
''Mas, apa kamu belum selesai.?'' Tanya Elena pelan pada Shaka yang masih sibuk dengan berkas yang ada di mejanya.
''Ah sayang maafkan aku, aku terlalu lama. Aku akan memeriksanya di rumah. Sebaiknya kita pulang saja.'' ucap Shaka lalu membereskan berkas yang ada di mejanya.
''Mas, rumah kita sekarang tidak ada ruangan untuk kerja. Apa kamu lupa.?'' Ucap Elena dengan cepat untuk menghentikan aktivitas Shaka.
Shaka tertawa kecil lalu meletakkan kembali berkas berkasnya di atas meja.
''Sayang, apa kita nginap di hotel aja.?'' Tanya Shaka mendadak.
''Mas.. ''
''Aku ingin memiliki mu dengan utuh.'' Ucap Shaka terus terang membuat Elena tersipu malu.
Elena sudah tahu arah pembicaraannya Shaka. Sejak mereka bersama belum sekalipun Shaka menyentuhnya. Bukan karena Shaka tidak mau tapi karena di awal pernikahan mereka ada membuat perjanjian tidak ada kontak fisik antara keduanya.
Hubungan mereka membaik dan saling mengakui perasaannya akhir-akhir ini belum juga membuat mereka bisa bersatu.
Manse si anak bungsu yang selalu menempel pada Elena ketika tidur. Membuat Shaka tidak punya kesempatan untuk melakukannya.
''Apa sebaiknya kita menginap di hotel aja.?'' Tanya Shaka ingin meminta persetujuan Elena.
''Mas, aku.-, '' Ucapan Elena terhenti.
''Mau sampai kapan kamu siap sayang. Bukankah kamu juga mencintaiku.?'' Tanya Shaka memotong ucapan Elena.
Shaka merasa sedikit gelisah atas Elena. Dia belum menyentuhnya, dia hanya bisa menciumnya. Dia merasa bahwa Elena belum sepenuhnya istrinya. Walau dia cukup puas atas peninggalan pamannya yang dititipkan pada Elena karena sudah dapat di pastikan Elena telah di ikat untuk tetap bersamanya.
Tanpa Shaka sadari Elena sudah memikirkan semuanya dengan Matang. Dia tahu bahwa dirinya akan meninggalkan Shaka, dia tidak ingin jika ternyata ada hal yang sangat sulit untuk di lupakan ketika mereka berpisah.
''Mas aku mencintaimu, tapi menurutku ini belum waktu yang tepat untuk melakukannya. Keadaan kita membuat kita harus menundanya mas, tolong kamu bersabar. Setelah semuanya membaik kita akan bisa melakukannya.''
''Maafkan aku mas, aku tahu aku sudah berdosa sebagai istrimu. Tapi ini juga sulit untukku. Aku nggak mau jika kamu melakukanya akan sangat sulit untukku bisa pergi.'' ucap Elena dalam hati.
Elena sudah memutuskan akan pergi dari hidup Shaka. Bukan karena dia tidak mencintainya tapi anak-anak sangat butuh sosok ibunya. Ini kesempatan emas untuk mereka bisa kembali utuh seperti dulu.
''Aku mengerti, ayok kita pulang.'' Ajak Shaka pada Elena. Mau tidak mau, siap tidak siap dia sudah membiasakan diri dengan alasan Elena. Dia akan mencoba untuk lebih bersabar sampai Elena datang meminta padanya.
Shaka dan Elena akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Shaka merasa senang karena hampir seharian dia bisa bekerja bersama Elena. Biasanya Elena akan menghabiskan waktu dengan anaknya tapi hari ini Elena menghabiskan waktu dengannya.
*
__ADS_1
*
*
Pagi kembali menyapa, tandanya semua aktivitas para penghuni bumi akan kembali di mulai.
Shaka kembali ke kantor dan anak-anak nya ke sekolah. Elena setelah mengantar anaknya memilih untuk pulang ke rumah agar bisa bersama dengan ayahnya.
''Ayah, apa ada yang ayah inginkan.?'' Tanya Elena pada ayahnya yang sedang duduk bersantai di sofa ruang tamu.
''Tidak ada nak, ayah hanya ingin duduk santai di sini.'' Jawabnya.
''Ayah, makasih sudah bisa kuat sampai sekarang. Elena sangat senang ayah sudah kembali pulang.'' Elena menghampiri ayahnya lalu memeluknya.
Ayahnya membalas pelukan Elena.
''Maafkan ayah sudah membuatmu susah nak, ayah sekarang sudah bahagia melihat kamu bahagia dengan keluargamu. Ingat pesan ayah, hormati suamimu dan menurut lah padanya, sayangi anak-anak nya seperti anakmu sendiri.''
''Ayah sudah melihat suamimu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab, ayah bisa melihat dia benar-benar tulus padamu. Maka cintailah dia dengan tulus.''
''Hmm , makasih ayah. Aku akan mengingat pesan ayah.'' Jawab Elena meneteskan air mata.
Pesan ayahnya menjadi tamparan yang sangat keras untuknya. Di saat dia sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi dari Shaka ayahnya justru memintanya untuk lebih mendekat pada Shaka.
Setiap Elena bersama dengan ayahnya, dia akan selalu di nasehati untuk bisa menjadi istri yang baik untuk Shaka.
''Jangan menangis nak, ayah hanya mengingatkan kamu agar bisa menjadi istri yang baik untuk suamimu.'' Ayahnya melarang Elena agar tidak menangis.
''Aku tidak nangis karena sedih ayah, aku nangis karena bahagia. Kita kembali bisa menghabiskan waktu seperti ini di rumah.'' Balas Elena tersenyum dan kembali memeluk ayahnya.
Saat Elena menikmati kebersamaannya dengan ayahnya, ponselnya tiba-tiba berdering.
Ken memanggil.
Elena langsung pamit pada ayahnya untuk menerima panggilan itu.
''Halo Ken, ada apa.?'' Tanya Elena langsung pada Ken.
''Nona, bagaimana pertemuan anda dengan nyonya Mitha.?'' Tanya Ken penasaran.
''Berjalan lancar Ken, aku sudah bicara dengannya. Kuharap dia bisa memikirkan apa yang aku bicarakan dengannya.''
__ADS_1
''Aku memintanya untuk kembali pada mas Shaka dan anak-anaknya. Aku pikir akan lebih baik untuk anak-anak melihat ayah dan ibunya kembali bersatu.''
Ucap Elena dengan lantang pada Ken.
''Nona, apa anda baik-baik saja.?'' Pertanyaan Ken membuat pertahanan Elena kembali runtuh.
Jika di tanya baik-baik saja, tentu saja keadaannya tidak baik-baik saja. Tapi dia harus berusaha untuk terlihat baik-baik saja walau hatinya sedang hancur.
''Aku harus baik-baik saja Ken. Kamu tentu tahu bagaimana perasaanku.''
''Seharusnya anda tidak melakukannya nona, jika anda butuh bantuan aku akan selalu ada untuk anda. Aku yang membuat anda masuk ke dunia tuan Shaka, aku minta maaf nona. Kuharap nona bisa menemukan kebahagiaan lain.'' ucap Ken di seberang panggilan itu.
''Terima kasih Ken, aku pasti akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu kwatir.'' Balas Elena menarik nafas panjang lalu memutuskan panggilannya dengan Ken.
*
*
*
Di ruang tamu ayah Elena masih menikmati waktu santainya. Karena bosan tidak melakukan apapun ayahnya akhirnya menyalakan televisi dan mencoba mencari Channel tontonan yang menarik.
Dia berhenti di sebuah siaran berita, judul berita itu membuatnya penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam, akhirnya dia menambah volume televisi agar bisa terdengar jelas.
Ayah Elena syok dengan berita yang di dengarnya. Betapa hancurnya hatinya mendengar berita yang menyatakan istri pertama Shaka telah kembali dengan selamat, dan dapat di pastikan bahwa istrinya akan kembali bersama dengan Shaka dan anak-anaknya.
Ayah Elena langsung memikirkan nasip anaknya. Bagaimana bisa anaknya akan di jadikan istri kedua. Sungguh nasip yang malang.
Ayah Elena memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Dia tidak mampu berbicara sekedar meminta tolong pada Elena atau perawatnya yang sedang ke dapur.
''Tuan,'' Perawatnya yang baru datang dari arah dapur langsung terkejut melihat keadaan tuannya.
''Nona,.. Nona.'' dia memanggil Elena lalu segera mengambil kursi roda dan menaikkan tuannya di kursi roda hendak membawanya ke rumah sakit.''
Elena mendengar panggilan perawat ayahnya, karena takut terjadi sesuatu akhirnya dia menemui mereka di ruangan tamu.
Betapa terkejutnya Elena melihat keadaan ayahnya yang memegang dadanya.
''Pak, apa yang terjadi. Kenapa ayah seperti itu.?'' Tanyanya panik dan ikut berlari menuju mobil.
''Nona, sepertinya tuan kena serangan jantung. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit.''
__ADS_1
Elena dan perawat membawa ayahnya ke rumah sakit. Sangat beruntung ayahnya memiliki perawat di rumah, sehingga dalam keadaan darurat seperti ini bisa di berikan pertolongan pertama.
...****************...