Terpaksa Menikahi CEO Duda

Terpaksa Menikahi CEO Duda
Elena


__ADS_3

''Hah.. Segarnya..'' Ucap Elena menghirup udara pagi.


Pagi yang cerah Shaka mengajak Elena untuk menikmati udara pagi segar. Dia membuat Elena duduk di kursi roda dan Shaka mendorong kursi Elena menuju taman rumah sakit.


Saat ini Elena dan Shaka sudah duduk di taman bunga rumah sakit.


Elena menikmati kesegaran udara dari pohon² dan bunga -bunga di taman.


Shaka yang melihat Elena senang. Wajah Elena terpancar aura kebahagiaan.


Dia sangat menikmati keindahan taman pagi ini.


Ponsel Shaka tiba-tiba berdering. Home is calling tandanya pak Mul menghubungi Shaka.


''Halo.'' Shaka menerima panggilannya dengan cepat.


''Halo tuan, hari ini anak-anak apa bisa ke rumah sakit.?'' Terdengar suara pak Mul dari seberang ponsel.


''Saya rasa hari ini tidak usah ke rumah sakit pak. Dokter mengatakan dalam dua hari ini kemungkinan Elena sudah bisa pulang ke rumah.'' Jawab Shaka.


''Baik tuan, saya akan menjelaskan pada anak-anak.''


''Bagaimana anak-anak? apakah mereka baik-baik saja.?'' Tanya Shaka yang kwatir dengan anaknya.


''Anak-anak semuanya baik-baik saja tuan, saat ini akan berangkat ke sekolah.'' Ucap pak Mul.


''Baik pak Mul saya titipkan anak-anak.''


Shaka memutuskan panggilan telponnya.


''Ada apa mas?'' Tanya Elena yang penasaran.


Shaka sedikit menjauh darinya ketika menerima panggilannya. Dia hanya mendengar kata anak-anak di sebutkan. Bisa di pastikan Shaka berbicara dengan pak Mul.


''Anak -anak minta datang ke rumah sakit. Tapi aku melarangnya, aku rasa lebih baik mereka istirahat di rumah. Di sini terlalu berbahaya untuk mereka.'' Jawab Shaka membuat Elena mengangguk.


''Oh ya mas bagaimana keadaan ayah.? Aku sangat ingin bertemu dengan ayah.'' Tanya Elena tiba-tiba.


Setelah beberapa hari di rawat membuat dia merasa bersalah pada ayahnya. Dia ingin sekali melihat ayah nya.


''Ayah baik-baik saja. Aku selalu memeriksanya. Kamu tidak perlu kwatir.''


''Setelah kamu pulih dan boleh pulang, kita akan langsung menjenguk ayah. Aku nggak mau membuat ayah makin kwartir melihat keadaan kamu sekarang.''


''Kasihan ayah jika harus kepikiran lagi padamu, bisa-bisa membuat ayah drop lagi.''


Shaka menjelaskan pada Elena, kalau dia tidak berniat membawa Elena pada ayahnya.

__ADS_1


Elena mau nggak mau harus segera pulih. Dia harus segera melihat keadaan ayahnya.


Elena mengerti dengan ucapan Shaka. Shaka sangat menjaga ayahnya agar tidak drop melihat keadaannya.


Setelah beberapa jam di luar ruangan Shaka kembali membawa Elena masuk ke ruangannya.


...***...


''Berikut jadwal anda hari ini tuan.'' Ucap sekretaris Shaka pada Ken.


''Baik, kamu boleh pergi.'' Jawab Ken datar.


Pekerjaan Ken sekarang jadi dua kali lebih berat. Biasanya dia hanya menemani Shaka rapat, kalau sekarang dialah yang mengerjakan semuanya.


Ken tetap melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang melanggar kepercayaan Shaka.


Walau saat ini Ken sedang bingung dengan perasaannya tapi dia tidak mengambil kesempatan. Dia tetap melakukan tugasnya dengan baik.


Ponsel Ken berdering. Dia lalu menerima panggilan itu.


''Halo.''


''Halo tuan Ken, saya dari rumah sakit.''


''Ada apa, Kakak saya baik-baik saja kan.?'' Tanya Ken kaget.


''Keadaan pasien masih sama seperti sebelumnya tuan. Belum ada perkembangan.''


''Saya hanya mau memberitahukan seseorang yang membantu Kaka anda hari ini datang, jika anda ingin bertemu saya akan memintanya menunggu anda.'' Jelas perawat.


Ken melihat jam di tangannya, dia masih punya jadwal rapat yang belum selesai. Mengingat Shaka masih di rumah sakit nggak mungkin dia meminta Shaka yang mengikuti rapat.


''Tolong berikan saya nomor ponselnya, saya akan menghubunginya. Saya sedang tidak bisa ke sana sekarang.''


''Baik tuan saya akan mengirimkan nomor ponselnya pada anda. Kalau begitu saya akan kembali bekerja tuan.'' Perawat pamit menutup panggilan.


''Terima kasih.'' Balas Ken.


Tak lama ken memutuskan panggilan ponselnya berdering tanda pesan masuk. Dia langsung memeriksa dan perawat mengirimkan nomor ponsel yang dia butuhkan.


Dia langsung menghubungi nomor tersebut dan ingin membuat janji dengannya.


''Halo Nona, maaf saya Ken. Saya mendengar bahwa anda selalu membantu Kaka saya di rumah sakit.''


''Saya ingin bertemu dengan anda sore hari nanti.''


''Apakah saya bisa menemui anda, ada hal yang perlu saya ketahui.''

__ADS_1


''Baik terima kasih. Saya akan menghubungi anda kembali untuk lokasinya.''


Seseorang yang di ajak Ken bertemu tidak menolak ajakannya, dia bersedia menemui Ken.


Ken berharap dalam waktu dekat semua bisa menemukan titik terang dari masalah yang sedang dia selidiki.


...***...


Randy bagai kesempatan dalam kesempitan. Mengetahui Elena yang sedang berada di rumah sakit membuatnya semakin terobsesi untuk menghancurkan Shaka.


Kasus kematian adiknya yang sudah di tutup oleh pengadilan kini di buka lagi oleh Randy. Dia meminta kasus itu kembali di usut terang terangan karena ada dugaan kecelakaan terjadi akibat ulah dari Shaka yang sengaja ingin mencelakakan adiknya.


Hubungan Shaka dan Randy hancur karena meninggalnya adik Randy dalam kecelakaan mobil.


Sejak saat itu Randy menganggap Shaka adalah pembunuh adiknya.


Tanpa di ketahui Randy bahwa Shaka sangatlah mencintai istrinya itu, kehilangan istri selama-lamanya adalah hal paling menyakitkan untuk shaka.


Tapi Randy tidak memikirkan itu, terlebih Shaka menikahi Elena membuatnya semakin geram ingin menghancurkan Shaka.


Baginya Shaka tidak layak untuk bahagia.


...***...


Situasi pun tidak mengijinkan Shaka bahagia sejenak saja bersama Elena. Kini kebersamaan mereka yang tadinya terasa hangat dan nyaman harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak di ijinkan untuk bahagia bersama.


Di antara mereka masih ada nama istri pertamanya.


Kabar kasus istrinya yang meninggal akibat kecelakaan kembali di buka. Dan dia adalah saksi sekaligus orang pertama yang di curigai.


Shaka menarik nafas panjang mendengar kabar dari Ken tersebut. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia sangat kesal melihat tingkah saudara iparnya itu. Dia tidak terima atas dugaan Randy. Sudah berkali-kali dia menjelaskan tapi Randy tidak pernah mendengarkan dan bahkan saat ini Randy benar-benar mengajak dirinya untuk berperang.


Melihat Shaka yang tiba-tiba murung setelah menerima panggilan telepon, Elena sudah tau pasti ada yang tidak beres.


Dia berniat untuk menanyakan apa yang sedang terjadi pada Shaka tapi dia sedikit ragu.


Elena tidak pernah ikut campur urusan pekerjaan Shaka, dia hanya membantu apabila Shaka memintanya.


Elena berpikir Shaka kesal karena urusan pekerjaan. Dia memilih untuk meminta Shaka membantunya untuk mengambil hal-hal yang dia bahkan tidak butuhkan.


Menurutnya ini lah cara dia agar Shaka bisa teralihkan dari masalahnya sejenak.


Elena tersenyum tipis karena Shaka menuruti semua yang dia minta.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2