Sapaan Ken yang masuk ke ruangan Elena.


''Oh hai Ken, kamu sudah sampai.''Ucap Elena berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Elena.


''Nona sudah mulai bekerja.?'' Tanya Ken.


''Tadinya aku ke kantor untuk mengurus ahli waris Ken, aku ingin mengembalikan pada mas semua. Tapi Amran sudah di ultimatum mas Shaka untuk tidak menerima pengembalian warisan itu.'' Elena langsung menjelaskan pada Ken tujuannya ke kantor.


''Sebaiknya nona, belajar untuk mengelola perusahaan aja. Tuan Andy dan tuan Shaka sudah memberikannya pada nona. Saya yakin nona pasti bisa.'' Ucap Ken menyemangati Elena.


''Aku akan berusaha semampuku. Oh iya Ken, apa yang ingin kamu bicarakan.?''Tanya Elena penasaran tujuan kedatangan Ken ke kantornya.


''Nona saya ingin menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi pada anda. Sewaktu tuan Dody meninggal, anda mendapatkan sebuah karangan bunga yang menurut saya agak aneh. Saya ingin memastikan langsung pada anda, jika nona tidak keberatan.''


''Oh tidak apa-apa Ken, apa yang ingin kamu pastikan.?'' Elen semakin penasaran dengan apa yang akan ditanya Ken.


Ken merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Dia membuka ponselnya lalu menunjukkan sebuah gambar pada Elena.

__ADS_1


''Turut berduka cita sayang, Maaf aku belum bisa pulang. Aku sudah melihat berita duka ini lewat televisi. Aku akan segera menghubungi mu.''


Ken menunjukkan gambar dengan tulisan ucapan itu. Elena yang sambil minum membaca tulisan yang ada di gambar itu pun langsung batuk, karena terkejut.


Nggak bisa di pungkiri, meninggalnya ayah Elena membuat berita gosip menayangkan kabar duka tersebut di surat kabar dan televisi.


Tempat dia bekerja dulu, Scandal news yang biasanya hanya menayangkan scandal tentang orang-orang penting. Justru ikut Menayangkan kabar duka dari Elena. Hal itu membuat banyak yang mengetahui kabar meninggalnya ayah Elena baik di luar negeri sekalipun.


''Nona...-'' Ken mencoba menyadarkan Elena yang terlihat melamun sendiri.


''Nona...'' Ken mulai membesarkan suara panggilannya.


''A.. oh , Hm. Gimana Ken.?'' Ucap Elena yang kelihatan bingung.


''Nona, apa anda mengenal siapa pemberi karangan bunga ini.?'' Tanya Ken.


''Hm.. Ken sebenarnya.. aku dulu memiliki kekasih, tapi enam bulan terakhir sejak aku bertemu mas Shaka. Kami kehilangan komunikasi, aku nggak bisa menghubunginya. Dan kupikir itu cara dia meninggalkan aku, sejak saat itu aku tidak menganggap bahwa aku memiliki kekasih.''


''Ketika dia datang nanti, aku akan mengatakan yang sebenarnya padanya. Mungkin juga dia sudah mengetahui bahwa aku telah menikah.''


Elena menjelaskan pada Ken soal pemberi karangan bunga misterius itu.


''Nona, kuharap pengirim karangan bunga ini benar mantan kekasih nona. Bukan seseorang yang hendak mencelakai nona dengan menyamar sebagai dia.''Ken merasa sedikit kwatir. Walau dia sedikit terkejut kalau nona nya memiliki kekasih di masa lalu.


''Tidak Ken, aku sudah sejak lama mengenalnya. Dan sebenarnya kami dulu hanyalah sahabat, sampai aku tidak merasa bahwa dia kekasihku. Dia tidak akan Setega itu padaku.'' Elena mempercayai pria di masa lalunya.


''Syukurlah nona, aku hanya kwatir pada keselamatan anda.''


''Makasih Ken, atas perhatianmu. Oh iya bagaimana keadaan kakak kamu.?'' Tanya Elena mengganti topik pembicaraannya dengan Ken.


''Kakak saya masih sama nona, belum ada perkembangan.''Jawab Ken sambil menghela nafas berat.


''Kamu harus sabar dan kuat Ken, aku yakin suatu saat nanti kakak kamu pasti sehat kembali.''Elena menguatkan Ken.


''Terima kasih nona. Nona saya akan pamit kembali ke kantor. Setelah jam makan siang, saya harus menemani tuan Shaka rapat di kantor cabang.''Ken pamit kembali ke kantor.


''Baik Ken, terima kasih sudah mampir.''Balas Elena tersenyum. Dia mengantar Ken kembali ke kantor.


*


*


*


''Mas..'' Mitha memanggil Shaka ketika dia melihat Shaka mendekat menuju ke mejanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2